Kita berjuang sama-sama, ya – milan


notes: anggap aja ini sedikit cerita yang bisa membawa kita ke cerita-cerita Miguel dan Nolan ke depannya


Miguel tersenyum dan mengunci ponselnya lagi. Baru saja ia membaca pesan yang menghangatkan hatinya. Pesan singkat itu dari adik kesayangannya—Damar.

'I proposed him already. He said, yes. I'm going to marry radin so soon, bang.'

Itu isi pesan yang dikirimkan oleh Damar. Jelas membacanya saja sudah mampu membuat Miguel turut merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti adiknya itu.

“Gue jadi kangen Nolan,” gumam Miguel pada dirinya sendiri.

Tok tok tok!

Miguel sigap menoleh ke arah pintu utama rumahnya. Dahinya mengernyit pasca sekilas ia melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kakinya perlahan melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.

“Nolan?”

Miguel terkejut meliat sosok yang tengah ia rindukan itu nyatanya kini hadir di depannya. Senyuman manis dan lucu khas Nolan terulas di wajahnya, membuat Miguel tak kuasa untuk membalas senyuman tersebut.

“Hai, Kak. Aku boleh masuk?”

“Oh, boleh banget. Silakan.”

Nolan menapakkan kakinya yang telah dilepaskan dari sepatu sebelumnya. Ini jelas bukan pertama kalinya ia menyambangi rumah Miguel (dan Damar). Tentu sebelumnya juga pernah walau hanya sebentar.

“Lan, udah jam segini. Ada hal urgent yang bikin kamu ke sini sekarang?” tanya Miguel dengan suara yang pelan.

Nolan yang sudah berada di depan Miguel pun membalikkan tubuhnya. Kini mereka berhadapan dengan netra yang saling bertatapan.

I miss you, Kak. I hope it's not a wrong move for me to come here buat ngelepasin kangen aku ke kamu,” jawab Nolan.

Jawaban Nolan bagaikan penyejuk untuk Miguel. Tanpa berpikir panjang, pria yang lebih tua itu maju tiga langkah dan langsung memeluk tubuh Nolan.

Sempat ada rasa terperanjat pada Nolan. Namun, detik berikutnya ia kembali tersenyum dan langsung mengelilingkan tangannya di tubuh Miguel yang masih mendekapnya erat.

I miss you much more, Nolan.”

Nyaris dua menit berlalu, Miguel dan Nolan saling merengkuh tubuh satu sama lain. Keheningan dibiarkan menyelimuti suasana dinginnya malam.

“Kak,” ucap Nolan sembari melonggarkan pelukan. “Radin baru aja diajakin nikah sama Pak Damar.”

Kepala Miguel mengangguk pelan dengan senyuman tipis di wajahnya. Suaranya lirih menanggapi dengan, “Iya, aku udah tahu. Damar barusan ngabarin.”

Nolan seketika menundukkan wajahnya. Miguel sadar ada perubahan mood pada sosok yang dipujanya itu.

“Kenapa, by? Ada yang salah dari Damar proposed ke Radin?” tanya Miguel dengan hati-hati dan turut merunduk mencoba menatap mata Nolan.

“Mereka berjuang keras banget ya, Kak. Pantes aja sekarang mereka bisa mulai bahagia bareng-bareng,” gumam Nolan lirih.

Miguel tahu kemana arah pembicaraan ini. Maka perlahan ia sentuh dagu Nolan untuk mengangkat wajah manis itu. Sekalipun wajahnya telah berposisi nanar, arah pandang Nolan masih setia ke bawah—sengaja agar tak bersitatap dengan Miguel.

Baby, please, look at me,” pinta Miguel.

Permintaan itu dipenuhi oleh Nolan. Ia mengangkat arah pandangnya hingga bertemu dengan obsidian teduh milik Miguel. Dilihatnya sosok pria yang sudah disukainya sejak bertahun-tahun yang lalu itu memberikan senyuman tipis sembari menangkup salah satu pipinya.

“Nolan, aku juga bisa ngasih kebahagiaan itu ke kamu. Aku juga mau berjuang untuk kita,” ucap Miguel tetap tenang. Seiring luruhnya senyuman, Miguel melanjutkan, “tapi di hubungan ini ada aku dan kamu. Aku ga bisa berjuang sendirian, Lan. Aku butuh kamu untuk sama kerasnya berjuang demi kebahagiaan kita.”

Netra Nolan mengerjap pelan. Napasnya berembus agak gusar dan menerpa lengan Miguel yang ada di dekat wajahnya.

You have to know how much I envy Damar and Radin at this rate. Aku mau banget ngelakuin semua hal-hal berani yang udah dilakuin Damar di hadapan keluarga besar kamu,” lanjut Miguel.

“Dan aku juga mau berani ngelawan keluargaku kayak yang Radin lakuin, Kak, tapi kamu tahu aku ga seberani itu,” timpal Nolan.

That's why I asked you to fight for it together, Nolan,” tutur Miguel berusaha tetap tenang.

Mendengar itu, jemari Nolan dengan resah memelintir ujung cardigan hitam yang ia kenakan. Kepalanya kembali menunduk, membuat Miguel menghela napas pelan dan langsung merengkuh tubuh Nolan masuk ke dalam pelukannya dengan erat.

“Aku boleh nanya ga ke kamu, by?” tanya Miguel.

Nolan tak bersuara. Namun, kepalanya mengangguk dan Miguel mampu merasakan itu di bahunya.

“Aku boleh ga ngebahagiain kamu?” Miguel mulai melayangkan pertanyaan.

“Boleh,” jawab Nolan setengah berbisik.

Will you allow me to showering you with my love to the fullest?”

Yes, I will.”

Then....”

Miguel melonggarkan pelukan. Tubuh Nolan sedikit didorong pelan dan dagunya kembali digamit supaya tatapan mereka kembali bertemu. Sorot mata Miguel tetap teduh dan tenang, membuat Nolan mampu merasakan besarnya sayang serta harapan dari Miguel yang ditaruhkan pada dirinya.

“...will you fight with me for the sake of our love and happiness?”

Berbeda dengan dua pertanyaan sebelumnya, pertanyaan terakhir ini tak segera dijawab oleh Nolan. Mulutnya bungkam dan iris matanya terlihat bergetar.

Helaan napas Miguel terembus pelan. Ditangkupnya kedua pipi Nolan dan dimajukannya wajahnya. Seketika bibir Miguel menempel dan memberikan lumatan pelan pada bibir Nolan.

Tak ada penolakan dari Nolan. Ia membiarkan Miguel melumat sejenak dan memberikan ciuman hangat nan lembut itu.

Nolan suka. Sangat suka setiap kali ia berciuman dengan Miguel, walaupun ciuman itu dilakukan entah dalam hubungan apa namanya.

Ketika ciuman dilepaskan, Miguel dan Nolan kembali saling menatap. Sorot mata Nolan masih berkabutkan ragu, sedangkan Miguel sebaliknya. Gejolak optimis penuh harap sangat jelas terlihat pada manik indah milik Miguel.

“Aku tahu semua yang jadi pertimbangan kamu itu. Aku tahu kamu pasti mikirin banyak hati yang mungkin bakal sakit kalau kita berdua barengan. By, tapi mau sampe kapan kamu mengutamakan perasaan orang lain selain perasaan kamu? Kalau kamu ngejaga perasaan orang tua kamu, Lion, sama Dokter Joan, ga menutup kemungkinan kamu bakal ngerasain sakit yang sama kayak yang dulu dirasain Radin waktu nikah sama Jeremy.”

Benar juga...

By, Radin aja berjuang mati-matian buat kamu dan sepupu-sepupu kamu supaya ga ngerasain apa yang dia rasain dulu. Beberapa sepupu kamu juga udah mulai berjuang demi kebahagiaan mereka. Masa kamu ga mau berjuang untuk bikin diri kamu sendiri bahagia?”

Sekali lagi, benar juga.

“Kalau kamu berjuang untuk itu, kamu ga akan aku biarin berjuang sendiri, by. Ada aku. I'll be here, stand by your side while holding your hands so tight. I'm not gonna let you face a lot of hardships in this world by yourself. Aku bakal selalu nemenin kamu, by. Aku sayang sama kamu. Pun kalau kamu belum siap untuk memperjuangkan hubungan kita, I'll wait. Apapun yang mau kamu lakuin, aku ga akan pernah ninggalin kamu. But one thing for sure that you have to remember, Nolan, sekeras apapun perjuangan kamu demi kebahagiaan kamu dan demi kita, sekeras itu pula aku bakal melawan apapun rintangannya supaya bisa tetap ada di samping kamu. I promise.”

Semua ucapan Miguel itu pada akhirnya menyentuh relung hati Nolan. Keraguannya seketika runtuh bersamaan air matanya yang mengalir deras di pipinya. Tubuhnya pun dibiarkan jatuh lagi ke dalam pelukan Miguel, seolah membiarkan dirinya untuk terus-menerus jatuh cinta kepada sosok hakim yang hebat itu.

“Jangan gitu ih, Kak! Kamu bikin aku makin sayang sama kamu, bikin aku makin susah buat lepas dari kamu,” gerutu Nolan disela tangisnya.

Then, don't,” ucap Miguel sembari mengusap punggung Nolan dengan lembut. “Don't ever you dare to fall out of love from me. Don't leave me and please stay being attach to me like this. Aku malah senang.”

Nolan terkekeh. Ia melonggarkan kembali pelukannya untuk menatap Miguel. Otomatis Miguel tersenyum seraya mengusap air mata Nolan.

“Kalau aku berjuang sekarang, belum telat kan, Kak?” tanya Nolan.

Miguel menggeleng dan menjawab, “Sama sekali belum terlambat.”

Then, I'll fight for my happiness, for you, and for us now.”

Good, Nolan,” ucap Miguel dengan senyuman yang kian lebar tersungging di wajahnya. “Kita berjuang sama-sama, ya? Aku ga akan biarin kamu berjuang sendirian.”

“Iya, Kak. Kita berjuang bareng-bareng, because we have each other's hands to hold, we have each other's shoulders to lean on, and we have each other's presence to be the strength for us. Bener, kan?”

Kedua tangan Miguel memeluk pinggang Nolan dengan erat seraya kepalanya mengangguk cepat. Sigap dibubuhkan kecupan pada bibir Nolan dan berkata, “Exactly, my baby. Makasih ya udah mutusin buat perjuangin hubungan kita.”

“Makasih juga udah selalu ada buat aku, selalu di samping aku, dan selalu ngeyakinin aku, Kak. You have no idea that you, Kak Miguel, means everything to me.”

You too mean a world to me, Nolan. That's why I love you and it's getting bigger day by day.”

I love you even more now, Kak Miguel.”

Tubuh Miguel dan Nolan kembali bersatu dalam dekapan hangat. Nyatanya, malam itu menjadi malam yang membahagiakan pula untuk Miguel dan Nolan.

Tak hanya Damar dan Radin yang akan memulai perjalanan baru dalam hubungan mereka. Miguel dan Nolan pun akhirnya berani melangkahkan kaki bersama untuk memberi kepastian pada hubungan yang telah mengambang tanpa arah selama bertahun-tahun ini.

So, you're officially my boyfriend now?” tanya Miguel dengan nada bercanda.

Nolan tertawa kecil. Kepalanya mengangguk seraya menjawab, “Yes, I'm yours, and you're mine.”


schonewords