Swimming Pool
cw // nsfw, mature content, boys sex, kissing, fingering, anal sex, rough sex, dirty talk
Gama dan Gala memang bukan pasangan yang bercanda jika bertutur perkara hal 'bercinta'. Baru sekitar sepuluh menit yang lalu mereka menyelesaikan sesi candle light dinner mereka, namun kini mereka dengan tidak sabar telah masuk ke agenda yang selanjutnya.
“Ay, siniiii,” teriak Gala yang sudah berada di dalam kolam renang. “Ga dingin koooook.”
“Iya, sebentar, Gal,” sahut Gama seraya menanggalkan baju dan celananya, meninggalkan celana boxernya saja.
Netra Gala fokus menatap suaminya yang masih berdiri di atas, tepatnya di pinggir kolam. Bisa dilihatnya dada suaminya yang bidang, kaki yang jenjang, dan tentu wajahnya yang tampan.
“Buru, sih!” seru Gala lagi.
Gama tertawa pelan. Ia pun menggoda Gala dengan lebih memilih duduk di pinggir kolam dengan kakinya yang terjuntai di dalam air.
“Kenapa sih mesti buru-buru?” Gama tersenyum.
Gala mendekat. Ia pun memposisikan dirinya di antara dua tungkai Gama dan tangannya memegang erat paha sang suami. “Ya, ngapain kek sama aku di dalam siniiiii,” protes Gala.
Tak ada tanggapan berarti dari Gama. Ia masih ingin menggoda Gala, sehingga ia masih setia duduk dan enggan masuk ke dalam air.
“Gam,” panggil Gala. Tangannya mengelus paha Gama dengan gerakan sensual, bahkan mulai masuk ke dalam celananya untuk meremas pelan paha bagian dalam suaminya itu.
“Apa, ayang?”
“Masuk siniiii.”
“Ga mau ah. Kamu ngerjain aku beberapa hari ini, jadi males deh aku.”
“Ih, Gama maaaah,” bibir Gala maju. “Siniiii, ayaangg. Aku gigit ya nih paha kamu!”
Suara tawa Gama pecah. Ia pun menggenggam tangan Gala. “Jangan digigit dong pahanya. Mending yang lain aja.”
Maksud ucapan Gama tentu langsung ditangkap dengan mudah oleh Gala. Tangannya pun sigap masuk ke dalam celana Gama semakin dalam dan, “Ahh, Gala,” desahan Gama mulai terdengar.
“Gigit yang ini maksud kamu?” tanya Gala dengan wajah polos seraya tangannya meremas penis Gama.
“Hahaha, beginian aja cepet,” cibir Gama sambil menurunkan tubuhnya masuk ke dalam air.
Gama langsung memeluk pinggang Gala, membuat Gala pun mengalungkan tangannya pada leher suaminya tersebut. Tubuh mereka menempel dengan erat, sehingga bagian bawah mereka pun saling menyentuh tanpa disengaja.
“Nghh,” Gala melenguh tatkala mengeratkan pelukan dan membawa kedua kakinya melingkar di pinggang Gama.
“Udah tegang aja, Gal,” goda Gama.
“Dingin.”
“Tadi katanya ga dingin,” Gama terkekeh pelan.
“Hehehehe, sengaja biar kamu buruan nyebur juga.”
Gala terlihat sangat menggemaskan saat ini di mata Gama, membuat si gemini itu tak kuasa menahan dirinya. Ia raup bibir Gala, melumatnya lembut dan menyesap bibir bagian bawahnya. Gala dengan senang hati membalasnya.
Lumatan dan hisapan pada bibir satu sama lain itu kian menguat. Sesekali, gigi mereka akan menggigit bibir lawannya, hingga lidah salah satu melesak ke dalam mulut yang lain.
“Mhh,” Gala terus melenguh karena lidahnya dihisap kuat oleh Gama.
Tautan bibir mereka terlepas ketika dirasa asupan oksigen mulai menipis di paru-paru keduanya. Netra mereka saling berpandangan dan sesekali melirik ke arah bibir satu sama lain.
“Yah, bengkak deh bibir kamu, ay,” ujar Gama.
“Gapapa, aku suka bibir aku bengkak kalo alasannya karena dicium sama kamu.”
Tanggapan Gala tentu semakin menaikkan gairah Gama. Pelukannya pun semakin dieratkan dan kembali ia kecup berkali-kali bibir suami kesayangannya itu.
“Gama, aku tadi pas nyampe Jakarta langsung mandi,” Gala memberikan informasi.
Gama terkekeh. “Terus?” tanyanya menggoda Gala.
“Iya, jadinya aku udah bersih, hehehehe. Kalo kamu mau masukin mah tinggal masukin aj- AH! GAMA!”
Gala mengeratkan pelukan dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Gama. Pasalnya, tanpa persiapan, Gama langsung memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anal Gala. Alhasil, Gala menjerit dan tak kuasa melanjutkan ucapannya tadi.
“Hehehe, sakit?”
“Masa pake nanya!”
“Ya, 'kan aku meyakinkan aja udah dibersihin beneran apa belum, dek.”
Wajah Gala memerah dan semakin ia sembunyikan di potongan leher Gama. Hidungnya yang menyentuh langsung leher tersebut digunakan untuk menghirup aroma tubuh Gama yang terkuar dari sana. “Gama, aku masih deg-degan kalo kamu manggil aku begitu,” cicit Gala pelan.
“Masa masih deg-degan aja sih, dek.”
“Iya, soalnya- ahhh kalo manggil gitu tuh kamunya jadi makin seksi nghh,” ucap Gala terbata diselingi dengan desahan dan lenguhan karena jari Gama bermain pelan di bawah sana. “Apalagi kalo manggilnya tuh pake suara rendah kamuuuh.”
Gama mendekatkan bibirnya ke telinga Gala dan berbisik dengan nada suara yang rendah, “Begini?”
Libido Gala meningkat drastis. Sigap ia mengangkat kepalanya, menurunkan kakinya dari pinggang Gama, mendorong suaminya tersebut hingga punggung Gama menyentuh dinding kolam. Jari Gama pun keluar dari lubang anal Gala secara tidak sengaja dan membuatnya memegang erat pinggang ramping suaminya itu.
“Fuck you, Gama.”
Gala kembali memeluk leher Gama, meraup bibir sang suami bak kelaparan yang terlihat dari berantakannya ia melumat labium sosok yang sedang berulang tahun itu. Ia semakin mengeratkan pelukan, membuat tubuh mereka menempel sempurna, dan ia gerakkan bagian bawahnya. Penis kedua pemuda itu bergesekkan hingga memberikan sensasi menyengat yang kian menaikkan napsu birahi mereka.
“Hmhh ahh,” Gala melenguh dan melepaskan tautan bibir mereka, terus melanjutkan kegiatannya menggesekkan penisnya pada penis sang suami. “Uhhh, kangen banget sama titit Mas Gamahh.”
Seringaian tercipta di wajah tampan Gama. Ia memperhatikan ekspresi Gala yang tengah keenakan. Matanya tertutup dan terbuka, mulutnya terus menggaungkan desahan yang menggoda, dan kepalanya yang menengadah membuat lehernya terekspos lebih jelas.
“Seksi banget suamiku ini,” puji Gama.
“Mmh, Gam, bisa ga langsung masukin ajahh?”
Gama menggeleng. Dengan suara beratnya yang rada serak, ia berujar, “Sabar, dilonggarin dulu biar ga perih banget.”
Jari tengah Gama perlahan masuk lagi ke dalam lubang Gala, menciptakan jeritan pelan dari sang empu lubang tersebut. Pelan-pelan, ia keluar dan masukkan jarinya, menambahkan satu jari lagi, mempercepat ritme agar lubang kenikmatan itu terbiasa.
“Hnghh, baru jari aja udah enakhhh. Kok bisa masuknya ga perih banget?”
Gama mengecup bibir Gala sekilas. “Karena di dalam air kali, jadi ga begitu berasa,” jawabnya.
“Umhh, kalo gitu coba langsung masukin punya kamu, mas. Pasti ga sakit jugahh.”
“Bener nih?”
Gala mengangguk. “Ayo, masukin aja, Gam,” titahnya.
Dua jari Gama dikeluarkan dari lubang Gala. Tangannya melepaskan celana yang tersisa menutupi selangkangan keduanya hingga mereka kini benar-benar telanjang.
Gala pun langsung menyentuh penis Gama dan mengurutnya pelan. “Keras banget, Gam.”
“Ya iyalah, udah kamu gesekin dari tadi, ayaaaang.”
Keduanya terkekeh. Gama melepaskan tangan Gala dari penisnya, mengocok kejantanannya sendiri sebelum dimasukkan pada liang kenikmatan milik Gala.
“Siap?”
Gala mengalungkan tangannya lagi pada leher Gama. Kakinya kembali melingkar di pinggang sang suami agar mempermudah penis kesukaannya itu masuk ke dalam lubang miliknya. “Siap, ayangku,” jawabnya.
Penis Gama perlahan masuk. Gala menyandarkan kepalanya di bahu si gemini seraya mengecup pelan lehernya. “Nghhh, lagiih masukin,” perintahnya.
“Ga sakit?” tanya Gama sambil terus mendorong penisnya.
“Sedikit- ahh,” desahan terdengar tatkala penis Gama telah masuk sempurna di dalam lubang Gala.
Kepala Gala terangkat. Mereka saling berpandangan lagi dengan jarak wajah yang sangat dekat. Pucuk hidung mereka pun bersentuhan, menciptakan sensasi geli dan hangat dari deruan napas satu sama lain. Keduanya tersenyum serta saling mengecup bibir pasangan masing-masing.
“Udah boleh digerakin, dek?” tanya Gama lembut.
“Move, Mas Gama,” jawab Gala.
Maka Gama mulai menggerakkan pinggulnya. Ketatnya lubang Gala serta tak ada pelicin yang membantu, membuat Gama sedikit kesulitan menarik dan mendorong penisnya. Suara desahan Gala pun terdengar menyiratkan rasa perih.
“Sakit ya, ayang?” tanya Gama.
“Lumayan nghh, tapi gapapa, ay. Gerak aja terus. Ini kebantu karena ada airrr.”
Gama mengangguk. Ia hujani wajah Gala dengan kecupan-kecupan ringan, yang membuat Gala pun sedikit terdistraksi dari rasa sakitnya di bawah sana.
Cup!
“Suami aku,” ujar Gama sehabis mengecup dahi Gala.
Cup!
“Cintanya aku,” lanjutnya ketika mengecup kedua mata Gala.
Cup!
“Kesayangannya aku,” tambahnya lagi pasca mengecup pipi kanan dan kiri Gala.
Cup!
“Dunianya aku,” kini hidung Gala yang dikecup.
“Dan,” gantung Gama kemudian cup!, dikecupnya bibir Gala agak lama. “Gala-nya aku.”
Wajah Gala memerah merona tanda tersipu malu. Di bawah sana, lubangnya tengah dihajar dengan tempo yang semakin cepat, namun perutnya tergelitik dan hatinya merasa hangat akibat hujaman kecupan dari suaminya beserta kata-kata manisnya tadi.
“Aku sayang banget sama kamu, Gam,” ucap Gala lirih dibarengi dengan senyuman.
“Aku lebih sayang kamu, Gala.”
“Masa- ahhh, di situ, masss,” Gala menjerit kenikmatan ketika penis Gama berhasil menekan prostatnya.
“Di sini? Lagi?” Gama menusuk lagi titik sensitif Gala tersebut.
“I-iyahhh, ahh fuck enak banget kalo di situuuh.”
Seringaian tercipta di wajah Gama. Diperhatikannya lagi Gala yang kini semakin mendesah kuat, hingga salivanya meleleh di sudut bibir. Gama pun menjilat saliva yang mengalir itu, membuat Gala semakin terangsang hebat.
“Gam, ahh aku mau keluarrr, ga tahan bangettt.”
“Eh, sebentar, ay.”
Gama berhenti menggenjot serta mengeluarkan penisnya dari lubang Gala, yang langsung disambut raut kecewa di wajah Gala. Gama tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Gala yang mulai lemas, membawanya berjalan naik keluar dari kolam. Ia turunkan Gala dari gendongannya tepat di samping sebuah kursi kayu di pinggiran kolam tersebut.
“Pegangan di sini, ay, terus nungging,” perintah Gama seraya membalikkan tubuh Gala.
Gala yang telah lemas itu hanya menurut. Ia langsung memposisikan dirinya menungging sambil berpegangan pada sandaran kursi kayu tersebut.
Melihat pergerakan itu, Gama langsung memegang pinggang Gala dan kembali memasukkan penisnya. “Ahh, sakit banget kalo udah gede gitu dimasukkin, ayyy,” protes Gala.
Gama terkekeh, namun terus mendorong penisnya hingga tertanam sempurna. Tanpa menunggu lagi, ia gerakkan pinggulnya yang membuat penisnya kembali menggenjot lubang Gala.
“Ahh besar banget, Gam- uhhh lagiih di situuuh!”
“Enak, ayang? Enak ga lubang sempitnya ditusukin sampe mentok gitu?”
“Bangetth nghh enak banget, mas. Ahh dikit lagi aku keluar tauuuu.”
Tempo pergerakan pinggul Gama semakin cepat dan liar. Tubuh Gala terhentak kuat karena semakin menggilanya sang suami menggenjot lubang analnya.
“Fuck ahhh too fast, Gamahhhh.”
“Hmm, sengaja, dek, shhh lemme break your hole this time nghh sebagai hukuman kamu nyuekin aku beberapa hari ini.”
Kepala Gala pusing, namun merasa sangat nikmat disaat yang bersamaan. Memang salahnya telah mengerjai Gama, maka malam ini ia harus menerima ganjaran atas perbuatannya itu. Sudah tahu bahwa suaminya manja, Gala malah mengerjainya, hingga harus menanggung resiko saat ini.
“Gamh, ahhh shit aku keluarrr!”
Cairan putih menyembur dari penis Gala yang sempat diremas kuat oleh Gama barusan. Spermanya berserakan di lantai dan kursi, membuat Gama tertawa kecil melihatnya.
“Mas, aku lemas banget, nghhh cepet dong keluarnyaaah,” Gala protes.
“Sabar, dek. Sebentar lagiii,” tanggap Gama.
Hentakan pada prostat Gala berkali-kali terasa dengan kuat. Gama benar-benar menggenjot sangat kuat guna mencapai putihnya.
“Massss, sakit! Hahhh ahh ini kelewat cepet kamu genjotnyahh, nghh periiih.”
“Tapi enak?”
Gala mengangguk karena tak kuasa lagi berkata-kata. Matanya terpejam, tangannya semakin erat menggenggam sandaran kursi, dan bibir bawahnya sesekali ia gigit.
“Aku keluar, ayang, ahhhh!”
Akhirnya Gama mencapai puncaknya setelah genjotan liarnya yang terasa menghancurkan lubang Gala. Sperma Gama yang menyembur di dalam sana pun meleleh keluar hingga mengalir di paha Gala.
“Ayang,” panggil Gama sembari membalikkan dan memeluk tubuh Gala. Ia bawa sang suami duduk di pangkuannya tatkala tubuhnya telah duduk bersandar pada kursi panjang khas pinggir kolam renang.
Gala terkulai lemah di dalam dekapan Gama. Kepalanya tersandar di bahu Gama.
“Ayang, sakit banget, ya?” tanya Gama sembari mengelus pinggang Gala.
Gala mengangguk. “Kamu mah kalo udah ngehukum aku gila banget, Gam,” Gala melayangkan protes sekali pun ia tengah kelelahan.
“Hehehe, maaf, ay,” ujar Gama. “Lubang kamu tuh enak banget, akunya ga tahan.”
Lagi, Gala mengangguk. “Dingin, mas,” ucapnya.
Gama meraih handuk dan menutupi tubuh Gala. “Ayo, berdiri dulu. Aku pakein bathrobe, habis itu aku gendong ke kamar.”
Gala nurut. Ia berdiri dan Gama langsung mengenakan baju handuk di tubuh mereka berdua. Tangannya langsung sigap mengangkat tubuh Gala dan menggendongnya.
“Gal,” panggil Gama.
“Hm?” Gala menanggapi seadanya sembari menatap sang suami.
“Sampe kamar nanti boleh nenen ga sambil cuddle?”
Bola mata Gala berputar. Detik berikutnya ia mengangguk dan menjawab, “Nenen aja, ya? Ga ada ceritanya masuk-masukin lagi. Perih banget tauuuu.”
Gama nyengir dan mulai melangkahkan kakinya ke arah lift. “Ga janji,” jawabnya singkat.
“Gama!”
“Hahahaha, bercandaaaa. Maaf deh mainnya kasar tadi, tapi anggap aja itu hukuman sama aku ambil 'hadiah' tambahan.”
Gala hanya tersenyum lemah. “Iya, deh, karena kamu ulang tahun aja nih aku biarin sekasar tadi.”
Kecupan dibubuhi oleh Gama pada bibir Gala. “Makasih, ayang,” ucapnya.
“Sama-sama. Eh, nanti sampe di kamar aku mau ngetweet dulu spesial buat kamu, hehehe. Nanti cek ya di Twitter.”
“Oke, ayaaaang.”
schonewords