more yummy lunch – gamala ?
CW // NSFW, ngewe, anuan dah pokoknya pake bahasa frontal (kayaknya)
Gama buka pintu kamarnya pelan-pelan. Seketika dia senyum saat melihat suaminya dan si bayi mungil Gabby tidur nyenyak.
“Gala-ku,” panggil Gama lirih.
Gala sedikit membuka matanya. Senyuman langsung terulas di wajah tampannya ketika mendapati sang suami duduk di pinggir kasur—tepat di sampingnya.
“Ini jam berapa, Mas?” tanya Gala dengan suara serak khas bangun tidur.
“Jam dua, ayang.”
Dahi Gala mengernyit mendengar jawaban Gama. Diliriknya jendela kamarnya yang memang menyuguhkan pemandangan langit Jakarta yang sangat terang. Sekilas juga dia melihat bayi mungil di sebelah kirinya yang terlelap, kemudian melihat ke arah jam dinding.
Benar, ini masih jam dua siang.
“Kok kamu udah pulang?” tanya Gala.
Gama cuma tersenyum tipis. Badannya agak menunduk dan mengecup bibir suaminya sekilas sembari menjawab, “Foto yang kamu kirimin tadi bikin aku ga fokus kerja lagi. Jadi, aku mutusin buat pulang cepet hari ini. I think I want more lunch for today.”
Jelas seringaian terulas di wajah Gama. Sontak Gala melotot karena paham maksud dari ucapan suaminya itu. Bisikannya agak keras ketika berkata, “Mas! Yang bener aj— Ayang!”
Badan Gala sudah diangkat Gama, di bawa turun dari kasur. Si cowok mungil itu dibaringkan di sofa yang berada tak jauh dari ranjang mereka, dengan Gama yang mengungkung dari atas.
“I'll eat my lunch very well, ayang.”
Punggung telapak tangan Gala sekarang berada tepat di mulutnya. Kalau ditanya kenapa, ya jawabannya jelas, buat meredam desahannya. Pasalnya sekarang tubuh Gala (dan juga Gama) sudah telanjang.
Di bawah sana, Gama sedang sibuk mengulum penis Gala. Kepalanya naik dan turun guna memasuk dan mengeluarkan kejantanan mungil milik suaminya. Kedua tangannya menahan tungkai Gala agar senantiasa mengangkang lebar.
“Ayanghh...M-mas Gama nghhh,” Gala melenguh lirih.
Gala mengarahkan pandangannya ke bawah. Dilihatnya sang suami yang ternyata membalas tatapannya, memberikan senyuman tipis, dan jangan lupakan penis Gala yang masih dikulum sempurna di mulutnya.
“Aduh, anjiiing udah ah, Gamaaahh! Nanti aku keluar duluannhh,” bisik Gala.
Harus berbisik. Kasihan nanti Gabby yang masih suci, mungil, dan polos itu ternodai suara desahan orang tuanya.
Penis Gala dikeluarkan dari mulut Gama. Seketika si gemini itu mensejajarkan dirinya di atas Gala hingga mata mereka bertemu lebih nyaman dan kecupan ringan dapat dengan mudah dibubuhkan pada dahi serta bibir Gala.
“Aku masukin ya?” tanya Gama.
“Sekarang banget? Di sini?” Gala malah balik nanya.
“Iya. Gabby ga akan bangun, ay,” ucap Gama.
Ada keraguan yang jelas tergambar di wajah Gala. Ekor matanya melirik ke arah kasur, tempat Gabby masih terlelap nyenyak.
“Nanti kalo Gabby kebangun giman— Ahh!”
Ucapan Gala belum sempat selesai, sudah keburu terpotong. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena kepala penis Gama yang sudah mulai menerobos lubang anal Gala.
“Nghhh anjinggg, Gama!”
“Jangan gede-gede gitu desahannya, ayang.”
“Gimana ga gede kalo lubang aku tiba-tiba dimasukin kontol gede kamu itu!”
Gerutuan Gala yang dibunyikan dengan bisikan itu membuat Gama terkekeh. Dikecupnya pipi kanan Gala sambil berkata, “Maaf, ay. Kontol gede aku ga sabar masuk lubang sempit kamu itu.”
Baru saja Gala mau ngomong lagi, tapi mulutnya keburu dibungkam dengan bibir Gama. Sembari Gama mencium Gala, pinggulnya mendorong maju, menghentakkan penis besarnya yang tegang itu untuk masuk sepenuhnya ke dalam lubang Gala yang sangat ketat.
“Mmph!” Gala mengerang dalam ciumannya. Bahkan bibir Gama sempat ia gigit sekilas untuk melampiaskan rasa sakit di bawah sana.
Gama berusaha menenangkan Gala. Tangan kanannya mengelus pinggang Gala, sedangkan tangan kirinya dipakai untuk menumpukan tubuhnya agar tak sepenuhnya menimpa Gala.
Ciuman mereka kian dalam. Gama berkali-kali melumat bibir Gala dan jelas disambut sama panasnya oleh Gala. Bibir bagian atas Gama diemut, dihisap, dan digigit pelan oleh Gala. Setelah ciuman sempat terpisah guna menghirup oksigen, mereka kembali menautkan labium. Gama membiarkan pula lidah Gala menjelajahi isi mulutnya.
“Itu ga mau digerakkin, Mas?” tanya Gala ketika melepaskan ciuman.
“Adek mau kalo Mas gerakkin kontol Mas? Dek Gala mau lubang sempitnya itu ditusukkin pake kontol Mas yang gede ini?”
Mata Gala melotot. Dia jarang sekali dengar Gama ngomong sefrontal itu. Dia jadi bingung, bukannya harusnya yang ngomong kotor kalo lagi bercinta itu tugasnya Gala?
“Mas? Kamu kenapa? Kok tumben ngomongya git— ahhh, Mas Gamahhhh....”
Gala langsung memejamkan matanya begitu dirasakannya penis Gama mulai bergerak pelan di lubangnya. Pelukannya pada leher Gama pun mengerat seiring kian dalam pula tusukkan kejantanan si gemini itu.
“Gam... Gamahh...”
Desahan Gala semakin terdengar meskipun dengan volume yang kecil. Jelas napsu Gama yang lagi tinggi-tingginya itu jadi makin terbakar.
“Ayang, lubang kamu sempit banget sshhh enak gitu.”
Gala tersenyum. Ia menangkup pipi Gama, membuat netra mereka bertemu.
“Kamu lagi napsu banget ya, ayangku?” tanya Gala diselingi desahan kecil.
“Iya. Udah hampir seminggu ga ngewe. Terus tadi foto yang kamu kirim bikin aku horny banget, ay.”
Gala menarik wajah suaminya untuk mengecup bibirnya. Kecupan ringan itu berubah menjadi lumatan lembut, berbeda dengan hentakan di bawah sana yang semakin cepat.
“Mhhh hnghh....”
Lenguhan Gala teredam. Erat dipeluknya leher Gama saat merasakan genjotan penis suaminya dengan tempo yang lebih cepat lagi.
“Fuckkkk Mas Gam... ah! Masss sshh enak ditusuk di situ nghh lagiiihh.”
Gotcha!
Ujung penis Gama baru saja menusuk titik kenikmatan Gala. Maka didorongnya kejantanannya kian dalam.
“Di sini, Papi?” tanya Gama sambil menusukkan ujung penisnya tepat di prostat Gala.
“Iyahh ahh iyah di situ! Lagi lagiii, Daddy....”
Erangan kenikmatan Gala itu semakin membakar libido Gama. Berkali-kali ia mendorong penisnya untuk menyentuh dan menekan prostat Gala.
Sembari mempercepat dan memperdalam genjotannya, Gama pun membawa mulutnya untuk mengemut puting Gala. Dihisapnya kuat serta dipelintir pelan tonjolan mungil itu, membuat desahan Gala semakin terlepas keras, dan semakin susah pula ia meredamnya.
“Daddyyy umhh... Mas Gama, aku mau keluar...”
Maka satu lagi servis yang Gama berikan. Genjotan kejantanannya yang semakin cepat, hisapan pada puting Gala yang semakin kuat, serta kini tangannya mengocok penis Gala tak beraturan.
“Gam... Gama ahhh anjingggg! Mas Gamahhh!”
Jeritan kecil itu terdengar beriring cairan sperma Gala yang menyembur. Pelukannya pada leher Gama pun mulai terlepas karena lemas.
“Wait a bit, ayang,” pinta Gama.
Tubuhnya ditegakkan dengan dua lututnya menjadi tumpuan. Kedua tangannya mencengkram pinggang Gala guna menahan pergerakan gelisah suaminya akibat hentakan kuat dari penisnya.
“Lubang kamu enak banget, Gal...”
“Ahh buruan siiih keluar, Mas.”
“Iya ini keluar, dek. Ahhh...”
Beberapa hentakan kuat dan dalam itu akhirnya meloloskan cairan kental dari penis Gama. Spermanya menyemprot banyak di dalam anal Gala, membuat Gala merasakan hangat di bawah sana sampai di perutnya.
Gama merebahkan tubuhnya di samping Gala dan sigap merengkuh suaminya. Dipeluknya erat sembari diberikan elusan lembut pada punggung kecil sang suami serta kecupan singkat di dahinya.
“Thanks for the yummy lunch, Papinya Gabby,” bisik Gama dengan lembut.
Gala terkekeh sembari bertanya, “Udah kenyang?”
Kepala Gama mengangguk dan menjawab, “Kenyang. Abis nenen juga.”
Mereka pun tertawa bersamaan. Tubuh telanjang penuh keringat itu masih menyatu dalam pelukan hangat.
“Mas, Gabby tuh gerak-gerak. Haus tuh biasanya,” ucap Gala sambil melihat ke arah bayinya.
Cup!
Sekali lagi Gama mencium kening Gala. Ia mengelus pipi suaminya sembari berkata, “Yaudah aku aja yang buatin susu buat Gabby. Kamu tiduran aja dulu, nanti aku bantu bersihin.“en
Gama beranjak dari tidurnya. Sigap ia mengenakan celana boxernya, mengambil selimut, dan menutupi tubuh Gala sebelum keluar dari kamar.
Ya, itulah keseharian Gama. Mengurus dua bayi kesayangannya, walaupun tadi dirinya yang sempat jadi bayi menyusu ke Gala.
schonewords