The Best Birthday Gift
cw // kissing
“Beneran dong,” Habrian menjawab dengan tegas.
“Tapi...kamu kan-”
“Aku udah siap, Re. Udah cukup waktu yang kamu kasih buat aku persiapin diri aku. Aku juga mau punya anak buat nyempurnain keluarga kita. And the day has come. Tinggal kamu tanda tangan, dan ya...kita udah bisa adopsi anak itu,” Habrian menjelaskan kepada suaminya.
Tanpa disadari mata Revanda telah berkaca-kaca. Ia meletakkan kertas tersebut dan langsung memeluk Habrian dengan erat. Penantiannya yang cukup panjang untuk mengadopsi anak telah berakhir. Segala usaha dan kesabarannya telah membuahkan hasil dan menjadi hadiah untuk ulang tahunnya.
“Makasih, Bri. Makasih banyak. Makasih,” lirih Revanda dalam rengkuhan Habrian.
Tangan Habrian mengusap punggung kecil Revanda. Ia mengangguk, “Sama-sama, sayang. Makasih juga udah sabar nungguin aku sampe siap untuk ini.”
Pelukan itu dilonggarkan dan Habrian sigap menangkup wajah Revanda. Kedua ibu jarinya mengusap air mata sang suami, memberikan senyuman, dan tak lupa mengecup kedua mata indah tersebut. “Revanda sayangku, senang?” Habrian bertanya dengan sangat lembut.
Revanda terkekeh pelan dan mengangguk. “Seneng banget. Makasih, mas! Aduh, gimana lagi aku bilangnya ya? Aku seneng bangettt! Aku sayang kamu. Aku selalu bersyukur punya suami kayak kamu. Semua hal yang kamu lakuin dan kasih ke aku hari ini, ga ada satu pun yang ga buat aku bahagia. Semuanya sederhana, tapi ngasih aku kebahagiaan yang gede banget. Makasih, sayang,” hatur Revanda dengan tulus.
“Re, dari awal aku naksir kamu, yang ada di pikiran aku cuma cara-cara buat kamu bahagia. Maaf, aku ga bisa ngelakuin atau ngasih hal-hal mewah untuk kamu. Bukannya ga mampu, tapi bagi aku, cukup hal kecil aja yang bisa bikin kamu bahagia. There were no cozy lunch, expensive dinner, and luxurious gift for you today. But I can tell that you're beyond happy for everything I gave so far. Aku bener, kan?”
Anggukan cepat dari Revanda menandakan ia setuju dengan semua yang disebutkan oleh Habrian. Tidak ada kemewahan hari ini. Semua sederhana. Mulai dari pelukan di pagi hari, makan siang, hingga makan malam. Kendati begitu, Revanda sangat bahagia. Terlebih lagi, hadiah yang diberikan Habrian benar-benar di luar ekspektasinya.
“Dan untuk hadiah itu, sesuai mau kamu, aku udah adopsi anak laki-laki. Dua minggu yang lalu aku ikut Ales volunteer ke panti asuhan. Waktu itu kebetulan ada ibu-ibu yang nyerahin anaknya disana. Anaknya lucu banget, tapi kasihan karena harus diserahin ke panti asuhan itu,” ujar Habrian.
“Kenapa, mas? Ibunya ga mampu atau...?”
Habrian tersenyum tipis sembari mengelus rambut Revanda. “Ibunya sakit parah dan umurnya ga panjang lagi, makanya anaknya dibawa ke panti asuhan. Ayahnya udah ga ada juga. Aku kasihan liatnya, terus aku ngomong ke Ales kalo aku mau adopsi anak itu. That quick, but I was very sincere to adopt him.”
Revanda otomatis memeluk Habrian dengan erat. “Makasih, mas. Ya ampun...aku...ga tau mau ngomong apa lagi. Kamu baik banget,” lirih Revanda.
“Hahaha. Kata Ales, itu tanda aku udah punya jiwa seorang ayah. Aku rasa itu bener sih.”
Keduanya terkekeh pelan. Revanda mengangguk dan kembali menatap Habrian. “Iya. Ketulusan kamu langsung mau adopsi dia udah jadi pertanda kalo kamu siap buat jadi ayahnya. Mas, aku seneng banget dengernya,” ucap Revanda semangat.
“Sama-sama. Sekarang kamu tanda tangan dulu. Besok, kita beli peralatan bayi dan sekalian jemput babynya. Oke?”
Revanda mengangguk penuh antusias. Ia mengecup bibir suaminya sekilas sebelum berucap, “Once more, thank you so much, Bri. I love you!“
“I love you even more, Re.”
Sepasang suami itu berpelukan. Tangan Revanda mengalung di leher Habrian, pun kedua lengan Habrian mengelilingi pinggan Revanda. Bibir keduanya bertaut, saling mencumbu dan melumat pelan. Mereka salurkan perasaan bahagia kepada satu sama lain melalui pagutan tersebut.
“Selamat ulang tahun, sayang,” bisik Habrian disela-sela ciuman mereka yang perlahan mulai menjadi cumbuan panas.
FIN
schonewords