cinta salah alamat


Woonhak turun dari motornya sambil menatap layar handphonenya bingung. Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa tiba-tiba semua yang terjadi kayak asing banget buat dia.

Sebulan ini, dia dan kakak gantengnya jadi rutin chattingan, bertukar kabar, bertukar foto, bahas hal-hal gak penting sampai hal-hal penting.

Selama ini Woonhak naksir berat sama cowok cantik ganteng yang duduk di tribun utara pas Riki dan team Rugby nya tanding.

Waktu itu, kakak berhoodie abu-abu itu terlihat excited menikmati pertandingan, dan Woonhak malah terjerat pesonanya. Woonhak suka liat senyum dan tawanya. Woonhak juga suka gimana si kakak berhoodie abu itu terlihat semangat banget saat permainan makin panas.

Tapi entah mengapa chat masuk ke WhatsAppnya membuatnya panas dingin?

Pasalnya, tiba-tiba ada nomor kosongan ngabarin Woonhak ngakunya Riki pakai nomor kak Sunghoon. Lah terus selama ini siapa yang chattingan sama Woonhak kalau bukan Kak Sunghoon? Avanya beda meskipun mirip banget. Bedanya kayaknya di hidung mancung mereka deh, yang satu ada tahi lalatnya yang satu enggak.

Woonhak tambah bingung lagi baca bubble text terakhir dari kakak gebetannya. Si kakak ganteng juga malah bingung pas Woonhak bilang gak sabar ketemu kak Sunghoon. Sunghoon itu nama dia kan? Kenapa dia bingung?

Kayaknya ada yang gak beres deh dan Woonhak jadi takut.

Pas Woonhak masuk ke toko ramen 1, Woonhak bisa lihat seseorang yang cukup familiar lagi duduk sambil main handphone di kursi pojok. Gak pake basa-basi dia segera datang menghampirinya.

“Kak, maaf lama ya”

Kakak ganteng itu menengadah natap Woonhak sambil senyum, senyumnya persis kayak yang dia lihat pas pertandingan rugby bulan lalu.

“Woonhak ya? Duduk dulu. Riki lagi mesen, tunggu aja ya”

Woonhak duduk dengan canggung lalu membiarkan si kakak ganteng itu berbasa-basi dengannya perihal lalu lintas hari ini.

Ada yang aneh.

Wajah kakak ganteng ini sedikit lebih dewasa dari yang sering dia lihat di WhatsApp. Point plusnya adalah, kakak ganteng ini gak pakai hoodie abu-abu, justru malah pakai jaket jeans berwarna putih gading dengan jam tangan berwarna hitam yang melingkar. Ini bukan seseorang yang tadi ngirim foto ke dia kalau dia sudah sampai di tempat ketemuan.

Woonhak makin panas dingin. Dia betulan takut. Kalau bukan kak Sunghoon, jadi selama ini, dia chattingan sama siapa?

Lalu pas kepala Woonhak berisik mikirin banyak pertanyaan konyol, tiba-tiba Riki datang nyamperin meja mereka dan tanpa aba-aba ngecup kepala kakak ganteng di depannya agak mesra. Si kak Sunghoon itu senyum doang sambil ngusap lengan Riki yang peluk dia dan abis itu si cowok Jepang langsung duduk kayak gak punya dosa padahal bola mata Woonhak nyaris lompat gara-gara lihat pemandangan itu.

“Gue pesenin hot ramen sama lemon tea kayak biasa ya. Side dishnya gyoza”

Woonhak pucat pasi. Anjing nih cowok Jepang, jangan jangan dia dikibulin?

“Kita bertiga aja nih?” Dih si tai, nada bicara Woonhak jadi sumbang gara-gara grogi.

Riki anak setan itu ketawa sok cool setelah ngambil duduk di bangku sebrang Woonhak, tanpa dosa dia ngerangkul kakak ganteng di sebelahnya, “Kak Taesan lagi di toilet”

WHO'S THE FUCK KAK TAESAN, ANJING?

Dari bawah meja, Woonhak udah siap-siap nendang Riki kalau gak inget ada kakak ganteng di sebelah si setan. Maka, Woonhak tarik Riki buat berdiri dan ngobrol di pojok dekat jendela.

“Ki, anjing! Maksud lu apaan dah? Kok kak Sunghoon kak Sunghoonnya jadi beda gini anjing?”

“Chill bro, gue mau jujur sama lo hari ini. Sorry ya kalau gue keterlaluan. Kontak yang gue kasih ke lo itu bukan nomor kak Sunghoon, sebenarnya. Itu nomor adeknya, Kak Taesan. Dia staff magang di tata usaha gedung cowok, sedangkan kak Sunghoon, pacar gue, dokter di UKS gedung cewek. Pas lo bilang ada orang ganteng pake hoodie abu dan lo naksir, gue langsung ketar-ketir akhirnya gue tumbalin nomor kak Taesan ke lo”

Ah sialan. Jantung Woonhak beneran berhenti. Darah gak ngalir sampai otak, ngestuck di jantung. Dia beneran kaget sekaget-kagetnya.

“Ki… gue lemes ki, yang bener aja Ki? Selama ini gue ngasih bunga dan lain-lain, kirim pap dan lain-lain, saling kirim gofood dan lain-lain itu ke siapa anjing Riki?!”

Woonhak mukulin lengan Riki membabi buta membuat Riki tertawa sambil mengaduh, “sumpah Nak gue minta maaf haha gak salah alamat itu anjing, semuanya lo kasih ke kak Taesan”

“Anjing Riki pantesan orangnya awal-awal gue chat jutek banget bangsat?! Gue malu!!”

“Lagian kalian udah saling naksir gak sih, Nak? Gapapa lanjutin aja!”

“Gak lah bego, gue naksirnya sama Kak Sunghoon! Cowok pake hoodie abu-abu pas pertandingan rugby!”

“Ya kak Taesan juga pake abu-abu bangsat, dia duduk sebelahnya kak Sunghoon”

“Tapi gue naksirnya kak Sunghoon anjing! Pas dia senyum tadi, gue inget persis itu senyum yang gue lihat pas pertandingan rugby”

“Jadi selama ini salah alamat?”

Baik Riki maupun Woonhak langsung noleh ke belakang. Alamak! Ini beneran orang yang dia lihat di WhatsApp selama ini. Cowok cantik kayak kucing pakai hoodie abu-abu kayak yang tadi dikirim ke room chat Woonhak. Mampus, Woonhak makin gemeter.

“Sorry kak Taesan nunggu lama ya? Ini si Woonhakㅡ”

“Oh jadi selama ini maksudnya kirim bunga dan coklat ke kak Sunghoon? Yang selama ini dipuji ganteng cantik dan lain-lain itu maksudnya buat kakak gue, iya?”

Sialan, Nishimura Riki anak anjing.

“Gaㅡgak gitu kak, maksudnya…gak tahu”

Taesan mendecih, “Kok bisa gak tau? Naksirnya kan sama kak Sunghoon, bukan gue? Salah alamat dong ya?”

Riki jadi kikuk sendiri. Dia buru-buru nyamperin Taesan dan minta maaf sebesar-besarnya sampai keliatan bocah itu bungkuk bungkuk buat minta maaf. Tapi Woonhak tahu Taesan cuma lihatin Woonhak aja kayak minta penjelasan yang Woonhak juga gak bisa jelasin. Di prank kayak gini bikin dia pusing dan gak bisa ngapa-ngapain. Dia kaget beneran sampe gak bisa berkata-kata. Woonhak ngintip dikit liat sorot mata kak Taesan yang lagi natap ke arah dia, sedikitnya Woonhak nangkap ada sorot kecewa dan sedih diantara amarahnya.

Gak tahu, Woonhak gak ngerti. Dia naksir kak Sunghoon tapi ternyata yang selama ini ia kejar bukan Kak Sunghoon tapi orang lain?

Terus apa? Terus gimana? Woonhak udah gak punya muka sebenarnya.

“Gue pulang deh, Ki”

Dan Woonhak gak bisa ngapa-ngapain saat lihat kak Taesan pergi gitu aja meskipun sempat ditahan kak Sunghoon dan Riki.