Honeymoon


cw // nsfw, mature content, boys sex, switch position, kissing, hand job, anal sex, blow job, dirty talk, harsh words


“Chie, yakin ga?” Renjun bertanya sembari menatap Haechan di bawah kungkungannya.

Haechan terkekeh. Ia mengusap pipi suaminya yang kini berada di atasnya itu.

“Ini kita udah telanjang, udah pemanasan dari tadi, kamu tinggal masukin aja loh, sayang,” jawab Haechan.

Renjun nyengir. Pasalnya memang keduanya sudah melakukan foreplay selama lebih dari setengah jam. Mulai dari berciuman, saling menghisap puting satu sama lain, mengulum penis satu sama lain, hingga akhirnya siap untuk bagian inti. Bahkan penis Renjun kini sudah terbungkus oleh kondom yang dibaluri lubrikan.

“Ini kayaknya kamu yang ga yakin deh, Ren,” ujar Haechan terkekeh lagi.

Bibir Renjun maju diikuti dengusan napas pelannya. “Ya, ini bakal jadi pertama kali aku yang masukin. Biasanya kan aku dimasukin terus,” gerutunya.

Tangan Haechan mengelus pinggang Renjun. Perlahan tangannya mulai menyentuh penis Renjun lagi.

“Aku bantu ya?” tawar Haechan.

“Chie, nanti kamu bakal kesakitan loh.”

“Aku bisa tahan,” balasnya. “Sama kayak kamu, aku juga penasaran switch gini. Jadi, gapapa.I'll bear with the pain. Don't worry, sayang.”

Netra mereka saling bertatapan. Renjun pun mulai yakin.

Degupan jantung keduanya berdebar cepat seiring perlahan Renjun mengarahkan penisnya ke lubang anal Haechan. Tangan Haechan pun masih setia menggenggam penis Renjun agar terus terarah ke lubangnya.

“Nghh,” Haechan melenguh tatkala merasa ujung penis Renjun mulai mencoba menerobos masuk lubangnya.

“Sakit kan?” tanya Renjun khawatir.

Kepala Haechan menggeleng. “Terusin aja, sayang. Bisa ditahan kok,” jawabnya.

Renjun kembali mendorong pelan pinggulnya. Penisnya terasa ngilu karena diapit oleh lubang sempit milik Haechan.

“C-Chie, kayaknya aku ga bisa, nghh.”

“Bisa, sayang. Sshh, bisa kok. Pelan-pelan ajahhh.”

Keduanya sama-sama menahan sakit. Sesekali desisan rintih rasa perih lolos dari mulut keduanya, hingga akhirnya Renjun berhasil memasukkan penisnya ke dalam lubang anal Haechan.

“A-ahh...”

“Mhh...”

Haechan dan Renjun berpelukan, membiarkan penis Renjun terbiasa di dalam lubang Haechan. Telinga Renjun dikecup dan diemut oleh Haechan, sedangkan Renjun menghisap leher Haechan, meninggalkan banyak bekas kemerahan di sana.

“Ren, coba gerakin.”

Dengan sedikit ragu, Renjun mencoba menarik penisnya keluar perlahan dan memasukkannya kembali.

“Arghh, iya begitu, sayang.”

“Hnghh, ga bisa, Chie.”

“Bisa. Ayo lagi.”

Pelan-pelan Renjun terus mencoba menggerakkan pinggulnya. Penisnya mulai menggenjot lubang Haechan dan membiarkan dua anak adam itu merasakan sensasi asing tersebut menyengat seluruh tubuh mereka.

“Mhh deeper, Ren.”

Penis Renjun masuk lebih dalam dengan ritme yang mulai lebih cepat. Prostat Haechan pun berhasil disentuh, membuat si gemini menjerit nikmat.

“Ah! Yes, over there, Ren.”

“Nghh sempit, Chie.”

“Oh fuck! This is surprisingly good.”

“Umhh yes, yesss! It feels warm inside you, Chie.”

Tempo pergerakan genjotan penis Renjun semakin cepat dan liar. Dua pemuda itu mendesah kian kuat, menjeritkan kenikmatan dengan menggaungkan nama satu sama lain. Perasaan yang aneh tadi kini telah mulai terbiasa mereka rasakan.

“Haechie, ahh ahh shit, your hole is so damn tight!”

“Hnghh terus, Ren, terussss. Tusuk terus di situuu sshh deeper, Renjunnn.”

Aktivitas panas itu semakin memberikan kenikmatan untuk mereka. Mendengar desahan Haechan yang keenakan, Renjun pun menjadi lebih semangat menggenjot hingga ia mencapai putihnya terlebih dahulu.

“C-Chie! Ahhh!”

Sperma Renjun tertampung di karet pengaman. Semburan yang tak bocor itu tetap menciptakan sensasi hangat di lubang Haechan.

“Hahaha,” Haechan tertawa geli. “Aku belum keluar loh, sayang. Gimana ini? Kamunya pasti udah lemes mau genjot.”

Renjun mengangguk, namun kepalanya terbesit ide. Ia keluarkan penisnya dan turun untuk duduk di antara dua kaki Haechan yang terbuka lebar.

Please come inside my mouth if you reach it later,” ujar Renjun sebelum mulai mengulum penis Haechan.

Fuck. Ahhh my husband is so naughty.”

Mendengar pujian itu, Renjun pun mengemut penis Haechan kian dalam. Lidahnya sesekali berputar di pucuk kejantanan besar itu. Dua bola kembarnya diremas kuat, hingga membuat Haechan menjerit kuat.

“Huang Renjun, arghh! Sshh you're so good at this.”

Of course I am.”

Ia melanjutkan kegiatan mengulum penis Haechan. Dihisapnya kuat, dikocok, dan diremas. Renjun semakin liar, sedangkan Haechan tentu semakin gila mendapatkan perlakuan tersebut.

“Ren, mau keluar...”

“Keluarin di mulut aku, Chie.”

Haechan mendorong tubuh Renjun. Ia memposisikan Renjun untuk duduk, sedangkan kini si gemini bertumpu pada kedua lututnya. Penisnya yang telah menegang itu menampar bibir Renjun.

Di hadapannya, Renjun telah terduduk manis. Tangannya memegang penis Haechan dan lidahnya terjulur keluar.

“Keluarin, Chie.”

Here you go, hubby, ahhh.”

Haechan menyemprotkan spermanya di lidah Renjun yang terjulur. Dengan cepat Renjun menampung, menjilat, dan menelannya.

“Jangan ditelan semua,” ujar Haechan sembari meraih tisu dan membiarkan sisa spermanya tertampung di tisu tersebut.

Renjun segera berbaring telentang. Tubuhnya lemas, penuh peluh, dan juga bercak merah di sekitar leher dan dada. Sungguh pemandangan yang indah bagi Haechan.

“Aku bukain dulu ini ya,” ujar Haechan seraya melepaskan kondom di penis Renjun, mengikatnya, dan membuangnya.

Haechan membersihkan penis Renjun dan juga penisnya sebelum berbaring di sebelah suaminya itu. Ia rengkuh tubuh mungil disampingnya dan langsung mendapat balasan pelukan.

“Gimana? Udah ga penasaran?” tanya Haechan sembari mengelus kepala Renjun.

“Udah,” jawab Renjun. “Aneh, Chie. Aku ga biasa.”

“Ga enak?”

Kepala Renjun menggeleng. “Enak sih, tapi aku kurang menikmati. I prefer ditusuk aja deh walaupun sakit,” gerutunya dengan bibir yang maju.

Haechan tergelak geli. Ia pun mengusap keringat dari dahi Renjun dan mengecupnya sekilas. “Gapapa, karena baru sekali itu makanya kamu ga menikmati. Kapan-kapan dicoba lagi deh. Mau?” tanya Haechan lembut.

“Mau mungkin, hehehe.”

Dagu Renjun diangkat oleh Haechan agar si gemini dapat mencium bibirnya dengan mudah. Lumatan pada bibir Renjun diberikan sekilas dan diakhiri dengan jilatan sensual.

“Kalau udah ga capek lagi, kasih tahu,” ujar Haechan sambil saling bertatapan dengan Renjun. Ia kemudian berbisik, “Gantian, I want to be inside you because you said you prefer ditusuk.”

Renjun tersenyum geli dan mengangguk. Ia mengecup pipi Haechan, kemudian mengeratkan pelukan.

Gimme 30 minutes to take a rest and after that, please break my hole, Mr. Romantic.”


schonewords