Jatuh Hati – markmin's office romance
Tok tok tok!
“Masuk,” ucap Mark santai tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya—karena tahu yang masuk pasti sekretarisnya.
“Kak Mark, udah waktunya istirahat,” ujar sang sekretaris dari ambang pintu,
Mark mendelik melihat jam di layar komputer. Tatkala ia sadar sudah pukul 12.00 siang, ia pun tersenyum kepada sang sekretaris sembari berkata, “Oke. Kamu boleh istirahat. Aku bentar lagi turun ke kantin.”
“Oke sip, kak,” balas sekretarisnya. “Oh iya, kak, tadi ada pesan dari Kak Ren, katanya dia nungguin kakak di kantin buat makan bareng.”
“Alright. Thanks.”
Sigap Mark mematikan komputernya dan membereskan meja. Ia berjalan santai menuju kantin karyawan yang berada di lantai satu gedung besar tersebut.
“Here he is!” seru Renjun yang sudah berdiri di depan pintu utama kantin bersama Yangyang.
“Sorry, tadi ga sadar ternyata udah jam istirahat.”
“Mark, you're such a workaholic banget. Pantes aja cepet dipromosiin naik jabatan,” cibir Yangyang.
Mark hanya terkekeh mendengar omelan temannya itu. Ketiga pria tersebut berjalan beriringan masuk ke dalam kantin, menuju meja panjang yang sudah menyajikan beragam lauk untuk santapan siang ini. Tatkala sedang melangkah mencari tempat duduk yang kosong, netra Mark jatuh pada Jaemin yang tengah sendirian memakan makan siangnya di sebuah suduh kantin.
“Guys, sorry misah dulu ya,” tutur Mark dan segera berjalan terburu-buru.
Renjun dan Yangyang sempat bingung. Kendati begitu, ketika mereka melihat ke mana arah Mark berjalan, dua sahabat baik Mark itu hanya terkekeh pelan.
“Hai, aku boleh di sini?” tanya Mark kepada Jaemin.
Kepala Jaemin menengadah dengan pipi yang menggembung karena penuh dengan makanan dalam mulutnya. Ia mengangguk pelan dan mengerjapkan matanya lucu sebagai tanda untuk mempersilakan Mark duduk di hadapannya.
“Kok sendirian?” tanya Mark lagi.
Jaemin menyelesaikan kunyahannya dan langsung menelan, agar bisa menjawab, “Lagi banyak yang simple lunch di ruangan, soalnya ngejar target hiring.”
“I see. Lagi banyak posisi buat recruitment ya?”
“Iya,” jawab Jaemin singkat.
Mark mengangguk paham. Ia sempat memberi isyarat agar Jaemin melanjutkan kegiatan makan siangnya karena ia pun melakukan hal yang sama. Keduanya hanyut dalam keheningan di antara mereka yang sibuk dengan santapan masing-masing.
“Uhuk!” Jaemin tiba-tiba batuk karena tersedak makanannya sendiri.
“Eh? You good?” Mark bertanya dengan panik seraya menyodorkan sebotol air mineral.
Jaemin meneguk air mineral tersebut cukup banyak. Setelah tenang ia mengangguk pada Mark, “It's okay. I'm good...now.”
“Oh, ok.”
Alis Jaemin terangkat dan dia terkekeh pelan. “Kamu kelihatan panik banget, kak,” ucapnya.
“Sorry? Oh...hehe, iya takutnya kamu kenapa-napa.”
Senyuman terulas di wajah Jaemin dengan sangat manis. Netranya dan obsidian Mark bertemu dalam teduhnya suasana di antara mereka yang mencair.
“Makasih ya, Kak Mark. Kamu emang orang baik banget kayak yang diomongin semua orang di kantor ini.”
Iris mata Mark membulat dan dahinya mengernyit. “Hm? Pardon?” tanyanya bingung.
Jaemin meletakkan alat makannya. Kedua tangannya terlipat di atas meja seraya melekatkan tatapan pada dua manik Mark.
“Banyak banget di kantor ini yang bilang kalau Kak Mark itu orang paling ramah, pinter, dan baik. Katanya, Kak Mark juga bukan orang yang pelit buat bantuin orang lain—terlepas dari Kak Mark kenal atau ngga sama orang itu. Dan...barusan aku udah ngebuktiin sendiri. You are a very nice guy. Kamu duduk di sini, nemenin aku makan, ngajakin aku ngobrol, dan bantuin aku juga tadi. All of them was the very bare minimum things to do, but it meant special for me.”
Mark bungkam. Dua pipinya melukiskan semburat merah muda yang lucu dan pergerakannya menandakan ia salah tingkah.
Kedua tangan Jaemin mengangkat nampan yang terisi piring, mangkuk, dan botol minuman miliknya yang sudah kosong. Seraya berdiri, ia menyempatkan berkata pada Mark, “Kamu kalau baik terus-menerus begini ke aku, bisa-bisa akunya jatuh hati sama semua tingkah laku kamu, kak.”
Pria itu berlalu meninggalkan Mark yang terpaku. Otaknya masih memproses setiap penggalan kata yang Jaemin tuturkan barusan. Saat kesadarannya kembali, Mark menggumam, “Kalau gitu aku bikin jatuh cinta aja sekalian.”
schonewords