EPILOGUE – PERFECTION


Banyak yang bilang, kesempurnaan itu tak ada di dunia yang fana ini. Semua hal yang memiliki eksistensi di atas bumi ini nyatanya selalu memiliki celah sebagai kekurangan.

Kiranya, jikalau tengah berbahagia, seluruh insan senang mengucapkan “hidupku terasa sempurna”. Tak apa. Sejatinya kesempurnaan itu tak ada tolok ukur yang tetap dan konstan. Kesempurnaan bagi tiap manusia pun berbeda.

Bagi seorang Haditama Dirgantara, kesempurnaan dalam hidupnya dimulai sejak usianya menginjak enam belas tahun. Semua berawal ketika netranya menangkap sesosok anak laki-laki sebayanya yang bertubuh mungil di tengah kerumunan siswa baru masa orientasi sekolah menengah atas. Tepatnya, kesempurnaan itu terasa lengkap ketika perasaannya terbalas dan hatinya bertaut menjalin status 'pacaran' dengan sang pujaan hati.

Kesempurnaan Hadi rasakan dalam hidupnya sejak saat itu, sejak anak laki-laki bernama Redy Zahid Waradana telah menjadi kekasihnya. Kesempurnaan kian terasa tatkala Redy menjadi pelengkap untuk segala kurangnya, menjadi bahagia untuk sedihnya, dan menjadi kuat untuk lemahnya.

Kesempurnaan Hadi terasa semakin nyata seiring mampunya ia dan Redy saling menggenggam dan merangkul erat melewati rintangan berat pada hubungan mereka. Untuk saling menghargai dan menyayangi, membuat seorang Redy merupakan definisi 'sempurna' menurut Hadi.

Pun hal yang sama dirasakan oleh Redy. Kesempurnaannya terjulang tinggi dan kian nyata semenjak menjalin kasih dengan Haditama Dirgantara.

Redy hanya tahu tentang fakta-fakta mutlak di dunia berkat ilmu yang didapatnya dari dunia sains dan buku ensiklopedia. Hadirnya Hadi, membuatnya sadar bahwa dunia ini tak melulu perkara teori A tetaplah A. Haditama membukakan pintu, menyempurnakan pandangan Redy akan segala perkara yang terjadi di dunia ini bisa saja merubah A menjadi Z dalam sekejap mata.

Haditama menjadi potongan akhir dari sebuah puzzle atas apa pun yang terjadi di dalam hidup Redy. Bahagianya disempurnakan oleh Hadi, sekali pun sedihnya pernah tercipta karena sosok itu. Rasa syukurnya kian kuat dan sempurna oleh kehadiran Hadi, sekali pun kecewa pernah dirasakan berkat Hadi pula.

Bagi Redy, sempurna tak melulu tentang hal-hal indah penyejuk jiwa, melainkan dapat pula segala wujud pelajaran hidup yang begitu pahit untuk mampu berdiri kembali melangkah maju dan membuka mata.

Hubungan Hadi dan Redy selalu diragukan oleh banyak orang. Anggaplah sebuah 'cinta monyet' khas remaja SMA yang kerap kandas hanya dalam hitungan bulan yang singkat.

Tetapi, Hadi dan Redy menepis itu. Dengan tekad kuat yang mengiringi cinta mereka, hubungan tersebut berlanjut dari tahun ke tahun.

Keduanya saling menemani hari-hari berat karena tugas, tuntutan deadline, rumit berorganisasi, hingga cacian dari dosen di masa-masa kuliah mereka.

“Yi, tadi aku ditegur dosen yang ngajar Hukum Internasional, gara-gara minggu lalu aku ga masuk kelas pas ada kuis. Padahal itu kuis dadakan, dan bertepatan sama persiapan dies natalis fakultas, kan aku panitia.”

Atau,

“Ayang, aku sedih banget. Aku udah begadang belajar nginget karya-karya sastra Victorian Era, tapi tadi pas UTS ga ada soal yang bahas itu!”

Begitulah keduanya saling mendengarkan keluh kesah semasa kuliah. Seolah, dengan mendengar saja telah menyempurnakan rasa lega keluarnya beban di hati.

Pun mereka terus bersama menyempurnakan kehadiran satu sama lain di masa-masa menjadi karyawan kantoran. Kesempurnaan yang hadir cukup dengan kalimat semangat yang sekiranya meredakan kegugupan mereka.

“Hari ini pertama kalinya aku bakal ikut rapat sama duta besar dari negara lain. Aku masih ga nyangka bisa kerja di Kementerian Luar Negeri gini, ayanggg.”

Atau,

“Ayi, tadi aku kedatangan klien baru, minta tolong dibelain di sidang perceraian dia. Terus dari firma, aku diminta jadi ketua pengacaranya. Dua temen seruangan aku jadi asisten aku. Keren ya aku, yi?”

Dan masih banyak lagi.

Jika sempurna kerap diartikan sebagai suatu hal tanpa celah, maka itu salah. Sempurna hadir ketika sesosok insan mampu dengan sabar dan perlahan menutup kekurangan, memudarkan ruang kosong, hingga sesuatu dapat terasa lengkap.

Hadi dan Redy, dengan seluruh kesabaran, telah mampu menciptakan sempurnanya mereka secara bersama-sama. Hubungan yang renggang, pertikaian kecil hingga besar, bahkan berjauhan tanpa berbicara pernah mereka lalui. Ada pun, segala hal menyakitkan itulah yang menjadi penyeimbang kebahagiaan mereka sedari awal menjalin asmara.

Untuk membuahkan hasil berupa kesempurnaan yang baru, yang lebih kekal, yang lebih banyak lagi menciptakan cerita.

“Saya bersumpah, menerima Redy Zahid Waradana sebagai suami saya mulai detik ini, dalam keadaan suka dan duka bersama.”

“Saya bersumpah, menerima Haditama Dirgantara menjadi suami saya, dan saya berjanji akan terus berada di sampingnya, dalam keadaan senang mau pun susah.”

Itulah arti kesempurnaan untuk Hadi dan Redy.

Haditama and Redy are the perfection to each other.


FIN


schonewords