Hey, My Fellow Leo Man – markmin's office romance
“Jaemin, kekeliruan kamu kemarin dalam evaluating anggota divisi marketing itu saya anggap kesalahan karena kamu masih penyesuaian diri di sini. Mr.Na, I won't tolerate any other mistakes in the future. Kamu itu asisten saya. Asisten manajer. Harusnya kamu bisa lebih profesional dan lebih cepat beradaptasi sama pekerjaan di sini. Jangan diulang lagi.”
Helaan napas panjang dihembuskan Jaemin tatkala kepalanya memutar memori omelan atasannya tadi pagi. Tatapan nanarnya beralih ketika kepalanya tertunduk. Kedua tangannya yang bertumpu pada dua lututnya kini bertaut di balik kepalanya.
Hembusan angin yang kencang di rooftop gedung tinggi itu tak sedikit pun memberi rasa dingin pada Jaemin. Dirinya yang terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar pada dinding tak pula menyejukkan suasana hatinya.
Ceklek!
Kepala Jaemin sigap terangkat ketika mendengar suara pintu terbuka. Iris matanya melebar saat mendapati sosok pria yang cukup ia kenal tengah berjalan keluar dari pintu tersebut dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Jaemin.
“Loh? Jaemin?”
“Kak Mark? Ngapain ke sini?”
Mark menutup pintu di balik punggungnya, berjalan santai ke arah Jaemin sembari terkekeh. Pun Jaemin hanya menengadahkan kepalanya untuk melihat Mark yang semakin mendekatinya.
“Ga makan siang?” tanya Mark seraya duduk di sebelah Jaemin.
“Done it,” jawab Jaemin sambil menunjukkan bungkus hamburger yang ada di sebelahnya.
“I see,” desis Mark. Netranya melihat ke Jaemin lekat yang tak lagi membalas tatapannya. “Lagi pusing ya?”
Bahu Jaemin bergidik sekilas. “Perhaps. Lagian yang bikin pusing juga kesalahan aku sendiri. Jadi, aku ngerasa ga pantes buat pusing begini,” jawabnya lemas.
Mark terkekeh, mengundang Jaemin menoleh ke arahnya. Punggungnya bersandar pada dinding seperti yang Jaemin lakukan.
“Justru harusnya kesalahan kita sendiri yang wajib kita pusingin, Jaemin. Kalau kesalahan orang lain, ya bodo amat.”
“Bener juga,” ucap Jaemin lirih.
Jaemin menghela napas berat. Kepalanya menengadah dan matanya tertutup rapat, menikmati paparan hembusan angin pada kulit mukanya.
“Don't blame yourself too much, Jaemin. Semua orang pasti bikin kesalahan and it's totally normal. If it's about work, udah sewajarnya kamu bikin salah.”
Dahi Jaemin mengernyit bersamaan dengan netranya yang terbuka. Ia mendelik ke arah Mark dan bertanya, “Kenapa udah sewajarnya?”
Mark menoleh, mempertemukan tatapannya pada mata indah milik Jaemin. Senyuman terulas seraya ia menjawab, “You are a newbie here. Ga ada satupun newbie di sini yang ga bikin salah di bulan pertama mereka kerja, karena pace kerja di sini terlalu beda dengan di tempat lain.”
“You're right,” jawab Jaemin. “Terlalu beda, dan aku agak kewalahan.”
“See? It's normal, Jaemin. Dulu aku juga kewalahan waktu awal-awal kerja di sini.”
“Oh ya?” Netra Jaemin seketika berbinar menatap Mark. “How was it?”
Sejenak Mark tampak berpikir, mencoba mengingat masa-masa itu. “Hmm, I made a lot of mistakes every weeks,” jawabnya santai.
“Hah? For real?”
Anggukan tergerak pada kepala Mark. “Research is suck, Jaemin. Jadi aku sering banget bikin salah,” jawabnya lagi.
“Gimana akhirnya kamu bisa semangat lagi dan ga down terus-terusan karena kesalahan kamu itu?” tanya Jaemin penasaran.
Mark sempat terkekeh pelan. “Jaemin, I'm a Leo man. Ga ada kata-kata down di dalam kamus hidup aku. Aku selalu berusaha untuk passionate dan ga takut dengan yang namanya 'kesalahan'. Balik lagi kayak aku bilang tadi, semua orang pasti bikin salah, tapi bukan berarti itu jadi penanda kalau kita gagal. Dari berbuat salah, kita justru belajar buat lebih semangat lagi supaya kesalahannya berubah jadi sesuatu benar,” jawab Mark bijak.
“I see,” ucap Jaemin pelan. “Aku kayaknya harus punya mindset kayak gitu juga deh.”
“As you should, Jaemin. Semangat ya.”
“Thanks a lot, kak. Kamu emang beneran orang yang keren dan baik banget,” tutur Jaemin lembut. “Oh, anyways, I'm a Leo man too!”
“Seriously?”
“Yes!”
Mark dan Jaemin tertawa kecil bersamaan. Mereka pun saling bertatapan sembari melempar senyuman tatkala tawa itu luruh.
“Ok, hello, my fellow Leo man. It's nice to see a cute lion here,” ujar Mark.
Kedua alis Jaemin terangkat. Mendengar kata 'cute' yang terucap dari Mark sempat membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“It feels nice as well for having such a great lion to talk here, Kak Mark.”
“Lain kali, kalau ada yang mau diceritain, boleh berbagi sama aku ya, Jaemin. I'm sure, the one who understands a Leo man is indeed another Leo man.”
“Wow, so confident,” balas Jaemin sambil terkekeh pelan. “Sure, kak. Aku mungkin bakal jadi sedikit bawel kalau keseringan curhat sama kamu. Is it fine?”
Mark mengangguk seraya menjawab, “Of course it's fine, cute lion.”
schonewords