The First Time


cw // nsfw, mature content, boys sex, kissing, hickey, nipples play, oral sex, fingering, anal sex, harsh words


“Wangi banget yang habis mandi,” ujar Haechan seraya memeluk tubuh Renjun dari belakang.

Renjun yang tengah berdiri di balkon kamar hotel itu pun tersenyum. Tangannya mengusap lengan Haechan yang melingkar di pinggangnya. Ia pun mampu merasakan deruan napas Haechan di lehernya karena wajah si gemini itu memang menghadap ke sana.

“Ren,” panggil Haechan pelan.

“Ya?”

Haechan tak menjawab. Ia justru mengecup lembut leher Renjun. Kedua lengannya semakin erat memeluk pinggang ramping Renjun tatkala ia memberanikan diri menggigit kecil dan menghisap pelan leher mulus kekasihnya tersebut.

“Nghh, Chie,” Renjun melenguh karena merasa geli di lehernya.

Lagi Haechan hisap leher Renjun pada spot yang berbeda, dan mengulanginya beberapa kali. Lenguhan pun terus-menerus lolos dari mulut Renjun, membuatnya menutup matanya, hingga ia meremat lengan Haechan.

“C-Chie...”

Renjun membalikkan tubuhnya, membuat Haechan dengan terpaksa melepaskan pelukan dan mengangkat wajahnya. Ekspresinya kini hanya tersenyum tanpa berdosa, sedangkan wajah Renjun sudah sangat merah, sama seperti lehernya.

“Ngapain?” tanya Renjun dengan mata yang membelalak.

Haechan terkekeh, “Heheheh. Pengen aja, Ren.”

Kepala Renjun menggeleng, namun senyuman terulas di wajahnya. Kedua tangannya mengalung di leher Haechan. Bibirnya mengecup bibir Haechan sekilas dan kembali tersenyum.

You want something, right? Makanya kamu ngajakin aku staycation gini,” ujar Renjun diselingi tawa kecil.

Haechan pun tertawa. Ah, sepertinya semua akal-akalannya sudah terbaca. Maka ia mengangguk, membenarkan dugaan dari kekasihnya seraya melingkarkan kembali lengannya di pinggang Renjun.

What we did that night in front of your house keep haunting me,” jawab Haechan dengan nada yang lembut dan tangan yang mengelus sisi pinggang Renjun. Ia dekatkan bibir ke telinga Renjun untuk berbisik, “I want more.”

Kedua iris mata Renjun melebar, pun dengan senyumannya. Tanpa berucap lagi, Renjun menangkup pipi Haechan, memagut bibir kekasihnya hingga mereka tenggelam dalam ciuman yang kian panas. Kepala mereka terus miring ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Tautan bibir kerap terlepas namun kembali bersatu diiringi dengan saliva yang membasahi pinggiran labium keduanya.

“Ren, kita masuk ke dalam ya.”


“Ahh, Chie,” desahan Renjun mulai menggema di kamar.

Tubuh si mungil itu terlentang dengan kemeja yang tak lagi menempel di tubuhnya. Kekasihnya tengah sibuk di atas badannya, memainkan lidah di putingnya, dan sesekali menghisapnya kuat. Tangan Renjun pun hanya bisa menjambak pelan rambut Haechan untuk melampiaskan rasa nikmatnya.

“Ren,” Haechan menatap Renjun ketika mensejajarkan wajah mereka. “We don't need to do this if you don't want to.”

Renjun tersenyum lembut. Tangannya mengelus pipi Haechan, merapikan rambut sang kekasih pula. “I'm half-naked already, gimana ceritanya aku ga mau? Lagian, it's almost a year of our relationship, kok kita belum pernah ngelakuin itu sekali pun ya?” pertanyaan berlapis itu Renjun ucapkan dengan lembut namun terdengar sensual.

“Iya juga ya, hahaha,” tanggap Haechan.

Dahi Renjun dikecup oleh Haechan. Ia menatap Renjun dengan tatapan yang teduh dan ibu jarinya yang mengelus pipi si mungil dengan lembut.

“Sayang,” panggil Haechan. “Aku mau nanya sesuatu. Semoga ga aneh.”

Alis Renjun terangkat. “Nanya apa?” tanyanya heran.

Dengan volume suara yang kecil dan suaranya yang memberat, Haechan berbisik, “Which one do you prefer, me inside you or you inside me?”

Mendengar pertanyaan itu, pipi Renjun bersemu merah muda. Ia mengalihkan pandangannya dari Haechan, membuat Haechan terkekeh geli melihat kekasihnya yang salah tingkat. Tetapi Haechan justru kembali mengelus pipi Renjun, mengecupnya ringan, hingga Renjun kembali berani menatapnya.

“Pilih yang mana? I'm quite flexible with it, so you decide it,” ucap Haechan.

“Hmm,” Renjun mulai bersuara. “I want you inside me.”

Haechan mengangguk mendengar jawaban Renjun. Ia menyempatkan diri beranjak dari kasur untuk mengambil pengaman dan cairan pelumas yang ternyata telah ia bawa di kopernya. Renjun yang menatap itu hanya bisa tertawa karena tak menyangka kekasihnya telah mempersiapkan itu semua.

Detik berikutnya Haechan telah menanggalkan seluruh kain yang melekat pada tubuhnya dan tubuh Renjun. Sentuhan ringan ia paparkan pada setiap inci kulit mulu Renjun dari atas hingga ke bawah.

I love you,” bisik Haechan ketika ia mengecup dahi Renjun, turun ke kedua matanya, kedua pipi gembulnya, pucuk hidungnya, dagu, dan berakhir dengan melumat sekilas bibir Renjun. “I love you so much, Ren.”

Hati Renjun menghangat. Ia memeluk Haechan kian erat, mengusalkan hidungnya pada leher kekasihnya. “Mmmhh, I love you more, Chie,” lenguh Renjun karena di antara pelukan itu, Haechan tengah menggesekkan penis mereka berdua.

“Nghh,” Haechan pun melenguh. “This one makes me crazy already.”

Me too.”

Haechan melepaskan pelukan. Ia duduk di antara dua tungkai Renjun yang terbuka. Ia pegang penis Renjun, mengocoknya pelan, hingga ia menunduk dan memasukkanya ke dalam mulutnya.

“Ahhh, Chie!” jerit Renjun merasakan nikmat.

Matanya sempat tertutup dan kepalanya menengadah. Beberapa detik berikutnya, ia menunduk dan membuka matanya, bertemu tatap dengan Haechan yang melihatnya dengan mulut yang penuh tengah mengulum kejantanannya.

Fuck, you look so sexy from up here, Chie.”

Haechan hanya tersenyum tipis. Ia masih terus memberi servis kepada kejantanan Renjun selama beberapa menit sebelum akhirnya ia sudahi.

“Udah tegang nih punya kamu,” ujar Haechan.

Should I do the same to yours?” tanya Renjun terengah-engah.

Haechan menggeleng. “Mainin pake tangan aja sebentar menjelang aku siapin lubang kamu,” jawabnya.

Renjun mengangguk setuju. Haechan memutuskan untuk berbaring di sebelah Renjun dengan posisi menyamping. Ia biarkan tangan Renjun langsung memijat penisnya.

“Sshh, cepet banget tangannya.”

“Hehehe,” Renjun tertawa kecil. “Udah tegang juga ini.”

Mereka terkekeh bersama. Haechan melumuri cairan lubrikan pada jari telunjuknya dan di sekitar lubang anal Renjun. Keduanya kembali saling memagut bibir sembari tangan mereka memanjakan satu sama lain di bawah sana.

“Hmphh,” desahan Haechan teredam di ciuman mereka.

“Mmh!” Renjun ingin berteriak disela ciumannya ketika jari telunjuk Haechan berhasil masuk lubangnya.

“Chie, perih,” ciuman dilepaskan sehingga si mungil merintih dan tangannya tak lagi memberi servis pada kejantanan Haechan.

“Sebentar, biar nanti ga kaget aku masukin.”

Ini bukanlah pengalaman pertama mereka dalam bercinta, namun tentu ini pertama kalinya mereka melakukannya bersama. Sudah lama keduanya tak melakukannya, hingga terasa asing.

“Ahh, Chie, pelanhh...”

Jari telunjuk Haechan keluar dan masuk pada tempo teratur. Keduanya saling bertatapan dan sekali-kali memagut bibir lagi. Renjun tak segan menyembunyikan wajahnya di leher Haechan dan memberikan tanda merah di sana.

“Ahh, Ren.”

Setelah cukup lama, Haechan mengeluarkan jarinya ketika Renjun tengah asyik mengemut puting Haechan. Tangannya mengelus surai gelap Renjun dan mengecup pelipisnya. “Enough? Aku masukin sekarang boleh ga?” tanyanya lembut.

Renjun mengangguk, membuat Haechan duduk dan meraih sebungkus kondom. Tangan Renjun mengambil bungkus tersebut membuat Haechan mengernyit heran.

“Aku aja yang pakein, Chie,” ucap Renjun.

Bungkus kondom itu dibuka dengan menggunakan gigi oleh Renjun. Dengan posisinya yang masih terbaring, ia membungkus penis Haechan yang sudah menegang sempurna.

“Udah,” Renjun tersenyum. “Now please put it inside me, Chie.”

Mendengar titah Renjun tersebut, Haechan langsung mengambil posisi setelah melumuri penisnya itu dengan lubrikan. Ia merebahkan dirinya setengah menindih Renjun di atas tubuh mungil itu. Tangannya mulai memasukkan penisnya ke lubang anal Renjun.

“A-ahh...Chie, nghh, sakit,” rintih Renjun.

Haechan mengecup pipi Renjun berulang kali. “Tahan sebentar, sayang,” ucapnya lembut.

Beberapa detik Haechan berusaha mendorong penisnya ke dalam lubang anal Renjun, pun si mungil yang menahan sakitnya. Ia memeluk erat leher Haechan, menenggelamkan wajahnya di sana untuk mengalihkan rasa sakit.

“Ahhh!” jerit Renjun tatkala penis kekasihnya telah masuk sempurna di lubangnya.

“Aku diamin dulu ya biar sakitnya agak hilang,” ujar Haechan.

Dua pemuda itu berpelukan, bergantian mengecup wajah satu sama lain untuk menyalurkan rasa sayang. Renjun mencoba membiasakan lubangnya yang kini penuh oleh penis besar milik Haechan.

Move, Chie.”

Lagi, Haechan turuti perintah Renjun. Pinggulnya mulai bergerak pelan dengan sedikit kesulitan.

“Nghh, it's so big inside, Chie.”

Your hole is so tight, Ren.”

“Ahh, but I can't help. Ini enak, Chie. Sssh please faster a bit.”

Gerakan pinggul Haechan sedikit melaju cepat. Renjun mendesah semakin kuat merasakan nikmat di lubangnya. Begitu pula Haechan yang merasa penis besarnya terjepit kuat, terasa ngilu namun nikmat di saat yang bersamaan.

Relax, Ren. Biar ga ketat banget.”

I'm...trying.”

Perlahan Renjun sudah merasa santai. Lubangnya tak lagi seketat sebelumnya. Haechan pun mempercepat gerakan pinggulnya.

“Ahh, yes, Renjun. Udah longgar.”

“Ah ahh, enak, Chie. Lebih dalem, Chie. Kenain ke dalem banget.”

Haechan semakin menggenjot kuat, menggempur lubang Renjun, hingga ia menyentuh prostat sang kekasih.

“Nghh there! Lagi, Chie, di situuu mhh,” teriak Renjun.

Desahan Renjun yang semakin menggila membuat Haechan semakin semangat mendorong kejantanannya. Prostat Renjun terus ia sentuh menggunakan kepala penisnya.

I'm...I'm coming. Haechie...”

Renjun sampai ke puncaknya. Spermanya telah meleleh keluar dari penisnya, mengotori perutnya dan perut Haechan.

“Aku sebentar lagi, tahan dulu ya.”

Renjun mengangguk. Ia biarkan tubuh lemasnya terhentak kuat akibat gempuran penis Haechan yang kian menggila di lubangnya. Desahan Renjun terus menggema, begitu pula erangan dari Haechan hingga ia menjemput putihnya.

“Ren, aku keluar. Argh...”

Sperma Haechan tertampung pada kondom yang membungkus penisnya, namun aliran hangat itu tetap dapat Renjun rasakan. Keduanya saling berpelukan untuk menguatkan karena tubuh mereka telah sangat lemas sekarang.

Thank you, Ren.”

No. We both enjoyed it. Thank you, Chie.”

Haechan tersenyum. Ia angkat tubuhnya tatkala mengeluarkan penisnya, membuat lubang Renjun menjadi rongga kosong yang merasa hampa seketika. Perut kedua pria itu dibersihkan oleh Haechan.

Si gemini beranjak dari kasur untuk membuat kondomnya. Kembali ia berbaring di sebelah Renjun, memeluk tubuh tunangannya itu sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih telanjang.

“Kamu jadi keringetan lagi habis mandi,” ujar Haechan.

“Ya, tinggal mandi lagi, Chie.”

Mereka terkekeh bersama. Saling mendekap erat, memberi ketenangan dan menyalurkan cinta melalui kecupan ringan pula.

“Mau dinner di luar atau delivery aja?” tanya Renjun.

“Keluar aja, yuk. Ada kafe yang nyediain pizza enak di dekat sini. Mau kan?”

“Mau!” seru Renjun.

“Ya udah, istirahat dulu sebentar. Setengah jam lagi kita pergi ya?”

“Oke, tunanganku.”


schonewords