Proposal – markmin's office romance


MARK's POV

CW // kissing


“Hmm, ganti.”

Nope. Terlalu tua kalo lo pake yang itu.”

Udah sekitar setengah jam Renjun sama Yangyang ngomentari baju-baju yang aku pake. Well, they are here because—

“Kak Mark, kayaknya pake kemeja biru itu aja, terus celananya yang broken white gitu. Since it's actually not-so-formal dinner, tapi lo bakal ngelamar Jaemin malam ini. So, you need to dress-up very well.”

Agree with Renjun. Soalnya kalo lo dressing yang formal banget, Jaemin pasti curiga. Ya, lo kan maunya it's going to be a suprise for him. Jadi coba pake baju yang kelihatan santai, tapi quite formal juga.”

Ya, malam ini aku mau romantic dinner sama Jaemin. Sebenarnya ga ada momen spesial yang mau dirayain hari ini, tapi karena enam bulan lalu, di anniversary pertama kita none of us yang bisa ngerayainnya. I was so busy back then dan Jaemin harus ke luar kota untuk ngasih pelatihan.

So, yeah, we are so late in celebrating it. Enam bulan belakangan memang lagi masa-masa sibuk buat kita berdua. Kita cuma ketemu di kantor, makan siang bareng di kantin, dan sleep over sebanyak tiga kali doang—itu pun di weekend. Ga jarang kita berdua jadi berantem karena kurangnya intensitas waktu buat ketemu. Ah, but the power of love yang pada akhirnya bikin kita saling ngerti dan baikan lagi.

“Gini?” tanyaku ke Renjun sama Yangyang sehabis ganti outfit sesuai saran mereka.

“NAH INI DIA!”

“PERFECT!”

“Oke, gue jalan sekarang deh. Mau jemput Jaemin dulu.”

“Cincinnya udah dibawa ga?” Renjun nanya agak teriak karena panik. “Gue ga mau ya, kak, nanti gue lagi enak-enak cuddle sama Haechie malah lo suruh anterin cincin.”

Omelan Renjun selalu berhasil bikin aku dan Yangyang ketawa. Ya, namanya juga baru jadian, Renjun lagi menikmati masa-masa indahnya sama Haechan.

“Udah aku bawa, Ren. No worries. Gue ga akan ganggu waktu lo sama Haechan.”

Nice.”

“Dah sana, Mark. Gue sama Renjun sekalian pulang deh ini. Good luck, ya.”

Thanks a lot, Yan!”

“Nanti kabarin kita ya, kak.”

“Pasti, Ren.”

Hehe, apalah aku tanpa mereka berdua ini? Sahabat yang keren-keren dan selalu ada buat aku. Yes, very supportive best friends yang sekarang buru-buru banget dorong aku masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan ke rumah Jaemin aku berusaha banget buat fokus. Bohong kalau aku bilang aku ga deg-degan. I'm totally nervous now until I feel like it's so hard for me to breath. Apalagi sekarang udah di depan rumah Jaemin, ketemu orang tuanya, dan minta izin buat bawa anak semata wayang mereka pergi.

“Kamu udah reservasi tempatnya, kak?”

“Udah, sayang. It's a fine dining restaurant. Kamu pasti suka.”

Aku lirik sekilas ke arah Jaemin disela nyetirku, dan aku bisa lihat ekspresi bahagianya yang ditandain dengan senyuman manis khas kelinci lucu ini. Setiap ngelihatin Jaemin, aku ga pernah berhenti muji dia.

Look at him now! Sempurna dengan kemeja denimnya yang dipadukan celana yang sejenis. Rambut hitamnya yang mulai panjang dibiarin lurus terurai dan pada bagian depannya sudah nyaris menutupi matanya.

Dari samping begini—walaupun aku cuma ngelihat sekilas—aku bisa ngelihat pahatan mukanya yang perfectly perfect! Kulit putihnya yang mulus, pipinya yang gembul, mata teduhnya yang kalau membulat kayak mata kelinci disatuin dengan bulu mata yang super lentik, hidung yang mancung, dan bibir tipisnya yang pink banget itu.

Oh, God...Jaemin is so perfect and I won't ask more than his existence beside me. He is more than enough for me.

“Ini, kak, restorannya?” tanya Jaemin begitu kita sampai di restoran yang udah aku reservasi.

Yes, baby. Yuk, turun.”

Sesuai ekspektasi, mata Jaemin melotot bulat lucu kayak kelinci begitu lihat dekorasi private room yang aku pesan. Sebuah ruang kecil yang udah dihias kelopak bunga mawar merah di beberapa sudut.

“Ih, kakak! Ini bagus banget dekornya!” Jaemin setengah teriak saking senangnya. “Are these all based on what you requested?”

Of course. Beautiful person deserves beautiful decoration for his romantic dinner.”

“Aduuuuh romantis banget pacar aku.”

Dan Jaemin meluk aku sehabis ngomong kayak tadi dengan nada manjanya. Hahaha, lucu. Jaemin lucu banget. This hug...I swear to God I won't let him hug anyone else beside me. It's comfortable as always.

“Kita makan dulu ya, sayang. Nanti pelukannya lagi,” ajakku yang langsung disetujui sama Jaemin.

Tenderloin steak with wine as the main menu. Jaemin kelihatan seneng dengan semua yang aku siapin malam ini. Sedari tadi, dia banyak senyum dan ketawa. Moodnya bagus, and I'm so happy because I'm the reason behind it.

“Kak, maaf ya karena aku sibuk banget belakangan ini. Jadinya anniv kita harus diundur sampe enam bulan buat ngerayainnya.”

It's okay, sayang. Ga cuma kamu yang sibuk. Aku juga.”

“Iya sih. Pak kepala divisi ini sibuk banget deh sekarang. Apalagi known as karyawan terbaik selama beberapa bulan berturut-turut.”

Does it make you proud?”

Jaemin senyum sumringah sambil ngangguk. “Of course! Aku selalu banggain ke semua orang kalau pacarku ini cowok yang keren dan hebat banget!” ucapnya kegirangan.

Berhubung makanan kami sudah habis, aku mutusin buat menggeser kursi aku ke samping Jaemin. Dia sempat bingun ngelihat aku begitu, tapi sehabis itu dia senyum karena akhirnya bisa biarin kepala dia nyender di bahu aku.

“Nana,” panggilku.

“Iya?”

Tangan kami yang saling menggenggam itu aku angkat. Aku kasih kecupan singkat di punggung tangannya dan bikin dia makin mepetin badannya ke aku.

Let's change it, Na.”

“Hm?” Jaemin kayaknya bingung. Dia langsung angkat kepalanya, noleh ke aku yang bikin kita berdua akhirnya saling tatap.

Damn! Those beautiful eyes.

“Maksudnya gimana, kak? Apanya yang diubah?” tanyanya bertubi-tubi saking bingungnya.

Tangan Jaemin aku lepas dulu dari genggaman. Aku ambil kotak kecil di kantong celanaku yang langsung mengubah ekspresi Jaemin jadi jauh lebih kaget.

“Kak Mark...”

Lagi. Aku ambil lagi tangan Jaemin sesudah aku buka kotak itu dan nunjukkin cincin ke arah dia.

“Na, thank you for praising me as a great boyfriend of yours. Now, I want you to change it,” aku lihatin mata lucunya itu. “Let's change it. Aku mau kamu bangga ke aku bukan sebagai pacar lagi, Na, tapi sebagai suami kamu. Aku percaya diri bisa jadi suami yang selalu kamu banggain, karena sejauh ini aku berhasil jadi pacar yang bikin kamu bangga terus-terusan.”

Jaemin kelihatan makin kaget, tapi pelan-pelan aku bisa lihat dia senyum. Sekarang giliran aku yang kaget karena Jaemin langsung melukin leher aku kuat banget.

“Kakak, aku bakal dengan senang hati ngebanggain kamu ke seluruh penjuru dunia kalau kamu itu suami aku yang paling hebat! Sampe ke planet Venus pun aku mau banggain kamu yang keren ini sebagai suami aku!”

Hah?

Sebentar...

Ini....

“Nana?” aku lepasin sebentar pelukan itu supaya aku bisa lihatin mata dia lagi. “Ini...maksudnya...kamu—”

Yes, kakak! Let's get married.”

Oh...God, jadi ini rasanya bahagia karena pacarku nerima lamaranku?

For real, Na?”

For real, Kak Mark.”

Damn, my Na.”

Kalau kebahagiaan bisa diukur dengan skala seratus, sekarang ini bahagianya aku udah lebih dari itu. Saking bahagianya, aku peluk Jaemin erat, ngucapin kata 'makasih' berkali-kali, dan...

I'm kissing him right now. His lips, of course.

Terima kasih, Na. Bahagianya aku saat ini semoga bisa sama besarnya dengan bahagianya kamu. Semoga pula kelak kebahagiaan kita selalu sejalan.

Aku cinta kamu, Na. Sangat.


schonewords