permintaan javien


Radinka berjalan perlahan menuruni anak tangga. Beberapa menit lalu mamanya mendatanginya di kamar guna meminta sang anak dan cucu untuk turun ke bawah menemui Ayahnya Nolan. Maka Radinka memberanikan diri.

Sorot mata semua orang di ruang tamu kini memandangi Radinka dan Javien. Tangan ayah dan anak itu bertaut dalam genggaman erat.

“Duduk, Radin,” titah Ayahnya Nolan yang duduk tepat di samping Pak Ariawan.

Tak ada suara dari Radinka kecuali pergerakan yang menuruti perintah tersebut. Ia sigap duduk di hadapan para orang tua itu sembari memeluk Javien yang berada di sisinya, memeluk pinggang Radinka erat, dan membiarkan kepalanya bersandar pada dada sang papi.

“Radin, what are you going to do with the news?” tanya Ayahnya Nolan dengan nada suara yang dingin.

Radinka menghela napas. Tangannya yang merangkul bahu mungil sang anak kini tampak bergetar.

First of all, aku harus tanya dulu dari keluarga Tanwira gimana. Aku ga mau gegabah sampe ngerugiin keluarga ini.”

“Om kira kamu benci keluarga ini,” desis Ayahnya Nolan dengan sinis.

Nope, I don't. The fact that I only that stupid rules, not the whole family members. Aku jelas ga mau mencoreng nama keluarga, ngerugiin anggota keluarga, dan—”

Eldest grandpa,” suara Javien terdengar bergetar memotong ucapan papinya.

Seketika seluruh pandangan mengarah ke Javien yang ada dalam pelukan Radinka. Pun pria itu melonggarkan dekapannya untuk memandang sang anak yang sudah berlinang air mata.

Eldest grandpa, tolong bantu papi sama Uncle Damar supaya ga diberitain begitu lagi. Beritanya bohong, grandpa. Papi dan Uncle Damar orang baik. Kata Daddy Jeremy juga kalau orang baik ga mungkin ngelakuin perbuatan buruk kayak selingkuh begitu. Tolong, eldest grandpa,” ucap Javien diselingi isakan sesekali.

Hati seluruh orang dewasa yang ada di sana pun mencelos. Terutama Radinka yang sigap kembali mendekap tubuh mungil sang anak.

“Vien,” desis Radinka mengecup puncak kepala sang anak. “Udah, sayang.”

“Vien masih mau berbicara, Papi. Boleh ga?” tanya Javien dengan kepala yang menengadah untuk bersitatap dengan Radinka.

Senyuman tipis terulas di wajah Radinka. Air mata perlahan turut menggenang di pelupuk matanya sembari mengangguk pelan dan berkata, “Boleh, sayang.”

Kembali Javien menatap Ayahnya Nolan dengan tatapan yang takut. Ia pun melirik ke arah Pak Ariawan dan Bu Alicia yang tersenyum lembut kepadanya, seolah memberikan semangat kepada bocah tersebut.

Perlahan Javien melepaskan pelukan dari tubuh Radinka. Ia beranjak mendekati Ayahnya Nolan. Tepat ketika telah berhadapan langsung, Javien menyodorkan layar ponselnya ke arah pria tertua di keluarga Tanwira itu.

Eldest grandpa, coba lihat ini,” ujar Javien menunjukkan sebuah foto yang menampilkan sosok Radinka dan Damar yang tampak bercengkrama di dapur. Jelas foto itu diambil oleh Javien secara diam-diam. “Selama Vien diadopsi oleh Papi Radin, Vien belum pernah melihat papi senyum bahagia begini. Cuma Uncle Damar yang bisa bikin papi senang.”

Seketika suasana hening. Seluruh pasang mata jatuh memandangi Ayahnya Nolan yang lekat menatap layar ponsel Javien. Diperhatikannya dengan saksama gambaran hasil jepretan yang sangat jelas melukiskan kebahagiaan Radinka dan Damar.

Denial. Itulah yang kini mendominasi dari Ayahnya Nolan. Matanya beralih cepat dari laya ponsel untuk menatap Javien kembali.

“Dulu, Daddy Jeremy ga pernah bikin papi bahagia. Setiap hari daddy dan papi ribut. Setiap hari daddy membuat papi menangis. Vien ga suka begitu, grandpa. Vien lebih suka melihat papi tersenyum setiap hari kayak sekarang.”

Ayahnya Nolan menghela napas. Tangannya menyentuh bahu Javien seraya berkata, “Vien—”

“Dan alasan papi sekarang sering bahagia ya karena Uncle Damar, grandpa. Tolong, eldest grandpa, bantu papi. Jangan biarin berita bohong begitu jahatin papi dan Uncle Damar. Please, grandpa....”

Air mata Javien semakin deras membasahi pipinya. Bibirnya bergetar, suara isakannya kian keras, dan kepalanya seketika merunduk lemah.

Bu Alicia menjadi orang pertama yang menari Javien. Dipeluknya erat sang cucu semata wayang untuk ditenangkan.

Grandma, tolong bantu papi dan Uncle Damar. Vien mohon, grandma, biarin papi dan Uncle Damar bahagia. Vien sayang sekali dengan papi dan Uncle Damar,” tutur Javien lirih sembari terisak dalam pelukan Bu Alicia.

“Iya, sayang. Grandma usahakan bantuin papi sama Uncle Damar ya,” tanggap Bu Alicia dengan mata yang menatap sinis kepada Ayahnya Nolan.

Kini tak ada sepasang mata pun yang bertemu. Radinka hanya mampu tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang basah akan air mata. Nolan sigap duduk di samping Radinka dan merangkul sang sepupu berusaha menenangkannya.

Pak Ariawan memeluk istri dan cucunya bersamaan. Beliau sadar bahwa sekeras apapun kini ia berusaha, sang kakak bukanlah lawan yang sepadan baginya.

“Nolan,” suara sang ayah membuat Nolan sigap menoleh. “Bilang ke sekretaris ayah buat panggil wartawan siang ini. Ayah bakal belain Radin in the behalf of Tanwira's family.”

Seluruh kepala yang mulanya tertunduk, kini terangkat dan secara bersamaan memandangi Ayahnya Nolan. Netra mereka membelalak tak percaya, terutama Radinka.

“Ayah? Beneran? Mau belain gimana?” Nolan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan.

Ayahnya Nolan beranjak dari duduknya. Perlahan ia melangkah mendekati Javien, mengelus kepala dan punggungnya dengan lembut. “I'll do it for this little buddy,” ucapnya pelan.

Javien menengadahkan kepalanya. Mata basahnya kembali bersitatap dengan pria yang dipanggilnya 'eldest grandpa' itu.

Eldest grandpa—”

I can sense the sincerity of your words, little boy. Grandpa percaya papi kamu bahagia dengan Damar itu.”

Kepala Javien mengangguk cepat sembari berkata, “Eldest grandpa juga harus percaya kalau papi ga selingkuh sama Uncle Damar.”

I know, kiddo,” tanggap Ayahnya Nolan sembari tersenyum tipis kepada Javien dan menatap satu per satu anggota keluarganya yang lain. “Kalau gitu saya pamit dulu. Saya harus siap-siap untuk wawancaranya.”

Baru saja Ayahnya Nolan berbalik badan, Javien sigap menahan tangannya. Pria paruh baya itu pun kaget dan menoleh untuk menatap bocah itu.

What else, kid?” tanya Ayahnya Nolan.

Eldest grandpa, are you gonna let my papi and Uncle Damar happy together?”

Senyuman terulas di wajah Ayahnya Nolan. Kepalanya mengangguk pelan dan menjawab, “Papi kamu berhak atas kebahagiaannya sendiri. Eldest grandpa ga akan mengganggu itu.”

Then,” sambung Javien. “Will you let Uncle Nolan happy too with Uncle Miguel, grandpa?”

Seketika netra seluruh orang dewasa di sana terbelalak, termasuk Ayahnya Nolan. Ia hanya mampu berdeham dan mengacak pelan rambut Javien dengan bertanya, “Vien mau Uncle Nolan bahagia dengan Uncle Miguel?”

Javien mengangguk cepat dengan salah satu tangannya yang mengusap air mata di pipinya. Pun Ayahnya Nolan tersenyum sembari membantu bocah itu menyeka air matanya pula untuk menjawab, “It's up to him mau bahagia dengan siapa, Vien.”


schonewords