Radinka vs Tanwira
CW // mentioned family issues, trauma, sexual harassment, cheating
Suasana kediaman keluarga Nolan sudah ramai. Entah sejak kapan keluarga Tanwira selalu mempunyai tradisi makan malam bersama di tiap bulannya. Acara makan malam itu diharapkan terus mengeratkan hubungan kekeluargaan, tapi faktanya, anggota keluarga Tanwira seringnya hanya saling memamerkan kekayaan dan prestasi keluarga inti satu sama lain.
“Lan!” seru Radinka menepuk bahu sepupunya dengan pelan.
“Lah? Udah sampe, Din?”
“Udah dari tadi. Lihat aja tuh anak gue udah dikerumunin para orang tua.”
Nolan terkekeh. Tangannya merangkul bahu Radinka sembari berbisik, “Lagi proses persuading tuh biar jadi penerus Tanwira.”
“Ogah,” cibir Radinka ketus. “Anak gue ga boleh jadi penerus Tanwira. Nyusahin aja ni keluarga.”
Gelak tawa lolos dari mulut Nolan. Terus-menerus ia meledek sepupunya yang selalu menghindar agar anaknya tak banyak berinteraksi dengan keluarga besarnya itu.
“Kapan mau ngomongnya, Din?” tanya Nolan tiba-tiba berekspresi serius.
“Bentar lagi. Masih ada yang belum kelar makan tuh. Takutnya keselek.”
“Ugh a very considerate of you,” goda Nolan.
“Of course.”
Dua pria yang sangat akrab itu terus berbincang. Sesekali Nolan menggoda Radinka lagi perkara hubungannya dengan Damar, atau bahkan Radinka yang menggoda Nolan perkara adanya Dokter Joan yang tak berhenti memandangi Nolan.
“Radin,” suara Pak Ariawan tiba-tiba terdengar dari balik punggung Radinka.
“Ya, Pa?”
“Mending ngomong sekarang. Uncle Jonathan katanya mau buru-buru pulang.”
Kepala Radinka mengangguk setelah sempat bertatapan dengan Nolan. Bahu mungilnya ditepuk pelan oleh Nolan unyuk diberikan semangat.
Makan kini Radinka berjalan gugup ke arah terdepan ruang tengah—tepatnya di ujung meja makan yang selalu sukses menjadi pusat perhatian. Pergerakan Radinka itu disadari oleh para anggota keluarga besarnya, sehingga kini seluruh pasang mata telah terpaku padanya.
“Radin, mau ngapain? Ada yang mau disampaikan?” pertanyaan itu terdengar dari Ayahnya Nolan selaku anak sulung keluarga Tanwira.
“Iya, Om. Aku mau nyampein sesuatu.”
Jawaban Radinka langsung ditanggapi dengan tatapan serius dari seluruh anggota keluarganya. Dipandanginya kedua orang tua yang mulai terlihat resah, Nolan yang berusaha tenang dan diam-diam menyemangatinya, serta Javien yang mengerjapkan matanya lucu sembari meminum jus jeruk.
“Hari ini,” suara Radinka mulai menggelegar di tengah keheningan. “Aku mau kita semua diskusi untuk mengubah peraturan pernikahan di keluarga Tanwira.”
Seketika suara riuh terdengar. Bisikan para orang tua yang berdesis sinis ditangkap baik oleh telinga Radinka. Namun, senyum sumringah dapat ia lihat jelas di wajah para sepupunya yang masih muda dan belum menikah.
“The rules for marrying only the rich people is suck,” ujar Radinka dengan suara yang keras. “Aku harap kalian semua banyak belajar dari gagalnya pernikahan aku.”
“Berani sekali ya Radinka berbicara begini. Orang tuanya kok diam aja?” cibir salah satu tantenya—adik dari Pak Ariawan.
Mendengar cibiran itu, Pak Ariawan dan Bu Alicia hanya bungkam. Raut wajah mereka tetap tenang dengan netra yang fokus menatap Radinka serta tangan yang erat menggenggam Javien.
“Memangnya apa masalah dari pernikahanmu, Radinka? Apa hubungannya dengan peraturan keluarga Tanwira? Rumah tanggamu yang gagal, malah menyalahkan peraturan yang sudah lama ada dan berhasil.”
Ucapan itu lolos dari mulut Ibunya Nolan. Sigap sepupunya Radinka itu mencengkram pelan lengan sang ibu dan menggeleng.
“Rumah tangga saya hancur dan gagal karena orang yang aku nikahi itu sama sekali ga cinta aku, ga sayang aku, dan menelantarkan anak aku,” ucap Radinka dengan tegas dan tenang. “Ya, anak aku yang kalian harap jadi penerus Tanwira di generasinya nanti. Oh, dan aku ga akan izinin anakku bernasib sama kayak aku di keluarga ini—”
“Radin,” panggil Ayahnya Nolan memotong ucapan Radinka. “Sesakit itu ya kamu karena Jeremy?”
Radinka berdecih. Senyuman ia paksa untuk tersungging di wajahnya yang sebenarnya ingin sekali menorehkan amarah.
“Om, rasa sakit aku yang bikin anak jadi takut buat buka hati ke semua pria yang udah Om siapin jadi calon suami dia.”
Satu kalimat itu nyatanya sukses membuat wajah Ayah dan Ibu Nolan menegang. Mereka sigap menatap Nolan yang berlinang air mata memandangi Radinka.
“Ga cuma Nolan, semua sepupuku yang belum nikah ini pada takut buat nikah atas perjodohan dari orang tua atau keluarga. Mereka semua takut kalau nanti yang jadi pasangan mereka itu sama kayak Jeremy. Ya, kaya raya, tapi ga sungkan untuk nyakitin suaminya sendiri. Trauma itu bukan cuma membekas di aku, but to all of my single cousins here.”
Tegas Radinka memperjelas situasi. Pernyataan itu disambut anggukan setuju dari para sepupunya yang tersenyum tipis kepada Radinka.
“Aku ga mau ada Radinka-Radinka selanjutnya. Cukup berhenti di aku. Bukannya aku juga ga tahu pernikahan para Om dan Tante di sini banyak yang penuh sandiwara. Kalian banyak yang pura-pura romantis, tapi cuma ditutupi pake materi, padahal masing-masing punya simpanan. Kalaupun pernikahannya baik, ya anak-anaknya terlantar karena orang tuanya sibuk kerja. Itu yang bikin aku ga mau Javien bernasib sama. Itu alasan terbesar kenapa Javien ga punya ‘Tanwira’ di namanya.”
Banyak pasang mata yang melotot mendengar penjelasan Radinka barusan. Suasana menjadi dingin dan tegang. Pun Javien yang menjadi satu-satunya anak kecil di situ merasa gelisah, hingga harus dipeluk erat oleh Bu Alicia.
“Aku setuju sama Mas Radin!” seru Naura, salah seorang sepupu Radinka. “Papi sama Mami selalu acts like couple goals, padahal Papi punya selir di golf clubnya dan Mami is having affair with her Yoga’s instructor. Terus dengan enteng mau jodohin aku sama anak konglomerat yang punya track record as a player. Duh, aku ga mau deh kayak nanti berumah tangga tapi hatinya malah ke orang lain.”
“Same!” teriak Dion, sepupu Radinka yang lain. “Aku baru mau tunangan aja sama anak perempuannya konglomerat dari Singapore, tapi belum apa-apa dia udah sering ngancem-ngancem aku perkara sex thingy. Ugh, please, aku ga mau jadi kayak Mas Radin.”
Beberapa sepupu Radinka lainnya angkat bicara. Pada akhirnya, tersisa Nolan yang menjadi seorang anak diam tanpa melayangkan protes. Jelas semua mata tertuju padanya dan membuatnya gugup.
“Ga usah nunggu Nolan ngomong,” ujar Radinka yang kembali menyita perhatian. “Di antara kita semua, Nolan jadi yang paling tersiksa dengan peraturan pernikahan keluarga ini. Nolan udah bertahun-tahun harus tersiksa untuk controlling his feelings supaya ga jatuh makin dalam ke cowok yang udah lama dia suka. Nolan berusaha paling keras biar ga ngasih harapan apapun ke cowok itu. Dan Nolan … yang paling susah melawan semuanya, karena ayahnya anak sulung di keluarga Tanwira, yang selalu jadi contoh, panutan, dan teladan buat semua anggota keluarga dalam mematuhi aturan—”
“Tapi karena itu, lo jadi korbannya, Din,” balas Nolan dengan suara lantang. “Kalo aja gue berani buat nentang peraturan itu dari awal, lo ga akan jadi korban perjodohan dan sexual harassment dari si brengsek Jeremy itu. Harusnya gue yang berjuang dari awal, Din, supaya kalian semua—sepupu gue—ga ada yang tersiksa karena peraturan ini. Harusnya—”
“Then fight for it now with Miguel, Lan.”
Radinka memotong ucapan Nolan yang mulai terisak. Keheningan itu berubah pilu karena Nolan akhirnya menitikkan air mata. Radinka berjalan ke arah sepupu tersayangnya itu dan memeluknya erat.
“Ga perlu lo sesalin semuanya, Lan. It’s not even late to fight for it with me.”
Kepala Nolan mengangguk dan air matanya sudah membasahi bahu Radinka. Sorot mata Radinka tajam mendelik ke arah kedua orang tua Nolan.
“Aku harap para orang tua di keluarga ini bisa kembali mempertimbangkan peraturan pernikahan itu. I don’t really get the purpose of marrying a rich person if it ain’t give a single happiness to us. Jadi, tolong … pikirin dan utamain kebahagiaan, keamanan, dan kenyaman anak-anak kalian dalam berumah tangga.”
Radinka melepaskan pelukan. Tangannya sudah mencengkram pergelangan tangan Nolan dan menariknya untuk menggamit tangan Javien. Radinka sudah bersiap membawa sepupu dan anaknya untuk keluar dari rumah itu sebelum langkahnya terhenti oleh pertanyaan dari Ayahnya Nolan.
“Radin, memangnya siapa orang yang bukan keturunan konglomerat yang mau kamu nikahi? Sampai-sampai kamu berani sekali menyuruh kami untuk mempertimbangkan perubahan peraturan ini. Sehebat apa orang itu sampai seorang Radinka Hirawan Tanwira yang biasanya patuh dan sopan, kini menjadi lancang kepada para tetua?”
Seringaian terulas di wajah Radinka. Ia hanya menoleh sedikit ke belakang tanpa membalikkan tubuh guna menjawab, “Damar Hannan. Yes, my boyfriend right now is the great lawyer, Damar Hannan. Seharusnya dengar nama itu bisa bikin keluarga ini agak sediki takut, mengingat Damar Hannan itu pengacara hebat yang bisa aja jadi orang penting untuk keluarga Tanwira; either being a death bomb or being a guardian. Pilih sendiri.”
schonewords