Sakit
Setelah Vano membaca chat nya, Kayla memutuskan untuk tidur ini benar benar hari yang melelahkan bagi Kayla. Tidak peduli Vano ada dimana toh dia juga sudah menyepam chat kepada Vano tetapi Vano hanya membaca chat nya.
Selang beberapa jam, Vano akhirnya pulang ia pulang dengan keadaan basah kuyup entah sudah dari mana. Vano berfikir kenapa Kayla tidak mengunci pintu rumah jika ada orang jahat yang masuk bagaimana?
Vano langsung membuka pintu kamar Kayla pelan, ia melihat istrinya itu sedang tertidur pulas. Ia baru sekali masuk ke kamar Kayla terlihat kamarnya begitu bersih, rapi, tidak ada debu sedikitpun walaupun akhir akhir ini Kayla sibuk bekerja tetapi pekerjaan rumah selalu ia dahulukan. Vano bangga mempunyai istri seperti Kayla.
Vano berjalan menghampiri Kayla yang sedang tertidur lalu mengusap rambut nya pelan “Maafin gue.”
Setelah itu Vano keluar dari kamar Kayla, dan pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Vano langsung merebahkan dirinya di atas ranjang lalu tertidur dengan keadaan basah kuyup.
Seperti biasanya setiap pagi Kayla bersih bersih rumah, sebelum berangkat ke kantor. Ia tidak tahu apakah Vano sudah pulang atau belum, Kayla memutuskan untuk membersihkan kamar Vano terlebih dahulu agar ketika nanti Vano pulang kamarnya sudah bersih dan rapi.
Kayla membuka pintu kamar Vano pelan, dan melihat sepatu, kaos kaki berserakan, lantai juga basah.
Kayla berjalan menghampiri tempat tidur Vano, dan benar saja ada Vano yang sedang menggigil kedinginan di balik selimutnya.
“Vano kamu kenapa.” Tanya Kayla, Kayla mendekat lalu meletakkan tangannya di atas jidat Vano.
“Dingin.” Jawab Vano mulutnya bergetar.
“Badan kamu panas banget Van, kamu habis dari mana semalem? Aku kira kamu gak pulang.” Ucap kayla.
Vano tidak menjawab.
“Yaudah tunggu aku kompres, aku ke dapur dulu ya bawa air hangat nya.” Sambungnya lagi lalu pergi menuju dapur.
Vano hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian Kayla datang membawa air hangat untuk kompresan.
“Maaf ya.” Kayla menempelkan kompresan di atas jidat Vano.
“Di- dingin.”
“Iya Vano sabar ya.” Ucap kayla menenangkan.
“Lain kali jangan hujan hujanan lagi ya Van? Aku gak mau kamu sakit, kalo kamu marah sama aku marah aja aku gak apa apa kok.”
“Ma-af” Jawab Vano dengan mulut yang masih bergetar.
“Iya gak apa apa, udah kejadian juga kan?” Ucap kayla tersenyum.
“Aku ke dapur dulu ya.”
“Mau apa?” Tanya Vano.
“Masak bubur buat kamu, kamu pasti laper kan dari semalem belum makan?” Jawab Kayla.
“Iya.”
“Yaudah tunggu sebentar ya, kalo ada apa-apa chat aja, kamu gak boleh dulu berdiri.” Pinta Kayla, lalu pergi meninggalkan Vano ke dapur.
“Kayla lo bener bener istri yang baik, gue beruntung bisa jadi suami lo.” Batin Vano.
Selang beberapa lama Kayla datang, membawa semangkuk bubur dengan obat.
“Nih buburnya udah mateng, makan dulu ya biar cepet sembuh.” Ucap Kayla dengan nada seperti ibu yang sedang mengurus anaknya dikala sedang sakit.
Vano tersenyum lalu mengangguk.
“Aaaa ayo dong biar cepet sembuh.”
Vano membuka mulutnya lalu memakan bubur masakan Kayla.
“Bagus makannya habis, sekarang minum obat ya?”
“Iya ibu.” Jawab Vano tersenyum menunjukkan eye smile nya.
“Lucu banget sih.” Ucap Kayla gemas lalu mencubit pipi Vano.
Setelah makan, dan minum obat Kayla kembali memeriksa keadaan Vano.
“Syukurlah udah reda panasnya, sekarang tidur ya?” Pinta Kayla.
“Jangan kemana mana, temenin.” Vano memohon seperti anak kecil.
“Iya iya aku temenin.” Jawab Kayla.
Vano tertidur lelap, Kayla senang ia bisa sedekat ini dekat Vano, bisa mengurus Vano, momen ini yang selalu Kayla harapkan dan akhirnya terjadi.
“Cepet sembuh, suamiku.” Batin Kayla, sembari mengusap rambut Vano.