Much Closer Much Happier – markmin's office romance
Pasca pergi bersama untuk sesi coffee after work dua minggu lalu, perkembangan hubungan Mark dan Jaemin terlihat semakin pesat. Keduanya tampak lebih sering berduaan tanpa malu-malu lagi.
Seperti saat ini, dua pria kelahiran bulan Agustus itu pergi ke kantor bersama. Di dalam mobil hitam yang dikemudikan sang empu—Mark—keduanya saling berbincang dan melempar candaan.
“Itu tuh anggota timnya Renjun, si Giselle, astaga kadang niat banget turun ke lantai tiga belas cuma buat ngegosip doang sama anak-anak HR,” ujar Jaemin penuh semangat bercerita.
Mark tertawa mendengar itu sembari mengangguk. “Iya. Kadang dia juga suka ngilang dari ruangannya, ternyata lagi ngobrol sama sekretaris aku. Sampe teriakan Renjun manggil Giselle tuh kedengeran di semua penjuru lantai lima belas,” tambah Mark.
“Unik-unik banget sih anggota timnya Renjun, but not gonna lie, itu tim terbaik dari divisi kamu, kak.”
“Agree. Cara Renjun ngelead keren sih.”
“Bener. Pantes aja Renjun tuh disebut 'ace' di divisi kamu. Ya, along with you.”
“I took it as a compliment for me, Na.”
“It's indeed a compliment for you, Lee.”
Beberapa menit berlalu, mereka pun tiba di parkiran kantor. Jaemin baru saja melepas seatbelt ketika merasakan lengannya digenggam Mark guna menahan agar tak segera membuka pintu.
“Hm? Kenapa, kak?” tanya Jaemin dengan iris mata yang membulat lucu menatap Mark.
“Kamu beneran jauh lebih bawel sekarang.”
Jaemin tertawa kecil mendengarnya. “Kayak kamu ngga aja,” cibirnya.
“Emangnya aku bawel?” tanya Mark.
“Banget!” jawab Jaemin cepat hingga mengundang gelak tawa Mark.
Perhatian Jaemin terpusat pada Mark yang masih tertawa geli. Sekilas ia pandangi tangan Mark yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Tak kuasa pula Jaemin menahan senyumnya, hingga tak sadar guratan merah muda tengah bersemu di pipinya.
“Kak,” panggil Jaemin yang seketika meluruhkan tawa Mark perlahan.
“Ya?”
Netra mereka bertemu. Mark bisa melihat dengan jelas wajah Jaemin yang bersemu, sedangkan Jaemin sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat tangan Mark yang masih bertaut pada lengannya.
“Aku deg-degan, kak,” ucap Jaemin jujur.
Mark yang sadar dengan arah pandang Jaemin langsung otomatis menarik tangannya guna melepaskan genggaman. Iris matanya melebar dan ia menggaruk pelan bagian belakang lehernya sembari berkata, “Sorry sorry, Jaemin.”
“It's okay,” balas Jaemin lirih. “Toh deg-degannya bukan karena hal buruk. It's a sign for a good thing.”
Dahi Mark mengernyit. “Maksudnya, Jaem—”
“Ya, it's a sign kalau kita tuh sekarang udah makin deket ga sih? Aku berasa punya temen baik yang baru selain Jeno sama Chenle. Akunya juga jadi seneng karena kita makin deket gini. Kayak...apa ya...being much closer to you makes me happier and feel safe.”
Senyuman manis tersungging di wajah Mark. Tangannya secara impulsif terangkat dan mengelus pelan rambut Jaemin.
“Me too, Jaemin. Aku juga seneng banget bisa semakin deket sama kamu.”
Seketika kedua pria itu merasa jantung mereka berdegup lebih cepat dari biasanya. Tatapan yang bertemu itu dengan sigap teralih guna menutup rasa salah tingkah yang mereka rasakan.
“Ayo kita turun, Na,” ajak Mark.
Kali ini lengan Mark yang justru ditahan oleh Jaemin. Sehingga sang pria yang lebih tua mengurungkan niatnya yang baru saja hendak membuka pintu mobilnya.
“Kak, makin deket sama kamu ga cuma bikin aku bahagia,” tutur Jaemin lembut.
“Hm?” Mark berdeham bingung dengan keningnya yang mengkerut. Tatapannya lekat pada manik kecoklatan milik Jaemin sembari lanjut bertanya, “Then? Kamu ngerasa apa lagi emangnya?”
Jaemin sempatkan menghela napas pelan dan berkata, “The closer I get to you, the more I realized that...aku...kayaknya—”
Tok tok!
Ucapan Jaemin terpotong karena seseorang mengetuk kaca mobil Mark—tepatnya di pintu sebelah Mark.
“Mark! Ayo turun! Kita ada meeting sepuluh menit lagi!” Renjun berteriak dari luar sana dan langsung berlari menuju pintu masuk kantornya.
“Oh, ayo kita masuk, kak. Kamu mau ada meeting. Ayo ayo cepet!” seru Jaemin seraya melepaskan genggaman pada lengan Mark dan sigap berlari keluar dari mobil.
Mark masih tertegun di balik kemudinya. Matanya menatap Jaemin yang berlari cepat masuk ke dalam kantor. Kepala Mark bersandar pada sandaran kursi mobilnya sembari menggumam, “Now, I'm curious about your feelings, Jaemin.”
schonewords