“Kakak” Kink


cw // nsfw, mature content, boys sex, anal sex, kissing, hickey, mentioned certain kink, fingering, blow job, hand job, nipple pkay, dirty talk, harsh words, explicit


“Hai, sayang,” sapa Renjun ketika memasuki unit apartemennya dan melihat sang suami yang sedang asyik menonton TV.

“Halo, Mr. Husband,” balas Haechan sambil tersenyum. “Macet ga jalanannya?”

Renjun menggeleng sambil jalan mendekati suaminya. “Ngga sama sekali kok, sayang,” jawabnya.

Cup.

Renjun merunduk dan bibir mereka saling mengecup. Tangannya mengelus pipi Haechan dengan lembut seraya mereka saling melempar senyum.

“Aku bersih-bersih dulu ya, Mr. Romantic,” bisik Renjun.

I'm waiting, Mr. Husband.”


Haechan masih fokus menonton berita di televisi sembari mengunyah kacang goreng. Ia sempat tidak menyadari suami mungilnya kini berjalan mendekatinya sampai aroma vanilla tercium di indera penciumannya dan membuatnya menoleh.

“Renjunku udah selesai mandinya?” tanya Haechan menyambut tubuh suaminya yang langsung duduk di pangkuannya.

“Udah, Mr. Romantic,” jawab Renjun sembari mengalungkan tangannya di leher Haechan.

Kedua lengan Haechan sudah melingkar di pinggang Renjun untuk mendekap tubuh mungil tersebut agar tak terjatuh. Dieratkannya, dibawanya wajahnya mendekat dan membiarkan hidungnya kini terpatri pada leher putih polos yang terekspos jelas di hadapannya itu.

I love you even more whenever you used thay vanilla scented soap, Kak Ren,” bisik Haechan tepat di telinga Renjun.

“Humhh,” Renjun melenguh seraya mengeratkan pelukannya pada leher Haechan. “Why tho?”

Alih-alih menjawab, Haechan justru menjulurkan lidahnya. Dijilatnya pelan dengan gerakan sensual menjalar di leher Renjun. Jilatan itu terhenti dan membiarkan dua belah bibir Haechan menempel, mengecup, dan menghisap lembut.

“Kamu jadi makin manis, kak,” barulah Haechan menjawab.

Renjun tersenyum. Pelukan itu ia longgarkan dan menangkup kedua pipi Haechan. Kepala Haechan dibawa menengadah, mempertemukan netra mereka, dan cup!

You never realized that you are also tasted sweet, Chie. Especially these lips,” ujar Renjun tepat di depan bibir Haechan.

Wajah keduanya mendekat dan bibir mereka bertaut. Dekapan mereka kian erat seiring ciuman yang lembut kini berubah menjadi cumbuan panas penuh tuntutan. Kepala mereka bergantian miring ke kiri dan kanan, saling melumat, menyesap ranum tepat candu itu, dan tak lupa saling menjulurkan lidah untuk dikaitkan.

“Mmhh, Kak Ren, lemme break your hole tonight,” bisik Haechan seraya merebahkan tubuh Renjun di sofa dan mengungkungnya.

Renjun tersenyum menatap sang suami di atasnya. Ibu jarinya mengusap bibir seksi milik lelaki gemini tersebut.

“Besok aku masih kerja loh, Chie,” tanggap Renjun terkekeh.

Seringaian terulas di wajah tampan Haechan. “Kamu bisa izin sakit, stay at home, and I'll take over your works for a day,” ujarnya dengan suara rendah.

Renjun tahu pasti saat ini Haechan tengah dikuasai nafsu dan berusaha keras menahan diri. Maka, Renjun mengangguk setuju dengan ucapan Haechan barusan.

Break me then. Penuhin lubang 'kakak' ya, Chie,” ucap Renjun dengan nada menggoda sembari mengelus pelan bahu Haechan.

Seakan digoda kian gencar, Haechan pun merasa birahinya meningkat drastis. Bibirnya langsung kembali menyambar ranum merah muda milik suaminya. Disesapnya kuat dan diberi gigitan kecil pada dua belah bibir Renjun dengan penuh nafsu.

“C-Chie...humhhh,” desah Renjun tertahan karena Haechan begitu ganas mencumbu bibirnya.

Abai dengan panggilan dari suaminya, Haechan justru semakin dalam melumat bibir Renjun. Lidahnya terjulur, menerobos masuk ke dalam rongga mulut suami kesayangannya.

“Hmhhh!”

Renjun lagi-lagi meredam desahannya ketika Haechan menghisap kuat lidahnya. Saliva mulai meleleh di sudut bibir mereka, membentuk benang tipis ketika tautan panas itu terlepas dan menyisakan dua bibir yang mengkilat di jarak yang sangat dekat.

“Kenapa sih ga sabaran banget nyiumnya, sayang?” tanya Renjun sambil mengatur nafasnya kembali dan menyeka saliva di bibir Haechan.

Your lips always tempting, kak,” jawab Haechan dengan suara rendahnya, membuat Renjun merinding.

“Kakak,” panggil Haechan.

“Iya, sayang?”

Bibir Haechan kembali mendarat di kulit leher Renjun. Giginya menggigit pelan dan dua belah mulutnya menghisap kuat, sehingga tanda kemerahan tercipta.

“Kamu seksi banget pake bathrobe gini, kak.”

Renjun tersenyum geli. Ya, dia baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan baju mandinya itu menghampiri Haechan.

Wajah si mungil mendekat, membawa mulutnya berada di depan telinga Haechan untuk berbisik, “Aku ga pake apa-apa di dalam bathrobenya, Chie.”

Mendengar itu, kepala Haechan terangkat. Masih dengan tangan kirinya yang bertumpu pada sandaran sofa agar tubuhnya tak menimpa sang suami, kini tangan kanannya diarahkan ke paha mulus Renjun, menyelip di balik bathrobe dan mengelusnya pelan.

Good job, Kak Ren,” puji Haechan dengan seringaian di wajahnya dan tangannya yang meremas paha bagian dalam Renjun.

“Hmhh, Chie...May I talk dirty tonight?” tanya Renjun setengah melenguh.

Beg for it, kak.”

Jemari Renjun kembali mengelus pipi Haechan. Kedua matanya sayu, bibirnya bengkak dan merah, nafasnya tersengal membuat dadanya naik dan turun cepat. Pemandangan itu dinikmati Haechan dengan puas.

Mr. Romantic, please allow me to talk dirty tonight. I swear it will turn you even more,” Renjun berucap setengah berbisik dan suara yang mendayu.

Damn,” umpat Haechan. Ia mengecup bibir Renjun sekilas dan tersenyum manis. “Boleh, kak.”

Raut wajah Renjun langsung terlukis bahagia. Tangannya kembali mengalung di leher Haechan, menariknya hingga wajah mereka berjarak sangat dekat.

“Haechie, please do me so hard tonight.”

I will, kakak sayang.”

Meleleh hati Renjun bahkan kewarasannya sudah kian menipis. Maka, kata-kata yang terucap dari mulutnya tak lagi memikirkan kesopanan.

Touch me, Haechie,” pinta Renjun dengan suara yang parau.

“Di mana, kak?”

Here,” jawabnya sembari membawa tangan Haechan ke penisnya.

Haechan tersenyum puas. Wajah mereka semakin dekat, hingga bibir nyaris bersentuhan. Deruan nafas satu sama lain berhembus tepat di kulit muka satu sama lain.

“Udah tegang, kak,” ucap Haechan lirih. “Should I suck it?”

Renjun mengangguk sembari mengulas seringaian. Sekilas ia mengecup bibir Haechan dengan lembut dan menjawab, “Humm, mau banget, Chie.”

“Mau apa, Kak Ren sayangku?” goda Haechan.

“Mau dihisap yang kuat.”

“Apanya, kak?” lagi-lagi Haechan menggoda.

Bibir Renjun mengerucut maju. “Suck my dick now, Lee Haechie!” perintahnya sebal.

Haechan terkekeh pelan. Bibir Renjun dikecup sekilas untuk menjawab, “Iya, kakak sayang. Jangan memble gitu ah, hahahaha.”

Tubuh Renjun diangkat oleh Haechan untuk diposisikan duduk bersandar di sofa. Sedangkan Haechan sendiri turun dari sofa, melebarkan kaki Renjun, dan menyelipkan tubuhnya berada di antara dua tungkai kurus itu.

“Humm, Haechie...ahh...”

Mulut Renjun terbuka dan melesatkan desahan ketika tangan Haechan menyibakkan bathrobe bagian bawahnya. Kedua tungkai Renjun sudah terekspos hingga ke penisnya. Ditatapnya sang suami yang berada di antara dua pahanya yang turut membalas tatapannya walaupun bibir si gemini itu tengah sibuk mengecup paha Renjun secara bergantian di kiri dan kanan.

“Mmhh...Kamu keliatan seksi banget kalo diliat dari atas sini, Chie.”

Haechan hanya tersenyum. Ia tahu, Renjun itu paling memahaminya. Kelemahan Haechan saat tengah bercinta adalah diberi pujian dari Renjun.

“Ugh, that tongue is always good at licking every inch of my skin. Humhh naik lagi, Chie...”

Lagi-lagi Renjun memberi pujian dan diikuti dengan titahnya agar jilatan Haechan pada pahanya semakin naik. Ya, Renjun sudah tidak tahan lagi untuk merasakan rongga hangat dari mulut Haechan.

Haechan mengindahkan keinginan suaminya. Makanya, disibaknya lebih ke atas lagi baju mandi Renjun dan...

“Ahhh...”

Penis Renjun telah masuk ke dalam mulut Haechan. Kepala si gemini mulai naik turun perlahan, dengan tangan Renjun yang meremas rambut gelap milik suaminya.

“Hnghh, a lil bit faster, Chie...”

Maka Haechan wujudkan keinginan suaminya. Semakin cepat ia mengeluar-masukkan penis Renjun dari mulutnya. Sesekali lidahnya akan menjilat dengan gerakan memutar di ujung penis Renjun bersamaan dengan tangannya yang meremas dua bola kembar si aries itu.

Fuck! Ssshh you are so good at this, Lee Haechie. Nghhh lagi...”

Haechan menarik kepalanya. Renjun pikir, suaminya akan selesai melakukan blow job itu, tetapi dugaannya salah. Haechan justru mengemut ujung penisnya dengan kuat, mendorong lidahnya pada saluran kencingnya yang membuat Renjun berteriak kuat.

“Arghhh! Haechan! Ahhh fuck this is too good! Ssshhh.”

Desahan Renjun semakin kuat menggema, mengalahkan suara TV yang telah terabaikan sejak tadi. Hingga beberapa menit kemudian, Haechan menyudahi kegiatan itu.

How was it, kak? Did I do it right and make you feel nice?” tanya Haechan menengadahkan kepalanya, tersenyum puas melihat wajah suaminya yang telah merah dan terlihat kacau.

Renjun menunduk. Sembari mengatur napasnya yang tersengal, ia mengangguk dan tersenyum tipis. Tangannya mengelus rambut Haechan dengan lembut dan menjawab, “You always did great, my handsome husband.”

Lagi-lagi Renjun memujinya. Haechan pun berdiri, memposisikan kedua tangannya di bokong Renjun, menggendong sang suami ke kamar.

Selama di dalam gendongan Haechan, Renjun tak henti-henti mengecup bibir suaminya. Begitu pula Haechan yang juga mengecup pipi, bibir, dan dagu Renjun.

Setibanya di kamar, tubuh Renjun direbahkan di atas kasur secara perlahan dan hati-hati. Haechan setengah berdiri dengan bertumpu pada lututnya di hadapan Renjun yang memperhatikannya lekat. Senyuman nakal terulas di wajah Renjun tatkala sang suami di hadapannya membuka kaosnya dan melemparnya ke bawah kasur.

“Seksi,” goda Renjun membuat Haechan terkekeh.

Haechan kembali berada di atas tubuh Renjun dengan menumpukan kedua sikunya di sisi kanan dan kiri tubuh Renjun. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus rambut Renjun dan cup!

Cukup lama Haechan mengecup kening Renjun. Seluruh cintanya ia coba salurkan di sana, membiarkan Renjun merasakannya hingga tersenyum bahagia.

Ready for the main 'dish'?” tanya Haechan sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Renjun.

Yes, Mr. Romantic. Aku mau kamu masukin.”

Sekali lagi Haechan mengecup kening Renjun sama lembutnya namun kali ini lebih singkat. Detik berikutnya ia merebahkan diri di sebelah Renjun dengan posisi miring, mengajak sang suami berposisi yang sama agar berhadapan.

“Aku butuh tenaga dulu, kak,” ujar Haechan.

Renjun mengernyitkan dahi kebingungan. Namun, setelahnya ia paham ketika tangan Haechan menarik tali bathrobenya dan melepaskan baju berbahan handuk itu dari tubuhnya.

“Mau ngapain, Haechanku?” tanya Renjun tersenyum sambil bergidik karena dinginnya AC menyambar tubuh telanjangnya.

Haechan membalas senyuman Renjun. Sekilas ia kecup lagi bibir Renjun dan sedikit menurunkan posisi tubuhnya hingga sejajar dengan dada Renjun.

“Mau nyusu,” jawabnya enteng dan membuat Renjun terbahak.

Tanpa mempedulikan suaminya yang tengah tergelak geli, Haechan langsung memeluk tubuh Renjun dan mengemut puting si aries itu. Tangan satunya menggesekkan jempolnya ke puting kanan Renjun yang menganggur.

“Ahh fuck sshh kenapa sih kamu pinter banget bikin aku enak, Chie?” puji Renjun yang sedetik berikutnya langsung menjerit, “AHHH! HAECHIE!”

Aduh, Haechan dipuji lagi. Pantas saja Renjun teriak karena Haechan dengan semangat menghisap kuat puting Renjun sampai mencuat kemudian digigit.

“Jangan dipuji mulu, nanti nipple kamu berdarah, kak,” ucap Haechan diiringi kekehan.

Renjun pun tertawa lagi dan mencubit pipi Haechan. “Ya, jangan digigit kuat banget, sayang. Sakiiitttt.”

Setelah saling berbagi tawa bersama, Haechan kembali menghisap dua puting Renjun secara bergantian. Kali ini lebih lembut dan pelan karena ia tak ingin menyakiti suaminya.

“Kak Ren, nghh,” Haechan mengerang. “Tangannya nakal.”

“Hehehehe,” Renjun nyengir. “Kamu lanjut aja nyusunya, aku cuma mau remas dikit biar makin tegang, jadi nanti masuknya enak.”

Kepala Haechan menggeleng sambil terkekeh. Ia melanjutkan menghisap puting Renjun, sedangkan Renjun terus meremas pelan penis Haechan.

“Humhh...”

“Nghhh...”

Keduanya saling melenguh dan mengerang pelan. Untuk beberapa menit, mereka menikmati kegiatan ini, di mana puting Renjun yang kian membengkak dan penis Haechan yang semakin menegang.

Enough?” tanya Renjun ketika Haechan menyudahi aksi hisapannya.

“Udah, kak.”

“Ayo masukin sekarang!” seru Renjun penuh semangat.

“Hahahahahaha,” Haechan tertawa. “Kenapa jadi kamu yang lebih horny?”

“Habis megang your dick and I'm being impatient to feel it inside me.”

Kembali Haechan menyeringai. Ia beranjak dari kasur, berdiri di tepi dan membuka celananya hingga ia telanjang seperti Renjun. Tangannya meraih lubrikan dan kondom di laci nakas di samping kasur yang selalu siap sedia untuk aktivitas panas mereka.

“Kak Ren, coba tidurannya ngadep ke sana,” perintah Haechan.

“Hmm?” Renjun bingung. “Aku ngebelakangin kamu?”

Seraya naik lagi ke atas kasur dan rebahan di samping Renjun, Haechan mengangguk. “Iya, kamu ngebelakangin aku, kak. Nanti aku masukinnya enak dari belakang,” jelasnya.

'Ah, here comes Lee Haechie and his own way in having sex,' batin Renjun sambil tersenyum dan mengikuti perintah Haechan.

Kini Haechan baru saja selesai mengenakan kondom di penisnya. Ia menuangkan cairan lubrikan di jari telunjuknya, mengarahkannya ke lubang anal Renjun.

“Ahh nghhh, dingin, Chie,” ucap Renjun lirih ketika Haechan melumuri lubrikan itu di lubangnya.

Haechan tersenyum. Ia memeluk tubuh Renjun dengan tangan lainnya, mendekap erat hingga dagunya bertumpu pada bahu Renjun, mengecup telinga suaminya dari belakang.

Fuck, Haechan! Pelan, sayang, hnghh,” rintih Renjun ketika jari telunjuk Haechan menerobos analnya.

Sorry, but please bear with it, kak.”

Bisikan Haechan dengan suara rendahnya yang tepat di telinganya itu membuat Renjun bergidik. Belum lagi panggilan 'kak' yang diucapkan sempurna beriring desahan dari Haechan yang semakin meningkatkan libidonya.

“Chie, bisa langsung punya kamu aja ga yang masuk? I want your big dick so bad.”

“Iya, kak. Sabar, ini aku longgarin dulu sedikit.”

“Hnghh, jari kamu panjang banget, sshhh udah kerasa enak...”

“Jadi pake jari aku aja nih, kak? Udah enak kan?”

Renjun menggeleng cepat. “Ga mau, sayang. Ga mau jari kamuuu,” protes Renjun.

Haechan terkekeh geli dan akhirnya mengeluarkan jarinya dari anal Renjun. Ia kecup bahu Renjun sekilas sebelum akhirnya melumuri pelumas pada penisnya yang telah terbalut kondom.

“Tahan ya, kak.”

Renjun mengangguk.

Pelan-pelan, Haechan memasukkan penisnya ke dalam lubang Renjun. Ujung penisnya didorong, membuat Renjun mengernyit menahan sakit dan menggigit bibir bawahnya.

“Nghhh, it's really big.”

I know, kak. Tahan sedikit ya. Apa aku dorong aja?”

“Iya, coba dorong aja. I'll bear with the pain.”

“Yakin, kak?”

“Iya, sayang.”

Dan izin itu diindahkan oleh Haechan. Ia dorong cepat pinggulnya dan penisnya telah masuk sempurna di dalam anal Renjun.

“AHHHH! Shit gede banget, Chie. Sshhh...”

“Hahaha, kata kamu kan my big dick is your favorite.”

“Iya sih bener.”

Untuk mengalihkan rasa sakit Renjun, tubuh mungil itu dipeluk dengan erat oleh Haechan. Dua tangan kekar si gemini melingkar di pinggang Renjun, diikuti dengan kecupan-kecupan ringan di bahu dan leher Renjun.

“Kak Ren.”

“Iya, Haechieku?”

“Aku sayang banget sama kamu, kak.”

Renjun sedikit memundurkan tubuhnya. Tangannya mengelus lengan Haechan yang kini bertengger di perut ratanya. “Aku juga sayang banget sama kamu, Chie, nghh...” balasnya.

Haechan mengulum sekilas telinga Renjun dan kembali berbisik, “Kak Ren, do you know that your holy body is so addicted?

“Hahaha, I know. So does your body, Chie.”

Tangan Haechan mengelus perut Renjun dengan gerakan sensual. Lidahnya terjulur menjilat bahu Renjun seraya berujar, “Kak Renjunku seksi, ganteng, lubangnya ketat banget. Aku ga akan pernah bosen masukin lubang kakak terus. Mmhh, Kak Ren sayang, hmhh seksi...”

“AHH! Ahh...pelan-pelan, sayang. Sshh, Hae-chie...”

Sembari memuji Renjun, ternyata penis Haechan mulai bergerak di dalam lubang Renjun.

“Unghhh, aku seksi banget ya, Chie?” tanya Renjun disela desahannya.

“Seksi banget, kak. Hmhh Kak Renjunku yang paling seksi, paling enak digenjot, sshh...”

Dua pemuda itu semakin terangsang akibat pujian yang dilontarkan satu sama lain. Belum lagi tangan Haechan yang terus meremas paha Renjun serta penisnya.

“Ahh ahh, deeper, Haechie sayang...”

“Humm like this, kak?” Haechan menekan pinggulnya hingga ujung penisnya menyentuh prostat Renjun.

“Ahhh! Yess yessss gitu, Chie. Nghh damn enak banget!”

“Kak Ren, I really wanna break your tight hole.”

“Sshh please do it, Chie.”

“Kakak mau aku genjotin gini terus ya?”

Shit sshh mau nghh mauu bangettt.”

What if I break your hole when we are in our office? Gimana, kak? Sshh after everyone finished their work, aku genjotin kakak di atas meja kerja kakak sampe kakak teriak keenakan kayak sekarang.”

Seketika Renjun membayangkannya. Fantasinya dan fantasi Haechan memang kurang lebih sama. Ia sama seperti Haechan, menginginkan sex yang penuh tantangan dan melakukannya di ruangannya di kantor merupakan sesuatu yang memang pernah ia bayangkan.

“M-mau...mau, Chie. Hmhhh we should do this in my room.”

Got it, Kak Ren.”

Haechan menyeringai. Pinggulnya bergerak kian cepat, membentuk ritme berantakan, membiarkan penisnya menyentuh titik kenikmatan Renjun berulang kali hingga membuat suaminya berteriak nyaring.

“Ohhh fuck! Lee Haechan, aku mau keluar.”

Mendengar itu, Haechan segera mengocok penis Renjun dengan cepat. Ya, sudah sama cepatnya dengan dorongan penisnya pada anal Renjun.

“Haechie...ah ahh ahh! Shit...”

Renjun telah sampai pada putihnya. Cairan kental meleleh deras dari penisnya, mengotori tangan Haechan dan pahanya sendiri. Nafasnya tersengal, namun badannya masih senantiasa terhentak hebat.

“Aku sedikit lagi, sebentar ya, kak.”

Gerakan pinggul Haechan mendorong kuat dan cepat. Ritme yang tercipta pun terkesan kasar dan berantakan, membuat Renjun kewalahan karena tubuhnya memang sudah lemas.

“Chie, umhhh kamu kuat banget.”

“Aku mau keluar, kak.”

Tak lama, puncak kenikmatan Haechan telah berhasil ia raih. Sensasi hangat menjalar di penisnya yang mengeluarkan sperma dan tertampung di dalam karet pengaman. Pun Renjun merasakan hangat juga di lubang ketatnya yang kini terasa ngilu.

Thank you, Kak Ren,” ucap Haechan sembari mengeratkan pelukan dan mengecup bahu Renjun.

“Sama-sama, Haechanku.”

Keduanya sibuk mengatur nafas masing-masing. Pelukan Haechan kian erat dan terus mengelus perut Renjun. Begitu pula tangan Renjun yang mengusap lengan Haechan serta menyandarkan tubuhnya pada Haechan di belakangnya.

Beberapa menit berlalu, hingga Haechan mengeluarkan penisnya dari lubang Renjun. Seketika Renjun membalikkan tubuhnya, melihat Haechan yang melepaskan kondom dan membuangnya ke tempat sampah di samping ranjang.

“Jadi gimana barusan sex sambil manggil 'kakak' gitu?” Renjun terkekeh sambil memeluk Haechan.

“Hehehe,” Haechan nyengir dan masuk ke dalam dekapan Renjun, membiarkan kepalanya bersandar pada dada sang suami. “I like it. Kamu gimana?”

Renjun mengangguk dan mengecup puncak kepala Haechan. “Me too. Aku juga suka banget kamu manggil aku pake 'kakak' gitu sambil talk dirty. So sexy and romantic, my husband,” ujar Renjun.

Haechan mengangkat kepalanya, membuat Renjun menunduk. Bibir mereka bertaut dan saling melumat sekilas.

“Tunggu di sini, biar aku yang bersihin kali ini ya?” ucap Renjun dan Haechan pun mengangguk.

“Gapapa? Ga lemes kamunya? Lubangnya sakit ga? Kalo sakit, biar aku aj―”

“Udah ah, biar aku aja,” potong Renjun.

Si aries beranjak dari kasur, berjalan ke kamar mandi dan kembali sambil membawa handuk kecil yang sudah dibasahi. Ia membersihkan selangkangannya serta selangkangan Haechan. Tak lupa ia memberikan baju Haechan untuk dikenakan dan berjalan ke lemari untuk mengambil bajunya sendiri.

Done!” serunya seraya melempar handuknya ke sembarang arah.

Renjun kembali naik ke kasur, masuk ke dekapan Haechan, dan membiarkan suaminya memeluknya dengan erat.

“Mau tidur sekarang?” tanya Haechan.

“Ngga ah. Ayo kita nonton Netflix, Chie! Mumpung besok aku sama kamu cuti, hehehe.”

“Oke. Sini aku gendong ya.”

Renjun mengangguk dan langsung digendong oleh Haechan. Mereka kembali ke ruang tengah, tempat kegiatan panas tadi dimulai.

Tidak, mereka tidak melanjutkannya. Kali ini mereka memang menonton film sambil saling berpelukan erat, membiarkan malam kian larut tanpa meluruhkan cinta mereka hingga terlelah dengan saling mendekap.


END


schonewords