Terlanjur kecewa.

Setelah mengetahui bahwa ternyata foto itu ada di dalam sebuah aplikasi, dan Vano langsung memutuskan Kiara, Vano bergegas pergi ke rumah Yuna ibunda Kayla.

Vano ingin meminta maaf kepada Kayla, karena dirinya yang sudah keterlaluan mengusir Kayla dari rumah disaat Kayla sedang hamil. Kini Vano menyesal dengan sikap yang telah ia perbuat.

Vano menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya selalu tertuju kepada Kayla, air matanya perlahan mengalir dengan sendirinya.

“Bodoh gue bodoh, kenapa-kenapa ini harus terjadi.” Vano memukul stir mobilnya berkali-kali.

Beberapa menit berlalu, kini Vano sudah sampai dikediaman ibunda Kayla, Vano berjalan ragu karena ia merasa sangat bersalah kepada Kayla.

TOK TOK

Vano mengetuk pelan pintu rumah Yuna, berharap Kayla yang membukakan pintu.

Tak berapa lama, pintu rumah pun terbuka, menampakkan ibunda Kayla.

“Nak Revano, ada apa kemari?” Tanya Yuna basa-basi.

“Bunda maaf apa Kayla nya ada?” Ucap Vano.

“Ada apa kamu mencari Kayla?”

“Saya mau meminta maaf sama Kayla Bun, saya menyesal.” Ucap Vano, lalu berlutut memegang tangan Yuna.

“Eh-eh nak Vano jangan begini nak, ayo berdiri.” Pinta Yuna, sambil menarik tangan Vano untuk berdiri.

“Nggak Bun, saya juga mau minta maaf sama Bunda karena sudah menyakiti anak Bunda, saya menyesal karena sudah terpengaruh omongan orang lain, saya menyesal.”

“Bunda sudah maafkan nak, ayo berdiri jangan begini.” Ucap Yuna menepuk pundak Vano.

“Saya boleh bertemu Kayla?”

“Boleh nak, tunggu sebentar.”

Yuna berjalan memasuki rumah, hendak memanggil Kayla.

Kayla sedang duduk di meja riasnya, sambil sesekali mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Anak Mama, sehat-sehat di dalam perut ya nak. Mama gak sabar pengen ketemu kamu.”

“Kayla, Kayla.” Panggil Yuna.

“Iya Bun, aku di kamar.”

Yuna memasuki kamar Kayla, lalu berjalan menghampiri Kayla yang sedang duduk manis di meja riasnya.

“Sayang, ada suami kamu di luar.” Ucap Yuna.

“Ada Vano diluar Bun?” Kayla kaget, mengapa tiba-tiba Vano ada disini.

“Iya dia katanya pengen ketemu kamu, dia mau minta maaf sama kamu.”

“Aku gak mau ketemu Vano Bun.”

“Ayo nak temui suami kamu, kasian dia daritadi nunggu kamu.”

“Maaf Bun, aku gak bisa. Aku udah terlanjur kecewa sama Vano.” Ucap Kayla memohon.

“Aku mohon ya Bun, tolong hargai keputusan aku.” Sambungnya lagi.

“Yasudah, Bunda temui Vano dulu ya nak.” Ucap bunda Kayla yang hanya di balas anggukan oleh Kayla.

“Maaf nak, Kayla tidak mau bertemu kamu. Kayla sudah terlanjur kecewa, lebih baik kamu pulang udah mau hujan nanti kamu sakit nak.” Pinta bunda Kayla, karena mau bagaimanapun dirinya tidak akan mungkin memaksa Kayla untuk bertemu dengan Vano.

“Nggak Bun, saya mau nunggu Kayla disini sampai dia mau bertemu saya. Saya mohon.”

“Yasudah ayo masuk jangan di luar, nanti kamu sakit.”

“Saya nunggu diluar aja.”

“Baiklah, bunda masuk dulu ya nak, jika kamu butuh apapun hubungi saja bunda.

Vano hanya mengangguk.

Hari sudah menjelang malam, langit sangat gelap, suara petir sedari tadi tidak berhenti, sampai akhirnya hujan pun turun.

Vano masih tetap dengan pendirian nya yaitu menunggu Kayla sampai dia mau bertemu dengannya, meskipun cuaca sangat dingin Vano tidak akan pulang.

“Kayla, a-aku moh-hon temui a-aku.” Ucap Vano, bibirnya bergetar karena kedinginan.

Disisi lain Yuna dengan Kayla menatap Vano, Kayla menatap Vano sedih Kayla kasihan dengan Vano yang kedinginan diluar sana, tetapi Kayla juga tidak ingin bertemu Vano karena dirinya terlanjur kecewa.

“Nak, ajak masuk suamimu kasihan dia kedinginan.” Pinta Bunda Kayla.

“Biarin aja Bun.” Jawab Kayla, lalu pergi ke kamarnya.


Hari sudah pagi, matahari sudah bersinar terang, Yuna sedang siap-siap untuk pergi ke pasar.

Disaat Yuna membukakan pintu depan, terlihat Vano yang sedang tertidur di lantai dengan bibir yang bergetar, wajah pucat.

“Ya Allah nak Vano, kamu semalaman tidur disini nak, astagfirullah.” Ucap Bunda Kayla kaget, ternyata Vano masih tetap disini bahkan sampai tidur di lantai.

“Kayla, Kayla nak sini.” Teriak Yuna.

Kayla menghampiri “Ada apa bun?”

“Lihat suamimu, dia tidur diluar semalaman, badannya panas, ayo kita bawa ke dalam.”

Vano di tidurkan di kamar Kayla, lalu Kayla mengompres Vano dengan air hangat.

“Vano kenapa kamu nekat sih?” Tanya Kayla.

Vano tidak menjawab, karena Vano masih tertidur.

Tak berapa lama Vano akhirnya terbangun.

“Gue ada dimana.” Batinnya.

“Kamu udah bangun, ayo makan dulu.” Ucap Kayla berjalan mendekati Vano.

“Ka-ayla.” Vano langsung memeluk Kayla, menangis kencang, sembari mengeluarkan beribu-ribu kata maaf.

“Maafin aku sayang, maafin aku. Maafin aku karena udah gak percaya sama kamu, maafin aku karena dengan mudahnya terpengaruh omongan orang lain, aku nyesel, aku minta maaf.”

“Sekarang aku percaya sama kamu sayang, aku minta maaf, aku gagal menjadi suami kamu, aku gagal menjadi Papa untuk anak kita aku minta maaf. Aku janji aku akan perbaiki semuanya aku akan ada terus disisi kamu.”

Kayla tersenyum, lalu menepuk pundak Vano pelan. “Udah Vano udah, sekarang udah jelas kan? Aku gak ngelakuin hal itu, anak yang aku kandung ini anak kamu, bukan anak orang lain.”

“Iya sayang, aku percaya. Kamu mau kan maafin aku?” Ucap Vano memohon.

“Iya aku maafin kamu, tapi aku gak mau kejadian kayak gini terulang lagi.”

“Iya sayang aku janji kejadian ini gak akan pernah terulang lagi.” Ucap Vano, lalu memeluk Kayla lagi kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.

“Vano udah ih engap dedek bayinya.”

“Oh iya lupa hehe, maafin Papa ya sayang.” Vano mengelus lembut perut Kayla.

“Iya Papa gak apa-apa.” Kayla tertawa.

CUP.

“Ih Vano kok gak bilang-bilang sih kalo mau cium.” Ucap Kayla kesal, lalu membalikkan badannya membelakangi Vano.

“Kalo aku bilang, kamu pasti gak mau.” Ucap Vano memeluk Kayla dari belakang.

Kayla tersenyum, akhirnya permasalahan ini selesai ia lega karena Vano sudah menyadari kesalahannya.