I NEED YOU
“Pelan-pelan, Bri.”
Habrian mengangguk dan dengan perlahan meletakkan bayinya di atas kasur. Ya, bayi yang sesungguhnya yaitu Kamal, bukan 'bayinya' satu lagi alias Revanda.
Kamal sudah terlelap sejak turun dari pesawat tadi. Matanya sempat terbuka ketika mendengar suara Revanda di bandara, namun kembali mengatup tatkala merasakan kehangatan pelukan sang papa.
“Nyenyak banget dia tidurnya ya, ciㅡ”
Habrian tak mampu menyelesaikan ucapannya ketika merasakan dua tangan melingkar di tubuhnya. Ia pun tersenyum dan langsung menggenggam salah satu tangan tersebut, membalikkan tubuhnya dan membawa Revanda ke dalam dekapannya.
“I miss you,” bisik Revanda yang masih mampu didengar oleh Habrian.
“Kita keluar, yuk. Biarin Kamal tidur,” ajak Habrian seraya melonggarkan pelukan dan membawa Revanda keluar kamar.
Mereka memutuskan duduk pada sofa di ruang tengah apartemen kecil yang sudah disewa oleh Revanda. Keduanya melanjutkan sesi berpelukan mereka, melepas rindu perkara dua hari tak saling bertemu.
“Aku kangen banget sama kamu,” tutur Revanda lirih di dalam rengkuhan Habrian.
Habrian tersenyum dan mengangguk. Tangannya mengelus punggung mungil suami kesayangannya itu. “Aku juga kangen kamu, cil,” balasnya.
“Aku seneng sih di sini akhirnya ketemu temen-temen aku, tapi aku kesepian banget kalo tidur ga ada kamu.”
Suara kekehan lolos dari mulut Habrian. “Ya udah, 'kan yang penting sekarang udah ada akunya,” tanggapnya.
Revanda mengeratkan pelukannya, pun Habrian melakukan hal yang sama. Kecupan-kecupan ringan beberapa kali ia bubuhkan pada pucuk kepala Revanda, membuat Revanda tersipu sembari menyandarkan kepalanya pada dada Habrian.
“Mas Bri,” panggil Revanda. “Maaf, ya. Maaf jadi bikin kamu repot ngurusin Kamal. Maaf juga aku belum banyak ngajarin kamu ngurusin dia. Aku sadar kamu belum sepenuhnya siap buat adopsi dia, makanya wajar banget kamu ga bisaㅡ”
“Kamu ngomong apaan?” tanya Habrian dan melonggarkan pelukan. Ia tatap suaminya dengan lekat ketika netra mereka bertemu. Tangannya mengelus surai gelap Revanda yang kian memanjang. “Aku siap, sayang. Aku udah siap adopsi Kamal. Masa udah lima bulan Kamal sama kita, aku ga siap juga? Ga mungkinlah, hahaha. Aku aja yang selama ini kurang perhatian setiap kamu lagi ngurusin dia. Jadinya pas ditinggal berdua doang, aku ga tau apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf. Maaf ya, aku belum bisa jadi papa yang baik buat ngurusin Kamal. Aku janji bakal belajar terus supaya ga salah-salah lagi ngurusin dia. Maaf juga, selama lima bulan ini ngebebanin ke kamu semua buat ngurusin dia, padahal adopsi dia 'kan keputusan kita bersama.”
Hati Revanda menghangat dan senyuman terulas di wajahnya. Ia memajukan tubuhnya, memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya untuk menyalurkan kebahagiaannya mendengar ucapan Habrian barusan.
“Makasih ya, Mas Bri. Makasih banyak kamu udah jadi suami yang hebat dan papa yang keren buat aku sama Kamal. Kita belajar sama-sama, ya? Biar Kamal ngerasa beruntung karena Pian sama Pacil-nya keren terus berusaha buat ngurusin dia.”
Habrian membalas senyuman dan mengangguk. “Iya, sayang. Bantu aku ya, ajarin aku. Makasih kamu udah telaten banget belajar ngurus Kamal selama lima bulan ini,” haturnya.
Revanda tak menjawab dengan tuturan, melainkan langsung kembali memeluk Habrian. Kali ini, ia bawa kepala Habrian untuk bersandar pada bahunya, agar ia bisa dengan nyaman mengelus kepala suaminya itu dengan lembut.
“Kamu juga hebat, Brian,” ucapnya. “Sekarang istirahat, ya. Kamu pasti capek seharian ini udah ngurusin Kamal sendirian, terus berangkat ke sini.”
Habrian mengangguk dan mengecup bahu Revanda sekilas. “Iya, sayang. Ayo kita ke kamar. Kasihan Kamal tidur sendirian, hahaha,” ujar Habrian.
Revanda pun melepaskan pelukan dan menatap Habrian. “Aku bisa tidur nyenyak malam ini karena ada kamu lagi. I need you, Bri. I need you to hug me while I sleep and be there beside me when I wake up. Same like you who needs me to take care of Kamal, hahaha.”
schonewords