Our Celebration


cw // NSFW, mature content, bxb sex scenes, kissing, hickey, nipples playing, hand job, fingering, anal sex, harsh words, dirty talks


Tangan Daniel tergesa membuka kunci pintu unit apartemennya. Ketika pintu itu berhasil terbuka, ia langsung menarik Regi masuk ke dalam, dan kembali mengunci pintu tersebut dari dalam.

“Dan—gosh, Dani!” jerit Regi.

Saat ini Daniel telah mengangkat tubuh Regi dalam gendongannya. Kakinya melangkah terburu-buru ke arah kamarnya.

“Buru-buru banget sih,” ucap Regi diselingi kekehan dan cubitan pelan pada pipi Daniel.

You make me like this, love.”

Keduanya tertawa kecil hingga tiba di kamar mandi yang berada di dalam kamar Daniel. Si mungil itu diturunkan dengan hati-hati dan dilanjutkan diberi kecupan.

“Bersihin dulu ya, sayang. Kamu pake aja kamar mandi ini, aku pake kamar mandi yang di luar. We'll do it after this, so, please make sure you clean it properly,” ujar Daniel.

Regi mengangguk. Ia sedikit berjinjit dan mengecup bibir Daniel.

Alright, captain. I'll clean it 'til the you being addicted to it.”

“Hahahaha, naughty.”


Pasca membersihkan diri masing-masing, Daniel dan Regi berpelukan di pinggir ranjang sebelum akhirnya Regi kembali berada dalam gendongan Daniel. Tubuh Regi direbahkan perlahan di tengah-tengah kasur dengan seprai bernuansa abu-abu tua. Adapun Daniel berada di atasnya, bertumpu pada dua sikunya yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh Regi.

Wow, you look so damn gorgeous from up here,” kata Daniel dengan suara rendahnya.

Mendengar itu, Regi tertawa geli. Tangannya yang menganggur pun dibawa menangkup dua pipi Daniel.

You too look so fucking handsome and sexy from down here. Please, kiss me, sayang,” pinta Regi sesaat setelah membalas pujian Daniel.

Permintaan Regi langsung dikabulkan oleh Daniel tanpa bersuara sedikit pun. Bibirnya kembali menyapa ranum sang kekasih mungilnya itu. Kali ini cumbuannya tak tergesa. Keduanya tampak sangat menikmati dan melumat dengan perlahan.

Sesekali pagutan terlepas, namun kembali disatukan. Sekarang mulai terasa panas yang membakar napsu keduanya. Daniel menyesap kuat belah bibir Regi secara bergantian. Pun Regi yang mengulurkan lidahnya, meminta agar Daniel menghisapnya sama kuatnya ketika menghisap bibirnya.

“Mmhh,” lenguh Regi merasa perih ketiga Daniel menggigit bibirnya disertai tangannya yang mulai menyelinap masuk ke dalam kausnya.

“Sayang,” panggil Daniel setelah memisahkan pagutan.

“Iya, sayang?”

“Regi sayang,” sekali lagi Daniel menggaungkan nama kekasihnya dengan suara baritonnya. “Sayangku, Regiku.”

Perut Regi tergelitik mendengarnya. Raut wajahnya kini bersemu, menambahkan warna kemerahan pasca berciuman panas tadi.

“Kenapa, Danielku, sayangku?”

Daniel terkekeh pelan dan mengulas senyum. Ia sedikit merunduk guna mengecup bibir Regi yang telah membengkak.

Kepala Daniel menggeleng. “Nothing. I just want you so bad now,” gumamnya.

Just do whatever you wanna do over me now, sayang.”

Suara Regi barusan dalam menuturkan kalimat bak sebuah izin itu sangat menyenangkan masuk ke telinga Daniel. Si gemini itu sempat mengecup dahi kekasihnya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan duduk di antara dua kaki Regi yang terbuka lebar.

Pergerakan Daniel berikutnya membuat kedua alis Regi terangkat. Pria kelahiran Juni itu baru saja melepaskan bathrobenya.

May I do the same to yours?” tanya Daniel penuh kelembutan.

Sure, love.”

Maka Daniel pelan-pelan menarik tali bathrobe Regi. Kini tubuh mereka sudah telanjang tanpa sehelai kain pun yang melapisi kulit mereka.

Dua pemuda itu kini tersipu menatap tubuh satu sama lain. Sekalipun sudah bersahabat sejak SMA, nyatanya mereka belum pernah memandang tubuh satu sama lain tanpa sehelai benang pun. Regi terlihat ragu-ragu untuk melihat Daniel. Sebaliknya, Daniel justru menjilat bibir bawahnya ketika matanya bak memindai tubuh Regi dari atas sampai bawah.

“Jangan begitu ngelihatinnya. Aku malu, Dan.”

“Hahaha, sayang, kamu lucu banget,” ucap Daniel dengan kekehannya. “And sexy as well.”

“Gemini sialan, lo! Jangan gitu ah. Malu beneran ini.”

Keduanya tergelak bersama. Ketahui saja, ini caranya Daniel agar mereka berdua lebih rileks.

“Sayang,” Daniel kembali menggaungkan panggilan sayang itu sembari mengungkung tubuh Regi lagi di bawahnya. “If by chance I hurt your body tonight, please let me know.

Hati Regi menghangat, perutnya bagaikan digelitiki ribuan kupu-kupu, dan ia yakin wajahnya semakin merah bersemu. Kedua tangannya semakin mengeratkan pelukan pada leher Daniel sembari mengelus surai coklat kekasihnya itu.

“Aku yakin kamu ga akan nyakitin secuil pun bagian di badan aku. I trust you, Dani.”

Thank you, love. Thank you,” ucap Daniel seraya mengecup kedua pipi dan bibir Regi. “I promise I'll do it gently, Regi.”

Keduanya saling melempar senyum. Mereka menyempatkan untuk mencumbu sesaat sebelum Daniel menurunkan ciumannya ke leher Regi.

“Nghh, Dani...”

Regi mulai membebaskan lenguhannya. Jemarinya menyelip di rambut Daniel, meremasnya pelan tiap kali Daniel menggigit dan menghisap lehernya. Bibir bagian bawahnya ia gigit saat Daniel memperkuat hisapannya.

“Dani sshh it's crazily tickling yet feels good,” racau Regi.

Salah satu sudut bibir Daniel terangkat menciptakan seringaian. Kepalanya menengadah, namun tubuhnya sedikit meringsut turun. Bibirnya berlabuh pada dada Regi yang membuat kekasihnya itu terperanjat merasakan basahnya jilatan Daniel pada putingnya.

“Dan—ahhh...”

Regi merasa tubuhnya bagaikan tersambar aliran listrik. Tak henti-hentinya ia keluarkan desahan tiap Daniel menjilat dengan gerakan memutar di putingnya. Tatkala tonjolan kecil itu dihisap, jeritan kenikmatan pun digaungkan oleh Regi.

“Ahh! Dani, shit!”

Tidak hanya itu. Daniel kini mulai menggerayangi tubuh kekasihnya. Tangannya mengelus perut Regi dengan gerakan yang sensual, menyentuh dua bola kembar si manis itu sekilas, berlanjut mengusap dan meremas paha Regi, hingga berlabuh di kejantanan si aries tersebut.

Damn, Dani, tangan kamu nghhh,” protes Regi dengan susah payah.

“Kenapa tangan aku? Ga boleh aku pegang ini?” tanya Daniel dengan tangannya yang masih bertengger di penis kekasihnya.

Sigap Regi menggeleng. “Boleh, sayang. Aku cuma kaget,” desisnya.

Daniel tersenyum. Maka gerakan selanjutnya, ia remas penis Regi dalam genggamannya, hingga menciptakan erangan lolos dari mulut Regi.

“Ahhh fuck, Dani!”

What? Do you want me to fuck you now?”

“Masih pake nanya.”

“Hahaha, sabar, love.”

Kembali Daniel merangkak sedikit ke atas. Diberinya kecupan pada dahi Regi, berlanjut ke kedua matanya, kedua pipinya, hidungnya, turun ke bibir serta dagunya. Daniel sempatkan untuk bertukar tatap sejenak dengan mata layu milik Regi. Setelah melemparkan senyuman, Daniel kembali merunduk. Sang gemini pun mencium leher Regi, dilanjutkan lagi ke dadanya, perut ratanya, hingga ia berhenti tepat di depan kemaluan Regi.

“Hnghhh,” Regi melenguh ketika merasakan bibir Daniel mengecup penisnya sekilas.

Daniel duduk bersimpuh lagi di antara kaki Regi. Ia lebarkan dua kaki kurus tersebut dan menekuknya. Netranya terpaku pada kejantanan Regi yang telah menegang sempurna dan lubang analnya yang sudah mulai sedikit terbuka pasca dibersihkan tadi.

“Sayang, mmhh,” Regi tak lagi kuasa menahan desahannya ketika Daniel mulai menjilat batang kemaluannya.

“Hmm,” Daniel menggeram seraya mengulum ujung penis Regi.

Desahan Regi pun kian kuat. Pasalnya, Daniel telah meraup kejantanannya masuk ke dalam mulut si gemini itu.

“Hnggg it's so warm, Daniii.”

Mendengar itu, Daniel semakin semangat. Kepalanya naik dan turun dengan tempo teratur. Tangannya semula menahan kaki Regi yang mengangkang dan tertekuk, namun kini ia letakkan dua tungkai kurus itu di bahunya. Sehingga, tangan Daniel yang terbebas pun mulai mengarah ke pantat Regi.

“Ahhh goddamn, Daniii, kamu nghh...you are really good at this.”

Pujian itu membuat Daniel mengangkat kepalanya. Ia menengadah, bertemu tatap dengan Regi yang tengah menunduk melihatnya.

“Masa sih? Kalo kayak gini, aku masih 'good at this' juga ga, sayang?” Daniel bertanya sembari membiarkan jari telunjuknya menusuk lubang anal Regi.

“Ahh...anjing lo, Daniiii. Hmm it's even better.”

Mendengar pujian yang diawali umpatan itu jelas membuat Daniel terbahak puas. Ia pun meraih botol lubrikan di atas nakas di sebelah ranjang dan segera melumuri jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Aku masukin jari aku ya, Gigi?”

Regi mengangguk. “Satu-satu ya masukinnya, Dan,” pintanya.

“Iya, sayang.”

Jari tengah Daniel menjadi yang pertama dimasukkan. Lubang Regi memang terasa sedikit longgar dan licin yang diyakini Daniel berkat proses 'pembersihannya' yang maksimal.

“Hngghh, Dans, even your fingers aja udah terasa enak.”

“Emangnya ga sakit?”

“Perih sih, but still bearable.”

“Kalo gini?” Pertanyaan itu dilontarkan Daniel diikuti seringaian dan jari telunjuknya yang menyusul menerobos lubang Regi.

“Ahhh! Fuck,” desis Regi.

“Sakit? Atau enak?”

Both, Dans...”

Jawaban itu membuat Daniel perlahan menggerakkan jarinya. Ia keluar-masukkan seraya memperhatikan ekspresi Regi yang menahan perih sekaligus merasakan nikmat.

Untuk beberapa menit, dua jari Daniel bergerak dengan tempo yang kian cepat. Lubang Regi pun mulai terlihat lebih longgar.

Love,” panggil Daniel dan membuat Regi menunduk untuk menatap kekasihnya. “Can I put my dick in now?”

Y-yes, please.

Persetujuan dari si pemilik tubuh seksi itu segera Daniel indahkan. Jemarinya dikeluarkan dari lubang Regi seraya matanya menatap lubang yang memang terlihat lebih mampu dimasukkan penisnya nanti.

Sigap Daniel meraih kondom, menyobek bungkusnya dengan gigi, dan mulai mengenakannya pada kejantanannya yang sudah membesar dan tegang. Tak lupa cairan pelumas dilumuri di sana dan pinggiran lubang amal Regi. Pemandangan menggoda itu diperhatikan oleh Regi secara saksama. Tanpa sadar, Regi menggigit bibir bawahnya sambil menatap fokus pada kemaluan kekasihnya.

“Hahaha, Gigi, do you want it to be inside you so bad?”

Pertanyaan dari Daniel langsung ditanggapi dengan anggukan cepat oleh Regi. Suaranya yang serak akibat banyak mendesah tadi pun terdengar pelan untuk berucap, “Mau, Dani. Mau banget.”

Daniel menyeringai dan mengungkung tubuh Regi di bawahnya. Wajah mereka sejajar, netra terpaku pada obsidian satu sama lain, dan bibir berjarak tipis.

I just knew that you're really naughty on the bed, sayang.”

Regi tergelak kecil. Dengan suara yang mendayu ia berkata, “I also just knew that you're so good about sex and teasing me.”

Keduanya terkekeh kecil. Detik berikutnya Daniel mencium bibir Regi, menyesapnya pelan untuk diberi lumatan lembut. Selagi bibir mereka tengah bercumbu, tangan Daniel mulai mengarahkan penisnya ke arah lubang anal Regi.

“Hmphhh!” erangan Regi teredam dalam ciuman.

Pinggul Daniel terus bergerak maju, mendorong hingga penisnya tertanam sempurna di dalam lubang Regi. Sontak Regi melepaskan ciuman dan melepaskan jeritannya.

“AHHH! Ssshh sakit, Dani...”

“Ssstt, sayang, maaf. Sakit banget? Perih ya?”

Regi mengangguk. Daniel pun sigap merengkuh tubuh Regi, mengusap pinggang rampingnya dan sesekali memberikan tepukan pelan pada pantat sang kekasih. Kejantanannya dibiarkan diam dahulu guna membiasakan lubang Regi menerima benda besar itu di sana.

I hurt you, did I? I'm sorry, sayang,” bisik Daniel tepat ditelinga Regi.

No, you didn't! Sakit begini wajar, sayang. Bentar lagi juga hilang.”

“Humm,” Daniel bergumam dengan wajahnya yang tenggelam di ceruk leher Regi.

“Coba kamu gerakin, Dan.”

“Sekarang?”

“Iya. Gerakin pelan-pelan biar terbiasa.”

“Oke.”

Perlahan pinggul Daniel bergerak. Ia tarik penisnya keluar dan kembali ia masukkan lagi. Dilakukannya ini beberapa kali dengan tempo yang teratur dan tentunya masih pelan.

“Hahh...Dani...”

“Ya, sayang? Mulai enak?”

“Iyaahhh.”

“Boleh agak aku cepetin sekarang?”

Go ahead, love.”

Gerakan pinggul Daniel mulai agak cepat. Erangan Regi pun semakin terdengar lebih bebas dan menyiratkan kenikmatan.

“Nghh ahh, Dansss, faster...”

Daniel mengangkat tubuhnya. Ia tumpukan tangannya di dua sisi kepala Regi. Diperhatikannya wajah Regi yang merah, berpeluh, dan matanya yang sayu. Belum lagi bibirnya yang bengkak kini terbuka guna terus meloloskan desahan.

“Dani...Dani...fuck enak banget hnghh.”

“Sshh, Gigi, your hole is so tight.”

“Mmhh it grabs your dick so hard, huh?”

Yesss ahhh and I like it.”

“Hnghh then put it in much deeper, sayang. Please...”

“Siap laksanakan, sayangku.”

Daniel pun langsung menusuk lubang Regi lebih dalam. Ujung penisnya kini menyentuh prostat Regi, menciptakan rasa geli dan nikmat yang membuat Regi meraung kuat.

“AHHH! Yesss yesss lagi di situ, Dannn.”

“Gini, sayang? Sedalem ini?” tanya Daniel seraya menusukkan penisnya lebih dalam.

“Hahhh iyaahhh, sedalem itu, nghhh enak banget, Dan!” rintih Regi merasakan titik kenikmatannya dihajar berkali-kali oleh Daniel.

Keduanya saling bertatapan. Pergerakan pinggul Daniel pun semakin cepat hingga tubuh Regi terhentak hebat. Tangan Regi meremas bahu Daniel sebagai pelampiasan, dan Daniel kini kembali menghisap puting Regi sekuat mungkin.

Holy shit! Dan, ahhh aku ga bisa nahan lagi. Aku mau keluar.”

Mendengar itu, Daniel langsung membawa tangan kanannya meraih penis Regi. Dikocoknya kemaluan sang kekasih yang memang sudah terasa membesar dan kian tegang.

“Dani...Dani...nghh,” Regi terus meneriakkan nama kekasihnya.

“Iya, sayang. Sayang mau apa? Sayang mau keluar? Iya?”

Regi mengangguk ribut. Desahannya semakin menggema di kamar bersamaan dengan tubuhnya yang mulai lelah dihentak terus-terusan.

Cum now, love. Cum as much as you want until it makes my tummy and thighs dirty.”

Fuck mulut manis kamu itu, Dan. Aku...aku...AHH, DANIIIIH!” Regi menjerit merasakan pelepasannya.

Cairan putihnya menyembur dan benar saja, membasahi perut, tangan, dan paha Daniel. Sehingga Daniel tersenyum tatkala menunduk untuk mendapati cairan kental tersebut sudah menempel di kulitnya.

“Tunggu, aku dikit lagi, sayang.”

Daniel pun mempercepat gerakan pinggulnya. Ia genjot lubang Regi lebih dalam. Ditusuknya prostat kekasih mungilnya itu berulang kali, hingga yang terdengar saat ini adalah raungan kenikmatan Regi serta beradunya kulit mereka.

“Regi...ahhh lubang kamu enak banget. Can I hit your hole in such an often time?”

“B-boleh, sayang. Please break my hole anytime you want. I love it when your big dick inside me like this.

Shit, Regi...hnghh...”

Daniel sampai di puncak kenikmatannya. Kepalanya sempat menengadah ketika spermanya menyembur. Detik berikutnya ia jatuhkan tubuhnya di atas badan Regi, masuk dalam rengkuhan si mungil itu.

“Padahal pake kondom, tapi berasa anget, Dan.”

Suara kekehan lolos dari mulut Daniel tepat di telinga Regi. Sekilas ia kecup bahu telanjang Regi sebelum mengangkat tubuhnya kembali. Ia tatap Regi di bawahnya, memberikan senyuman yang langsung dibalas manisnya senyuman si aries itu.

Congrats, Mr. CEO,” ucap Daniel.

“Hahahaha. Buat apa?”

“Buat terwujudnya mimpi kamu, buat permulaan yang baik untuk perusahaan kita, and...”

And what?”

Setengah berbisik dan bersuara bariton Daniel menjawab, “And for making me so addictive to your body.”

“Hahahahahaha, oh my God, makasih ya, Pak CTO. Congrats juga untuk kesuksesan peluncuran startupnya. Also congrats for making me want to do it again,” ucap Regi sambil mengedipkan salah satu matanya.

Alis Daniel terangkat dan ia menyeringai. “Another round?” tanyanya dengan menggoda.

Yes, please.”

Dan sepasang kekasih itu melanjutkan kegiatan panas mereka hingga pukul dua dini hari. Malam yang panjang dan panas sebagai bentuk selebrasi keberhasilan langkah awal dari startup mereka.


schonewords