Your Touch


cw // nsfw, mature content, make out, kissing, hickey, nipples play, petting, hand job, blow job, non-penetration, harsh words


Haechan tak tahu bahwa yang dimaksud Renjun “jalan pulang dulu aja” itu mengarah ke sini. Benar, mereka memang kini sudah pulang. Benar, mereka bahkan saat ini sudah masuk ke pekarangan rumah Renjun. Tetapi, mobil Haechan diparkirkan di dekat pagar yang notabenenya jauh dari pintu utama rumah itu.

“Hmmh,” lenguhan Renjun lolos tatkala pagutan dari Haechan kian dalam.

Tangan kiri Haechan sudah terpatri di bagian belakang kepala Renjun, menekannya hingga semakin kuat pula lumatannya pada bibir Renjun. Lidahnya tak kalah lihai dalam bergelut dengan lidah si pria mungil itu, membuat Renjun berkali-kali melenguh merasakan nikmat.

“Ini maksudnya buat ngilangin bosen?” tanya Haechan ketika ia melepaskan ciuman mereka.

Renjun terkekeh pelan. Wajahnya sudah memerah dengan senyuman malu-malu khas gelagat salah tingkahnya. “Bukan, sih,” jawab Renjun pelan.

Alis Haechan terangkat diikuti dengan tawa kecilnya. “Terus apaan?” lanjutnya bertanya.

Bukannya menjawab, Renjun justru membawa tangan kanannya terangkat ke arah wajah Haechan. Dengan lembut dan gerakan yang cukup menggoda, ia elus rahang tegas Haechan. Wajahnya turut maju dan ia berikan kecupan ringan pada rahang tersebut.

Haechan merasa terkejut dengan perlakuan Renjun itu. Ia baru saja hendak bersuara, namun gerakan Renjun lagi-lagi membuatnya terdiam. Tangan mungil itu kini mengelus lehernya dengan netra yang sayu menatap bagian tersebut.

“Ngapain, sayang?” Haechan bertanya lagi sembari mengelus lengan Renjun.

Elusan tangan Renjun turun ke dada Haechan, diiringi dengan senyuman manis di wajahnya serta kedua manik yang menatap netra Haechan. “I just feel like want to touch you and...” gantungnya.

And?” tanya Haechan penasaran.

...and wanna feel your touch as well,” final Renjun.

Jantung Haechan berdegup lebih kencang mendengar jawaban Renjun. Iris matanya bahkan melebar, namun ia kembali tersenyum ketika mendapati wajah Renjun sudah semakin merah. Pun jantung Renjun berdegup sama cepatnya dengan Haechan. Mengucapkan kalimat tersebut tak pernah terbayangkan olehnya, namun itulah hasrat yang kini ia rasakan.

“Chie—”

Ucapan Renjun terputus karena Haechan langsung memajukan wajahnya dan meraup bibir Renjun lagi. Kali ini cumbuan itu terasa lebih menuntut dengan lumatan yang jauh lebih terburu-buru. Haechan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Renjun, mencoba memperdalam ciumannya. Sedangkan Renjun membiarkan bibirnya dikuasai oleh sang kekasih dan tangannya kini terus menjelajah meraba dada hingga perut Haechan.

“Ren,” ciuman terlepas ketika Haechan merasa jemari Renjun yang mulai berani membuka dua kancing teratas kemeja. “Mau ngapain?”

“Mau pegang aja. Penasaran, Chie,” jawab Renjun singkat dengan ekspresi yang polos.

Haechan seketika terkekeh mendengar jawaban yang menggemaskan itu. Ia pun mengecup bibir Renjun sekilas, mengusap surai hitam kekasihnya itu, dan menatap netra rubah yang sangat ia sukai. Haechan meraih tangan Renjun yang kini berada di dadanya, membawa telapak mungil itu masuk ke dalam kemejanya yang telah setengah terbuka.

Caress it slowly so both of us will enjoy the way you touch me,” ucap Haechan lirih seraya menuntun tangan Renjun untuk mengusap dadanya secara langsung.

Netra Renjun turun mengarah ke dada Haechan yang sudah terekspos di depannya. Sesuai perintah Haechan, ia elus lembut dada kekasihnya itu, membuat keduanya bernapas dengan berat merasakan libido mereka mulai meningkat.

Merasakan sentuhan dari Renjun yang sangat lembut dan menggoda, Haechan pun menjatuhkan kepalanya di bahu Renjun. Ia biarkan kekasihnya terus membelai bagian depan tubuhnya. Wajahnya dibiarkan tenggelam di ceruk leher Renjun, sesekali mengecupnya pelan, hingga Haechan beranikan dirinya menghisap pelan leher Renjun.

“C-chie...” Renjun memundurkan tubuhnya, membuat kepala Haechan terpaksa terangkat dan mereka bertatapan. “Nanti merah,” sambung Renjun.

Haechan tersenyum lembut. Ia kecup kening Renjun agak lama. Netranya pun melihat leher Renjun ditengah kegelapan mobil dengan pencahayaan yang minim dari lampu taman di pekarangan rumah. Pria gemini itu tersenyum melihat leher Renjun memang sudah terdapat bercak merah muda yang samar. “Maaf, sayang. Kelepasan aja barusan. Ga merah banget kok, walaupun emang ada bekasnya sedikit,” ujar Haechan.

Renjun terkekeh seraya mengangguk. “Iya, gapapa, Chie,” balas Renjun.

“Masih mau elus-elus dada sama perut aku nih?” tanya Haechan menggoda Renjun sembari melihat tangan kekasihnya masih terpaku di dadanya.

Renjun menggigit bibir bawahnya. Netranya bertemu dengan manik Haechan. Dengan senyum malu-malu, Renjun bertanya, “Boleh elus yang lain?”

Haechan tertawa pelan mendengar pertanyaan Renjun. Ia tak menyangka kekasihnya yang selalu terlihat dewasa, bijaksana, dan tegas itu kini menjadi sangat menggemaskan dan menggoda. Kendati begitu, Haechan mengangguk. Kembali ia meraih tangan Renjun di dadanya, menurunkannya, dan membawa telapak tangan kecil itu ke atas pahanya.

“Kamu mau elus ini, kan?” tanya Haechan lembut.

Kedua manik Renjun membelalak. “Kok kamu tahu?” tanyanya bingung.

I noticed it you keep staring at my thighs, sejak di ruangan sama sepanjang perjalanan dari kantor tadi.”

Renjun jelas terkejut mengetahui bahwa ternyata Haechan menyadari hal itu. Ia pun tersipu, membuat kesan menggemaskan di wajahnya semakin meningkat.

Haechan kembali mengecup bibir Renjun sekilas. Ia memajukan tubuhnya, membuat bibirnya kini berada tepat di dekat telinga Renjun. “Touch it as you want, sayang,” bisik Haechan.

Dagu Renjun diangkat oleh Haechan. Bibir mereka kembali menyatu dalam cumbuan panas nan menggairahkan. Keduanya saling melumat, menggigit bibir satu sama lain, hingga membiarkan lidah mereka secara bergantian melesak ke dalam rongga mulut pasangan mereka.

“Hmm,” Haechan meredam lenguhannya dalam ciuman tatkala ia rasa Renjun mulai mengelus pahanya di bagian dalam.

Selagi ciuman berlangsung, Renjun terus-menerus membelai paha Haechan. Sesekali ia akan meremasnya, bahkan ketika bagian dalam ia elus, tangannya tak mampu menahan hasrat untuk meremasnya dengan cukup kuat.

“Renjun—” Haechan melepaskan ciuman. “Kok sampe di sini tangannya?”

Pertanyaan Haechan itu terlontar saat tangan Renjun mulai menyentuh kejantanannya. Netra Haechan membelalak, sedangkan kedua manik Renjun mengerjap lucu.

“Sayang, ngapain sampe ke situ megangnya?” sekali lagi Haechan bertanya.

“Ga boleh ya?” tanya Renjun dengan ekspresi polos. Kendati begitu, tangannya tak sesuai dengan wajahnya yang tampak lugu dan menggemaskan. Renjun justru menggerakkan ibu jarinya untuk mengelus pelan bagian sensitif Haechan itu.

“Ren—”

Let me touch it, Chie,” pinta Renjun.

Haechan tersenyum lembut menatap ekspresi lucu Renjun saat ini. Maka, ia mengangguk sembari mengacak pelan surai Renjun. “Go ahead, sayang,” ujarnya. “Tapi...izinin aku buat megang punya kamu juga. Deal?”

Senyuman lebar terulas di wajah Renjun. Dengan cepat ia mengangguk dan mengecup pipi— ah, tepatnya rahang Haechan sekilas. “Deal!” serunya.

Untuk beberapa menit, keduanya sibuk dengan cumbuan yang berulang kali dilakukan. Tangan keduanya pun lihai memainkan penis satu sama lain.

Haechan mendorong tubuh Renjun untuk bersandar. Ia turunkan sandaran kursi tempat Renjun duduk, membuat pria aries itu kini sudah setengah berbaring. Haechan menatap netra Renjun ketika tangannya berada di dada si mungil yang kemudian mendapat anggukan oleh Renjun. Dengan perlahan, Haechan membuka semua kancing pada kemeja Renjun dan membiarkan dada serta perut kekasihnya terekspos.

“Ahhh, Chie,” desah Renjun tatkala Haechan mulai menjilat putingnya.

Tonjolan mungil itu mencuat tegang. Jilatan, hisapan, hingga gigitan-gigitan kecil Haechan dilakukan Haechan.

“Chie, jangan kuat-kuat digigitnya,” ucap Renjun.

“Iya, sayang,” tanggap Haechan. “Boleh aku tandain di sini?” tanyanya seraya menunjuk dada Renjun.

“Boleh, sayang,” Renjun mengangguk.

Otomatis Haechan langsung mengerjai dada Renjun. Gigitan dan hisapan kuat ia patrikan, membuat beberapa tanda kemerahan mulai memenuhi sekitaran puting Renjun, bahkan hingga ke perut.

Renjun memegang lengan Haechan yang sedari tadi meremas kemaluannya. Ia bawa telapak tangan Haechan untuk terselip di celana. “Please, touch it directly there, Chie,” pinta Renjun.

Haechan jelas sempat terkejut begitu telapak tangannya menyentuh penis Renjun secara langsung. Tetapi, tangannya otomatis bergerak, mengikuti kehendak Renjun.

“Nghh, yes there, Chie,” desah Renjun.

Desahan Renjun membuat Haechan semakin napsu meremas kemaluan kekasihnya serta kembali menghisap kuat puting mungil itu. Keduanya sama-sama menikmati kegiatan panas itu. Haechan senang mendengar desahan Renjun menjeritkan namanya, sedangkan Renjun sangat menikmati segala rangsangan yang Haechan berikan.

“Ren, may I suck it?”

Pertanyaan Haechan membuat Renjun terbelalak. Jujur saja, Renjun menyukai semua ini, tapi sama sekali tidak menyangka Haechan akan bertanya untuk melakukan hal itu.

You sure?” Renjun balik bertanya sebagai bentuk tanggapan atas pertanyaan Haechan tadi.

“Iya, aku yakin. Tergantung kamunya aja lagi, boleh apa ngga?” Haechan bertutur dengan lembut.

Tangan Renjun mengelus rambut Haechan, kepalanya mengangguk, dan di wajahnya terulas senyuman manis. “Boleh, Haechie,” jawabnya.

Tanpa basa-basi lagi, Haechan langsung menurunkan celana Renjun hingga setengah pahanya. Celana dalamnya pun tak lupa ia turunkan, hingga penis Renjun yang menegang kini mencuat tinggi di hadapannya.

“Pelan-pelan aja, Chie,” ujar Renjun.

“Iya, sayang,” balas Haechan.

Kejantanan Renjun sudah berada dalam genggaman Haechan. Dipijatnya perlahan, membuat Renjun mengerang meminta kenikmatan yang lebih. Menit berikutnya, penis Renjun mulai dimasukkan ke dalam mulut Haechan, dihisap kuat dengan ujungnya yang dimainkan dengan lidah.

Fuck, Haechie…”

Mendengar erangan-erangan erotis Renjun, Haechan kian semangat memberikan servis terhadap penis kekasihnya itu. Ia hisap kuat, dengan lihai memainkan lidahnya menelusuri batang tegang tersebut, dan sesekali akan bergesekan dengan giginya yang membuat Renjun semakin menjerit.

“Haechan, nghh, suck it more.”

Perintah Renjun dituruti oleh Haechan dengan senang hati. Ia mengeluar-masukkan penis Renjun dari mulutnya dengan cepat. Renjun pun menjambak pelan rambut Haechan untuk melampiaskan rasa nikmatnya tersebut.

Chie, I almost there,” ungkap Renjun disela desahan dan rintihan nikmatnya.

Haechan melepaskan kuluman penis Renjun. Tangannya langsung mengocok kejantanan milik kekasihnya itu dengan cepat.

Do mine too, Ren,” pinta Haechan.

Renjun merubah posisinya menjadi duduk sepenuhnya. Sepasang kekasih itu saling berdekatan, dengan posisi kepala Renjun yang bersandar di bahu Haechan dan tangannya yang mulai memainkan penis Haechan ketika celana si gemini telah turut diturunkan.

“Argh faster, Ren,” Haechan mengerang nikmat merasakan tangan Renjun yang mengocok penisnya dengan cepat.

Kedua pria itu saling memberi servis dengan cepat terhadap kepemilikan satu sama lain. Desahan dan jeritan kian menggaung di dalam mobil yang kini hawa dingin AC bahkan tak terasa.

“C-Chie, ahhh,” Renjun mendesah panjang ketika putihnya tiba. Cairan kental itu mengalir dan membanjiri tangan Haechan, membuatnya lemas dan gerakan tangannya pun melemah.

“Ren, sedikit lagi ya, squeeze mine faster,” titah Haechan dan dituruti oleh Renjun.

Tangan Renjun kembali memijat penis Haechan dengan kuat dan mengocoknya cepat. Sekali pun ia lemas saat ini, namun ia tetap ingin memberikan kepuasan pada kekasihnya.

Yes, Ren, arghh,” erangan berat meluncur dari mulut Haechan seraya cairan putihnya keluar membasahi tangan Renjun.

Haechan dan Renjun sudah sangat lemas. Si gemini lekas mengambil tisu yang banyak, membantu membersihkan tangannya dan tangan Renjun. Tak lupa penis keduanya serta kursi tempat mereka duduk dibersihkan.

“Sebentar senderan di sini dulu, Ren. Aku pakein lagi celana kamu,” ujar Haechan sembari memposisikan Renjun untuk duduk bersandar pada sandaran kursi yang telah kembali ke posisi normal.

Dengan telaten dan hati-hati, Haechan sekali lagi memastikan sekitaran kemaluan Renjun telah bersih. Ia kenakan kembali celana kekasihnya, mengancing kemeja si mungil, serta merapikan rambut gelapnya yang tadi berantakan.

Haechan pun tak lupa merapikan penampilan dirinya yang tadi sama berantakannya dengan Renjun. Hingga keduanya telah kembali rapi, Haechan membawa Renjun ke dalam dekapannya. Dipeluknya erat seraya mengusap punggung mungil itu dengan lembut.

“Makasih ya, Ren,” bisik Haechan dengan lembut. “Did I hurt you in some parts of you?

Renjun menggeleng. Ia tersenyum di dalam dekapan Haechan, merasa hangat mengingat kekasihnya sangat penuh pertimbangan dan rasa hati-hati.

Nope. It felt good tho, Chie. Makasih juga udah nurutin maunya aku yang pastinya ngagetin kamu.”

Pelukan dilepaskan. Haechan dan Renjun saling bertatapan. Kedua tangan Haechan menangkup pipi Renjun dan mengelusnya dengan lembut. Salah satu tangannya diraih oleh Renjun, digenggam erat, sembari netra keduanya masih saling terpaku.

I love your touch so much, sayang,” ungkap Renjun dengan wajah yang bersemu.

Me too. Thank for allowing me to touch you and feel your touch as well,” Haechan balas mengungkapkan perasaannya.

Keduanya saling melempar senyum. Kecupan-kecupan ringan kembali mereka berikan kepada satu sama lain.

“Udah sana turun, terus mandi, istirahat. Makan malam juga kalo mau, ya? Setidaknya bosennya udah hilang, kan?”

Renjun terkekeh dan mengangguk. “Makasih udah bantu ngilangin bosen aku,” ungkap Renjun dan mengecup bibir Haechan sekilas. “Ya udah, aku turun, ya. Kamu hati-hati nyetirnya. Nanti kabarin aku kalo udah sampe. Langsung bersih-bersih, karena pasti lengket tuh,” tambahnya.

“Hahaha, iya iya, sayangku.”


schonewords