Pertemuan Pertama – markmin's office romance


Banyak yang bilang, cinta pada pandangan pertama itu hal yang mustahil terjadi. Dominannya orang-orang meyakini bahwa yang terjadi pada pandangan pertama itu hanya perkara suka dan kagum. Rasa sayang tak semudah itu tumbuh, apalagi cinta.

“Namanya Jaemin,” bisik Yangyang tepat di telinga Mark.

Alis kiri Mark terangkat dengan lirikan khasnya kepada sang sahabat. Ia bersikap pura-pura tidak tahu maksud dari Yangyang barusan yang justru mengguggah tawa pria kelahiran Oktober itu.

“Ga usah sok polos gitu. Gue tahu lo dari tadi merhatiin cowok yang rambut coklat itu,” cibir Yangyang dengan suara yang pelan.

“Dia karyawan baru?” tanya Mark.

Gotcha! Pada akhirnya ia penasaran juga. Yangyang pun segera mengulas senyuman dan mencoba mengulum kekehannya.

“Iya, dia HR baru,” jawab Yangyang sikat.

“Oh—”

“Tugas pertama dia sih evaluating your progress, kak,” tiba-tiba Renjun berdiri di belakang Mark dan Yangyang, membuat dua pria itu terperanjat.

“Kok lo ada di sini?” tanya Yangyang.

Renjun memutar bola matanya malas dan menjawab ketus, “Yang bakal dievaluasi itu divisi gue sama Mark, kalo aja lo lupa.”

Yangyang tak kuasa. Ia melepaskan kekehan pelannya dan menutup mulutnya dengan tangan.

“Naksir, kak?” tanya Renjun santai ketika berhasil memposisikan dirinya berdiri di antara dua sahabatnya itu.

I'm not sure. Mungkin cuma kagum,” jawab Mark santai dengan netra yang tak lepas dari memandangi sosok bernama Jaemin itu.

He's totally your type,” ucap Renjun.

Agree,” timpal Yangyang.

Obrolan singkat mereka segera dihentikan tatkala nama Mark dan Renjun dipanggil untuk mengambil tempat duduk yang telah disediakan di ruang rapat. Kedua pria yang dijuluki 'The Aces of Research and Development' itu sigap duduk menghadap jajaran petinggi Neotech Corps.

*“Mark Lee, selaku ketua tim satu pada divisi Research and Development, dan Huang Renjun, selaku anggota tim satu divisi yang sama, telah menjalani evaluasi dalam beberapa bulan belakangan. Evaluasi terakhir akan dilakukan selama satu minggu ke depan. Hasil evaluasi secara keseluruhan akan dikalkulasikan untuk menjadi penentu mutlak kelayakan promosi jabatan sesuai dengan peraturan yang berlaku di Neotech Corps.”*

Senyuman mengembang di wajah Mark dan Renjun. Mereka sempat untuk saling bertatapan. Keduanya berdiri secara bersamaan untuk sedikit membungkukkan tubuh mereka guna memberi hormat kepada para petinggi.

Tatkala mereka sudah beralih dari ruang rapat, Yangyang menyambut mereka dengan rasa bahagia. Ketiganya saling berpelukan, mengingat persahabatan mereka dan jalan karir mereka yang sudah sampai sejauh ini berkat dukungan satu sama lain.

Anyway, Mark, gue tadi dapat bocoran dari tim HR.”

“Apaan?”

Yangyang semakin mendekatkan diri kepada Mark. Sedikit berbisik, ia berkata, “Jaemin is going to be in charge for your evaluation this week. You'd better pass the evaluation and got his attention within a week.”

Renjun terbahak mendengar ucapan Yangyang, sedangkan Mark hanya menghembuskan napasnya pelan. Kepalanya menggeleng melihat kedua sahabatnya terkekeh.

“Permisi,” sebuah suara yang sangat lembut menginterupsi ketiga pria itu.

Ketika mereka menoleh, netra ketiganya secara bersamaan membelalak. Adalah Jaemin yang berdiri di dekat mereka. Renjun dan Yangyang otomatis melirik ke arah Mark. Dan Mark? Ia terdiam kaku dengan manik yang nyaris enggan berkedip menatap Jaemin, hingga yang diberikan tatapan itu sedikit salah tingkah.

“Iya, ada apa?” tanya Renjun memecah keheningan pasca tersadar Jaemin salting.

“Oh, saya cuma mau kenalan. Berhubung satu minggu ke depan saya bakal banyak berinteraksi sama kalian berdua, jadi saya pikir ada baiknya kenalan dulu,” ucap Jaemin dengan suara yang lembut dan ekspresi ramah kepada Mark dan Renjun. “Saya Jaemin, asistennya Bu Sooyoung—ah, maksudnya asisten manajer HR yang baru.”

Tangan Jaemin terulur dan Renjun sigap menjabatnya. “Hai, Jaemin! Aku Renjun. Aku dengar dari Bu Sooyoung kalo kamu seumuran aku. Jadi, santai aja kalo ngomong sama aku ya, Jaemin. Salam kenal,” balas Renjun tak kalah ramah.

“Iya, Renjun. Salam kenal,” ucap Jaemin. Ia alihkan juluran tangannya ke hadapan Mark yang masih diam. “Salam kenal juga, Kak Mark. Benar kan saya panggilnya 'kak'?”

Mark semakin membatu, kaku, dan lidahnya kelu melihat senyuman Jaemin dengan jarak yang dekat ini. Dapat ia lihat sempurnanya pahatan wajah Jaemin dengan kulit putih mulusnya, bulu mata yang lentik, mata bulat lucu nan teduh, serta bibir merah mudanya.

“Kak,” panggil Renjun lirih sembari menyenggol siku Mark hingga pria leo itu tersadar dan mengerjapkan matanya.

“Oh, iya. Hai, Jaemin. Salam kenal juga and welcome to Neotech. I'm looking forward to working together with you,” ucap Mark menyambut tangan Jaemin dan menjabatnya. Ada sengatan yang menyenangkan di hatinya ketika berhasil menyentuh kulit tangan Jaemin yang sangat lembut.

Sure. It must be nice to work with the aces like you and Renjun. Semangat untuk evaluasi terakhirnya,” balas Jaemin masih tersenyum manis.

Mark mengulas senyuman pula di wajahnya. Tatapan lekatnya bersatu dengan iris mata Jaemin yang membulat lucu seperti manik kelinci.

Please be kind to my last evaluation, Jaemin.”

Sure. If only you give me your best, Mr. Lee.”

Beberapa detik berikutnya Jaemin berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Mark tak henti-hentinya menatap pria manis tersebut hingga punggungnya telah menghilang di balik pintu lift.

“Lepas tu bola mata bentar lagi, Mark,” cibir Yangyang.

“Takutnya jantungnya juga lepas, Yan. Pasti sekarang lagi deg-degan banget habis lihat cowok manis gitu,” timpal Renjun.

Mark terkekeh. Ia tatapan kedua sahabatnya sembari berkata, “Renjun, you're right. He is really my type, and fuck it. I think it's love at the very first sight. Me...to him. I'm sure.”

Pada hari itu, Mark meyakinkan dirinya bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya. Bukan sekadar rasa suka atau kagum semata, tapi sudah sebuah hasrat yang ingin selalu tumbuh menjadi perasaan yang tulus di kemudian hari. Itulah yang Mark rasakan dan inginkan setelah melihat Jaemin.


schonewords