Grey Hoodie & Short Pants
CW // nsfw, bxb mature content, kissing, cuddling, dirty talks, hickeys, nipples play, hand job, harsh words, masturbation
“Haechan!”
Suara yang familiar itu masuk ke telinga Haechan yang langsung menoleh. Mulanya hanya kepalanya yang bergerak, namun tatkala matanya mendapati sosok sang kekasih yang mencuri perhatiannya sepenuhnya.
“Haechan, lihat! Aku iseng nyobain hoodie kamu yang digantung di kamar!” seru Renjun.
Haechan hanya terdiam. Sepasang obsidiannya tak henti menatap Renjun dari atas sampai bawah. Isi kepalanya seketika kosong dan tak mampu memikirkan apapun lagi.
“Hoodienya kegedean,” gumam Renjun lirih sambil jalan ke arah Haechan yang lagi santai duduk di sofa.
“Badan kamu yang kecil,” ucap Haechan sambil terkekeh.
“Ya iya sih,” jawab Renjun. Wajahnya sumringah dan dengan sigap dia naik ke atas sofa—tepatnya ke atas pangkuan Haechan. Kedua tangannya pun secara otomatis melingkar di leher Haechan dan memeluk kekasihnya dengan sangat erat. “Tapi aku seneng pake hoodie kamu gini. Berasa kamu pelukin, bisa nyium wanginya kamu terussss, anget juga.”
Kalau isi hati Haechan bisa disuarakan dengan lantang, maka yang terdengar adalah: 'Fuck you, Huang Renjun!'
“Hmm, aku paham sih kamu seneng pake hoodie ini, tapi,” ucap Haechan menggantung.
“Tapi apa?” tanya Renjun melonggarkan pelukan, tapi tetap membiarkan dirinya duduk di paha Haechan dengan dua lengan kecilnya yang setia bertengger mengelilingi leher pacarnya itu.
“Tapi aku ga ngerti kenapa harus pake celana pendek?” Haechan balik bertanya dengan salah satu alisnya yang naik.
Renjun seketika menunduk. Dilihatnya celananya yang hanya menutupi setengah pahanya. Ia pun terkekeh dan kembali menatap Haechan. Begitu pula kedua tangannya yang beralih untuk menangkup dua pipi Haechan yang sudah tak terlalu gembul lagi.
“Oh ini tuh celana yang aku beli di Thailand. Tadinya cuma nyobain doang, terus aku lihat hoodie kamu, yaudah aku cobain barengan. Eh ternyata jadinya lucu juga kalo pake celana ini sambil pake hood—”
Celotehan Renjun yang menggemaskan itu langsung terhenti ketika bibirnya dibungkam oleh labium Haechan. Tanpa basa-basi, Haechan memajukan wajahnya dan mencumbu ranum merah muda sang kekasih yang selalu terlihat menggoda. Untungnya, ini bukan cumbuan panas. Hanya sekadar menautkan bibir sebentar dan melumatnya sedikit, lalu dilepaskan.
“Kamu selalu lucu pake apapun, Junnie,” ucap Haechan sambil mengusap bibir Renjun yang basah karena lumatannya.
Renjun hanya tersenyum mendengar pujian Haechan tadi. Tangannya yang masih menangkup wajah Haechan itu kembali mendekatkan pada wajahnya. Bibir Haechan dikecup sekilas oleh Renjun, dan yang lebih menggelitik Haechan adalah kecupan sekilas yang turut dibubuhkan Renjun di hidung dan dagunya.
“Kalo mau muji tuh kenapa harus nyium dulu, Chan?”
Haechan terkekeh mendengar pertanyaan itu. Tangannya yang semula melingkar di sekeliling pinggang Renjun, kini beralih ke dua sisi pinggang ramping itu.
“Kamu tuh lucu banget tadi ngomongnya, aku ga tahan jadi pengen cium. Terus pengen banget muji kamu karena kalo habis ciuman tuh muka kamu merah, ditambah pujian jadi makin merah. Gemesin banget,” jawab Haechan.
Kali ini Renjun yang terkekeh mendengar penjelasan Haechan. Pipi Haechan pun dicubit pelan sembari bertutur, “Kamu juga lucu banget, Chan. Gemesin jug—heh! Ini tangannya ngapain?”
Suara gelak tawa melesat dari mulut Haechan. Tak pula ia hiraukan protes dari Renjun dan membiarkan tangannya yang telah menyelip masuk ke dalam hoodie itu mengelus pinggang Renjun secara langsung.
“Cuma dielus doang, sayang,” jawab Haechan masih diselingi kekehan.
“Nakal deh tangannya,” ujar Renjun bercanda.
“Loh? Kamu lebih nakal.”
“Eh? Kok aku lebih nakal?” Renjun bertanya dengan ekspresi bingung.
“Ini sekarang duduk di paha aku dengan penampilan seksi gini,” jawab Haechan santai namun diikuti seringaian di wajahnya.
Renjun tertawa kecil mendengarnya. Maka dipeluknya lagi leher Haechan, membawa wajahnya berada di ceruk leher si gemini itu dan membiarkan napasnya menerpa kulit Haechan secara langsung. Bibirnya mengecup leher Haechan sekilas.
“Tapi kamu suka kan kalo aku kayak gini?” tanya Renjun berbisik tepat di bawah telinga Haechan karena sembari menghujani leher Haechan dengan kecupan-kecupan ringan.
Salah satu sudut bibir Haechan semakin tertarik ke atas hingga seringaian itu tercipta kian jelas. “Suka banget, Njun,” jawabnya lirih.
Tak bersuara lagi, Renjun masih sibuk sendiri di leher Haechan. Hidungnya terus mengendus aroma khas tubuh Haechan yang menguar dari sana. Bibirnya tak henti-henti mengecup kulit leher kekasihnya itu yang sangat candu baginya.
Begitu pula dengan Haechan. Selagi ia menikmati kecupan Renjun di lehernya, ia terus mengelus pinggang Renjun dengan lembut. Telapak tangannya dapat merasakan hangat dan mulusnya kulit Renjun.
“Nghh, Renjun,” lenguh Haechan sambil meremas pinggang Renjun ketika lehernya mulai digigit pelan oleh sang kekasih.
“Mmhh,” Renjun pun melenguh karena remasan di pinggangnya hingga membuatnya otomatis menghisap leher Haechan.
“Shit! Leher aku nanti merah, sayang,” lirih Haechan.
“Humm gapapa. Kamu jadi seksi banget kalo lehernya merah-merah karena aku.”
Renjun melanjutkan kegiatannya. Beberapa titik di leher Haechan telah penuh dengan tanda merah keunguan khas hisapan yang lebih dikenal hickey. Kepalanya lambat laun menengadah, memberikan akses yang lebih leluasa kepada kekasihnya yang sangat suka mencumbui lehernya.
“Ahh, Haechan!” Renjun menjerit dan menyudahi kegiatannya itu dengan terpaksa.
“Hahahaha, kenapa sih?” Haechan sok polos bertanya.
Renjun memajukan bibirnya. “Tadi tangannya perasaan masih di pinggang. Kenapa tiba-tiba udah nyubit nipple aku?” tanyanya.
“Buat ngelampiasin aja. Kan aku ga mau enak sendiri, Njun.”
Dua pria itu terkekeh. Renjun menyentuh tangan Haechan yang ada di dadanya dari luar hoodie. Diarahnya tangan Haechan untuk mengelus putingnya dengan pelan.
“Hnghhh, aku suka banget deh kalo kamu mainin nipple aku gini.”
“Kalo dicubit?”
Kepala Renjun menggeleng. “Jangan. Sakit kalo dicubit. Dimainin ajaaaa,” ujarnya pelan.
“Iya iya,” Haechan mengangguk.
Bibir mereka bertemu. Renjun mengalungkan tangannya di leher Haechan sembari memiringkan kepalanya ke kiri. Lumatannya disambut oleh Haechan dengan hisapan pada bibir bagian atasnya.
“Mphh,” lenguh Renjun ketika dua jempol Haechan menekan putingnya.
Seiring tangannya yang sibuk di dada Renjun, Haechan pun menjulurkan lidahnya. Ia terobos belahan bibir Renjun, menikmati rongga basah dan hangat itu dengan lidah mereka yang saling bergulat di dalam sana.
“C-chan...”
Ciuman mereka terlepas ketika Renjun mendorong bahu Haechan. Cumbuan itu sudah berlangsung cukup lama, hingga Renjun merasa oksigen di rongga paru-parunya telah menipis. Terlihat dari napasnya yang kini terengah seolah rakus menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Sexy lips,” ujar Haechan memandangi bibir Renjun yang mengkilat karena campuran saliva mereka di sana.
“Hahahaha,” Renjun tergelak. “Bibir kamu juga jadi lebih seksi sekarang.”
Haechan tersenyum. Ia berikan kecupan singkat di bibir Renjun selagi mengeratkan pelukan di pinggang kekasihnya itu.
“You wanna do 'it' now?” tanya Renjun seraya menekan kata 'it'.
Kepala Haechan menggeleng. “Kita baru ngelakuin itu kemarin. Pasti kamu masih sakit, jadi ga usah dulu,” jawabnya.
“Thank you for being considerate,” hatur Renjun mengelus pipi Haechan. “Tapi ini ada yang keras di pantat aku.”
Ketawa Haechan pecah. Ia tergelak renyah dan kembali mengecup bibir Renjun.
“Siapa juga yang ga tegang lihat kamu pake hoodie kegedean gini sama celana pendek banget? Ditambah lagi kita udah ciuman, leher aku udah merah-merah, terus aku udah mainin nipple kamu.”
Kali ini Renjun yang tertawa renyah. “Padahal kan aku ga bermaksud bikin kamu turn on gini, Channnn,” katanya gemas.
“Ya mau gimana lagi? Tetep aja sekarang high banget nih.”
Renjun terkekeh. Ia dekatkan wajahnya yang kini membuat wajah mereka hanya berjarak sekitar lima sentimeter.
“Should I user my hand instead?” tanya Renjun diikuti senyuman menggemaskan.
“Kamu mau?”
Dengan cepat Renjun mengangguk. “Together? I'll do yours and you'll do mine,” ajak Renjun.
“Hahaha, oke!”
Haechan menurunkan Renjun dan dibiarkan duduk di sampingnya. Ia memiringkan posisi agar tetap menghadap Renjun, sedangkan kekasihnya duduk bersandar di sofa.
“Uhh udah tegang banget,” ucap Renjun ketika berhasil menurunkan sedikit celananya Haechan dan mengeluarkan penis kekasihnya itu.
“Padahal kamu juga, Njun,” kata Haechan.
“Eh? Tumben masukin tangannya git—nghhh, Chan...”
Kali ini ada keunikan yang Renjun lihat dari cara Haechan menyentuh kejantanannya. Alih-alih memasukkan tangannya dari bagian atas celana yang menyangkut di pinggul, Haechan memilih menyelipkan tangannya dari bagian bawah. Ya, lubang celana tempat kaki Renjun masuk—tepatnya di bagian pahanya.
“Hnghh, Chan,” Renjun melenguh merasakan nikmat.
“Enak kayak gini?” tanya Haechan.
“Iyahhh.”
Pasalnya, tangan Haechan memulainya dengan mengelus paha Renjun, menjalar ke bagian dalam, naik ke atas, menyelipkan tangan hingga langsung menyentuh dua bola kembar Renjun di dalam sana. Memang lebih sulit seperti ini, tapi nyatanya sensasi panas yang tercipta justru lebih menggoda.
“Ahh shit, Renjun,” racau Haechan ketika jempol Renjun digesekkan di kepala penisnya.
“Haechan ahhh...”
Sepasang kekasih itu saling mendesahkan nama satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh tangan Renjun yang mengocok penis Haechan kian cepat dan tangan Haechan yang meremas kuat penis kekasihnya. Bahkan penis Renjun sudah dikeluarkan Haechan melalui celah kecil di bagian bawah celana itu, membuat kejantanan Renjun keluar mepet dengan pahanya.
“Ohhh damn Haechan, sesak banget rasanya kalo dikeluarin dari situ hmm sempit, Chan. Buka aja celananya.”
“Noooo!” Haechan berseru cepat. “Kayak gini lebih seksi, Njun. It's more tempting to see your dick getting bigger in that tight pants and between your thighs.”
“Fuck you, Lee Haechan!” Renjun mengumpat mendengarnya. Ya, siapa juga yang tidak semakin tergoda mendengar ucapan se-sensual itu disaat penisnya tengah dikocok dengan tempo yang cepat.
“Enak kan, Njun? Hmm?”
“Enakkk,” Renjun mengangguk dengan susah payah. “Hnghh ini juga punya kamu udah makin gede, makin tegang di tangan akuuu. Do I squeeze it correctly?“
“Yesss ahhh, enak banget tangan kamu ngocokinnya.”
Kedua pria itu saling meracau, mendesah, bahkan sesekali berteriak melengking tatkala penis mereka diremas oleh sang pacar. Mereka juga akan bercumbu dan melumat sekilas selagi tangan mereka memberi servis kenikmatan pada kejantanan satu sama lain.
“Aku mau keluar, Njunnn,” ucap Haechan sambil menggeram.
Mendengar itu, Renjun makin kencang menaik-turunkan tangannya pada penis Haechan. Diremas dan dikocoknya dengan terburu-buru batang yang telah menegang sempurna itu hingga Haechan mencapai putihnya terlebih dulu.
“Ren—ahh Renjun!” teriakan Haechan menggema seiring spermanya yang mengalir deras di tangan Renjun dan muncrat mengenai paha Renjun pula.
Haechan merasa lemas, tapi ketika diliriknya kekasihnya belum merasa puas, maka tangannya kembali bergerak cepat. Digenggamnya kuat penis Renjun, mengguncang alat kemaluan kekasihnya itu hingga Renjun benar-benar mendesah kuat.
“Fuck, Haechan, ahh ahh aku kelu—ahhh!”
Renjun pun telah sampai di puncak kenikmatannya. Cairan putih kental yang keluar dari penisnya itu membanjiri tangan Haechan dan menyatu dengan sperma Haechan di pahanya sendiri.
“Hhhh it was amazing,” ucap Renjun dengan napas tersengal.
“I know,” tanggap Haechan sambil terkekeh.
Butuh beberapa menit hingga napas mereka berhembus teratur lagi. Renjun meraih tisu yang ada di meja di hadapan mereka, membersihkan seluruh cairan putih yang tersisa di tangannya, penisnya, pahanya, serta di tangan dan penis Haechan.
“Makasih, sayang,” hatur Haechan sembari tersenyum dan menaikkan celananya ke posisi semula.
“Sama-sama, sayang,” jawab Renjun, pun sama—sambil merapikan celananya lagi dan kembali duduk di pangkuan Haechan.
Mereka saling berpelukan ketika Haechan bertanya kepada Renjun, “Capek?”
Renjun mengangguk pelan. “Mau rebahan, Chan,” jawabnya.
“Oke,” tanggap Haechan seraya berdiri, menggendong Renjun, dan membawanya ke kamar Renjun.
Keduanya pun merebahkan tubuh mereka di atas kasur kecil milik Renjun. Tubuh mungil si pemilik kamar itu sudah beringsut masuk ke dalam dekapan hangat dari Lee Haechan. Pun punggung Renjun dielus dengan pelan serta keningnya diberi kecupan lembut oleh Haechan.
“Aku boleh kan pake hoodie ini terus?” tanya Renjun bergumam sambil bersandar di dada Haechan.
“Boleh banget, tapi jangan pake celana pendek gitu mulu ah. Nanti yang lain pada demen liat paha kamu,” gerutu Haechan.
Renjun terkekeh. “Iya iyaaa. Ini kan aku pakenya karena di dorm cuma ada kita berdua. Kalo ada yang lain ga bakal aku pake yang sependek ini,” ujar Renjun.
“Good good, because your sexiness is mine only.”
“Hahahaha,” Renjun tergelak mendengar pernyataan Haechan. “Yes I know it, my possessive boyfriend.”
schonewords