Sex After LDR
top haechan, bottom renjun
cw // nsfw, mature content, boys sex, kissing, nipples playing, hand job, blow job, fingering, anal sex, harsh words, dirty talks
2 jam yang lalu
“Donghyuck, ayo balik—”
“Mark hyung, duluan aja. Aku nginep di dorm dream malam ini. Mau tidur sama Renjun hehehe kangen.”
—
Dan di sinilah Haechan sekarang. Sosok yang lebih sering dipanggil Donghyuck oleh orang terdekatnya itu berada di dorm NCT Dream, tak mengindahkan ajakan Mark tadi yang mengajaknya pulang ke dorm NCT 127 seperti biasanya.
“Udah gangguin Jisung main gamenya?” Renjun bertanya sembari menengok ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Haechan.
Haechan nyengir. Langkah kakinya gontai dan kini terduduk di atas kasur, langsung memeluk pinggang kekasihnya—Renjun, yang sibuk memainkan ponselnya.
“Udah,” jawab Haechan sambil menumpukan dagunya pada bahu mungil Renjun. “Sekarang aku mau gangguin kamu.”
Renjun sempat melirik sebentar hingga netranya bertemu dengan manik bulat Haechan. Kepalanya menggeleng pelan. “Kalo ga gangguin orang tuh ga bisa ya, Hyuck?” tanyanya.
Gantian, kini Haechan yang menggeleng. “Ga bisa. Seru soalnya gangguin orang, apalagi gangguin kamu sama Jisung,” jawabnya santai.
Renjun hanya tersenyum tipis. Ponselnya kini diletakkan di atas nakas di samping kasur, memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Haechan. Secara otomatis tangannya langsung melingkar di leher Haechan, memeluk kekasihnya dengan erat, pun membuat Haechan mendekat tubuh mungil itu sama eratnya.
“Aku kangen banget sama kamu,” bisik Renjun lirih tepat di telinga Haechan.
Haechan tersenyum. Wajahnya tenggelam di leher Renjun, menghirup aroma khas tubuh kekasihnya yang sangat candu baginya. “Aku juga kangen banget sama kamu, sayang,” balas Haechan dengan sangat lembut.
Untuk beberapa detik sepasang kekasih itu hanya saling berpelukan, melepas rindu karena sempat terpisah jarak yang sangat jauh. Renjun dengan penuh kelembutan mengelus rambut Haechan, sedangkan Haechan tak berhenti mengusap punggung Renjun dan mengecup leher si lelaki aries itu.
“Kalo terus-terusan kamu cium gitu, aku bisa turn on, Hyuck,” gerutu Renjun disambut kekehan oleh Haechan.
“Ya, gapapa kan kalo turn on? Kayaknya udah agak lama juga kita ga ngelakuin ‘itu’ ya?”
Renjun melonggarkan pelukan. Sejenak ia tampak berpikir dan detik berikutnya ia mengangguk setuju. Sepertinya sudah lebih dari tiga minggu mereka tak bercinta. Sempat nyaris melakukannya ketika Renjun hendak berangkat beberapa hari yang lalu, namun terlanjur dilarang oleh Jeno dengan alasan, ‘Ga ada morning sex ya. Renjun nanti kecapekan, flightnya bakal lama.’
“Mikirin apa sih?” Haechan tergelak melihat ekspresi Renjun yang sangat lucu sambil memikirkan sesuatu.
“Hehehe, ngga,” jawab si mungil. “Eh, Hyuck.”
“Hm?”
“Tadi waktu lagi live, ngapain jilat tangan aku?” mata Renjun memicing menatap kekasihnya.
Senyuman tengil terulas di wajah Haechan. “Pengen aja, hehehe. Apapun yang ada di kamu tuh keliatan enak. Semua pokonya yang di badan kamu itu pasti…enak,” jawabnya diselingi tawa kecil.
Kembali Renjun menggelengkan kepala. “Ada-ada aj—”
Ucapan Renjun terhenti karena bibirnya mulai dicium oleh Haechan. Dua labium yang tertempel itu perlahan saling melumat lembut. Baik Haechan maupun Renjun berusaha untuk mendominasi pagutan mesra yang kian memanas itu.
“Hmmhh…”
Renjun melenguh. Ditangkupnya kedua pipi Haechan, diperdalam ciuman tersebut. Begitu pula Haechan yang menelusupkan tangannya ke dalam kaus milik Renjun dan mengelus pinggang ramping itu dengan lembut.
“Umhh…”
Kali ini Haechan meredam desahannya. Pasalnya, Renjun menghisap kuat bibir bagian atasnya, menggigitnya pelan, dan menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Haechan.
Sigap Haechan menghisap lidah Renjun. Ditariknya kuat, diemut, dan dililitkan dengan lidahnya. Pergulatan lidah mereka terjadi secara bergantian di dalam mulut Haechan dan Renjun.
“Sayang,” panggil Haechan ketika tautan bibir itu terlepas. Ibu jarinya mengusap bibir Renjun dengan gerakan sensual. “Boleh kita lakuin malam ini?”
Renjun tersenyum. Tak ada jawaban dalam bentuk tuturan, namun aksi yang dilakukannya sekarang telah menjadi jawaban. Jempol Haechan yang semula bertengger di bibirnya kini telah Renjun masukkan ke dalam mulutnya. Diemutnya pelan seolah menggoda ibu jari itu dengan membayangkan bagian tubuh Haechan yang lainlah yang kini di dalam mulutnya.
“Renjun—”
“Aku mau emut yang lain,” ujar Renjun memotong ucapan Haechan.
Haechan menyeringai. Tentu, ini jawabannya. Lampu hijau diberikan oleh Renjun agar mereka bisa melakukan kegiatan panas malam ini.
“Sebentar,” ucap Haechan.
Dia beranjak dari kasur. Kakinya berjalan untuk mengunci pintu dan kembali ke arah ranjang. Tepat di sisi ranjang dan dihadapan Renjun, Haechan berdiri.
“Mau emut kan?” tanyanya sembari mengelus kepala Renjun.
Posisi duduk Renjun telah berada di pinggir kasur. Wajahnya menghadap tepat di depan perut Haechan.
“Boleh?” tanya Renjun.
“Silakan, sayangku.”
Tangan Renjun langsung bergerak menurunkan celana putih Haechan serta dalamannya. Tidak, celana itu tidak diturunkan habis. Hanya sebatas paha Haechan saja untuk mengeluarkan kejantanan yang mulai menegang itu.
“Udah aku bersihin kok,” kata Haechan ketika melihat Renjun sempat menggigit bibirnya sendiri sambil menatap penis Haechan.
“Hehehe.”
Renjun menggenggam penis Haechan. Perlahan lidahnya terjulur dan mulai menjilat sekilas ujung kemaluan kekasihnya itu.
“Nghh,” lenguh Haechan.
Pelan-pelan lidah Renjun bergerak memutar membasahi ujung penis Haechan. Tak butuh waktu lama, batang besar itu mulai masuk ke dalam rongga hangat mulut Renjun.
“Shibal…”
Haechan mengumpat. Jemarinya meremas dan menjambak pelan surai coklat Renjun. Kenikmatan jelas ia rasakan pada penisnya yang semakin tegang.
“Renjun, jangan dalem banget, sayang. Nanti sakit mulut kamu,” ucap Haechan pelan seraya mengelus rambut Renjun.
Tak diindahkan, Renjun justru semakin gencar memasukkan penis Haechan kian dalam. Tampaknya nafsu tengah menyelimuti Renjun dan sangat mendominasi, hingga tanpa sadar ia terus memasukkan penis Haechan di mulutnya dan, “Uhuk!”
“Sayang!” Haechan panik. “Aku kan udah bilang jangan dalem banget. Tuh jadi kena tenggorokannya kan.”
Penis itu dikeluarkan dari mulut Renjun, membuat Renjun terkekeh disela batuknya. “Aku cuma mau nyobain deep throat, Hyuck,” ucapnya.
“Kamu udah pernah nyoba. Ngapain dicoba lagi?”
“Enak.”
Bola mata Haechan melebar. Ia terkejut dengan jawaban Renjun. Jujur saja, dia suka. Haechan sangat suka, tapi ia juga tak ingin Renjun kesakitan.
“Udah ya? Jangan lagi,” tutur Haechan sembari merebahkan tubuh Renjun di kasur.
Kedua tangan Renjun mengalung di leher Haechan. “Kenapa? Kamu ga suka ya?” tanyanya.
“Aku suka, Njun. Tapi kasian kamu kesakitan gitu.”
Hati Renjun menghangat. Dia benar-benar semakin cinta dengan kekasihnya yang selalu penuh perhatian itu.
“Yaudah bikin sakit yang di bawah aja. Walaupun sakit kan itu enak, hehehe.”
“Hush!”
Lagi-lagi Haechan dibikin kaget oleh Renjun.
“Mau, Hyuck.”
“Mau apa, sayang?”
“Mau dimasukin lubangnya. Itu punya kamu udah aku basahin loh.”
Haechan tertawa kecil. Dikecupnya lembut dahi Renjun sekilas. “Lube?” tanyanya.
“Di laci kayak biasa.”
Tanpa perlu beranjak dari kasur, tangan Haechan terjulur untuk membuka laci nakas di samping kasur Renjun. Sigap ia mengambil botol kecil yang berisi lubrikan serta sebungkus kondom di sampingnya.
“Aku buka ya?” tanya Haechan dan mendapat anggukan dari Renjun.
Haechan duduk di antara dia kaki Renjun yang mengangkang. Hoodie, baju kaus putih, serta celana Renjun semua langsung dilepaskan oleh Haechan. Tubuh putih, mulus, dan ramping itu terlihat sangat menggoda di depan Haechan. Belum lagi penis Renjun yang tegang kini tepat berada di hadapan Haechan.
“Seksi,” gumam si gemini membuat ariesnya tersipu.
“Kamu buka juga, sayang,” titah Renjun.
Maka dituruti oleh Haechan. Kaus putihnya beserta celana yang tadi telah diturunkan sedikit langsung ditanggalkan dari tubuhnya.
“Longgarin dulu ya,” ujar Haechan sambil melumuri lubrikan di jari telunjuknya.
Renjun mengangguk sembari kian melebarkan kedua kakinya. Haechan menelan ludahnya, menatap penis Renjun yang tegang dan lubang analnya yang merah.
“Tahan sakitnya.”
Haechan berbaring di samping Renjun, memeluk tubuh mungil itu dengan posisi menyamping. Jari telunjuknya perlahan mulai menyentuh lubang Renjun dan pelan-pelan menerobos masuk.
“Ahh, Donghyuckkk…”
Renjun mengernyitkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya. Haechan yang melihat itu mengeratkan pelukan, mengecup dahi Renjun, mengecup kedua matanya yang tertutup, mengecup kedua pipi, hidung, dagu, dan melumat sekilas bibir si aries.
“Ngilu ya?” tanya Haechan.
“Iyahh…”
“Udah masuk semua ini jari aku. Mau digerakin sekarang atau nanti?”
“Nanti.”
Renjun mencumbu bibir Haechan, berharap rasa sakitnya akan cepat teralihkan. Keduanya hanyut dalam pagutan mesra yang terus melumat itu. Saliva keduanya meleleh, mengalir di sudut bibir masing-masing.
“Coba, Hyuck.”
Haechan menggerakkan jari telunjuknya keluar dan memasukkannya kembali.
“Hnghh ahh…”
Renjun mendesah. Masih merasa ngilu, namun tak ingin terlalu ia rasakan.
Jari Haechan agak mempercepat tempo pergerakan. Keluar dan masuk dari anal Renjun lebih cepat guna membiasakan lubang itu untuk dimasukkan penisnya kelak.
“Hmhh enak, Hyuck…”
Beberapa menit berlalu. Lenguhan Renjun telah tergantikan dengan desahan nikmat yang meminta lebih.
“Hyuck, nghh masukin punya kamu sekaranggg.”
“Udah cukup longgar ini? Udah terbiasa?”
Renjun mengangguk.
Jari Haechan dikeluarkan. Ia pun terduduk di samping tubuh Renjun dan meraih kondom. Dengan menggunakan giginya, Haechan membuka bungkus karet pengaman itu, mengeluarkan dan segera mengenakannya di penisnya.
“Ugh seksi banget,” celetuk Renjun memandangi Haechan.
Haechan hanya menyeringai. Kini ia memposisikan diri di tengah antara kedua tungkai kurus Renjun.
“Siap?” tanyanya.
“Iya. Ayo masukin.”
Mendapat izin Renjun, Haechan langsung mengarahkan penis tegangnya ke lubang anal Renjun.
“Oh…shi— sshh pelan-pelan, Hyuck…”
“Nghh, tahan dulu sakitnya ya, sayang.”
Dorongan pelan terus Haechan lakukan. Sempitnya lubang Renjun itu membuat penisnya ngilu, namun tetap merasa nikmat seolah dipijat dengan sangat kuat.
“Ahhh!” Renjun menjerit ketika penis Haechan masuk sempurna di dalam lubang analnya.
“Ngilu?” tanya Haechan.
“Banget,” jawab Renjun. “Punya kamu ngilu juga ya pasti?”
Haechan mengangguk. “Sempit banget, sayang, makanya ngilu,” jawab Haechan.
Detik berikutnya, pinggul Haechan mulai bergerak pelan. Penisnya ditarik keluar dan didorong kembali ke dalam.
“Hmhh enak…”
Mendengar erangan nikmat lolos dari mulut Renjun, libido Haechan meningkat.
“Ketat banget, Njun.”
“Punya kamu besar, Haechanku sayang.”
Haechan terkekeh. Gerakan pinggulnya mulai dipercepat. Dilihatnya penisnya yang basah bersarang dengan pas di dalam lubang anal Renjun yang agak becek.
“Ahhh terusss ngh, lebih dalam lagi, Hyuck…”
“Gini?”
Haechan menghentak penisnya dengan kuat hingga menabrak prostat Renjun.
“AAHH! Shit enak banget! Ahh ahh terussss kayak gitu. Kenain lagi, Hyuckkk.”
“Mmhh mulai longgar, Renjunnn.”
Tangan Haechan memegang pinggang Renjun, dan satu tangan lainnya meremas paha si mungil. Penisnya terus dihentak kuat, menggenjot lubang anal Renjun, dan menggempur prostat Renjun terus-menerus.
“Donghyuck, nghh sshh aku mau diginiin terussss.”
“Diginiin gimana maksudnya, sayang?”
“Ahh…aku mau kamu genjot terus, Hyuck. Hmhhh aku udah nafsu banget tadi waktu latihan sshh lihat kamu pake sweat pants putih itu.”
“Hahaha,” Haechan sempat tergelak. “Emang kenapa aku pake celana itu?”
“Hmmhh punya kamu ‘kecetak’ jelas banget. Kelihatan gede. Terus nghhh kamu jilat tangan aku, bikin aku makin horny.”
Persetan dengan sakit yang Renjun rasakan, Haechan tak kuasa mendengar ucapan kotor yang jujur dari Renjun. Maka, penisnya digenjot lebih kuat di dalam lubang Renjun.
“AH AHHH! Pelanhhh sshh Haechan!”
Haechan menurunkan tubuhnya. Mulutnya mengarah ke puting Renjun yang belum ia jajah sama sekali sedari tadi.
“Shibal! Ahhhh Lee Haechan!” Renjun memekik kuat.
Gempuran penis Haechan di bawah sana semakin kuat. Belum lagi kini mulutnya menghisap dua puting Renjun dengan kuat juga secara bergantian. Ditambah pula dengan tangan kanan Haechan yang mengocok penis Renjun.
Tak ada lagi yang bisa Renjun rasakan selain kenikmatan yang luar biasa. Nama Haechan terus ia gaungkan dengan meningkatnya nafsu mereka.
“Hy-hyuck…ahh Donghyuck!”
Renjun berteriak lega. Cairan putih kental menyembur, membasahi tangan Haechan.
“Enak, sayang? Udah lega?” tanya Haechan sembari mengangkat tubuhnya, menjilat cairan Renjun ditangannya.
“Enak banget, Hyuck. Nghh…”
Haechan masih setia menggenjot lubang Renjun. Hingga beberapa menit kemudian Haechan meneriakkan nama Renjun, “Fuck Renjun, aahhh…”
Haechan pun telah sampai pada puncak kenikmatannya. Tubuhnya dijatuhkan di sebelah tubuh Renjun setelah mengeluarkan penisnya.
“Humm,” Renjun menggumam dan langsung memeluk Haechan.
Keduanya saling berpelukan sembari mengatur nafas mereka yang tersengal. Tangan Haechan mengelus punggung Renjun dan Renjun mengecup dagu Haechan.
“Makasih, Hyuck.”
Haechan tersenyum dan mensejajarkan wajah mereka. Kecupan ringan dibubuhkan di bibir Renjun.
“Makasih juga, Renjun.”
Keduanya saling bertatapan lembut. Renjun pun mengecup kedua pipi Haechan dan mencubitnya pelan.
“Lain kali jangan jilat-jilat tangan aku pas lagi live gitu, Hyuck. Malu banget!”
“Hehehehe,” Haechan nyengir. “Berarti kalo ga lagi live, boleh kan?”
Renjun langsung kembali mencubit pipi Haechan. Keduanya tergelak bersama dan saling mendekap erat.
Rindu yang membuncah karena LDR kini dibayar tuntas. Ya, terbayar dengan ciuman, pelukan, bahkan sesi bercinta yang panas.
schonewords