Gala's Birthday Wish


cw // nsfw, mature content, bl sex activities, kissing, oral sex, fingering, dirty talk, (agak) frontal, explicit


Gama mengangkat kepalanya ketika pintu ruangannya terbuka. Senyuman otomatis merekah di wajahnya tatkala sang suami hadir dari balik pintu dan bergegas menutupnya kembali.

“Ayaaaang!” seru Gala sembari berlari kecil menuju suaminya.

Bukan Gala namanya jika tidak melakukan hal-hal yang menggemaskan. Ia langsung sigap duduk di atas pangkuan Gama, memeluk erat leher suaminya itu, dan mengecup bibir penuh candu itu berulang kali.

“Capek?” tanya Gama lembut.

Gala menggeleng cepat. “Enggak sama sekali. By the way, aku wangi ga, Gam?”

Gama mencium leher Gala. Tak lupa membubuhkan kecupan ringan di sana yang membuat Gala geli tergelitik. “Wangi banget,” jawab Gama.

“Iya doooong! Aku nyempetin pulang dulu ke apart terus mandi. Mumpung syutingnya deket banget dari situ,” ujar Gala penuh antusias.

Kedua tangan Gama mengelilingi pinggang Gala semakin erat. Jarak sama sekali tak ada di antara mereka. Sesekali keduanya akan memagut bibir satu sama lain sekilas, atau hanya sekadar mengecup pipi gembul pasangan masing-masing. Semua hanya perlakuan manis, hingga suatu pergerakan dari Gala yang membuat Gama menciptakan seringaian di wajahnya.

“Hmm, Gal.”

“Hnghh, apa? Bentar, aku lagi enak begini sshh,” Gala merespon dengan menyelipkan lenguhan. Pasalnya, pinggulnya kini tengah bergerak maju mundur dengan tempo yang lambat.

Pergerakan itu membuat Gama meremas pinggang Gala dengan sensual. Gala yang sedang mencari kenikmatan dari friksi yang ia lakukan sendiri hanya dapat berpegangan erat pada bahu Gama.

“Gala sayang, dari pada begini mending yang lain. Aku bikin lebih enak, deh. Mau?” tanya Gama sedikit menengadah untuk menatap wajah suaminya yang telah memerah.

“Mauuuuu. Mana kado ulang tahun ak- AH! Gama, aku kaget!” Gala berteriak sembari memukul pelan lengan suaminya.

Gama baru saja mendudukkan Gala di atas meja kerjanya. Ia pun beranjak dari duduknya dan mengecup bibir Gala sekilas. “Sebentar ya, sayang,” ujarnya seraya berjalan menjauh dari Gala.

Langkah kaki Gama berderap menuju pintu. Tangannya dengan cepat menguncinya, agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangannya dan mengganggu kegiatan panas yang akan ia lakukan dengan suaminya. Netranya pun melirik ke arah jam dinding di ruangan yang menunjukkan pukul tiga sore.

“Buruan sini, Gamaaaaa,” panggil Gala dengan tidak sabar.

Gama terkekeh dan segera mendekati Gala. Ia kembali duduk di kursi kerjanya, dengan tangan yang bergerak melebarkan kedua tungkai kurus Gala. Gama pun langsung memajukan kursinya hingga posisinya kini berada di antara kedua kaki Gala yang sudah terbuka lebar.

“Hehe, mau ngapain kamu posisinya begini?” tanya Gala sembari mengelus surai coklat Gama.

“Mau nyepong,” jawab Gama enteng. Tangannya pun langsung sigap menurunkan ritsleting celana Gala dan melucutinya. “Udah dibersihin kan tadi?” Gama menengadah untuk bertanya kepada suaminya.

“Udah, mas,” jawab Gala lembut.

“Pinternya. Mas mulai ya, dek?”

Gala mengangguk cepat. Pertanyaan Gama saja sudah membuatnya Gila, apalagi ditambah dengan panggilan 'dek' dan nada suaranya yang rendah itu. Gala semakin yakin ia tak salah menikahi pria ini.

“Ahh...”

Desahan Gala mulai terdengar. Penisnya digenggam oleh Gama, diremas dan mulai dikocok pelan. Ujungnya pun diberi kecupan dari bibir Gama berulang kali, menciptakan sensasi geli yang meningkatkan libidonya. Tidak lupa pula dua bola kembarnya yang sesekali Gama emut.

“M-mas...masukin aja, siiihhh,” pinta Gala dengan tidak sabar. Perlakuan Gama saat ini membuatnya frustasi. Lidah Gama lihai menjilat penisnya dari atas ke bawah dan membuat gerakan memutar di ujung kejantanannya itu. “Gamahhh, pleaseee masuk- ahhh iya gituuuh,” Gala kembali mendesah ketika Gama akhirnya memasukkan penis Gala ke dalam mulutnya.

Kuluman Gama pelan dan naik-turun dalam tempo teratur. Perlahan ia mempercepat gerakan kepalanya agar penis suaminya masuk dan keluar dari mulutnya melaju cepat. Tak pula diabaikan bagaimana tangannya mengelus paha bagian dalam milik Gala dengan gerakan sensual, bahkan meremasnya pelan. Semua pergerakan itu membuat Gala benar-benar berada di puncak birahinya yang sangat ia nikmati.

“Ahhh, Gammm. Ahh ahh cepet banget, sayang. Nghhh,” ujar Gala sebagai bentuk protes. Bukan protes sebenarnya, hanya saja Gala tak kuasa merasakan kenikmatan yang menggila ini.

Gama pun menyelesaikan kegiatan servis oralnya itu. Kepalanya menengadah dan tak disangka Gala pun menunduk, hingga tatapan mereka bertemu.

“Enak, sayang?” tanya Gama.

“Enak hehehe,” jawab Gala sambil mengulas senyuman.

“Mau diapain lagi?”

“Hmm, kamu ga mau nenen, mas?” tanya Gala dengan sengaja melukis ekspresi imut, membuat Gama tertawa pelan.

“Aku nenen, tapi sambil fingering, boleh?” Gama melempar pertanyaan sembari bangkit dari duduknya.

Gala mengangguk memberi persetujuan. Ia pun berinisiatif menggenggam tangan Gama, meraih jari tengah Gama dan mulai ia masukkan ke dalam mulut. Jari tersebut dikulum, dihisap, dan dijilat guna membasahinya sebelum dimasukkan ke lubang anal Gala.

Pemandangan ini membuat napsu Gama kian meningkat. Wajahnya semakin mendekat dan tangan satunya mengangkat kaos yang dikenakan Gala. Gama merunduk, memulai servisnya pada kedua puting Gala.

“Nghh, Gammmh,” desah Gala melepaskan kuluman pada jari Gama.

Tangannya yang telah terbebas, Gama bawa turun ke bawah. Perlahan, ia memasukkan jari tengahnya yang basah ke dalam lubang Gala. Rintihan pun semakin keras terdengar kala jari tersebut dengan cepat menerobos anal Gala.

“Ssshh, enak banget di atas sama bawahhh.”

Gala terus meracau dan mendesah, sedangkan Gama terus menerus memberikan kenikmatan. Puting Gala dihisap kuat, bahkan digigit pelan hingga sang empu merintih merasa perih dan ngilu di saat yang bersamaan. Pun di bagian bawah sana, jari Gama kian bertambah memasukkan lubangnya, membuat Gala lemas merasakan nikmatnya kegiatan mereka ini.

“Gamhh, ahh ahh, please udahhh nghh udahhhh!” jerit Gala sembari menjambak pelan rambut Gama.

Gama menghisap kedua puting Gala bergantian dan semakin kuat. Jarinya semakin ia sodokkan lebih dalam lagi di lubang suaminya. Segala wujud protes Gala tak dihiraukannya sesaat, hingga sang suami mungilnya itu berteriak kuat, “Gamahh, udahhh! Sakit banget ini!”

Yang dimarahi hanya tertawa pelan. Ia pun berdiri tegak, mengecup bibir suaminya sekilas, tak lupa mengeluarkan jarinya dari lubang Gala dan berujar, “Hehehe, maaf, sayang.”

Bibir Gala mengerucut maju. Dia pun langsung melihat kedua putingnya yang memerah dan bengkak saat ini. “Liat niiih, bengkak jadinya,” gerutu Gala.

“Tadi siapa yang nawarin?” cibir Gama meledek.

“Hmm aku...” jawab Gala ragu dan mengundang tawa Gama.

“Ya udah sekarang dikasih yang enak beneran, deh.”

Gama membuka laci mejanya paling bawah. Tangannya sedih masuk ke dalam untuk meraih botol pelumas berukuran kecil yang selama ini ia simpan disana. Melihat itu, Gala pun tersenyum puas. Kedua kakinya semakin ia lebarkan dengan netra yang terfokus menatap suaminya yang tengah menurunkan celananya.

“Ugh, suamiku seksi banget kalo tititnya udah tegang gitu,” tutur Gala dengan nada yang ceria.

“Hahaha, jelaslah. Suami siapa dulu?”

“SUAMI AKU! Suaminya Gala!”

Gama terkekeh. Kini ia tengah sibuk mengocok penisnya sendiri. Detik berikutnya ia mengeluarkan kondom dari dompetnya. Pemandangan yang memuaskan lagi bagi Gala ketika Gama membuka bungkus pengaman tersebut dengan giginya. “Ah, seksi banget siiih, mas! Aku makin ga sabar ini mau dimasukin,” ungkap Gala melihat Gama yang sibuk membungkus penisnya dengan kondom dan melumuri lubrikan disitu.

“Iya iya, ayang. Ini dimasukin deh.”

Gala turun dari meja. Tubuhnya ia balikkan dan direndahkan, membiarkan kedua tangannya bertumpu pada meja. “Masukin sekarang, masss. Nih aku udah nungging gin- nghh, masss,” ucapan Gala tak selesai karena Gama langsung memasukkan ujung penisnya ke dalam lubang Gala.

Dua pemuda itu melenguh. Dengan gerakan yang pelan, Gama memasukkan penisnya hingga tertanam sempurna di dalam lubang kenikmatan tersebut.

“Ay, sempit banget.”

“Humm, titit kamu yang gede, Gammm.”

Lubang Gala mulai terbiasa dengan adanya penis Gama di dalam sana. Hal itu membuat Gama menggerakkan pinggulnya agak cepat. Genjotannya kian melaju bahkan menyentuh prostat Gala yang membuat Gala semakin mengerang nikmat.

“Hmhh ahh, ayang, disitu lagiiih. Kenain lagi, Gammmm.”

Sebelum menuruti permintaan suaminya, Gama mengeluar penisnya. Gala mengernyit heran, tetapi detik berikutnya ia paham. Gama membalikkan tubuh sang suami hingga mereka berhadapan. Keduanya saling melempar senyum dan berpelukan erat.

“Mmhh,” lenguh Gala ketika Gama memasukkan penisnya lagi.

“Lebih gampang masukinnya, ay. Udah longgar soalnya.”

Gama memeluk tubuh Gala dengan erat. Dipagutnya ranum menggoda milik suaminya, dilumat kasar dan dihisap kuat. Gala pun tak ingin kalah. Ia melumat balik bibir Gama dengan terburu-buru.

“Aw! Gama, jangan digigit- hmphhh,” teriakan dan protes Gala tak lagi mampu diselesaikan. Gama kembali meraup bibir tersebut hingga lidahnya bermain di dalam liang hangat itu.

Ciuman mereka tak kunjung melambat. Semakin kuat Gama menggenjot penisnya di bawah sana, semakin tergesa pula lumatan mereka. Saliva tidak mampu terbendung hingga lelehannya membanjiri ujung bibir keduanya.

“Mhh- Gamhh, fuck kamu kasar banget nghhh, sakitttt.”

“Tapi enak, ay?”

“Iyahh ahh tapi sakit, masss.”

Rintihan Gala diabaikan oleh Gama. Tangannya meremas pantat Gala dengan kuat seiring sodokan penisnya yang semakin dalam. Sang empu anal pun hanya bisa pasrah dan menikmati. Ia eratkan pelukan pada suaminya serta terus menggaungkan nama suaminya dalam desahannya.

“Mas Gamahhh, aku mau keluarhhh mhh m-mas...”

“Keluarin aja, sayang,” titah Gama seraya mengocok penis Gala.

“Ahh iyah ahh, masss.”

Gala mencapai puncaknya. Cairan putih meleleh keluar dari kejantanan Gala, memenuhi telapak tangan Gama hingga tak tertampung. Tubuh Gala lunglai dalam rengkuhan Gama yang masih menggenjot kuat lubang Gala.

“Mas, lama banget keluarnyahhh,” Gala mulai protes dengan lemah.

“Ini mau keluar kok, ahh sshh, adekkk.”

Desahan Gama menandakan putihnya telah sampai. Spermanya menyembur dan terbendung di dalam kondom.

Pria gemini itu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Gala yang telah lemas pun diposisikan di pangkuan Gama. Keduanya berpelukan erat dengan tangan Gama yang mengelus pinggang Gala penuh kelembutan.

“Sakit ya, dek?”

Gala hanya mengangguk sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gama. Ia menggigit leher Gama dan menghisapnya kuat. “Sakit banget tauuuu,” gumamnya.

Gama pun terkekeh setelah meloloskan lenguhan akibat hisapan di lehernya. Yakin sekali bahwa kini tanda merah telah bertengger di sana. “Hehehe, maaf ya, ayang. Habisnya, kenapa ya kalo kita ngewe pas masih pake baju gini malah bikin napsu aku makin tinggi?” ungkap Gama.

“Kamu aneh.”

“Biarin. Aneh gini juga suaminya Gala.”

Gala tersenyum, merasa tergelitik dengan ujaran Gama barusan. Ia pun melonggarkan pelukan mereka untuk menatap wajah suaminya. Diberinya kecupan lembut pada kedua pipi Gama untuk mengucapkan, “Aku sayang banget sama Mas Gama.”

Senyuman terulas di wajah Gama. Kendati begitu, detik berikutnya ia terbelalak panik. Ibu jarinya segera mengarah ke bibir Gala. “Sayang, maaf, bibir kamu berdarah,” ujar Gama cemas.

Gala bukannya ikut panik, tapi malah tertawa pelan. Ibu jarinya pun bukan mengarah ke bibirnya, tetapi ke bibir suaminya. “Bibir kamu juga, mas. Hehehehe,” tanggapnya disertai cengiran.

Keduanya pun tertawa sembari menyeka bibir satu sama lain dengan tisu. Gama mengecup pelan bibir Gala dan menciptakan senyuman di wajah mereka berdua. “Maaf ya, sayang. Aku jadi nyakitin kamu gitu. Bibirnya perih banget ya? Lubangnya juga?” tanya Gama khawatir.

Gala menggelengkan kepalanya. Jemarinya mengelus pipi Gama dengan lembut. “Gapapa, kan udah biasa sakit karena main kasar, hehehe,” jawab Gala dengan santai.

Menit berikutnya, kedua manik Gala menyipit menatap Gama dengan lekat. “Gama, kok kamu ga ngucapin apa-apa sih di Twitter buat ulang tahun aku?”

Gama terkekeh. Ia meraih hpnya dan menjawab, “Sebentar, aku ucapin dulu.”

Sekian detik Gama sibuk dengan hpnya sambil tersenyum tengil. Gala sudah menaruh curiga dan sigap mengambil hpnya sendiri ketika Gama berkata 'sudah'.

“Ih, Gama! Kamu nyebelin deh! Masa cuma begini doang?! Mana bukan di main account pula!” Gala melayangkan protes dengan bibirnya yang maju.

“Hahahaha, aku bersihin dulu deh ini ya. Habis ini kita pergi makan.”

“Ga mau!”

“Harus mau. Aku udah nyiapin makanan spesial buat kamu,” ujar Gama enteng sembari mengeluarkan penisnya dari lubang Gala dan kembali mendudukkan Gala di atas meja kerjanya.

Gala masih merasa dongkol, namun matanya tetap mengikuti kemana pun Gama melangkah. Mulai dari berjalan membuat kondom yang menampung spermanya, memakai celana, mengambil tisu basah, dan membantu Gala membersihkan penisnya serta memakaikan celana.

Seluruh perbuatan Gama itu meluluhkan hati Gala. Kekesalannya digantikan senyuman manis. Ia pun menarik tangan Gama dan mengisyaratkan pelukan.

Gama membalas senyuman Gala dan pelukannya. “Masih kesel sama aku?” tanya Gama lembut.

“Enggak. Aku ga bisa kesel lama-lama sama kamu.”

Gama melepaskan pelukan dan membubuhi kecupan yang agak lama pada dahi Gala. Tangannya melingkar pada pinggang Gala. “Kita pergi makan sekarang, ya? Aku gendong kamu sampe parkiran.”

“Oke, Mas Gamaaaa!”


schonewords