Make A Move – markmin's office romance


Sejak hari itu, Mark dan Jaemin mulai mengakrabkan diri. Setiap kali mereka secara tidak sengaja bertemu di kantor—entah itu di lift, kantin, parkiran, lobi, dan beberapa tempat lain termasuk rooftop. Mereka hanya saling menyapa atau tak jarang pula hanya saling melempar senyum.

“Udah seberapa deket sama Jaemin?” tanya Renjun setelah menyaksikan Mark dan Jaemin saling melirik di kantin.

Pardon?”

Yangyang tertawa kecil dan sedikit memukul lengan Mark. “Payah deh yang lagi jatuh cinta nih. Mendadak budek,” cibirnya.

Mark justru terkekeh pelan. Ia teguk minumannya sambil menyempatkan diri untuk melirik ke arah Jaemin yang berada di sudut kantin bersama dua sahabatnya yang Mark sudah kenal—Jeno dan Chenle.

Not that far yet, Renjun,” jawab Mark santai sembari meletakan botol minumnya. “Why? Jealous?

Dua bola mata Renjun berputar malas. “Lo bukan tipe gue dari dulu, kak,” jawabnya ketus.

Jawaban itu sukses membuat Mark dan Yangyang tertawa geli. Kedua pria itu secara bersamaan mencubit pipi Renjun dengan sangat gemas sampai sang empunya mulai berceloteh mengeluarkan omelan khas marah-marahnya.

“Eh, Mark, lo jangan begini lagi ke Renjun sama gue. Ntar Jaemin cemburu,” celetuk Yangyang mengundang tawa dari Renjun.

“Iya bener. Tuh si Jaemin sinis banget ngelihat ke sini,” timpal Renjun sambil mencondongkan dagunya ke arah Jaemin dengan ekspresi meledek.

Kepala Mark sigap menoleh untuk melihat Jaemin. Hembusan napas gusar lolos dari mulutnya tatkala melihat Jaemin justru tengah asyik bersenda gurau dengan para sahabatnya. Ia pun menatap sinis ke arah Renjun dan Yangyang yang kini sedang berusaha menahan gelak tawa mereka.

“Panik banget, Mark? Berarti udah sejauh itu sama Jaemin?” tanya Yangyang.

“Ngga git—”

“Kalau dipikir-pikir,” Renjun memotong hingga membuat Mark bungkam. “Jaemin udah lebih dari tiga bulan kerja di sini? Masa probationnya udah selesai. Selama probation, Jaemin cuma bikin kesalahan satu kali. Sisanya dia selalu berhasil nyelesain kerjaannya sesuai target. Bener kan, kak?”

Mark tersenyum dan mengangguk. “Right. That's the lion's spirit of him,” cicit Mark pelan namun masih terdengar oleh Renjun dan Yangyang yang saling saling melempar senyum.

“Berarti udah jauh, Yan.”

Yes, Ren. Temen kita sampe tahu banget Jaemin's lion spirit.”

Gotcha! Mark jatuh dalam perangkap dua sahabatnya yang iseng. Ia pun menghembuskan napas gusar dan menegakkan posisi duduknya menghadap ke Renjun dan Yangyang.

Kiddos, listen, gue belum sejauh yang kalian pikir. Tentang gue yang tahu banyak hal about him lately, itu pure karena gue sering ga sengaja ketemu dia di rooftop. I've once promised him to be a good listener to every single story he shared. Cuma segitu doang kok deketnya gue sama dia. Bahkan...gue belum punya nomor HP-nya,” jelas Mark dengan wajah seriusnya.

Yangyang terkekeh seraya tangannya terangkat dan mengelus bahu Mark. “Make a braver move, Mark. Minimal minta nomor HP-nya, ngobrol lebih banyak di sana, get to know him more,” ucapnya santai.

Renjun turut memajukan tubuhnya untuk menumpukan tangannya pada bahu Mark lainnya. “Bener tuh kata Yangyang. Also, bisa loh cuma sekadar pergi ngopi berdua after work gitu, kak. Dilanjutin anterin dia pulang,” usul Renjun.

Is it okay to do that?” tanya Mark dengan sangat polos.

Renjun dan Yangyang serentak menepuk dahi mereka pelan. Keduanya pun saling tertawa bersama sembari berkata, “It's fine, Mark Lee!”

Mark tampak berpikir sejenak. Ia hanya mampu menatap kedua sahabatnya yang masih tertawa meledeknya.

“Oke!” seru Mark secara tiba-tiba. “I'll make a move!”

Pria leo itu beranjak dari duduknya. Kakinya melangkah meninggalkan Renjun dan Yangyang yang bengong tampak bingung.

Ternyata Mark berjalan ke arah Jaemin. Tepat ketika ia berdiri di samping pujaan hatinya dan dua sahabat Jaemin itu, Mark tanpa malu berkata, “Jaemin, let's have some coffee after work.”

God bless you, Mark Lee,” desis Renjun melihat itu.

God bless,” timpal Yangyang.

Di bagian sana, Jaemin terdiam. Pun Jeno dan Chenle yang melotot mendapati adegan tersebut di depan mereka.

Pardon, kak?” tanya Jaemin meminta pengulangan.

Mark tersenyum kepada Jaemin. Satu tangannya mengusap lehernya sendiri dengan kikuk.

“Nanti...sehabis kerja...mau ga ngopi bareng aku?” tanya Mark terbata dan lebih pelan-pelan.

Mendengar itu, Jaemin pun mengulas senyuman. Kepalanya yang menengadah menatap Mark pun mengangguk sembari menjawab, “Sure, kakak!”


schonewords