Maafin aku, sayang.

Vano mematikan handphone nya, dan langsung berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar Vano melihat Kayla sedang melamun ntah memikirkan apa.

Vano berjalan menghampiri Kayla “sayang hei, kok ngelamun? Mikirin apa hm?”

“Eh anu nggak kok.” Jawab Kayla, lalu membenarkan posisinya bersandar di dekat Vano.

“Kamu gak jadi ke Bali?” Tanya Vano sedikit khawatir.

“Nggak, aku udah bilang sama Aksa terus sama Pak direktur yang di Bali mereka izinin.” Jawab Kayla.

“Kamu masak apa? Kelihatannya enak.” Sambungnya lagi.

“Aku masak nasi goreng, aku gak tau makanan kesukaan kamu apa jadi aku masak nasi goreng aja. Gak apa-apa kan sayang? Maaf ya.” Ucap Vano, lalu kepalanya menunduk.

“Gak apa-apa Vano, kita kan belum kenal lama jadi otomatis gak tau makanan kesukaan masing-masing.” Kayla menepuk pundak Vano.

“Iya, mulai sekarang kita harus saling terbuka ya, terbuka dalam hal apapun itu pokoknya jangan ada rahasia rahasian diantara kita berdua ya sayang?” Ucap Vano, lalu beralih mengambil piring dan menyuapi Kayla.

“Iya Vano.” Jawab Kayla tersenyum.

“Aku suapin ya?” Ucap Vano.

Kayla mengangguk.

“Ummmm enak banget.” Puji Kayla.

“Haha siapa dulu dong yang masak nya.” Ucap Vano kegirangan.

“Pede banget.”

“Yaudah sekarang makannya udah habis, kamu istirahat ya? Kamu kurang tidur semalem.” Ucap Vano, lalu menidurkan Kayla, mengusap rambutnya Vano memperlakukan Kayla seperti anak kecil.

“Kamu gak ke kantor?” Tanya Kayla, karena hari sudah semakin siang sedangkan Vano masih memakai baju tidurnya.

“Nggak, aku juga izin tiga hari pengen sama kamu soalnya.” Jawab Vano.

“Maafin aku ya, sayang.” Ucap Vano.

“Minta maaf kenapa Vano? Kamu gak buat salah kok.” Tanya Kayla.

“Aku minta maaf karena semalem.” Ucap Vano jujur.

“Astaga iya gak apa-apa Vano, wajar aja aku juga gak kenapa-napa cuma badanku sakit semua.” Ucap Kayla.

“Nanti malem mau lagi gak?” Ajak Vano, sembari menatap Kayla dengan tatapan yang agak menyeramkan.

“Aduh nggak deh, bisa-bisa aku gak ke kantor sebulan.” Ucap Kayla.

“Haha gak apa-apa kali.” Vano tertawa.

“Nggak mau, Vano nyeremin.” Ucap Kayla lalu menarik selimutnya.