Video Call Sex – Gamala
cw // nsfw, mature content, bxb, video call sex, solo plays, nipple play, fingering, dirty talk, harsh words, local profanities
Membaca balasan pesan Gala, pastinya langsung bikin Gama senang bukan main. Dengan sigap, ia naik ke atas kasurnya yang luas, menyiapkan tisu di nakas samping ranjang, dan mengenakan tudung jaket hitamnya.
Tak lama, HP-nya berdering. Senyuman di wajah Gama kian melebar. Cepat-cepat diangkat panggilan video dari suaminya yang sedang jauh darinya itu.
“Ayaaang— ANJING! Gala, kamu lagi mandi di bathtub terus bawa HP?”
“Ya iyalah,” Gala menjawab dengan cepat. “Kalo mandi pake gayung, gimana mau sambil service nanti, mas?”
Jawaban Gala dengan santai begitu langsung mengundang gelak tawa dari Gama. Keduanya saling menatap cuma dari layar HP, tak seperti biasanya yang akan bertatapan langsung sembari saling berpelukan di atas kasur.
“Kamu kenapa pake jaket gitu, ay?” tanya Gala keheranan.
“Dingin, ayang. Jakarta hujan mulu nih, berasa banget dinginnya. Mana ga ada kamu lagi yang melukin.”
Dua sudut bibir Gala tertarik ke atas, membentuk senyuman manis yang diikuti dengan kekehan kecil. Gala selalu suka kalo Gama-nya manja seperti ini.
“Aku juga pengennya di sana, melukin kamu.”
Sejenak keduanya hanya saling bertukar pandang. Gala yang memperhatikan setiap sudut wajah Gama, sedangkan Gama yang mulai gagal fokus.
“Pengen isep leher kamu, Gal,” tutur Gama pelan ketika netranya menatap leher Gala yang terekspos.
Mendengar itu, Gala sengaja mengarahkan kamera depan HP-nya ke arah leher jenjangnya dengan gerakan perlahan. “Ini, ay?” tanyanya sambil mengelus leher itu dengan tangannya yang basah, membuat air mengalir di sana menciptakan sensasi sensual yang lebih meningkatkan libido Gama.
Gama tak menjawab. Ia hanya fokus melihat leher itu beserta bibir bawah Gala yang turut tersorot kamera. Pria gemini itu menjilat bibirnya, berharap yang ia jilat saat ini adalah labium suaminya.
“Gama.”
“Iya, ayang?”
“Mas Gama...”
“Iya, dek?”
Gala meletakkan HP-nya di pinggir bathtub dan tetap menyoroti setengah badannya yang tak tenggelam di dalam air. Ya, badannya telanjang, dari kepala hingga perutnya terlihat jelas, dan bagian bawahnya tertutup air dan busa.
“Mas Gama, kamu mau mainin ini kan?” tanya Gala seraya memainkan kedua putingnya.
“Shit, Gala...”
Gala mengelus kedua putingnya secara bersamaan. Sesekali ia akan menjepit dan memelintir salah satu puting secara bergantian. Kegiatan yang ia lakukan sendiri ini membuatnya mulai mengeluarkan desahan-desahan yang sangat menggoda masuk ke telinga Gama.
“Hnghh, Mas Gamahh...mau dimainin nenennya sama kamu hmhh mau diisep jugaaaah.”
Racauan Gala di tengah desahannya itu membuat Gama semakin menatap lekat layar ponselnya. Tangannya yang terbebas mulai masuk ke dalam bajunya, bergerak ke dadanya, dan ia pun mengelus putingnya sendiri.
“Mas Gama, liat niiih, nenen aku udah tegang giniiii. Pengen banget diisepin sama Mas Gama.”
“Iya, sayang. Besok kalo kamu udah pulang, aku isep ya nenennya.”
“Yang kuat ya ngisepnya, mas.”
“Iya, ayangku.”
Netra Gama terlihat sayu menatapi sang suami yang tengah terpejam memainkan putingnya sendiri. Gala tak henti-hentinya mendesah menggaungkan keinginannya akan tangan Gama yang menyentuhnya.
“Dek Gala.”
“I-iya, mas?”
“Mau nenen.”
Hanya dua kata yang diucapkan Gama dengan suara rendahnya itu, mampu membuat birahi Gala semakin meningkat drastis. Ia mendudukkan dirinya lebih dekat dengan tempat HP-nya disandarkan. Dadanya dibusungkan guna menunjukkan putingnya tepat di depan kamera.
“Ini, Mas Gama. Hmmm aku bayangin Mas Gama sekarang ngemut nenen aku, mainin lidahnya di sini, terus ngisep nenennya kuat banget kayak bayi. Ugh bayi gedenya akuuuu,” Gala menarik-narik pelan putingnya tepat di depan kamera sembari berkata demikian dengan suaranya yang serak.
Mulut Gama sedikit terbuka. Napasnya memburu cepat ketika menangkap pemandangan puting Gala yang mencuat di layar ponselnya. Kepalanya kini membayangkan betapa nikmatnya jika ia bisa langsung melahap tonjolan mungil itu dan menghisapnya dengan sekuat tenaga hingga Gala akan merintih kesakitan dan kenikmatan.
“Iya, ayang. Aku isep kuat ya nenennya. Aku isepin, aku gigit sedikit, sambil tangan aku mainin pantat kamu kayak biasanya.”
“Umhh mauuuu. Terus aku sambil mainin kontol kamu ya.”
Kedua iris mata Gama membelalak lebar. Apa yang baru aja dia denger? Gala ngomong apa?
“Ayang, tadi ngomong ap—”
“Mau nenenin sambil mainin kontol kamu, ayangggg,” Gala mengulangi.
Seringaian terulas di wajah Gama. Dengan suara rendahnya, ia berujar kepada suaminya, “Terusin ngomong kotornya, Gal.”
Gala sempat tertawa kecil mendengarnya. Ia kembali menjauh dari HP, duduk bersandar lagi di dalam bathtub.
Kini kaki kanannya ia tekuk, sehingga pahanya terlihat di layar ponsel Gama. Tangan mungilnya mengelus pahanya sendiri hingga ke bagian dalam.
“Mas Gama, ini enak banget biasanya kalo kamu yang ngelus.”
Gama kembali menyeringai. “Sambil diremes juga kan, ay, biar makin enak,” ujar Gama menambahkan.
“Iya, mas. Humhh pengen deh tangan kamu yang ngelus gini.”
“Coba ayang tutup lagi matanya,” perintah Gama dan langsung dituruti oleh Gala. “Bayangin itu tangan aku yang ngelus, ay. Mulai dari atas ke bawah, terus ke dalam, diremes sedikit. Naik lagi pelan-pelan ke atas—”
“Ahhh...”
Belum selesai Gama memberikan titah, Gala sudah mendesah nikmat. Tangannya melakukan sesuai yang dikatakan oleh Gama hingga tak sengaja menyenggol salah satu bola kembarnya. Desahannya terbit, membuat alis Gama terangkat sebelah dengan senyum puas yang merekah.
“Naik lagi elusannya, ayang. Touch your ball.”
“Mhh, u-udah, masss...”
“Good boy. Duduknya benerin dulu, biar aku bisa liat ke bagian bawah. Itu ketutup air.”
Sekali lagi Gala mengikuti perintah Gama. Ia menegakkan duduknya, sehingga penisnya yang menegang sedikit mencuat ke permukaan air.
Gama di seberang sana pun tengah menurunkan celananya. Kejantanannya langsung terbebas dan tegak sempurna. Tangannya pun sigap membungkus penisnya sendiri dan mengusapnya pelan.
“Mas Gama habis ngapain?” Gala bertanya ketika membuka matanya dan melihat ekspresi Gama yang merasa lega.
“Abis nurunin celana, ayang.”
“Mau liat kontol gedenya Mas Gama,” ujar Gala dengan nada manja.
Siapalah Gama yang mampu menolak keinginan suami tercintanya itu? Tentu saja langsung ia turuti. Gama mengganti kamera HP-nya ke bagian belakang dan langsung memperlihatkan penis tegangnya di layar HP Gala.
“Hum mau, mas...”
“Mau apa, Dek Gala?” Gama bertanya dengan nada menggoda.
“Mau sepongin kontol Mas Gama, mau dimasukin juga lubang aku sama kontol gede ituuuu.”
Kepala Gama terasa pusing mendengar ucapan Gala yang sangat frontal itu. Ia sedikit heran karena Gala tidak biasanya berbicara segamblang itu ketika mereka bercinta. Entah kenapa kali ini suami mungilnya itu sangat berani, padahal yang pertama mereka horny jelas-jelas Gama hingga mereka berakhir melakukan video call ini.
“Coba liatin lubang kamu yang sempit itu, ay.”
Walaupun tubuhnya sedikit lemas, Gala berusaha untuk sedikit beranjak. Ia membalikkan tubuhnya dan menungging, membiarkan lubangnya dipertontonkan secara langsung ke arah kamera HP.
Gama menelan ludahnya kasar. Layar ponselnya kini penuh dengan pantat Gala dan lubangnya yang memerah. Belum lagi Gala melebarkan belahan pantatnya agar lubang analnya semakin terekspos dengan jelas, membuat Gama semakin tak kuasa menahan napsunya.
“Gala sayang,” panggil Gama membuat Gala menoleh. “Liat nih kontol aku makin tegang liat lubang kamu tuh.”
Gala terkekeh pelan. Memang yang kini terlihat di layar HP Gala adalah kejantanan Gama yang semakin menegang, sedangkan di layar HP Gama terlihat lubang Gala yang seolah memanggil untuk diberikan servis terbaik saat ini.
“Sempit banget tu lubang kayaknya.”
“Hmm iya dong. Udah dua minggu ga dimasukin kontol gedenya Mas Gama.”
Dua pria itu tertawa kecil bersamaan.
“Mas, kontol kamu makin gede itu. Enak banget kayaknya kalo dimasukin ke lubang aku yang sempit ini,” Gala mengelus lubang analnya dengan gerakan pelan dan sensual.
“Iya, ayang. Aku bikin longgar itu lubang ya.”
“Umhh, mau banget, Gamaaaa.”
Gama pelan-pelan mulai mengocok penisnya. Di dalam otaknya kini terbayang bagaimana penisnya mencoba masuk ke dalam lubang sempit Gala dan menerobosnya dengan kuat.
“Gala sayang, masukin jari kamu coba.”
Gala sedikit kebingungan. Pasalnya, ia tak membawa lubrikan ke dalam kamar mandi. Cairan itu ada di dalam kopernya dan sekarang ia tak ingin keluar dari bathtub. Matanya tertuju pada botol sabun yang ada di dekatnya dan langsung mengambilnya.
“Buruan, ayang,” rengek Gama.
“Iya sabar, sayangkuuuu.”
Jari telunjuk Gala sudah dibaluri sabun. Ia oleskan pada lubangnya, digosoknya perlahan di sana sembari imajinasinya membayangkan jari Gama-lah yang bergerak di sana.
“A-ah...Mas Gamahh...”
“Bisa, dek?”
“Nghh susah...”
“Pelan-pelan aja.”
Gala perlahan memasukkan jarinya dengan susah payah. Ia tidak terlalu suka memberikan servis kepada dirinya sendiri selama ini, makanya sekarang si artis terkenal itu jadi kesulitan.
“Sayang, liat sini,” pinta Gama dan Gala menoleh menurut. “Nih liat kontol aku. Bayangin ini lagi masuk ke situ pelan-pelan. Tahan sakitnya, ayang. Nanti kan bakal enak.”
“Fuck,” umpat Gala.
Agak lama Gala berusaha hingga akhirnya jari telunjuknya berhasil masuk. Kakinya lemas, membuatnya kewalahan untuk bertahan dengan posisi menungging seperti ini.
“Nice, ayangku. Diemin aja dulu.”
“Aneh, Gam.”
“Nanti terbiasa kok. Kalo lemes, coba duduk aja di pinggir bathtub itu, terus kamu sandaran di dindingnya, ya?”
Gala mengangguk dan mengikuti saran Gama. Ia mendekatkan posisi HP dengan tempat ia duduk sekarang. Punggungnya bersandar dengan setengah kakinya yang masih tenggelam di dalam bathtub. Oh, tentunya jarinya masih setia di dalam analnya.
“Mau coba digerakin?” tanya Gama lembut.
Gala kembali mengangguk. “Huum, tapi kamu sambil ngocokin kontol kamu juga ya, Gam?”
“Oke, sayangku.”
Dengan perlahan, Gala mencoba menggerakkan jarinya. Sangat hati-hati ia mengeluarkan jarinya setengah dan memasukkannya lagi.
“Ohh...shit, Gamahhh. I need your dick more now.”
Gama terkekeh sembari tangannya pun memijat pelan penisnya. “Aku juga mau banget masukin lubang kamu, ay.”
“Nghh, Gamaahhh...”
Gala tampak mulai menikmati permainannya sendiri. Ia mulai lihai dan ritme jarinya pun mulai teratur bermain di lubang analnya.
“Gala-nya Gama pinter banget. Iya gitu, sayang. Enak?”
“Humhh, enakkk...”
Gama menggigit bibir bawahnya. Netranya yang sayu tak lepas dari layar HP. Sungguh ia ingin sekali menggantikan jari Gala dengan penis besarnya.
“Umhh, Mas Gama, kalo ditambahin bakal sakit ga ya?”
“Cobain aja, ayang.”
Gala mengeluarkan jarinya dan kembali membalurnya dengan sabun. Kini tak hanya jari telunjuk, melainkan ditambahkan dengan jari tengahnya.
“Pelan-pelan, Gala,” ucap Gama dengan lembut.
Perlahan Gala coba masukkan dua jarinya. Dahinya mengernyit, kepalanya menengadah, dan mulutnya terbuka sembari terus mendesahkan nama Gama.
“Ahh...Gamhh...”
Sudah masuk sempurna kedua jarinya di dalam analnya.
“Seksi banget suami aku,” Gama mendesis memberikan pujian ketika melihat Gala perlahan menggerakkan jarinya.
Wajah Gala sudah merah, begitu pula bibirnya yang beberapa kali ia gigit ketika menahan sakit. Di lain tempat, Gama pun sama. Ekspresinya sudah kepalang merah penuh napsu dan pergerakan tangannya pada penisnya sendiri sudah semakin cepat.
“Gala sayang, hmhh Gala-nya Gama yang cantik, seksi, pinter, sshh liat lubang kamu merah banget, ay. Padahal baru dimasukin jari doang.”
“Humhh, Gamahhh ahh, Gamahh, mau kontol kamu sshh mau kontol gede kamu masuk sini, Gammm.”
“Iya, ayangku. Nanti kamu pulang ke Jakarta, aku masukin kontol aku ke situ ya? Aku masukin sampe mentok banget, sampe kamu teriak minta aku genjot cepat.”
“Mauhh, hnghhh mau bangetttt.”
Gala semakin cepat memberi servis lubangnya, begitu pula Gama yang kian brutal mengocok penisnya. Keduanya terus mendesah, memekikkan nama satu sama lain yang kini raganya tengah berjauhan.
“Gama, aku keluarrrr...ahhh!”
Teriakan Gala nyaring terdengar bersamaan cairan putihnya keluar. Spermanya mengalir dan masuk ke dalam bathtub, mengotori air mandi yang sudah dicampur sabun itu.
“Aku dikit lagi, ay,” gumam Gama. “Keluarin jari kamu, aku mau liat lubang kamu, Gal.”
Jari Gala telah dikeluarkan, membuat lubangnya kini terasa hampa dan sedikit longgar. Pemandangan itu tertangkap di layar HP Gama dengan jelas, membuatnya semakin mempercepat gerakan tangannya di penisnya.
“Fuck ahh, Gala...”
Gama pun sampai di puncak kenikmatannya. Cairan kental itu mengotori tangannya yang langsung cepat ia usap dengan tisu.
Napas keduanya terengah. Gala meraih ponselnya, dan Gama merubah kameranya ke kamera depan dan menunjukkan wajah lemasnya.
“How was it?” tanya Gama dengan senyum tipis.
“Not bad, tapi tetep aja kurang puas kalo ga dimasukin punya kamu.”
“Loh,” Gama terkekeh. “Kok ga frontal lagi nyebutnya?”
“Maluuuu!” seru Gala, membuat Gama tergelak.
“Ganti dulu air bathtubnya, ay, atau mandi pake shower aja.”
Gala mengangguk. “Iya, nanti dulu. Aku masih lemes,” ujarnya.
Gama duduk bersandar pada headboard kasur. Diperhatikannya wajah sang suami yang tersenyum tipis pula kepadanya.
“Cepet pulang ya, suamiku,” ujarnya lembut. “Ga enak banget aku tidur ga meluk kamu.”
Gala mengangguk lucu. “Iya, ayang. Tunggu ya dua hari lagi mungkin bisa pulang. Semoga aja shootingnya bisa kelar besok. Aku juga kangen bobonya dipelukin sama kamu.”
“Ya udah sekarang ayang mandi ya? Habis itu pake piyamanya yang anget, bobo selimutan, AC-nya jangan dingin banget.”
“Oke, ayang!” seru Gala. “Gama-ku juga ya. Jaketnya dipake yang bener, terus tetep pake selimut biar ga kedinginan.”
“Iya, sayang. Nanti sehabis mandi kabarin ya?”
“Oke, mas suami.”
“Aku matiin dulu telfonnya ya? Love you, Gala-nya Gama.”
“Love you too, Gama-nya Gala.”
schonewords