Sarapan
Seperti biasa setiap pagi Kayla selalu sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan vano, karena hari ini adalah hari pertama Kayla bekerja jadi kayla bangun lebih pagi agar tidak kesiangan.
Sebelum memasak, kayla juga sudah cuci baju, nyapu, nyetrika baju, mengepel, semua pekerjaan rumah sudah ia bereskan, sendiri. Karena vano mana mau membantunya, vano jika pulang hanya mandi, makan, ke kamar, entah apalagi yang vano lakukan kayla tidak tahu. Selama menikah kayla dan vano tidak pernah tidur satu ranjang, bahkan saling bersentuhan pun terakhir kali sewaktu selesai ijab qobul.
Kayla sebetulnya sedih karena ia diperlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri, tetapi kayla mengerti apa yang vano rasakan saat ini. Ia akan terus berusaha mencairkan hati suaminya yang sedingin kutub Utara dan akan berjuang mempertahankan rumah tangganya ini walaupun hanya ia sendiri yang berjuang.
Makanan sudah siap tertata rapi di meja makan.
“Vano kok belum bangun ya? Biasanya kalo setiap aku selesai masak pasti dia langsung duduk di meja makan.” Batin kayla, karena tumben sekali hari ini vano tidak bangun lebih awal seperti biasanya.
Kayla memutuskan untuk membangunkan suaminya itu, karena jika tidak makanan yang sudah ia masak menjadi dingin dan tidak enak untuk dimakan.
Sesampainya di depan kamar vano, Kayla gugup ia takut sekali masuk ke dalam kamar suaminya itu, ia takut di anggap lancang tetapi sebetulnya wajar saja karena vano adalah suaminya sendiri.
Kayla mulai membuka pelan pintu kamar vano “Vano maaf aku lancang masuk ke dalam kamar kamu.” Ucapnya pelan sangat pelan karena takut mengganggu.
Benar saja ketika kayla mulai memasuki kamar vano, vano masih tertidur pulas di tutupi oleh selimut nya.
Kayla mendekat memegang tangan vano “Vano bangun, udah siang kamu kan harus ke kantor.” Ucap kayla pelan.
Tangan vano langsung bergerak memegangi pinggang Kayla, tetapi matanya masih tertutup. Vano menarik pinggang kayla mendekapnya erat seolah tidak ingin kehilangan.
Kayla kaget, sekaligus ia senang karena baru kali ini Revano memeluknya walaupun Revano tidak sepenuhnya menyadari.
Selama di peluk vano, kayla tidak memberikan bantahan, atau ocehan karena vano lancang memeluknya, kayla hanya tersenyum sesekali mengusap rambut vano.
20 menit berlalu, Revano akhirnya membuka matanya pelan, ia sontak kaget karena ia bangun sambil memeluk Kayla. Kayla juga nampak tertidur kembali padahal ia tadi berniat untuk membangunkan vano.
Vano tersenyum mengusap pelan rambut indah kayla, setelah itu ia sadar apa yang telah ia lakukan.
“Vano Lo apa apaan sih.” ucap vano dan langsung membangunkan paksa Kayla.
“Heh bangun, lo ngapain ada di kamar gue?”
Kayla langsung membuka matanya kaget “Maaf aku lancang masuk ke kamar kamu, aku cuma mau bangunin kamu aja, terus kamu narik pinggang aku dan peluk aku, aku juga kaget kenapa bisa aku tidur lagi, maafin aku vano.” kayla langsung beranjak dari tempat tidur vano dan turun ke dapur.
“Lo apa apaan sih Kayla, ya Allah.” Batinnya menggerutu kesal tetapi juga ia senang karena vano memeluknya walaupun dengan kondisi setengah sadar.
Setelah mandi vano langsung turun ke ruang makan menghampiri Kayla.
“Sarapan dulu Van.” ucap kayla canggung.
“Hm” balas Revano.
Mereka berdua sarapan bersama dengan suasana yang masih canggung karena kejadian tadi.
Kayla buru buru menyelesaikan sarapannya, karena ia takut telat ini adalah hari pertama dirinya bekerja.
“Van aku berangkat kerja dulu.” pamit kayla mengulurkan tangannya untuk mencium tangan vano.
“Gak perlu, sana berangkat.” Ucap vano ketus.
Kayla hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Revano yang sedang sarapan di meja sendirian.