Makan Malam
Vano sudah tiba di kediaman orang tuanya, disana sudah ada Kayla, orang tuanya dan bunda Kayla sedang duduk sambil menunggunya datang.
“Maaf telat.” Ucap Vano tergesa-gesa.
“Kamu kenapa lari-lari?” Tanya Kayla heran.
“Takut udah di mulai jadi buru buru.” Jawab Vano.
Vano kemudian duduk disebelah Kayla sambil sesekali tersenyum menunjukkan eye smile nya.
“Kamu ini lain kali jangan begini dong Van, kasian istri kamu nunggu.” Ucap Andika Papa Vano.
“Iya pa maaf.”
“Minta maaf sama istrimu bukan sama Papa.” Pinta Andika.
“Maafin aku ya sayang, aku terlambat.” Ucap Vano.
Kayla tersenyum “Iya gak apa-apa.”
Jujur saat ini hati Kayla sedang tidak baik-baik saja, karena ucapan Vano tadi membuatnya salah tingkah, tetapi ia malu menunjukannya.
“Yaudah ayok dimakan makanannya keburu dingin.” Ajak Nita.
Mereka semua pun langsung menyantap hidangan yang disuguhkan.
“Jadi kapan kalian kasih kami cucu?” Tanya Andika.
“UHUK UHUKK.” Vano langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Papa nya itu.
“Kamu kenapa Van?” Tanya Nita.
“Minum dulu Van, jangan buru buru makan nya tenang aja.” Ucap Kayla menenangkan.
“Jadi kapan?” Tanya Andika sekali lagi.
“Aduh Pah nanti aja deh, Vano sibuk banget akhir-akhir ini.”
“Sibuk kenapa? Perasaan pekerjaan kantor gak banyak kok, kamu jangan alasan ya Vano.” Ucap Andika.
“Kayla kamu sendiri gimana udah siap?” Tanya Nita.
“Maaf ma Kayla belum siap.”
“Tuh kan Kayla aja belum siap, nanti aja deh ya minta cucunya.” Ucap Vano.
“Kalian ini gimana sih, udah lama loh kalian nikah tapi belum aja kasih kami cucu.”
“Iya sabar dong Pah.” Jawab Vano.
“Gimana mau kasih kalian cucu, aku sama Vano aja gak pernah ngapa-ngapain apalagi tidur satu kamar.” Batin Kayla.