The Unfinished Past


Pair: jaeren (jaehyun x renjun)

Semua ini ceritanya flashback ya! Ini yang diceritain Renjun ke Haechan di percakapan mereka di dalam mobil itu.

cw // mentioning arranged marriage, implicitly mentioning unhealthy relationship


Neotech dibuat gempar pada suatu pagi tatkala sang CTO, Jung Jaehyun, berjalan memasuki gedung megah itu sembari menggenggam tangan seorang pria mungil di sampingnya. Adalah Huang Renjun, sosok yang menggandeng lengan Jaehyun berjalan menyusuri lobi hingga lift.

Desisan bisik-bisik seluruh orang yang menyaksikan jelas terdengar. Semua mata yang menatap pasangan itu berbinar dengan ujaran 'Wah, pak CTO pacarannya sama primadona Neotech'. Mendengar itu, Jaehyun dan Renjun saling bertatapan sembari melempar senyum.

“Aku seneng bisa pacaran sama kamu,” ungkap Jaehyun ketika mereka hanya berdua di dalam lift.

“Kenapa gitu?” tanya Renjun menggoda sang kekasih.

“Ya, simply because I've been paying my attention on you. Terus, sekarang akhirnya kamu jadi pacar aku, well, setelah dibantu suaminya sepupu kamu sih si Kun, hahaha. Gimana aku ga seneng sekarang? This is such a dream comes true.”

Sepasang kekasih itu terkekeh bersama. Tautan tangan mereka semakin erat dalam genggaman satu sama lain. Tak lupa saling mendekap tatkala mereka akan dipisahkan dengan lantai yang berbeda untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Ya, pada hari itu, kabar tentang hubungan khusus yang terjalin antara Jaehyun dan Renjun menjadi trending topic di Neotech. Banyak yang menanggapi dengan positif dan turut berbahagia, karena dirasa dua pria itu memang pasangan yang serasi. Akan tetapi, tak sedikit pula yang mencibir dan berburuk sangka, seolah Jaehyun dan Renjun tidak baik untuk disandingkan bersama.


Dua bulan berlalu. Hubungan Jaehyun dan Renjun masih terlihat harmonis, bahkan tampak semakin mesra. Nyaris semua pihak mendukung hubungan ini dengan sering menjuluki mereka sebagai 'pasangan jenius Neotech'. Keduanya pun selalu profesional ketika bekerja tanpa melibatkan perasaan pribadi mereka.

“Kak,” panggil Renjun.

Jaehyun yang sedang asyik menyantap makan siangnya pun mengangkat kepala. “Kenapa, baby?” tanyanya.

“Kamu malam ini ada waktu ga?”

“Kenapa emangnya?”

Can we have a dinner together? Udah dua bulan pacaran, kita cuma sering lunch bareng aja. Ga pernah kita jalan-jalan gitu, even just a simple dinner.”

Jaehyun meletakkan sendoknya. Ia teguk minumnya sejenak, kemudian mengulas senyum untuk Renjun. “Next time ya, baby. Aku harus lembur hari ini,” tanggap Jaehyun.

Ada guratan kecewa yang terlukis di wajah Renjun. Ia tersenyum kecut memandang Jaehyun seraya mengangguk. “Oke deh kalo gitu, kak.”

“Gapapa, 'kan? Nanti aku kirimin makanan ke rumah kamu.”

“Udahlah, ga usah repot-repot, kak.”

“Tetep aku kirimin ya, baby. Pokoknya harus diterima.”

Renjun mengangguk. Selama dua bulan berpacaran, selain rasa cintanya yang besar kepada Jaehyun, rasa kecewanya pun kian tumbuh terhadap sang kekasih. Tetapi, Renjun pikir mungkin ini terlalu cepat untuk memupuk kecewa.


“Ren,” panggil Mark ketika masuk ke dalam ruangan Renjun.

Alis Renjun terangkat melihat sahabatnya tersebut menghampirinya di jam kerja. “Ada apa? Tumben ke sini ga bilang dulu.”

Mark duduk di seberang Renjun yang dibatasi oleh meja kerja si ketua tim satu tersebut. Netranya menatap Renjun dengan lekat. “Lo sama Pak Jaehyun baik-baik aja, 'kan? I mean, setelah empat bulan ini kalian pacaran, everything goes smoothly, right?” tanya Mark.

“Hahaha, beneran tumben lo ke sini cuma buat nanyain hubungan gue doang,” ujar Renjun diselingin tawa.

“Gue lagi serius ini, Ren.”

“Ya emangnya ada apa sih, kak?”

Mark menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Ia terus terpaku menatap sahabatnya tersebut.

“Ada apa?” ulang Renjun.

“Ren, sebenarnya Yangyang mau ngomong langsung ke lo, tapi ga berani.”

Dahi Renjun mengernyit, tapi tak memberi tanggapan apa pun. Mark pun sekali lagi menghela napas berat sebelum melanjutnya ucapannya.

“Lo tau sendiri Yangyang itu bawahan langsung dari Pak Jaehyun. Kemarin, orang tuanya Pak Jaehyun datang ke sini. Si Yangyang sempet dengerㅡ”

Can you straight to the point aja, kak?” Renjun jengah melihat Mark yang memang terlihat ragu-ragu untuk berbicara.

“Oke oke, sorry,” ungkap Mark. “Pak Jaehyun dijodohin sama orang lain, Ren.”

Bak tersambar petir, Renjun terdiam kaku. Mulutnya membungkam bagaikan kehilangan ribuan kata yang sebelumnya ingin ia lontarkan. Iris matanya membulat, menandakan ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Sempet berantem besar kemarin di ruangan Pak Jaehyun, Ren. Ya, lo tau sendiri Pak Jaehyun kalo udah emosi kayak apa. Pak Jaehyun bilang dia udah punya lo dan ga mau dijodohin. Terus, orang tuanya nyuruh Pak Jaehyun bawa lo ke rumah mereka kalo memang serius sama pilihannya.”

Mark selesai, namun sosok dihadapannya masih terdiam. Isi kepalanya berkecamuk karena di dalam hatinya menyimpan banyak kekhawatiran.

“Ren?”

“Nanti aku bakal ngobrolin ini sama Jaehyun.”

Mark beranjak dari duduknya. Tatapannya masih setia memandangi sahabat kesayangannya itu. “Ren, just letting you know that a lot of things might happen in the future ain't as we wish. Semoga apa pun yang bakal terjadi sama lo dan Jaehyun, itu bakal jadi yang terbaik buat kalian,” Mark melontarkan petuahnya.

Renjun mengangguk. “I trust Jaehyun more than you think, kak. Perjodohan itu ga akan terjadi sih. Gue percaya, Jaehyun bakal memperjuangkan hubungan gue dan dia.”


Sebulan pasca cerita Mark, nyatanya Renjun dan Jaehyun tak kunjung membicarakan itu. Renjun tak pernah berani membahasnya, pun Jaehyun yang tampak enggan menceritakannya pada Renjun.

“Ren,” panggil Jaehyun.

“Ya?”

Kedua pria itu tengah duduk bersama di sebuah taman yang tak jauh dari kantor. Ini pertama kalinya Jaehyun meluangkan waktu untuk sekedar duduk santai menikmati sore bersama kekasih mungilnya. Ya, lima bulan ini, tak pernah Jaehyun memanjakan Renjun melalui kebersamaan. Hanya hadiah-hadiah berupa barang atau makanan yang kerap diberikan oleh Jaehyun sebagai wujud cintanya kepada Renjun.

“Kamu mau janji ga sama aku?” tanya Jaehyun.

Renjun yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Jaehyun langsung menengadah. Ia menatap manik sang kekasih seraya bertanya, “Janji apa, sayang?”

Jaehyun genggam erat tangan mungil Renjun. “Janji buat ga ninggalin aku apa pun yang terjadi. Janji buat setia sama aku,” lanjut Jaehyun.

Senyuman terulas di wajah Renjun. Ia mengangguk pasti. “Janji. Aku janji ga akan ninggalin kamu dan bakal setia sama kamu, sayang,” ucapnya.

Tubuh Renjun langsung direngkuh dalam dekapan Jaehyun. Renjun merasa bahagia karena sangat dicintai oleh Jaehyun.

Ya, begitulah yang ia pikirkan saat itu. Hingga satu bulan kemudian...


“Maaf, Ren. Maaf hubungan kita ga bisa dilanjutin lagi.”

Renjun terdiam kaku mendengar ucapan yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya. Jaehyun berdiri di hadapannya dengan membangun jarak yang tak dekat seperti biasanya.

“Kenapa, kak?” tanya Renjun dengan suara yang bergetar. “Apa yang membuat kamu mutusin aku sekarang?”

Jaehyun memberanikan diri menatap Renjun. “Aku...aku setuju dengan perjodohan yang diatur sama orang tua aku,” jawabnya pelan.

Renjun menghembuskan napas gusar. Sorot matanya tajam menatap pria yang baru saja mencampakkannya itu. “After you asked me to promise never leave you, and now you are the one who leaves me. You think it's fair, Jaehyun?” napas Renjun memburu mengucapkannya.

Mulut Jaehyun mengatup sempurna. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Rasa bersalah menjalar pada dirinya, terutama melihat Renjun yang sangat emosi.

“Kamu tahu orang yang mau dijodohin sama kamu?” tanya Renjun mengintimidasi.

“Dia...anak pemilik Vistech,” jawab Jaehyun.

“Oh,” Renjun mengangguk. “Aku akui, dia pasti lebih pantas sama kamu, tapi bukan berarti kamu seenaknya aja ninggalin aku sekarang, kak! Setelah kamu suruh aku buat janji setia terus sama kamu, malah kamu yang ninggalin aku. Kamu sadar ga sih kamu sejahat itㅡ”

Sorry, Ren. Aku minta maaf, oke? We are done. For real. Thank you for these past six months.”

Ucapan final dari Jaehyun diikuti dengan kepergiannya meninggalkan Renjun yang terpaku di parkiran kantor. Derap langkah cepat menjauh dari Renjun. Sedangkan Renjun, kini wajahnya merah menahan segala amarahnya.

Kandasnya hubungan mereka terjadi dengan tidak baik-baik. Saat itu, dunia terasa kejam untuk Renjun. Hatinya sakit dan kepalanya kalut, namun tak pula dapat ia ekspresikan melalui air mata. Sekali lagi, Renjun mengalami kegagalan cinta, tetapi kali ini terasa begitu jahat dan menyakitkan.


schonewords