habrevan – I miss you and your touch and your body
cw // video call sex, nsfw, mature content, dirty talk, harsh words, self service sex, aduh banyak deh intinya mereka anuan pas video call aja ya sampe keluar (gue capek banget mau mikir cw-nya anjiiiingggg)
Revanda itu...suami yang sabar banget. Suami yang nurut banget. Suami yang begitu dinikahin sama Habrian, dia mutusin untuk banyak nurunin egonya dan ngalah dengan suaminya. Eits, tapi bukan berarti Habrian bisa seenaknya juga sama Revanda. Mereka cuma lebih bisa beradaptasi menjadi pasangan yang lebih baik dan dewasa untuk satu sama lain.
Lucu ya pembukaannya? Maksudnya apaan gitu? Hehehe.
Sekarang ini, Revanda lagi pergi ke Malaysia, ada workshop untuk para pemilik firma arsitektur yang terpilih. Ya, Revanda salah satunya. Terpilih sebagai perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti workshop itu seiring dengan firmanya yang semakin berkembang pesat dan terkenal di ibu kota.
LDM alias long distance marriage sejenak, bikin Habrian cukup uring-uringan. Bukannya uring-uringan karena harus ngurusin anaknya sendirian, tapi lebih merasa pening karena lagi butuh belaian suaminya.
“Sayaaaang,” Habrian bersuara tepat ketika Revanda mengangkat telfonnya, ups, lebih tepatnya video call.
“Apa, Mas Briiiii?” tanggap Revanda sambil merebahkan diri di kasur.
Tepatnya saat ini pukul setengah sepuluh malam waktu Jakarta, yang artinya sekarang sudah setengah sebelas malam di Malaysia. Revanda baru selesai mandi, kebablasan berkumpul dengan rekan-rekan sesama arsiteknya untuk makan malam dan berbincang sampai pukul sepuluh waktu setempat.
“Kamu lama banget deh dinnernya, cil,” protes Habrian.
Revanda terkekeh. “Iya iya, maaf ya, sayangkuuuu. Keasyikan ngobrol sih tadi, jadi keterusan ternyata udah jam segini. Padahal aku juga mau video call sama Kamal,” jawabnya.
“Dah keburu molor tuh anak kamu,” balas Habrian sambil menunjukkan box tidur anaknya di sebelah ranjang mereka.
“Lucunyaaaa anak aku. Dia rewel ga, mas?”
“Ngga kok. Aman aja dari tadi dia dijagain sama mamah dengan Jian.”
Ya, seperti biasa, selagi Revanda pergi, pasti Habrian dan baby Kamal mengungsi ke rumah orang tuanya Habrian. Alasannya sederhana. Biar Habrian gak kerepotan dan Revanda merasa aman anaknya diasuh sama mertuanya.
“Sayang, aku kangen,” ucap Habrian dengan manja.
Revanda senyum. Ia tahu pasti bahwa suaminya kalau sudah manja begini, biasanya sedang needy. Kalau lagi berdua di rumah, Habrian yang manja akan berakhir dengan raungan Revanda yang mendesah kuat.
“Aku juga kangen, mas. Aku susah tidur beberapa hari ini karena ga dipelukin sama kamu.”
Aduuuuh. Revanda ituuuu kalau sudah tahu suaminya needy dan clingy, dianya gak mau kalah clingy juga.
“Ah, sayang mah. Aku jadi makin kangen,” cibir Habrian.
“Sabar ya, mas. Besok sore kan aku udah pulang.”
“Udah ga sanggup lagi aku nahan kangen rasanya. Pengen banget nyusulin kamu ke sana sekarang.”
“Ya, jangan dong. Kalo kamu nyusul, yang ngurusin urusan kantor siapa? Sabar ya, Mas Bri. Besok malem kita udah tidur pelukan lagi.”
“Iya. Ga cuma pelukan kan?”
Oke, udah mengarah kemana iniiiii?
“Emang Mas Bri maunya apaan kalo bukan pelukan doang?” ini Revanda bertanya dengan nada menggoda.
“Hmm, ciuman.”
“Oke. Pelukan sama ciuman aja?”
Habrian menggeleng cepat. “Mau isep nenen kamu juga, cil,” jawabnya.
“Ini?” tanya Revanda sambil mengangkat bajunya ke atas, mengarahkan kamera depan HP-nya ke dadanya.
“Iyaaaa, mau nenen itu, sayaaanggg. Aduh liat tuh nipples kamu menggoda banget,” balas Habrian mupeng melihat dua puting coklat Revanda.
Revanda terkekeh melihat ekspresi suaminya yang kayak ngiler banget lihatin putingnya. Revanda pun menyentuh salah satu putingnya menggunakan tangan kirinya yang menganggur. Sedangkan tangan kanannya membawa HP semakin mendekat dengan tonjolan kecil yang lagi disentuhnya itu.
“Hmmmh, mas, lebih enak kalo kamu yang mainin ini,” lenguh Revanda meracau merasakan nikmat di putingnya.
“Coba dicubit dikit, sayang. Nyubitnya di pinggirnya, biar makin nonjol pentil kamu itu.”
Bagaikan sebuah titah, ucapan Habrian langsung diindahkan oleh Revanda. Dua sisi puting kirinya menekannya dan membuat tonjolan itu mencuat. Hal itu mengundang erangan Revanda.
“Aahhh enak, Briannn. Humhhh mau kamu yang nyubitnya giniiii.”
“Re, bentar. Aku pake earpod dulu. Desahan kamu kuat banget, nanti anak kamu bangun.”
Revanda tertawa kecil. Ia menunggu sang suami mengenakan earpodnya.
“Udah, sayang. Lanjutin lagi mainin pentilnya, yang,” kata Habrian.
Perkataan itu dituruti oleh Revanda. Ia memainkan lagi putingnya, sesekali mencubit dengan keras hingga ia menjerit akibat perlakuan jarinya sendiri.
“Brian, nghh...”
“Sayang, tarik agak kuat pentilnya. Bayangin aja aku lagi ngisep nenen kamu.”
“Ahh fuck mau banget dihisappp, Briiii.”
“Iya besok aku hisap kuat-kuat ya, Re.”
Jangan lupakan kalau Habrian dan Revanda akan memanggil nama satu sama lain tanpa embel-embel apapun. Bagi mereka, dengan memanggil nama seperti itu, 'sexual tension' kegiatan panas mereka akan lebih menaikkan libido.
“Bri, kamu sambil pegang punya kamu ga?”
Habrian mengangguk. Beberapa detik lalu tangannya sudah menurunkan celananya untuk memijat penisnya. Gak mungkin Habrian tahan melihat ekspresi Revanda yang benar-benar merasa nikmat memainkan putingnya sendiri.
“Mau liat, Bri,” lirih Revanda.
“Kamu keluarin juga dong.”
Tangan Revanda sigap menurunkan celananya untuk membebaskan penisnya. Sepasang suami itu sempat saling berpandangan dan tersenyum dengan tangan mereka yang memijat pelan kejantanan masing-masing.
“Shit I really need your hands in here,” ucap Revanda sambil membalikkan kameranya jadi mode kamera belakang dan menunjukkan tangannya yang lagi meremas penisnya sendiri.
“Damn aku mau banget ngocokin itu, sayang,” tanggap Habrian menatap layar HPnya dengan lekat. Ia pun turut mengubah kameranya menjadi ke mode kamera belakang, membiarkan Revanda melihat penisnya yang sudah tegang.
“Re, aku butuh kamu, sayang. Aku butuh mulut kamu, tangan kamu, lubang kamu. I want you to suck my dick.”
Kepala Habrian menengadah dan terus meracaukan nama Revanda. Begitu pula Revanda yang tak hentinya mendesah akibat perbuatan tangannya sendiri.
“Ugh, I miss that big dick tho,” bisik Revanda menatap layar HP, membuat Habrian akhirnya melihat ke layar HPnya juga.
“Imagine this big dick inside your tight hole, Revan,” tanggap Habrian setengah berbisik.
“Hmm mau banget. Aku...nghhh...Bri, aku mau masukin jari aku.”
“Iya, sayang. Bawa lube kan kemaren?”
Revanda mengangguk dan meraih botol kecil itu dari tasnya di samping ranjang. Ia menunjukkan botol itu melalui kamera belakang HPnya.
“Nah itu coba kamu pakein ke jari telunjuk kamu dulu, Re,” titah Habrian.
Botol dibuka dan Revanda mulai membaluri lubrikan di jari telunjuknya. “Udah, Bri,” ucapnya.
“Sekarang pelan-pelan masukin jarinya ke lubang kamu. Olesin dulu sedikit di pinggirannya.”
Sesuai perintah dari Habrian, maka Revanda melakukannya. Diolesinya sedikit cairan pelumas di pinggir lubangnya, mulai memasukkan jari telunjuknya perlahan hingga dahinya mengernyit. Perih dan membuatnya ragu untuk terus memasukkan jarinya.
“Ahh sshh pedih, Bri,” desis Revanda.
“Slowly, baby. Slowly, relax, feel it as if it is my dick.
Revanda menarik napasnya, mencoba perlahan memasukkan lagi telunjuknya. Habrian yang menyaksikan aksi itu semakin merasa penisnya menegang. Melihat jari mungil Revanda masuk ke lubang itu membuat otaknya membayangkan kejantanannya yang masuk ke sana.
“Brian, ohhh fuck ahhh masuk nghh,” lenguh Revanda merasa lega.
“Good, Revan. Pinter banget cintaku ini. Sakit ya, sayang?”
“Iyahhh.”
“Coba pelan-pelan lagi digerakin sedikit aja ujung jari kamu di dalam. Digerakkin pelan, biar ngerangsang lubang kamu, nanti jari kamu jadi pasti naturally gerak lebih cepat.”
“Humhhh,” gumam Revanda mencoba mengikuti ucapan Habrian. “AH! Bri, ini ujung jari aku kok bikin jadi enak di dalemmm?”
“Bener kan? Keluarin sedikit jari kamu, sayang, terus masukin lagi. Kayak biasanya punya aku di dalam lubang kamu itu.”
“FUCK! Ahhh, Brian! Nghhh enakkk...”
Habrian menyeringai. Senyumnya semakin lebar ketika Revanda meletakkan HPnya di samping, membiarkan kamera depannya yang kembali menangkap pantulan dirinya yang sedang terbaring dengan baju yang terangkat sampai leher, celana yang diturunkan hingga bertengger di betisnya, serta tangan yang sedang berada di selangkangan.
“Squeeze your dick with your left hand, Re.”
Kembali perkataan Habrian diikuti oleh Revanda. Maka, pemandangan yang dilihat adalah Revanda yang terbaring, mengocok penisnya, memasuk-keluarkan jarinya di lubangnya.
“Ahh ahh, Brian, fuck aku butuh kamuuu. I need you now.”
Tangan Habrian semakin cepat mengocok kejantanannya. Naik, turun, naik, turun, diremas kuat.
“Anjingggg, aku tegang banget, Re, hnghhh.”
“Umhh, Brian, kamu butuh lubang akuuuhh.”
“Iya, sayang. Aku butuh lubang kamu yang sempit itu.”
“Nghh iyahh iyaahh, lubang sempit aku juga butuh your big dick ohh fuck!”
Revanda menoleh ke arah HP. Dapat ia lihat layar HPnya penuh dengan pemandangan tangan Habrian yang sedang asyik memberi servis ke penis besarnya sendiri.
“Bri, kayak yang biasanya aku lakuin, nghhh mainin jempol kamu di ujungnya itu.”
Kali ini Habrian yang mengikuti perintah Revanda. Ibu jarinya sekarang berputar di ujung penisnya, memberikan sensasi menyengat yang nikmat menjalar di sekujur tubuhnya.
“Anjing! Revan, ahhh, yesss this is exactly what you always did to my dick,” Habrian meraung tertahan, ia masih ingat anaknya sedang tidur di dekatnya.
“Huumm, iya aku selalu gituin penis kamu kalo mau bobo,” tanggap Revanda.
Mata mereka tak lepas dari layar HP. Seolah-olah pemandangan pasangan satu sama lain itu bagaikan bintang porno untuk memuaskan hasrat mereka.
“Brian, aku mau keluar...”
“Keluarin, sayang. Coba dicepetin lagi itu jarinya, terus tambahin jari tengah kamu ke dalam. Liatin ke aku sini.”
Revanda merubah posisi HPnya. Ia duduk bersandar pada headboard, sedangkan HPnya sekarang sudah tepat berada di tengah-tengah tungkainya, tak jauh dari lubang analnya yang sedang diservis oleh penisnya sendiri. Dua jarinya keluar dan masuk secara cepat hingga membuatnya mendesah kian kuat.
“Ahh ahh, Brian, gimanahhh nghh pengen keluar...”
“Keluarin, Re. Ayo keluarin aja. Aduh damn! Itu lubang kamu keliatan keenakan banget dimasukin jari. Shit, I can't stop imagining it's my dick.”
“Iyahh ahh iyahh ini aku anggapnya punya kam— AHHH, BRIANNN!”
Tangan kiri Revanda yang memijat penisnya kini sudah basah. Cairan spermanya sudah melumuri tangan mungil itu secara keseluruhan dan jarinya sudah ia keluarkan, membuat Habrian bisa memandangi lubang yang sedikit longgar itu dengan leluasa.
“Damn, look at that hole. Ga keliatan sempit karena abis kamu masukin jari.”
Revanda yang sedang mengatur napas pun tersenyum. Jari telunjuknya tadi ia gerakkan mengelilingi lubangnya yang terasa ngilu.
“Humm, Brian, kalo kamu masukin punya kamu biasanya lebih longgar dari ini,” ucap Revanda mendayu, mencoba menggoda suaminya yang belum mencapai titik kenikmatan.
“Nghh terusin dirty talknya,” perintah Habrian sembari terus menggerakkan tangannya cepat di penisnya dan menatap lubang Revanda di HPnya.
“Biasanya tuh punya kamu masuk sini, sampe longgar, sampe dalem bangettt. Terus digenjotin, nusukin sampe kena prostat akuuu, terus aku teriak-teriak keenakan gitu kan, Bri—”
“Shut up, Revan. Arghhh shit!”
Habrian sampai pada puncaknya. Hanya dengan mendengar suara Revanda yang mengucapkan kata-kata penuh godaan, Habrian akhirnya memuncratkan spermanya dan membasahi tangan, perut, hingga pahanya.
Sekitar beberapa detik Habrian menahan napas. Tangannya meraih tisu dan setelahnya mengambil HPnya, mengembalikan kamera depan sebagai default di video callnya.
“How was it, mas?” tanya Revanda ketika melihat kembali wajah suaminya yang penuh peluh.
“Amazing, but still need you more,” jawab Habrian. “Ga ada yang ngalahin kuluman kamu, kocokan tangan kamu, sama lubang kamu yang sempit itu.”
Revanda terkekeh mendengarnya. Ia menurunkan bajunya yang tadi terangkat, hanya saja celananya belum dikembalikan ke posisi semula karena penisnya juga belum dibersihkan.
“Nanti dibersihin dulu ya, cil. Lengket gitu pasti kamu bobonya ga bakal nyaman,” ucap Habrian lembut.
Bibir Revanda maju. “Biasanya kamu yang bersihin. Makanya aku males main sendiri, ga ada kamunya yang bantuin aku bersih-bersih,” katanya.
Habrian tertawa kecil. “Iya, sekarang bersihin sendiri dulu ya. Besok kamu sampe sini, kita main lagi, terus aku bersihin pas udah selesai,” tanggapnya dengan sangat sangat sangat lembut.
Senyuman mengembang di wajah Revanda. Ditatapnya sang suami melalui layar HP, diperhatikannya seluruh bagian wajah tampan itu yang turut membalas tatapannya.
“I never get bored to say how much I love you, Brian. I always feel grateful for having you as my husband.”
“Me too, kecilku. Aku pun sayang banget sama kamu dan ga akan pernah bosan buat bilang itu.”
“Yaudah sana Mas Bri bersih-bersih. Liatin tuh anaknya kebangun ga? Kamu tadi agak gede gitu desahnya.”
“Hehehehe, oke, cintaaa. Kamu juga ya bersih-bersih sekarang.”
“Iya, suamikuuuu. See you tomorrow, Mas Brian.”
“See you, cintaku. Besok aku sama Kamal jemput kamu di bandara.”
“Alright, captain!“
schonewords