The gift in the morning


cw // nsfw, mature content, kissing, sex scene, boys sex, anal sex, hand tied, nipples play, hand job, blow job, deep throat, dirty talks, cock warming, cuddle after sex


“Hy-hyuck, mpphh...”

Donghyuck mencium kasar bibir Renjun tatkala ia menggendong kekasihnya untuk masuk ke kamar. Beberapa menit lalu, Jaemin yang semalaman menemani Renjun di apartemen, berpamitan pergi kerja saat dijemput Mark.

Kini hanya ada sepasang kekasih yang tengah memagut bibir satu sama lain dan hanyut dalam cumbuan panas. Mereka saling melumat, menyesap, menggigit, hingga memainkan lidah pasangan masing-masing. Suara lenguhan pun menjadi bukti bahwa keduanya saling berusaha untuk mendominasi ciuman tersebut.

So, where's my gift?” tanya Donghyuck menyeringai dengan kedua tangan bertumpu di samping tubuh Renjun yang berada di kungkungannya.

Here, daddy,” jawab Renjun tersenyum polos sembari menunjuk dirinya.

Donghyuck tersenyum puas. Ia mengecup bibir Renjun sekilas sebelum memutuskan untuk beranjak dari kasur. Pintu lemari terbuka dan tampak ia mengambil sehelai dasi andalan Renjun yang berwarna kuning.

The victory is in front of our eyes,” ucap Donghyuck seraya kembali naik ke atas kasur. “Now let's us enjoy this gift together.”

Anggukan tergerak pada kepala Renjun diiringi senyuman lembutnya. Donghyuck membawa kedua tangan Renjun ke atas kepalanya, mengikatnya dengan dasi yang telah diambilnya tadi. Renjun pun hanya menurut dan membiarkan kedua tangannya tak lagi bebas digerakan.

Donghyuck membuka kancing piyama Renjun, membiarkan dada mulus si mungil tereskpos dengan dua tonjolan kecil yang mulai mencuat. Seringaian terulas di wajah tampan si gemini tatkala menyampirkan kemeja ke samping dan mulai menundukkan wajahnya.

“Ahh,” Renjun mendesah kuat ketika mulut Donghyuck mulai menyapa putingnya. Tonjolan kecil sebelah kanan mulai diemut dan yang sebelah kiri dimainkan dengan jemarinya.

“Ohh fuck nghh jangan digigit, daddy,” pinta Renjun yang tentu tak diindahkan oleh Donghyuck.

Donghyuck semakin liar memainkan puting Renjun. Berpindah antara kanan dan kiri, mengemutnya kuat, memberi gigitan-gigitan yang membuat sang empu merasa ngilu, bahkan dihisap tanpa ampun hingga mencuat sangat jelas. Sekeliling dada Renjun pun sudah penuh dengan bercak merah sebagai tanda kepemilikan dari Donghyuck.

“Jadi bengkak, baby,” ujr Donghyuck seraya menatap hasil permainannya tadi.

“Ya kamu gigit gitu, gimana ga bengkak?” gerutu Renjun.

Donghyuck terkekeh pelan. Perlahan ia turun ke bawah, menarik celana Renjun hingga dalamannya juga. Seketika terbebaskan penis mungil yang sudah tegal sempurna itu.

“Celana dalam kamu udah basah,” tutur Donghyuck sembari melihat celana dalam Renjun dan membuangnya ke samping kasur. “My baby is getting impatient, right?

Renjun mengangguk cepat. Tubuhnya sudah mulai memanas dan napasnya mulai memberat. “Touch me, daddy,” pintanya lagi.

Donghyuck mengangkat tubuh Renjun, menyandarkannya pada headboard kasur dengan kedua tangan yang masih terikat dan kini dibiarkan terkunci di depan perutnya. Mata Donghyuck memindai tubuh kekasihnya yang masih berbalut atasan piyama dan tanpa bawahan sama sekali.

“Kamu makin seksi, baby.”

I know. Now please touch me.”

Donghyuck menggeleng. Tangannya menekuk dua tungkai Renjun dengan posisi kaki yang melebar. Penis dan lubang anal Renjun terlihat sangat jelas dengan Donghyuck yang duduk di antara dua kaki kurus yang telah terbuka lebar itu.

Your dick is so hard now,” ujar Donghyuck dengan suara rendahnya. “And your hole is getting red.”

“Ughhh, iya. Makanya, touch me now,” rengek Renjun frustasi.

Donghyuck membiarkan tangan kanannya membelai paha Renjun dengan pelan. Sesekali ia akan meremas bagian dalamnya, atau dengan sengaja menyentuh kecil dua bola kembar kekasihnya itu.

“Nghhh this kind of touch is so tempting yet killing me, daddy,” Renjun berusaha berbicara dengan napas yang memburu.

Donghyuck tersenyum puas. Tujuan sentuhannya memang untuk menggoda Renjun, karena ekspresi si mungil itu sangat seksi dikala diberikan stimulus seperti ini.

“Ahh!” Renjun memekik ketika tangan Donghyuck meremas penisnya dengan kuat.

“Kuat banget teriakannya,” Donghyuck terkekeh.

“Kamu tiba-tiba kuat banget remesnya, dad.”

But it feels good, right?

Renjun mengangguk. Tak bisa dibohongi bahwa ia menyukai setiap servis yang diberikan oleh Donghyuck.

Let’s make you scream louder,” ucap Donghyuck dengan suara rendah dan seringaian di wajahnya.

Kedua kaki Renjun yang tertekuk ditahan oleh Donghyuck. Kepalanya berada di antara dua paha tersebut dan mulai memasukkan ujung penis Renjun. Batang tegang itu pun digenggam kuat olehnya, membuat Renjun merasa mendapat kenikmatan yang bertubi saat ini.

Fuck, daddy, nghhh anget banget di dalam mulut kamu,” rintih Renjun seraya menengadahkan kepalanya dengan mata tertutup.

Tangan Renjun mampu meraih surai Donghyuck. Jemarinya meremas kuat helaian rambut kekasihnya itu dan menjambaknya pelan. Seluruh kenikmatan yang ia rasakan kini ia salurkan dari rematan tersebut.

Netra Renjun terbuka ketika kepalanya sedikit tertunduk. Dua maniknya bertemu dengan mata Donghyuck yang mulutnya masih sibuk memberikan servis terbaik pada penisnya. Renjun mengulas senyum lemah karena merasa libidonya meningkat drastis melihat Donghyuck yang sangat seksi saat ini mengulum kejantanannya.

“Hmhh aku juga mau, daddy,” lirih Renjun.

Donghyuck melepas kuluman penis Renjun. Kepalanya sedikit terangkat untuk bertanya, “Mau apa, baby?”

Suck your big dick,” jawab Renjun pelan.

Tanpa berkata apa pun, Donghyuck mengangkat tubuhnya. Ia pun memposisikan tubuh Renjun untuk terduduk dengan dirinya yang menumpukan kedua lututnya di atas kasur. Donghyuck menarik kausnya hingga tubuh bagian atasnya telah telanjang. Celananya ia turunkan tepat ketika pinggulnya sudah berada di depan Renjun dan seketika penisnya yang telah tegang menampar dagu Renjun.

“Kamu mau ini, cookie?” tanya Donghyuck memegang penisnya dan memainkan ujungnya di bibir Renjun.

“Mmh iya, daddy,” jawab Renjun mencoba memajukan bibirnya agar dapat menangkup penis kekasihnya untuk masuk ke dalam mulut.

Beg for it,” Donghyuck berbisik.

Kepala Renjun menengadah, mempertemukan tatapan keduanya. Netranya berbinar dan ekspresinya tampak dibuat seperti memelas.

Daddy, cookie wants daddy's big dick. Cookie wants it inside cookie's mouth and hole. Cookie wants daddy fills cookie fully, break cookie's hole, makes cookie moan loudly just like daddy's slut,” ucap Renjun dengan suara yang pelan dan ekspresi imut namun tetap menggoda.

My baby cookie is getting smarter and much more naughty now,” tanggap Donghyuck seraya menyeringai. “Aku suka banget.”

Berakhirnya ucapan Donghyuck diikuti dengan dimasukkannya penisnya ke dalam mulut Renjun. Dengan senang hati Renjun menyambutnya, mengulum penis besar itu untuk masuk ke dalam mulutnya walaupun ia sedikit kesulitan. Tangannya masih terikat, sehingga ia hanya bisa memaju-mundurkan kepalanya saja.

“Arghhh, enak banget, baby,” Donghyuck mengerang. Tangannya dibiarkan berpegangan pada bagian belakang kepala Renjun. “Kamu jago banget kayak gini, sayang.”

Semakin dipuji, semakin semangat pula Renjun mengeluar-masukkan penis Donghyuck pada mulutnya. Sesekali ia biarkan lidahnya bermain pada pucuk penis itu, menjilat batang tersebut hingga dua bola kembarnya.

Daddy,” panggil Renjun hingga mata mereka bertemu. “Cookie mau coba deep throat.”

Alis Donghyuck terangkat. “You sure?” tanyanya.

Renjun mengangguk cepat. “Mau cobain duluuu,” ujarnya manja.

Maka Donghyuck kabulkan. Tak ada satu pun keinginan Renjun yang tak ia wujudkan, termasuk yang satu ini. Tangannya yang masih bertengger di belakang kepala Renjun perlahan menekan kepala si mungil itu.

Ready?” tanya Donghyuck yang langsung mendapat anggukan dari Renjun dengan mulutnya yang sudah terbuka lebar. “Aku masukin ya.”

Donghyuck kembali memasukkan penisnya ke dalam mulut Renjun. Perlahan ia majukan terus pinggulnya, membuat kejantanannya masuk semakin dalam di dalam rongga hangat mulut Renjun. Hingga akhirnya suara batuk mulai terdengar, menandakan ujung penisnya telah menyentuh tenggorokan Renjun.

“Hmphh!”

“Aku keluarin ya, cookie?”

Renjun menggeleng cepat. Kepalanya semakin maju guna memasukkan penis Donghyuck lebih dalam.

“Uhuk!”

Lagi-lagi Renjun terbatuk karena ujung penis Donghyuck menyentuh tenggorokannya, namun kali ini ia coba tahan. Ia biarkan posisi itu bertahan beberapa detik, hingga air mata mulai menggenang. Donghyuck yang sadar akan hal itu langsung menarik penisnya keluar dari mulut Renjun.

Enough. Itu pasti sakit banget,” ucapnya sembari merebahkan tubuh Renjun dengan perlahan. Ikatan dasi pada tangan Renjun pun dilepaskannya. “Ini juga pasti sakit, ya?”

Renjun tersenyum. Donghyuck bukan tipe yang mampu menyakiti orang yang dia sayangi. Dalam bercinta pun, ia tak pernah melakukan hal-hal yang akan sangat menyakiti Renjun.

“Gapapa, aku suka kok, daddy,” jawab Renjun lembut.

Kedua tangan si mungil itu terbebas dan langsung melingkar pada leher Donghyuck. Tubuh kekasihnya sudah setengah menimpa dirinya, tertahan sedikit oleh kedua siku Donghyuck yang bertumpu di dua sisi tubuh Renjun.

Donghyuck dan Renjun saling memagut bibir satu sama lain. Kali ini ciuman itu penuh kelembutan. Tak ada tuntutan, tak ada pula rasa tergesa-gesa. Hanya labium yang saling bertaut mesra dengan sesekali saling menyesap.

Daddy,” panggil Renjun lirih ketika ciuman itu ia lepaskan.

Yes, cookie?”

Renjun menarik leher Donghyuck, mendekatkan bibirnya pada telinga sang kekasih untuk berbisik, “Please fill me up now.”

Kekehan pelan melesat dari mulut Donghyuck. Ia mengangkat kepalanya, mengecup dahi dan bibir Renjun sekilas. “Oke, sebentar ya,” ujarnya.

Donghyuck sedikit beranjak untuk meraih kondom dan botol lubrikan di dalam laci nakas sebelah kasurnya. Kembali ia tumpukan lututnya di atas kasur di antara dua kaki Renjun yang masih terbuka lebar. Ia merobek bungkus pengaman itu dengan giginya, mengeluarkan dan mengenakannya pada penisnya. Tak lupa cairan lubrikan ia oleskan pada sekitar lubang anal Renjun dan juga di penisnya yang sudah terbungkus kondom.

Ready?” tanya Donghyuck.

Renjun mengangguk. Matanya berbinar melihat Donghyuck berada di antara tungkainya, mulai memasukkan penis besarnya ke dalam lubang ketat Renjun.

“Nghh,” dahi Renjun mengernyit, menahan sakit di bagian bawahnya.

“Sakit banget?” tanya Donghyuck sembari terus mendorong pinggulnya dan mengelus pinggang Renjun.

Kepala Renjun mengangguk pelan. “Gapapa, aku bisa tahan, Hyuck,” jawabnya lirih. “Terusin aja.”

Donghyuck terus mendorong pinggulnya hingga penisnya sudah masuk sempurna. Renjun pun melenguh panjang, membuat Donghyuck langsung memeluk tubuh Renjun dengan erat.

How is it?” tanya Donghyuck dengan lembut sambil mengelus punggung mungil itu.

Renjun membalas pelukan Donghyuck dengan erat. “It feels good as always. Penuh banget nih. Makin gede ya punya kamu? Minum obat?”

“Hahaha,” Donghyuck tergelak sedikit. “Iya. Beberapa minggu lalu dikasih obat sama Mark.”

Senyuman terulas di wajah Renjun tatkala netra mereka bertemu. “Pantesan. Makin gede sih, tapi makin enak kok,” ujarnya.

Should daddy move it?”

Renjun mengangguk. “Yes, please, daddy. Cookie wants to feel your dick's movement inside me,” jawabnya.

Donghyuck mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Ketatnya lubang anal Renjun, membuatnya merasa ngilu di bagian bawah sana.

Cookie, sempit banget. Jangan diketatin dulu.”

“Hnghh, ga diketatin ini. Mmhh, emang ketat, daddy.”

Pelukan mereka semakin erat, begitu pula gerakan pinggul Donghyuck yang mulai tambah cepat temponya. Desahan dua anak adam itu semakin menggema di kamar, menambah sensasi sensual di ruangan itu.

“Ahh, daddy, faster,” pinta Renjun dengan suara rintihannya.

Sure nghh.”

Tempo pergerakan genjotan Donghyuck semakin cepat. Tubuh mungil Renjun terhentak kuat di dalam rengkuhan Donghyuck. Suara perpaduan kulit mereka yang saling bersentuhan turut meramaikan seluruh penjuru kamar bersamaan dengan desahan dan ucapan-ucapan vulgar mereka.

“Mhh, daddy I really love your big dick inside me like this, ahh! Dalem banget, daddyyyy, nghhh.”

“Shh, ini kena ga? Kena bagian enak kamu ga, cookie?”

“Ahh i-iya, nghh more, daddy ah ahh lagiii, lebih dalam lagi.”

Pekikan kenikmatan mereka saling bersahutan. Sesekali bibir mereka akan saling memagut hingga saliva mengalir di pinggir labium keduanya.

Daddy, aku mau keluar,” ucap Renjun dengan susah payah.

Tangan Donghyuck langsung sigap meraih penis Renjun. Ia kocok cepat penis mungil itu, membuat Renjun merintih nikmat dan mendesah semakin kuat.

Daddy, nghh cookie is cl-close– ahhh!”

Renjun mengeluarkan spermanya. Cairan putih itu membasahi tangan Donghyuck dan juga perutnya.

“Aku sebentar lagi,” ucap Donghyuck masih semangat menggempur lubang anal Renjun.

Pria gemini itu menarik tangannya dari penis Renjun yang sudah lemas. Ia menjilat jemarinya yang dibasahi air mani Renjun, membuat Renjun terkekeh melihatnya.

“Jangan dijilat ih. Jorok,” ujar Renjun.

“Enak. Kamu selalu enak. Semuanya enak, baby. Your hole, your nipple, your sperm, your lips, arghhh everything about you.

Selesainya pujian dari Donghyuck, ia pun sampai pada putihnya. Cairan kenikmatannya tertampung di dalam kondom, namun Renjun tetap dapat merasakan hawa kehangatan itu di dalam lubangnya.

Donghyuck menarik penisnya keluar setelah beberapa detik. Ia membuang kondom dan langsung merengkuh tubuh Renjun.

“Kamu mau ke kantor?” tanya Donghyuck seraya memeluk erat kekasihnya dan mengelus perut Renjun dengan lembut.

“Iya. Habis makan siang aja deh.”

“Mau bareng?”

Renjun mengangguk. “But I'm kinda sleepy now,” ujarnya.

You might sleep for a while, cookie. Nanti aku bangunin sekalian makan siang, ya.”

Okay!” seru Renjun. “But, daddy...can you put your dick inside me again?

Cock warming?

Yes.”

Tanpa memberi tanggapan lagi, Donghyuck memasukkan penisnya perlahan. Ia biarkan kejantanannya menerima kehangatan dari lubang ketat milik Renjun.

“Makasih hadiahnya, cookie.”

“Justru aku yang makasih,” ucap Renjun lirih. “Makasih udah berjuang untuk kasus mamiku.”

Donghyuck mengecup dahi Renjun agak lama. Ia semakin mengeratkan pelukan dan mengelus punggung mungil itu, hingga membuat Renjun perlahan terlelap.

Anything for you, my baby cookie.”


schonewords