I NEED YOU, INDEED, ESPECIALLY THIS MORNING ?


CW // NSFW, morning sex, kissing, fingering, anal sex, dirty talks, penetration, nipples sucking and playing, hand job


Cahaya matahari samar-samar mulai menerobos celah tirai kamar. Habrian dan Revanda masih senantiasa terlelap saling berpelukan, sedangkan Kamal senantiasa tidur pula di dalam baby box-nya yang disewa pula oleh Revanda.

“Hmm,” Revanda menggeram dan membalikkan tubuh, membuatnya membelakangi Habrian.

Habrian yang setengah sadar segera melingkarkan tangannya lagi pada pinggang Revanda. Keduanya tersenyum tipis dengan mata yang masih tertutup. Revanda mengelus tangan Habrian yang memeluknya erat dari belakang.

Morning, cintaku,” bisik Habrian tepat di telinga Revanda.

Revanda bergidik pelan. “Jangan bisik di kuping aku kalo pagi-pagi,” ujarnya.

Habrian terkekeh dan membuka matanya. “Kenapa gitu?” tanyanya.

“Suara kamu kalo baru bangun tidur tuh serak gitu, jadi seksi banget, mas. Aku ga kuat dengernya.”

“Hahahaha,” Habrian tertawa pelan. Dieratkannya pelukan pada pinggang Revanda, dikecupnya telinga sang suami hingga kecupan tersebut turun ke leher dan bahunya. “Does my hoarse voice make you turn on, baby?” tanyanya tepat di telinga Revanda.

Revanda tersenyum. Matanya mulai terbuka dan ia langsung membalikkan badannya. Ia bubuhi kecupan sekilas pada bibir Habrian sembari mengelus leher sang suami. “I think so. Also, it's been awhile since the last time we did the morning sex,” jawab Revanda dengan suara yang dipelankan.

Seringaian terbentuk di wajah Habrian. Ia pun langsung memagut bibir sang suami, melumatnya pelan, sembari tangannya menyingkap sedikit baju kaus Revanda agar pinggang ramping itu dapat ia elus secara langsung. Ciuman itu disambut dan diperdalam oleh Revanda, dengan lumatan yang kasar dan terkesan buru-buru.

“Umhh,” lenguhan mulai lolos dari mulut Revanda. Tautan kedua bibir itu pun terlepas, membiarkan dua pria tersebut menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

“Di sini, cil?” tanya Habrian ragu sambil melirik ke arah baby box, tempat anak mereka berada.

“Boleh, asal ga berisik banget.”

Habrian terkekeh pelan. “Kemarin siapa yang ga mau ngajak anaknya ke reunian karena takut berisik buat anaknya? Sekarang malah mau ginian di depan anaknya,” ledeknya.

Revanda menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tak terdengar oleh Kamal. “Ya, gapapalah. Kan kalo sex-nya kayak gini, menantang dong. Kamu kan suka yang menantang gitu, mas,” balas Revanda menggoda sang suami.

“Bisa banget jawabnya.”

Habrian pun kembali mencium bibir suaminya. Tangannya kini telah masuk ke dalam kaus Revanda, menggerayangi tubuh mungil itu, hingga tibalah jemarinya pada tonjolan mungil di dadan sang suami.

“Mmh, Bri!” Revanda memekik pelan. “Nipple aku jangan ditarik gitu! Sakittt,” rintihnya sambil berbisik.

“Hehehe, gemes, yaaang.”

“Tapi sakit- ahh,” kalimat protes Revanda tergantikan dengan desahan nikmat. Habrian kini mengelus puting si mungil itu sambil mulutnya menghisap leher sang suami.

Revanda berusaha kuat menahan desahannya. Bibir bagian bawahnya ia gigit dan jemari mencengkram surai Habrian dengan kuat pula. Seolah mendapat stimulus, Habrian menghisap leher Revanda semakin kuat, membuat tubuh mungil itu mengejang.

“M-mas, please...aku ga bisa desah kuat-kuat.”

Habrian mengangkat kepalanya. Ia sedikit menaikkan tubuhnya dan menatap sang suami. “Kamu yang nantang aku tadi, sayang,” ujar Habrian sembari menyeringai.

Tubuh Habrian terangkat hingga terduduk di hadapan Revanda. Ia mulai melepaskan kaus berwarna hitam yang melekat di tubuhnya semalaman. Tangannya pun sigap melepaskan kaus milik Revanda, membuat mereka berdua kini telah bertelanjang dada.

“Re,” panggil Habrian ketika ia kembali memeluk Revanda. “I'll do it slowly and gently this time, I promise.”

Revanda tersenyum. Ia tangkupkan tangan kanannya pada pipi Habrian dan mengangguk. “You'd better keep your promise, Bri.”

Keduanya pun kembali menyatukan bibir mereka dalam tautan panas. Kali ini pagutan itu langsung di mulai dengan lumatan cepat dan kasar.

Selagi mulut mereka sibuk bertukar kehangatan, saliva, hingga bertaut lidah, tangan Habrian pun menyusup ke dalam celana Revanda dari bagian belakang. Tak segan-segan ia meremas kedua bongkahan sintal milik suaminya dengan kuat, membuat Revanda melenguh tertahan disela cumbuan memabukkan itu.

“Humhh,” lenguhan Revanda menggila ketika jari tengah Habrian mulai menyapa lubang analnya.

“Sebentar, Bri,” ucap si aries seraya melepaskan tautan bibir dan menahan tangan Habrian di pertengahan pantatnya.

“Semalem sebelum tidur dibersihin?” tanya Habrian.

Revanda mengangguk. “Tapi tetap pake kondom, ya?” pintanya.

“Oke, sayang.”

Habrian terlihat senang. Ia selalu puas dengan suaminya yang tak pernah lupa membersihkan lubang analnya setiap mau tidur. Sudah menjadi kebiasaan Revanda, karena ia tahu suaminya kerap kali mengajak melakukan morning sex ketika mereka bangun tidur.

“Ughh, Bri,” desah Revanda pelan ketika Habrian malah menggesekkan kemaluan mereka yang masih terbungkus celana. “Mmh, aku udah tegang.”

“Hmm, aku juga, cil,” balas Habrian.

“Kamu...nghh bawa lube, ga?” tanya Revanda terbata karena harus menahan desahannya.

“Bawa, Re.”

Senyuman Revanda mengembang. Maka, ia percepat gerak pinggulnya guna meningkatkan kenikmatan yang dihasilkan dari gesekan kejantanannya dengan milik sang suami.

“Nghh, Briii.”

“Yah, sayang?”

“Enak banget sshh.”

Habrian tersenyum puas menatap Revanda yang merem-melek merasakan kenikmatan. Bibirnya terus terbuka membiarkan lenguhan dan desahan pelan keluar bebas merasuki telinga Habrian.

“Briii,” panggil Revanda setengah mendesah. “Mau dimasukinnnn.”

Gotcha!

Mendengar itu, Habrian langsung tampak sangat senang. “Coba ngadep sana, Re,” titah Habrian sembari membalikkan tubuh suaminya untuk membelakangi dirinya.

Habrian beranjak dari kasur, mengambil botol lubrikan dan sekotak kondom. Ia pun langsung menanggalkan celana Revanda ketika balik ke atas kasur dan tak lupa melepaskan celananya, membuat mereka berdua kini telah sepenuhnya telanjang.

“Udah tegang banget, Bri,” ujar Revanda terkekeh.

“Apalagi punya kamu tuh, Re.”

Habrian membuka plastik kondom menggunakan giginya, membuat Revanda menatapnya dan tersenyum. “Seksi banget kalo buka bungkus kondom kayak gitu, suamikuuuu,” tutur Revanda berbisik.

Yang ditatap hanya terkekeh geli. “Memang suami kamu ini seksi sih ngapa-ngapain aja, Re.”

“Ugh, my hot daddy,” goda Revanda.

Habrian hanya tertawa pelan. Ia telah selesai membungkus penisnya dengan kondom dan melumuri lubrikan di sana. Tak lupa jari telunjuk dan tengah pada tangan kirinya pun dibaluri cairan pelumas tersebut.

Ia kembalikan posisinya berbaring miring di belakang Revanda. Jari telunjuknya ia masukkan perlahan ke dalam lubang anak Revanda.

“Mmhh, pelan, Briiih,” Revanda merintih pelan.

Guna mengalihkan rasa perihnya, Revanda membawa tangannya ke belakang. Ia meraih penis Habrian yang sudah terbungkus pengaman dan licin tersebut. Dikocoknya pelan, membuat Habrian pun mengeram.

“Re, ahhh.”

“Sshh, Bri, satu aja duluuuh.”

Keduanya saling memberikan kenikmatan di bawah sana dengan tangan. Desahan pelan kian mereka lontarkan dengan menggaungkan nama satu sama lain.

Lima menit berlalu. Tangan Revanda semakin cepat mengocok penis Habrian di belakangnya. Bahkan, dua bola kembar sang suami sesekali ia tekan menggunakan bokongnya.

Begitu pula Habrian yang telah melesatkan jari tengah untuk menemani jari telunjuknya di dalam anal Revanda. Sodokan dua jari tersebut semakin dalam dan membuat Revanda ngilu ketika terbentuk gerakan menggunting di dalam sana.

“Ahh, Re, udahhh.”

“Mmhh, kamu juga udah dong. Ganti pake punya kamu iniiih, please.”

Your wish is my command, Revanda,” ujar Habrian.

Ia keluarkan jarinya dan melepaskan tangan Revanda dari penisnya. Kini batang kemaluan yang telah tegang sempurna itu ia arahkan ke lubang anal Revanda yang telah berada tepat di depan penisnya.

“Tahan desahan kamu ya, Re. Nanti Kamal bangun,” perintah Habrian yang langsung ditanggapi anggukan oleh Revanda.

Tangan kanan Habrian memeluk perut Revanda, sedangkan tangan satunya mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang Revanda.

“Mmhh, fuck, Briannn.”

“Sshh, tahan, Re. Sempit...”

Dorongan pelan itu dipercepat oleh Habrian. Hingga Revanda memalingkan muka ke bantal agar erangannya tertahan ketika penis Habrian telah sepenuhnya masuk di dalam sana.

“Mmhhh!”

Posisi Habrian yang berada di belakang Revanda itu sangat menguntungkan. Proses memasukkan penisnya tidak susah, sehingga ia pun terangsang untuk langsung menggerakkan pinggulnya.

“Brian! Mmh, ngiluuuu.”

“Tahannn.”

Keduanya saling meredam desahan. Dengan gerakan pelan dari pinggul Habrian, Revanda pun mulai merasakan kenikmatan. Hujaman batangan tumpul di dalam sana membuatnya gila dan ingin sekali mendesah kuat.

“Nghh mentok, Bri. Ahh...” desahan Revanda lolos.

“Re, pelan-pelan desahannya. Kasihan Kamal kalo denger,” ujar Habrian tertawa kecil.

“Ahh, susah bangett nahannyahh ugh ini enak bangethh nghh. Lagiiii kenain di situuu.”

Genjotan Habrian dipercepat, membuat Revanda benar-benar kesulitan menahan desahannya. Ia melirik ke arah baby box, berharap anaknya masih terlelap nyenyak.

“Bri, nghh ga kuattt mau desah.”

“Sebentar, Re.”

Habrian mengeluarkan penisnya, membuat lubang Revanda yang terbuka itu langsung terlihat merah. Tubuh si mungil itu ditelentangkan oleh Habrian dan ia langsung setengah menindih suaminya. Penisnya pun mulai ia dorong kembali masuk ke anal Revanda, membuat si aries langsung memeluk leher suaminya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Habrian.

“Hmhh, terus, sayanggg. Mentokin lagi, Briiih.”

Revanda mendesah pelan tepat di telinga Habrian. Hal itu membuat Habrian semakin cepat menggenjot lubang Revanda yang telah melonggar.

“Mmhh pengen liat kamu genjot sambil ngerokok, Bri.”

“Ada Kamal, sayang. Nghh besok ya kalo udah di Jakarta, aku bisa genjotin kamu sambil ngerokok sshh kita ngewenya di ruang tengah.”

“Sshh beneran yahh?”

“Iya, Revanda-kuuh.”

Can't wait– ahhh!” suara pekikan Revanda tiba-tiba terdengar ketika Habrian dengan gencar menyodok prostatnya berkali-kali.

Habrian langsung memeluk tubuh Revanda dengan erat, berusaha meredam desahan suaminya di dalam rengkuhannya. Matanya mendelik ke arah baby box, melihat sang anak yang bergerak gelisah.

“Ssstt, jangan gede gitu suaranya, Re. Itu Kamal hampir kebangun,” bisik Habrian.

“Kamu siihh nghh kuat banget ahh shit your dick's moving too fast inside me ughh too deep, baby.”

Racauan Revanda itu meningkatkan gairah Habrian, sehingga pinggulnya bergerak kian brutal. Kaki Revanda dibiarkan melingkar di pinggang Habrian, membuat penis si gemini masuk semakin dalam. Salah satu tangan Habrian menggenggam penis Revanda dan mengocoknya cepat.

“Bri...Briannhh ahhh!” Revanda sampai pada puncaknya. Cairan putih nan kental itu mengotori tangan Habrian serta perut mereka berdua.

“Banyak banget keluarnya, Re.”

“Hmhh udah seminggu lebih ga dikeluarinn.”

“Re,” panggil Habrian. “Talk dirty to me. Aku mau keluar sebentar lagi.”

Revanda yang telah lemas hanya tersenyum dan mengikuti perintah Habrian. Badannya terhentak, tangannya yang mengalung pada leher Habrian menarik erat, hingga bibirnya tepat berada di telinga Habrian untuk mulai berbisik sensual.

“Bri, mmhh lubang aku penuh bangettt. Sshh lubang aku gatel kalo kelamaan ga dimasukin punya kamuuh. Ahhh fuck, your big dick suits my tight hole so much, Briiih.”

Libido Habrian meningkat. Gerakan pinggulnya pun ia percepat dan menyodok prostat Revanda semakin liar.

“Nghh ahh yesss like that, Briiii. Fuck me harderrrr, wreck my hole, honeyyy. Umhhh I'm so addicted to your big dick, hot daddy.”

“Kotor banget mulutnya sshh aahh, Revanda!”

Nakalnya ucapan Revanda akhirnya membawa Habrian pada puncak kenikmatannya. Sperma Habrian telah menyembur dan ditampung di dalam karet pengaman.

Habrian melonggarkan pelukan, merendahkan tubuhnya hingga wajahnya berada tepat di depan dada Revanda. Kedua puting Revanda ia kulum dan hisap sekilas, guna menutup kegiatan panas mereka.

“Hmm capek?” tanya Habrian tatkala ia mengeluarkan penisnya dan mulai melepaskan kondom hingga membuangnya.

Revanda mengangguk. “Lemes, mas,” jawabnya.

Habrian pun merengkuh tubuh Revanda setelah kembali ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di samping Revanda. Matanya melirik ke arah tempat tidur anaknya dan tersenyum.

“Dia ga bangun sama sekali, padahal pacilnya berisik.”

Revanda terkekeh dan menoleh melihat ke arah yang sama. “Ngantuk berat dia kayaknya. Semalem juga cuma kebangun sekali jam setengah dua gitu,” ucap Revanda sembari kembali memeluk Habrian dengan erat.

Dua pria itu saling berpelukan dan berbagi kehangatan di balik selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka. Sekitar lima belas menit, mereka hanya terdiam dalam dekapan satu sama lain, hingga terdengar suara rengekan dari balik tubuh Revanda.

“Tuh bangun anaknya,” ujar Habrian.

“Ya udah aku gendong dulu Kamal-nya.”

“Aku aja,” ucap Habrian sembari mengecup kening Revanda. “Kamu mandi duluan, biar aku yang gendong Kamal. Habis itu aku sama Kamal mandi, terus kita bawa dia jalan-jalan.”

Revanda tersenyum. “Thank you, best husband.”

Anytime, sweetheart.”


schonewords