Rumah sakit.
Setelah mendapatkan chat dari Aksa Vano panik bukan kepalang, ia terus memikirkan keadaan Kayla di Jakarta sementara ia hari ini harus meeting dengan klien. Pilihan yang sulit bagi Vano.
Vano memutuskan untuk tidak menghadiri meeting kali ini dan memilih untuk pulang.
Vano segera pergi ke kamar hotel Silvia sekretarisnya untuk memberitahu bahwa ia tidak bisa menghadiri meeting.
Dengan langkah yang sangat cepat Vano menaiki tangga darurat untuk bisa sampai ke kamar Silvia karena jika memakai lift akan memperlambat waktu.
Sesampainya di kamar hotel Silvia Vano mengetuk pintu kamar itu berkali-kali awalnya tidak ada jawaban tetapi selang beberapa menit pintu kamar pun terbuka.
Silvia mulai membuka pintu kamarnya dan kaget ternyata yang mengetuk pintu sedari tadi itu bos nya.
“Maaf pak saya baru bangun, ada apa?” Tanya Silvia sembari menggosok matanya.
“Kamu ini dari tadi saya ketuk tidak ada respon, saya mau pulang istri saya melahirkan meeting tolong wakilkan sama kamu.” Jawab Vano dan langsung pergi meninggalkan kamar hotel Silvia.
Vano telah sampai di Jakarta dan langsung pergi menuju rumah sakit yang tadi Aksa bagikan lokasinya.
“Kenapa? Kenapa harus orang lain yang ada di deket Kayla disaat Kayla mau ngelahirin, bukan gue?” Batin Vano, karena ia sudah berkali-kali mewanti-wanti Kayla jika terjadi apa-apa kabari tetapi hari ini tidak ada satu pesan pun chat dari Kayla.
Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari terburu-buru menuju ruang operasi tidak peduli orang lain menatapnya bagaimana.
Di depan ruang operasi sudah ada Aksa, bunda Kayla, Mamah Vano dan juga Papanya.
“Mah, Pah, gimana Kayla? Kenapa Mamah gak kasih tau Vano kalo Kayla mau ngelahirin kenapa Mah?” Ucap Vano suaranya bergetar karena sangat khawatir dengan Kayla.
Nita menepuk pundak Vano “Kayla lagi di tanganin dokter sayang, maaf Mamah gak kasih tau kamu. Mamah juga gak tau Kayla bakal ngelahirin secepat ini Mamah tadi ninggalin dia sebentar ke supermarket terus tiba-tiba Mamah dapet telfon dari temennya Kayla, Aksa.”
Vano tidak menjawab, ia hanya menunduk, Vano menyesal karena tidak ada di samping Kayla ketika anak mereka akan lahir.
Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi di ruangan operasi itu, Vano langsung berdiri sumringah ketika mendengar suara tangisan bayi itu.
Pintu ruangan operasi terbuka, menampakkan seorang dokter yang menangani Kayla.
“Mohon maaf, suaminya ibu Kayla yang mana ya?” Tanya dokter itu.
Vano langsung mengacungkan tangannya “saya dok.”
Dokter itu tersenyum semu kepada Vano “selamat ya pak, anak bapak telah lahir, laki-laki sehat, sempurna. Tetapi-” dokter itu menjeda ucapannya.
“Tapi apa dok?” Vano mengguncangkan pundak dokter itu.
“Ibu Kayla koma, sejak di bawa ke rumah sakit ibu Kayla dalam keadaan pingsan.”
Vano shock air matanya tidak bisa dibendung lagi, Vano menangis memeluk Mamanya.
“Ma...” Rintih Vano.
“Kamu yang sabar ya nak, Mamah yakin Kayla pasti bangun.” Ucap Nita menenangkan.
Sementara itu bunda Kayla yang mendengar ucapan dokter itu langsung pingsan untung saja Aksa berhasil menahannya.
“Sus bawa ibu itu ke IGD.” Ucap dokter.
“Baik dok.” Ucap suster itu dan segera membawa bunda Kayla ke IGD.
“Kayla sayang, maafin aku karena gak ada disamping kamu.” Ucap Vano lirih.