Finally.
Hari ini Vano memutuskan untuk melihat Kayla ke rumah sakit, meskipun belum juga ada perkembangan, tapi Vano berharap kali ini istrinya itu bisa terbangun dari tidur panjangnya.
Vano memandikan dahulu putranya agar ketika bertemu Kayla Arsenio sudah wangi.
Vano menghampiri putranya itu yang sedang bermain mobil-mobilan seorang diri “Sayang anak Papa mandi dulu yuk, kan hari ini mau ketemu Mama.”
Arsenio menggeleng.
“Kok gitu? Bau loh kamu belum mandi dari pagi sayang, ayo mandi dulu.” Ucap Vano, masih dibalas gelengan oleng Arsenio.
“Sayang ayo nak mandi dulu.”
“Mama, Mama, Mama.” Ucap Arsenio sambil memakan mobil mainannya.
Vano panik dan langsung merebut mobil mainan itu dari tangan Arsenio “Nak jangan di makan kotor, iya hari ini kita ketemu Mama, makanya kamu harus mandi dulu ya.”
Akhirnya Arsenio mengangguk.
“Nah sekarang anak Papa udah wangi, yuk kita liat Mama.”
Vano mendudukkan putranya itu di kursi depan, lalu memasangkan seat belt agar Arsenio tidak terjatuh saat Vano sedang menyetir nanti, karena Arsenio sekarang sudah mulai aktif dan tidak bisa diam Vano saja sampe pusing melihat kelakuan putranya itu.
Setelah memasangkan seat belt, Vano segera menyalakan mesin mobilnya lalu berangkat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Vano langsung berjalan menuju ruang tempat Kayla di rawat.
Akhirnya setelah beberapa menit berjalan Vano pun sampai di ruangan rawat Kayla, Vano membuka pintu ruangan itu perlahan, terlihat istrinya itu sedang tertidur lelap masih dengan posisi yang sama seperti beberapa Minggu yang lalu, Vano sedih karena belum ada perkembangan mengenai istrinya itu.
Vano berjalan menghampiri Kayla “Sayang, aku bawa Arsen kesini dia katanya kangen banget sama kamu.”
Kayla tetap saja tidak merespon omongan Vano, ia masih tertidur.
Lalu Arsen meminta Vano untuk mendekatkan dirinya dengan Kayla, Vano menurutinya dan menidurkan Arsen di sebelah Kayla. Arsen terlihat senang ia tertawa.
Tangan Arsen beralih memegang tangan Kayla, lalu memeluknya.
“Mama, Mama, Papa, Mama.” Ucap Arsen sembari menatap Vano.
Vano tersenyum sayu kepada putranya itu “Iya sayang itu Mama.”
Tak berapa lama, jari Kayla perlahan bergerak Vano tidak menyadarinya, lalu mata Kayla perlahan terbuka.
Vano yang sedang melihat handphone nya pun langsung kaget dan memeluk Kayla.
“Sayang, kamu bangun?” Ucap Vano langsung memeluk istrinya itu sembari menangis akhirnya setelah sekian lama ia menunggu, Kayla akhirnya sadar.
“Mas i-ini siapa?” Tanya Kayla melirik ke arah Arsen yang tertidur disampingnya.
Vano yang sedang menangis pun langsung mengelap air matanya “itu Arsenio anak kita sayang.”
“Arsenio?” Tanya Kayla bingung.
“Iya Arsenio aku kasih dia nama Arsenio putra Revano, bagus gak?” Balas Vano.
Kayla tersenyum “Bagus kok mas.”
Kayla mengusap rambut Arsen “Anak Mama, kamu sudah besar ya nak. Maaf Mama waktu itu gak ada di samping kamu, gak bisa rawat kamu, Mama bener-bener minta maaf nak.”
“Sayang kamu gak perlu minta maaf, Arsen pasti ngerti.”
“Mas pasti kamu kewalahan ya ngurusin anak kita? Maafin aku ya mas.”
Vano mengusap rambut Kayla lalu mencium keningnya “sayang nggak kok, justru aku seneng banget ngerawat Arsen, dia juga gak pernah rewel.”
“Makasih ya sayang karena kamu udah mau bangun, aku kangen banget sama kamu.” Sambung Vano langsung membawa Kayla dan Arsen kedalam pelukannya.