Sharlyn


taesjae hybrid from the hybrid chronicles universe, spesial my baby moots's bday


Tecan loves Je so much, tapi karena dia adalah kucing, dia tidak terlalu gamblang menyatakan perasaannya.

Malam itu, Je mengirimi banyak sekali pesan pada Tecan, Je bilang dia dan ibu habis membuat coklat. Ini kali pertama Je membuat coklat sendiri bersama ibu, biasanya hanya beli di minimarket. Rasanya seru, menyenangkan dan melelahkan.

Rasa coklatnya enak, mirip seperti yang dijual di minimarket, bedanya hanya bentuk coklatnya saja yang sedikit abstrak karena Je tentu merecoki ibu dengan semangat.

Hybrid golden retriever itu sangat bersemangat dan riang gembira dari malam hingga pagi besoknya. Ia tidak sabar membagikan coklat hasil karyanya pada teman-teman, tentu Taesan ada di nomor pertama. Je tidak memberikan coklat pada semua teman sekelas, coklat yang tersisa hanya sedikit karena ibu juga memberikannya pada pacarnya; padahal bulan valentine sudah lewat empat bulan lamanya.

Je hanya mengantongi lima buah coklat saja. Dua untuk tecan, satu untuk Zhanghao, satu untuk Wonyoung dan satu untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya Je masih punya coklat di rumah sih, tapi ibu bilang itu untuk stock cemilan Je.


Pagi itu, Je diantar ibu, tidak dijemput dengan mobil sekolah. Alhasil, Taesan menunggu Je di depan kelas. Biasanya Je dan Tecan akan duduk sebelahan di mobil sekolah, Je akan menyambutnya dengan senyum lebar dan tawa yang ceria ketika Tecan membuka pintu. Tapi hari ini, Je bilang ia diantar ibunya. Jadi, Taesan menunggu. Menunggu Je di depan pintu kelas sambil tersenyum tipis menjawab sapaan teman-teman sekelas yang baru tiba.

Telinga kucing Taesan berdiri saat mengenali sebuah mobil putih parkir tepat di depan gerbang sekolah, oh itu Je, katanya dalam hati.

Ia menegakkan duduknya, kedua tangannya meremat tali ransel yang ia gendong lalu berjalan sedikit cepat menuju gerbang sekolah.

Je, si hybrid golden retriever itu turun dengan semangat, dengan baju serba kuning cerah ceria dan kepalanya dihiasi oleh topi yang membuatnya semakin lucu. Wangi dari parfum dan minyak telon bisa Tecan cium dari jarak ini, Je menarik ranselnya lalu melambai pada Taesan.

Ibu Sharlyn, ibu Je, turun dan mengusap rambut Taesan untuk menyapa. Setelah diberi sedikit wejangan untuk tidak nakal, skip makan siang dan membuat onar, ibu akhirnya melambai, pergi bekerja meninggalkan Je sekolah.

“Halo tecan!”

Taesan tersenyum kecil lalu menggumam. Taesan mengulurkan tangannya lalu dengan senang hati Je menggenggam tangan itu, keduanya berjalan dengan lucu beriringan penuh cinta masuk ke kelas.

“Je happy!”

“Oh iya”

“Tecan nanti coba coklat Je ya! Enak sekali-!! Je happy membuat coklat dengan ibu”

“Iya”

“Je gives you two, it's secret hihihi” Jaehyun cekikikan setelah membisikan rahasia kalau Taesan spesial dan akan mendapatkan dua coklat, sedangkan Taesan hanya tersenyum malu sambil mengangguk.


Si kecil golden retriever itu bergegas membuka ranselnya setelah dua sahabatnya; Zhang Hao dan Wonyoung tiba. Tangan gendut nan buntet yang menggemaskan itu segera membagikan coklat lucu berbentuk hatiㅡ meskipun sedikit penyokㅡ kepada tiga temannya yang sudah duduk melingkar di bangku sekolahnya.

“Lho kok Taesan dapat dua, Je? Hao juga mau dua!!”

“Ih, Tecan dapat dua karena Je titip untuk Ihan, saudara Tecan” katanya berbohong, tentu Taesan sempat manyun, tapi teman-temannya tidak boleh tahu kalau dia spesial.

“Coklatnya ada isinya ya?”

“Iya!! Ada strawberry jam nya disana hihi, Je bantu ibu membuat coklat ini semalam, Je hebat kan?”

Zhang Hao dan Wonyoung mengangguk mengiyakan, membuat si kecil itu membusungkan dada karena bangga. Zhang Hao dan Wonyoung memuji Je karena coklatnya enak. Mereka menghabiskan makanan manis itu dengan lahap membuat hati Jaehyun menghangat.

“Enak, tecan?”

Ekor Je dan Taesan bergoyang kesana-kemari excited, Taesan menyukai coklat pemberian Je, maka ia mengangguk membuat Jaehyun memekik senang sambil memeluknya. Telinga Taesan semakin tegak, ekornya juga bergerak semakin acak. Efek jantungnya yang bertalu ribut ini membuatnya tidak swag ya.


Siang itu, Je yang sedang bermain capung di depan kelas bersama hybrid anjing lainnya bergegas masuk setelah mendengar kabar bahwa Taesan mencakar Sungho, seorang teman hybrid ragdoll yang memiliki mata cantik. Teman-teman sekelas mencoba melerai pertengkaran dua hybrid kucing yang sibuk melempar desis dengan sorot mata bengis itu.

Je segera menarik Taesan saat anak itu maju untuk mencakar tangan Sungho lagi, “TECAN, DON'T!”

Taesan menggertakkan giginya marah dan Sungho yang sedari tadi defensif pun ikut emosi, “Aku sudah minta maaf!!”

“Tapi kamu menyebalkan!”

“Tapi aku tidak sengaja dan aku sudah minta maaf-!! Aku adukan kamu ya ke Miss Giselle biar mamimu dipanggil ke sekolah dan kamu tidak bisa ikut singing class!!”

Ekor Taesan berdiri, ugh Park Sungho menyebalkan! Skip singing class artinya ia tidak bisa melihat Jaehyun nyanyi dan menari dengan lucu di depan kelas, padahal itu hal favoritnya selama sekolah.

“Ini ada apa sih? Je tidak mengerti why Tecan attack him”

Taesan manyun lalu segera pergi, tak mengindahkan Jaehyun, Zhang Hao dan Wonyoung yang sibuk memanggil namanya.


Taesan sebal. Taesan benci pindah rumah, Taesan benci pindah sekolah, Taesan benci harus berteman dengan anak-anak asing dan baru, Taesan benci semua anak yang menyebalkan di kelas. Taesan tidak suka Park Sungho. Kucing ragdoll itu menyebalkan. Taesan mendengus, ia semakin sebal saat tangannya menyentuh saku celananya. Taesan duduk di bangku taman belakang sekolah, dengan ekspresi marah bercampur sedih yang kentara.

Taesan mengeluarkan coklat dari dalam sakunya. Coklat pemberian Jaehyun yang ia simpan di dalam tasnya. Jaehyun memberinya dua coklat meski harus berbohong pada Hao dan Wony. Taesan harusnya bisa menjaga coklat ini dan ia makan di rumah setelah memamerkannya pada mami, tapi si kucing ragdoll itu, ugh sebal sekali jika Taesan mengingatnya.

Miss Giselle sudah berkali-kali mengingatkan kalau mau lari-larian itu jangan di dalam kelas tapi Park Sungho dan tiga temannya malah main bola disana. Sebenarnya Taesan tidak terganggu sedikitpun jika saja Park Sungho tidak menyenggol ranselnya membuat seluruh isinya tumpah keatas lantai dan menginjak coklat yang ia jaga.

Telinga kucing Taesan layu. Coklat dalam genggamannya sudah hancur karena terinjak. Ia tidak bisa menjaga dan memakan pemberian dari Jaehyun sahabat favoritnya. Taesan marah, ia berteriak lantang pada Sungho sambil mencakarnya. Karena Sungho sama-sama hybrid kucing, ia tentu membalas Taesan.

Sungho sudah minta maaf, memang. Tapi Taesan rasa permintaan maafnya tidak tulus karena Sungho minta maaf sambil sewot, Taesan tidak terima.

“Tecan?”

Je pelan-pelan duduk di samping Tecan yang masih memancarkan aura negatif. Kucing itu membuang muka enggan menatap Je.

Jaehyun mengusap bahu Taesan yang marah lalu memeluknya, “Jangan marah-marah terus, ibu bilang nanti sakit dan pusing”

“Aku benci Sungho!”

“Iya... Nanti Je beritahu Miss kalau Sungho bermain bola di kelas dan kena Taesan”

Taesan menggeleng lalu menunduk, “tidak kena...”

“Terus kenapa Tecan menyerang Yeppi?”

Ugh Taesan semakin benci pada Sungho setelah Je menyebutnya dengan pet name favorit Sungho.

Pelan-pelan, Je melihat Taesan membuka genggaman tangannya. Hybrid kucing itu semakin lesu, “look... Coklat darimu hancur, diinjak si itu!”

Je terkejut, oh jadi Taesan marah karena ini?

“Dia lari-lari di kelas, menyenggol ranselku sampai semua isinya berserakan, lalu dia injak coklatku! Aku benci!”

Je bisa mendengar Taesan mendesis kesal disela-sela ceritanya lalu Jaehyun terkikik geli. Hybrid kucing selalu menggemaskan.

Jaehyun merebut coklat hancur itu lalu ia ganti dengan coklat yang baru.

“Je tadi curi-curi dari ibu, ibu suruh Je ambil satu saja tapi Je ambil tiga hihihi. Ini for Taesan, jangan marah lagi. Je bisa membuatkan Taesan coklat banyak banyak banyak banyak!! Tapi, menyerang teman itu bad boy, Taesan bukannya good boy ya?”

Taesan mengangguk.

“Je hanya berteman dengan good boy dan good girl, kalau Tecan masih menyerang teman begitu apalagi temannya tidak sengaja dan sudah minta maaf, Je tidak mau berteman lagi ah”

Taesan buru-buru memegang lengan Jaehyun sambil menggeleng, “iyaa good boy! Aku janji tidak menyerang lagi”

Jaehyun tertawa kecil lalu mengangguk, “itu baru tecannya je, hihihi. Nanti temui Yeppi dan minta maaf juga ya sudah mencakar dia. Tadi Yeppi sudah bereskan ransel Taesan dan dia menyesal”

Taesan mengangguk. Ia pandangi coklat baru diatas telapak tangannya lalu tersenyum. Akhirnya ia masih bisa memamerkan coklat buatan Je pada mami, dan makan didepan Ihan yang pasti akan merengek minta juga.

cup.

Taesan seketika diam membeku saat Jaehyun mengecup pipinya sedikit lama. Taesan juga masih membeku saat Jaehyun memeluknya dan mengusakkan wajahnya pada bahu Taesan.

“Je loves tecan so much, jangan bertengkar ya, je tidak mau tecan sakit dan terluka”

Oh, mami, kenapa jantung Taesan bertalu-talu lagi?

“OUCH! WHY YOU ALWAYS PULL JE'S EAR?!!!”

fin..


taesjae hybrid from the hybrid chronicles universe, spesial my baby moots's bday


Tecan loves Je so much, tapi karena dia adalah kucing, dia tidak terlalu gamblang menyatakan perasaannya.

Malam itu, Je mengirimi banyak sekali pesan pada Tecan, Je bilang dia dan ibu habis membuat coklat. Ini kali pertama Je membuat coklat sendiri bersama ibu, biasanya hanya beli di minimarket. Rasanya seru, menyenangkan dan melelahkan.

Rasa coklatnya enak, mirip seperti yang dijual di minimarket, bedanya hanya bentuk coklatnya saja yang sedikit abstrak karena Je tentu merecoki ibu dengan semangat.

Hybrid golden retriever itu sangat bersemangat dan riang gembira dari malam hingga pagi besoknya. Ia tidak sabar membagikan coklat hasil karyanya pada teman-teman, tentu Taesan ada di nomor pertama. Je tidak memberikan coklat pada semua teman sekelas, coklat yang tersisa hanya sedikit karena ibu juga memberikannya pada pacarnya; padahal bulan valentine sudah lewat empat bulan lamanya.

Je hanya mengantongi lima buah coklat saja. Dua untuk tecan, satu untuk Zhanghao, satu untuk Wonyoung dan satu untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya Je masih punya coklat di rumah sih, tapi ibu bilang itu untuk stock cemilan Je.


Pagi itu, Je diantar ibu, tidak dijemput dengan mobil sekolah. Alhasil, Taesan menunggu Je di depan kelas. Biasanya Je dan Tecan akan duduk sebelahan di mobil sekolah, Je akan menyambutnya dengan senyum lebar dan tawa yang ceria ketika Tecan membuka pintu. Tapi hari ini, Je bilang ia diantar ibunya. Jadi, Taesan menunggu. Menunggu Je di depan pintu kelas sambil tersenyum tipis menjawab sapaan teman-teman sekelas yang baru tiba.

Telinga kucing Taesan berdiri saat mengenali sebuah mobil putih parkir tepat di depan gerbang sekolah, oh itu Je, katanya dalam hati.

Ia menegakkan duduknya, kedua tangannya meremat tali ransel yang ia gendong lalu berjalan sedikit cepat menuju gerbang sekolah.

Je, si hybrid golden retriever itu turun dengan semangat, dengan baju serba kuning cerah ceria dan kepalanya dihiasi oleh topi yang membuatnya semakin lucu. Wangi dari parfum dan minyak telon bisa Tecan cium dari jarak ini, Je menarik ranselnya lalu melambai pada Taesan.

Ibu Sharlyn, ibu Je, turun dan mengusap rambut Taesan untuk menyapa. Setelah diberi sedikit wejangan untuk tidak nakal, skip makan siang dan membuat onar, ibu akhirnya melambai, pergi bekerja meninggalkan Je sekolah.

“Halo tecan!”

Taesan tersenyum kecil lalu menggumam. Taesan mengulurkan tangannya lalu dengan senang hati Je menggenggam tangan itu, keduanya berjalan dengan lucu beriringan penuh cinta masuk ke kelas.

“Je happy!”

“Oh iya”

“Tecan nanti coba coklat Je ya! Enak sekali-!! Je happy membuat coklat dengan ibu”

“Iya”

“Je gives you two, it's secret hihihi” Jaehyun cekikikan setelah membisikan rahasia kalau Taesan spesial dan akan mendapatkan dua coklat, sedangkan Taesan hanya tersenyum malu sambil mengangguk.


Si kecil golden retriever itu bergegas membuka ranselnya setelah dua sahabatnya; Zhang Hao dan Wonyoung tiba. Tangan gendut nan buntet yang menggemaskan itu segera membagikan coklat lucu berbentuk hatiㅡ meskipun sedikit penyokㅡ kepada tiga temannya yang sudah duduk melingkar di bangku sekolahnya.

“Lho kok Taesan dapat dua, Je? Hao juga mau dua!!”

“Ih, Tecan dapat dua karena Je titip untuk Ihan, saudara Tecan” katanya berbohong, tentu Taesan sempat manyun, tapi teman-temannya tidak boleh tahu kalau dia spesial.

“Coklatnya ada isinya ya?”

“Iya!! Ada strawberry jam nya disana hihi, Je bantu ibu membuat coklat ini semalam, Je hebat kan?”

Zhang Hao dan Wonyoung mengangguk mengiyakan, membuat si kecil itu membusungkan dada karena bangga. Zhang Hao dan Wonyoung memuji Je karena coklatnya enak. Mereka menghabiskan makanan manis itu dengan lahap membuat hati Jaehyun menghangat.

“Enak, tecan?”

Ekor Je dan Taesan bergoyang kesana-kemari excited, Taesan menyukai coklat pemberian Je, maka ia mengangguk membuat Jaehyun memekik senang sambil memeluknya. Telinga Taesan semakin tegak, ekornya juga bergerak semakin acak. Efek jantungnya yang bertalu ribut ini membuatnya tidak swag ya.


Siang itu, Je yang sedang bermain capung di depan kelas bersama hybrid anjing lainnya bergegas masuk setelah mendengar kabar bahwa Taesan mencakar Sungho, seorang teman hybrid ragdoll yang memiliki mata cantik. Teman-teman sekelas mencoba melerai pertengkaran dua hybrid kucing yang sibuk melempar desis dengan sorot mata bengis itu.

Je segera menarik Taesan saat anak itu maju untuk mencakar tangan Sungho lagi, “TECAN, DON'T!”

Taesan menggertakkan giginya marah dan Sungho yang sedari tadi defensif pun ikut emosi, “Aku sudah minta maaf!!”

“Tapi kamu menyebalkan!”

“Tapi aku tidak sengaja dan aku sudah minta maaf-!! Aku adukan kamu ya ke Miss Giselle biar mamimu dipanggil ke sekolah dan kamu tidak bisa ikut singing class!!”

Ekor Taesan berdiri, ugh Park Sungho menyebalkan! Skip singing class artinya ia tidak bisa melihat Jaehyun nyanyi dan menari dengan lucu di depan kelas, padahal itu hal favoritnya selama sekolah.

“Ini ada apa sih? Je tidak mengerti why Tecan attack him”

Taesan manyun lalu segera pergi, tak mengindahkan Jaehyun, Zhang Hao dan Wonyoung yang sibuk memanggil namanya.


Taesan sebal. Taesan benci pindah rumah, Taesan benci pindah sekolah, Taesan benci harus berteman dengan anak-anak asing dan baru, Taesan benci semua anak yang menyebalkan di kelas. Taesan tidak suka Park Sungho. Kucing ragdoll itu menyebalkan. Taesan mendengus, ia semakin sebal saat tangannya menyentuh saku celananya. Taesan duduk di bangku taman belakang sekolah, dengan ekspresi marah bercampur sedih yang kentara.

Taesan mengeluarkan coklat dari dalam sakunya. Coklat pemberian Jaehyun yang ia simpan di dalam tasnya. Jaehyun memberinya dua coklat meski harus berbohong pada Hao dan Wony. Taesan harusnya bisa menjaga coklat ini dan ia makan di rumah setelah memamerkannya pada mami, tapi si kucing ragdoll itu, ugh sebal sekali jika Taesan mengingatnya.

Miss Giselle sudah berkali-kali mengingatkan kalau mau lari-larian itu jangan di dalam kelas tapi Park Sungho dan tiga temannya malah main bola disana. Sebenarnya Taesan tidak terganggu sedikitpun jika saja Park Sungho tidak menyenggol ranselnya membuat seluruh isinya tumpah keatas lantai dan menginjak coklat yang ia jaga.

Telinga kucing Taesan layu. Coklat dalam genggamannya sudah hancur karena terinjak. Ia tidak bisa menjaga dan memakan pemberian dari Jaehyun sahabat favoritnya. Taesan marah, ia berteriak lantang pada Sungho sambil mencakarnya. Karena Sungho sama-sama hybrid kucing, ia tentu membalas Taesan.

Sungho sudah minta maaf, memang. Tapi Taesan rasa permintaan maafnya tidak tulus karena Sungho minta maaf sambil sewot, Taesan tidak terima.

“Tecan?”

Je pelan-pelan duduk di samping Tecan yang masih memancarkan aura negatif. Kucing itu membuang muka enggan menatap Je.

Jaehyun mengusap bahu Taesan yang marah lalu memeluknya, “Jangan marah-marah terus, ibu bilang nanti sakit dan pusing”

“Aku benci Sungho!”

“Iya... Nanti Je beritahu Miss kalau Sungho bermain bola di kelas dan kena Taesan”

Taesan menggeleng lalu menunduk, “tidak kena...”

“Terus kenapa Tecan menyerang Yeppi?”

Ugh Taesan semakin benci pada Sungho setelah Je menyebutnya dengan pet name favorit Sungho.

Pelan-pelan, Je melihat Taesan membuka genggaman tangannya. Hybrid kucing itu semakin lesu, “look... Coklat darimu hancur, diinjak si itu!”

Je terkejut, oh jadi Taesan marah karena ini?

“Dia lari-lari di kelas, menyenggol ranselku sampai semua isinya berserakan, lalu dia injak coklatku! Aku benci!”

Je bisa mendengar Taesan mendesis kesal disela-sela ceritanya lalu Jaehyun terkikik geli. Hybrid kucing selalu menggemaskan.

Jaehyun merebut coklat hancur itu lalu ia ganti dengan coklat yang baru.

“Je tadi curi-curi dari ibu, ibu suruh Je ambil satu saja tapi Je ambil tiga hihihi. Ini for Taesan, jangan marah lagi. Je bisa membuatkan Taesan coklat banyak banyak banyak banyak!! Tapi, menyerang teman itu bad boy, Taesan bukannya good boy ya?”

Taesan mengangguk.

“Je hanya berteman dengan good boy dan good girl, kalau Tecan masih menyerang teman begitu apalagi temannya tidak sengaja dan sudah minta maaf, Je tidak mau berteman lagi ah”

Taesan buru-buru memegang lengan Jaehyun sambil menggeleng, “iyaa good boy! Aku janji tidak menyerang lagi”

Jaehyun tertawa kecil lalu mengangguk, “itu baru tecannya je, hihihi. Nanti temui Yeppi dan minta maaf juga ya sudah mencakar dia. Tadi Yeppi sudah bereskan ransel Taesan dan dia menyesal”

Taesan mengangguk. Ia pandangi coklat baru diatas telapak tangannya lalu tersenyum. Akhirnya ia masih bisa memamerkan coklat buatan Je pada mami, dan makan didepan Ihan yang pasti akan merengek minta juga.

cup.

Taesan seketika diam membeku saat Jaehyun mengecup pipinya sedikit lama. Taesan juga masih membeku saat Jaehyun memeluknya dan mengusakkan wajahnya pada bahu Taesan.

“Je loves tecan so much, jangan bertengkar ya, je tidak mau tecan sakit dan terluka”

Oh, mami, kenapa jantung Taesan bertalu-talu lagi?

“OUCH! WHY YOU ALWAYS PULL JE'S EAR?!!!”

fin..


tags : adegan dewasa (bukan ngentiaw)


Riki betulan mampir pukul delapan. Taesan bisa mendengar suara nmax milik pacar brondongnya masuk pekarangan rumah. Rumah ideal yang Taesan lunasi setelah lama sekali membayar angsuran, rumah idaman yang akhirnya menjadi kenyataan, tinggal diisi oleh keluarga kecilnya saja.

Orang tua Taesan jauh disana, Taesan merantau sudah delapan tahun lamamya, bekerja di ibu kota dari gaji kecil hingga sekarang menurutnya gajinya masuk akal (dengan jobdesk yang tidak terlalu mencekiknya).

Riki memeluk Taesan yang dengan hangat membuka pintu, dengan tangan kiri menggenggam kresek Alfamart berisikan soda dan ciki. Riki mencium pipi tirus si pacar lalu masuk dan selonjoran santai di depan televisi.

Taesan dengan excited membuka dua buah blind box yang ia beli, isinya mainan lucu yang biasa digantung di tas jinjing orang-orang jaman sekarang. Dua duanya berisi boneka setengah kucing setengah chibi berwarna hitam, katanya yang satu secret, yang Taesan pegang.

Boneka-boneka kucing itu segera ia ambil gambarnya lalu setelahnya ia berikan pada Riki yang satunya, katanya sih biar kembaran.

Taesan dan Riki biasanya bercengkrama hingga larut malam, mengobrol tentang apa saja yang bisa dibahas, dengan Riki yang setia memijat kaki jenjang Taesan yang dibalut celana pendek dari piyama sutranya yang halus berkilau.

“Kakimu tegang semua gini, besok pijat yuk?”

“Ah aku kurang suka yang buka baju kemarin… geli-geli doang gitu”

“Iya nanti kita cari tempat refleksi lain”

Taesan mengangguk lalu menarik kakinya untuk bersandar nyaman bergelung pada Riki.

Sejatinya, Taesan itu pria kuat dan tangguh yang Riki temui dua tahun lalu. Pria yang ia nilai “serba bisa”

Pria mandiri yang luar biasa. Taesan itu benar-benar definisi untouchable, soalnya, beberapa kali kencan buta juga tak ada hasilnya. Banyak orang yang dinilai tidak sesuai dengan kriterianya, padahal kriterianya tidak aneh-aneh,tuh? Buktinya ia dan Riki si bocah ingusan yang masih kuliah ini awet awet aja?

Taesan itu mandiri, ia bisa menghidupi dirinya sendiri, bisa melakukan tanggung jawab dan tugasnya sendiri, bisa memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya sendiri, terbiasa menjadi provider bagi dirinya dan keluarganya sendiri. Taesan itu tangguh, pria dewasa yang matang dari segi usia dan pemikiran.

Maka, ia tidak butuh basa-basi, bagi Riki Taesan tidak butuh ditanyai, tapi ditemani. Taesan tidak butuh dibimbing, tapi ditemani. Taesan tidak butuh dinasihati ini itu, tapi dikasihi dan disayangi. Taesan tidak butuh orang yang bertele-tele dalam hidupnya, tidak butuh orang yang main-main hanya karena penasaran.

Maka Riki sebisa mungkin tidak begitu. Sebisa mungkin ia tidak menyentil egonya, tidak mengganggu kehormatannya, tidak memperkeruh situasi sekitarnya, dan Riki selalu berusaha mengimbangi langkahnya. Riki banyak belajar tentang Taesan, pun setelah Taesan luluh hatinya, gantian Taesan yang belajar tentang Riki.

Taesan itu setelah kenal lebih dekat begini juga manja, sesekali menangis karena merasa tidak kuat, sesekali mengeluh dan minta istirahat. Tapi keesokan harinya, ia akan dapati Taesan kembali seperti sedia kala.

Riki tidak perlu memberi nasihat ketika Taesan curhat. Ia hanya dengarkan dan validasi perasaannya. Jika diminta, mungkin ia akan berbagi dari sudut pandangnya.

Riki tidak perlu menyuruh Taesan melakukan kewajibannya hanya untuk sekedar basa-basi, ia lebih memilih untuk berinisiatif menemani keseharian Taesan. Sebisa mungkin tak meninggalkannya hingga pada akhirnya Taesan nyaman dengan keberadaanya.

Taesan melenguh, mengusap dan meremat halus rambut Riki yang menciumi kaki jenjangnya. Duh, Riki dan segala tingkah manisnya. Riki menciumnya lagi, dari ujung kaki, naik ke punggung kaki, betis, paha, paha dalam, lalu berakhir pada ciuman panjang di sabtu malam.

Macarin independent person gak sesulit itu baginya. Ia hanya perlu percaya diri dan inisiatif untuk menemani setiap langkahnya.

Kalau kamu berani, mungkin kamu bisa coba metode ini, siapa tahu, kamu beruntung seperti Riki.

Fin.

Sex scene.


Ada satu hari dimana Myung Jaehyun benar-benar meledak dan muak karena semuanya terlalu mendadak. Kehilangan separuh jiwanya, menikah dengan orang yang tak dikenalinya, tiba-tiba harus meninggalkan kota kelahirannya, harus terbiasa hidup hanya berdua dengan suaminya, dan rutinitas yang membuat kepalanya bercabang dua. Ada satu hari dimana Myung Jaehyun meledak karena muak. Hari itu, Taesan ingat, ia selalu sesali tindakannya yang gegabah.

Mungkin selalu ada satu hari dimana Myung Jaehyun muak, tapi terkadang ada satu hari dimana Taesan juga tak bisa diam saja. Hari itu Taesan hanya ingin mengundang teman-teman dekatnya di kantor untuk menyambangi rumah barunya setelah delapan bulan menikah; dulu mereka sempat tinggal di apartemen sebelum membeli rumah sendiri. Taesan hanya ingin mengajak teman-temannya bertamu berkunjung ke rumah baru, namun hari itu bukan hari yang cukup baik ternyata untuk Jaehyun. Ada cukup banyak hal yang membuatnya frustasi dan tentu ia butuh ruang sendiri. Tapi mendengar Taesan ingin mengajak teman-temannya kesini, dan entah mengapa meski Jaehyun menolak, Taesan sedikit terlihat memaksa.

Jaehyun terbiasa dengan Taesan yang kadang membawa temannya ke rumah, dan ia akan berakhir menyendiri di lantai dua, kamar tamu yang sedikit lebih kecil dari dua kamar utama di lantai satu. Hari itu Taesan sedikit memaksanya untuk bergabung dan berkenalan dengan temannya sebagai suami Taesan, tapi Jaehyun yang teguh pendirian itu malah meledak membuat pertengkaran yang akhirnya membuat Jaehyun mengemas barang-barang kerjanya dan keluar meski Taesan berlutut meminta maaf.

Taesan masih ingat betul hari itu. Senyumnya sedikit naik dengan tipis mengingat betapa gegabah dan bodohnya dia hari itu.

“Aku mohon sekali ini saja kak temui teman-temanku, kamu kan suamikuㅡ”

“Terus apa? Terus apa Taesan kalau aku suamimu, hah? Mau sombong? Bangga, iya? Oh jelas bangga karena pada akhirnya semua berjalan sesuai mau kamu, gak pernah sedikitpun berjalan sesuai keinginanku! Kamu egois, Taesan!”

“Bukan gitu kak, tapiㅡ”

“Apa? Tapi apa? Kalau bukan karena ayah yang mendesak dan keegoisan kamu untuk tetap menikahiku aku gak akan ada disini, kamu tau?!”

Suaranya kian meninggi dengan ujung telunjuk yang menghunus. Taesan menggeram dan membuang muka, “gak bisa ya hargai aku sedikit saja sebagai suami kamu?”

“Hargai? KAMU disini yang dari awal gak menghargaiku! Aku masih berkabung dan kamu seenaknya masuk kedalam hidupku, mengiyakan perjodohan gila yang disusun keluarga kita dan disini malah kamu yang minta dihargai?”

“Move on, kak. Kejadian itu bahkan udah hampir setahun!”

Jaehyun terkekeh miris lalu menekan dada Taesan dengan telunjuknya, “Sampai kapanpun aku gak akan pernah lupa! Jangan harap aku lupain kak Hanbin meskipun sekarang status kita sudah berbeda. Jaga bicaramu”

Taesan ingat malam itu ia kalang kabut mencari Jaehyun yang sampai tengah malam belum pulang. Jaehyun hanya membawa iPad dan mantel favoritnya saat ia membanting pintu dengan kencang. Maka setelah lewat tengah malam, Taesan menyisir kota untuk mencari keberadaannya.

Jaehyun saat itu ditemukan menangis sendirian di bawah pohon rindang di taman bermain tak jauh dari komplek rumah mereka. Taesan jadi tak tega, ia benar-benar merasa bersalah apalagi melihat keadaan suaminya yang berantakan. Ia berjongkok pelan-pelan, membuat isakannya semakin kencang. Jaehyun meremat celananya dengan erat, wajahnya merah padam dengan air mata menganak sungai membasahi wajah cantiknya. Taesan akan menghukum dirinya sendiri yang telah egois dan menyakiti hati pria di depannya. Dengan pelan Taesan raih jemari lentik Jaehyun yang membuatnya membuang muka.

“Aku minta maaf kak…”

Jaehyun masih menangis, sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Taesan mengusap punggung tangan dingin yang pucat karena udara semakin menusuk tulang, “kita pulang ya… aku benar-benar minta maaf sudah berbicara yang tidak-tidak seperti tadi”

Jaehyun masih diam membisu, hanya sibuk menangis tersedu-sedu. Taesan tersenyum pilu lalu mengusap wajah Jaehyun dengan lembut, “Pulang ya? Sudah malam… Nanti aku dimarahin kak Hanbin karena gak bisa jagain kamu”

“You deserve it!”

Taesan terkekeh kecil lalu kembali mendekat, meraih kepala Jaehyun untuk diusap, “Maaf sudah bicara yang tidak-tidak… bukan maksudku egois dan merasa bangga karena bisa menikahi kakak, aku hanya ingin kakak bertemu teman-temanku sebagai suamiku karena dari dulu kakak selalu sembunyi di lantai dua. Ada beberapa temanku yang aku rasa pribadinya akan cocok dengan kakak sehingga mungkin kalian bisa berteman, tapi maaf karena aku merusak semuanya… maaf sudah memaksa kakak melakukan hal yang kakak tidak suka”

“Aku pusing masalah kerjaan dan kamu tidak peduli!”

“Maaf, ya?”

Jaehyun akhirnya melunak, ia biarkan Taesan membantunya berdiri dan berjalan menuju mobil. Dan setelah hari itu yang Taesan ingat, Jaehyun tak mau bertegur sapa dengannya hampir seminggu lamanya. Dan Taesan akan selalu menyalahkan dirinya sendiri tentang hal itu.


“Kenapa ketawa-tawa sendiri?” Taesan membuka matanya dan menggeleng. Siang ini, ia habiskan untuk berpiknik di hari libur bersama suami kecilnya yang cantik dan menggemaskan. Taesan berbaring nyaman beralaskan paha Jaehyun, dan pemuda itu dengan senang hati memeluk kepala suaminya, diusapnya helai rambut coklat gelap itu dengan lembut sambil menggumamkan nyanyian dengan suaranya yang merdu.

“Ih kenapa ketawa-tawa sendiri begitu, Taesan?”

Taesan menggeleng, ia bawa tangannya mengusap pipi gembil Jaehyun lalu membiarkan tangannya digenggam, Jaehyun mengecup punggung tangannya membuat hati Taesan menghangat.

Taesan kira ia tak pantas untuk bahagia. Taesan kira hari itu, Jaehyun takkan sudi kembali padanya. Kehadiran Jaehyun dalam hidupnya benar-benar berarti, Jaehyun tak hanya menghidupkan kembali jiwanya yang telah mati. Jaehyun hadir untuk kembalikan mimpi-mimpi indah yang sempat ia miliki dulu sekali, Jaehyun juga hadir untuk membuatnya lebih indah.

Kehadiran Jaehyun benar-benar mengisi ruang kosong yang selama ini membuatnya kesepian. Jaehyun datang bagai angin segar. Ujung jemarinya bak menghantarkan cinta, senyum manisnya menghidupkan jiwanya yang tak berdaya, suaranya yang merdu adalah obat yang membuatnya sembuh.

Taesan banyak takutnya. Taesan banyak sedihnya, dan Jaehyun adalah jawaban dari segala risaunya.

Dekapan hangatnya, pelukan mesranya, kecupan singkat yang tiap pagi mampir di pipi dan dahi, Taesan hidup kembali.

Taesan menyelami hazelnut milik Jaehyun, dan satu kecupan mampir pada ujung hidungnya, “aku sayang kamu…”

“I know”

Taesan tertawa. Iya, semua orang di dunia ini juga tahu kalau Taesan jatuh cinta sedalam-dalamnya pada sosok yang tengah memeluknya. Semua orang juga bisa melihat bahwa Taesan siap menukar segalanya hanya untuk suaminya.

Jaehyun merunduk dan mengecup ranum merah muda suaminya, ia biarkan Taesan menyesap bibir bawahnya; manis dan hangat. Jaehyun suka. Taesan adalah tempat pulang yang paling aman baginya. Taesan adalah satu-satunya yang berhasil menyentuh hatinya yang lama membeku.

“Kakak cantik sekali hari ini”

“Oh ya? Kamu suka?”

Taesan mengangguk, tatapannya tak fokus karena tergila-gila dan itu membuat Jaehyun jumawa.

“Semua orang di dunia ini pasti iri padaku, iya kan?”

“Semua orang memang harus iri pada Han Taesan karena punya suami yang secantik aku”

Keduanya terkekeh, Jaehyun memeluk suaminya erat-erat, pun Taesan balas memeluknya tak kalah erat, ia juga bubuhkan satu kecupan diatas perut Jaehyun yang terhalang kemeja biru langit.

“Udah makin siang, kak. Ayo pulang”


Bagi Jaehyun, Taesan juga adalah sosok sempurna yang Tuhan hadiahkan untuknya. Sosok penyayang, lemah lembut, berjiwa besar dan penuh cinta. Taesan itu kaku dan pemalu, tapi ia memiliki kasih sayang sebesar dunia untuknya. Sorot matanya yang sering kelabu itu lama-lama berubah lebih berwarna.

The veilon in his eyes hinted at stories he would never tells.

Taesan lebih ceria akhir-akhir ini, ia banyak bicara, ia banyak cerita dan hal itu membuatnya lega.

Jaehyun selalu suka, ia bahkan selalu menantikan momen mereka berdua duduk berhadapan di meja makan dan bercerita banyak hal hingga tengah malam.

Jaehyun selalu suka malam dimana ia didekap dengan hangat hingga merasa aman hingga pagi tiba. Ia juga suka satu kecupan mesra yang mengantarnya menuju tidur lelap sepanjang malam.

Jaehyun selalu suka menjadi yang pertama bagi Taesan. Yang pertama ia tanyai pendapatnya, yang pertama ia cari saat membuka matanya, yang pertama ia kecup pipinya, yang pertama ia rengkuh tubuhnya, dan pengalaman pertama lainnya yang ia dapat dari Taesannya. Jaehyun akan selalu menjadi juaranya. Ia akan selalu menjadi yang pertama.


“Look at me, Taesan. Look at my eyes”

Jemarinya gemetar tipis, kaku dan takut. Tapi hari itu, Jaehyun menjadi pengalaman Taesan yang pertama setelah bertahun-tahun terpuruk.

“Look at me… this is your husband, Myung Jaehyun”

Taesan menyusuri wajah elok suaminya, lama-lama jemarinya terangkat untuk menyentuh pipi gembilnya, “good boy…”

Taesan membiarkan Jaehyun menciumnya, basah, lama, penuh gairah. Taesan biarkan piyama biru navynya lama-lama merosot jatuh dari pundaknya. Taesan biarkan Jaehyun merangkak naik hingga duduk cantik diatas pangkuannya. Taesan juga biarkan Jaehyun rakus menghabiskan segala yang ia punya.

“Good boy…”

Taesan dituntun hingga menyentuh pinggang kecilnya, jemarinya meremat pinggang itu tak sengaja, halus, lembut, warnanya cantik, secantik Jaehyun dibawah sinar rembulan.

Kain sutra dari piyamanya diusap, lama-lama Jaehyun membawa tangan Taesan menyusup kedalam piyamanya, menyentuh kulitnya yang mulus secara langsung.

“I’m yours…”

Taesan mengangguk pelan membiarkan Jaehyun mengangkat dagunya dan menciumnya lagi. Ciumannya semakin dalam dan memabukkan. Masih Jaehyun yang memimpin permainan karena Taesan masih sedikit gemetaran. Taesan memiliki masa kelam yang menyakitkan dan Jaehyun tak mau menyakitinya, maka sebisa mungkin ia bergerak pelan, membuat suaminya merasa aman.

“Boleh… buka?”

Jemari panjang Taesan menunjuk kerah piyama Jaehyun dan pemuda itu mengangguk. Taesan angkat piyama suaminya hingga tanggal, menyisakan celana pendek diatas paha yang melekat. Nafas Taesan tercekat, Jaehyunnya begitu indah, cantik, dan memabukkan. Tuhan menciptakannya penuh kasih sayang.

Jemari Taesan menyusuri dada Jaehyun yang bergemuruh penuh cinta, bergerak mengawang diatas tonjolan merah muda yang kedinginan.

“Ahh…”

Satu desahan lolos membuat Taesan menatap Jaehyun. Jaehyun terlihat begitu menikmati suasana malam ini. Jaehyun tak keberatan dengan sentuhan Taesan, membuat jantungnya bertalu-talu. Taesan ingin rakus, Taesan ingin memiliki semua yang ada dalam diri Jaehyun tanpa kecuali.

Taesan menyusu, membuat Jaehyun mendongak nikmat. Gerakannya yang ragu-ragu membuat Jaehyun sedikit frustasi, maka dengan nakal ia gesekkan belahan pantatnya pada selangkangan Taesan, memancing sang Tuan.

“Ahh Taesanㅡ”

Taesan meremas dua bongkah kenyal miliknya, Jaehyun semakin membusung menyuruh Taesannya semakin rakus. Taesan dibawa meniti anak tangga kenikmatan dunia, membuatnya lupa diri dan haus akan sentuhannya yang gila.

Jaehyun menanggalkan pakaian keduanya dan merunduk untuk mengecup milik Taesan. Meski Taesan masih ragu-ragu, ia mengizinkan Jaehyun melakukan apapun yang ia mau. Meski samar-samar Taesan mengingat kejadian buruk yang menimpanya, binar mata dan lenguhan Jaehyun seakan memegang warasnya, memegang kendali agar dirinya tak ketakutan. Meski Taesan masih gemetar, ia biarkan Jaehyun melahap habis semua miliknya.

Jaehyun bangkit dan Taesan meneguk ludahnya haus, oh Myung Jaehyun dengan segala keindahannya dibawah sinar rembulan. Jaehyun mengambil lubrikan diatas nakas dan membaluri jemari cantiknya lalu selanjutnya, pemuda itu membalik tubuhnya, membiarkan satu persatu digit jarinya bermain dengan dinding analnya.

Taesan meneguk ludahnya sendiri, pemandangan yang ia rekam sendiri dengan mata kepalanya ini membuat dirinya meremang. Taesan menggapai bongkahan kenyal pantat suaminya, digenggamnya dengan gemas, “ahh Taesan”

Satu jari. Dua jari. Tiga jari. Maju, mundur, memutar. Maju, mundur, memutar. Jaehyun mengangkat pinggulnya semakin tinggi dan ia hampir menangis. Oh andai Taesan bisa membantunya.

“Taesan ahh…”

“Kakㅡkakak…” Taesan menarik Jaehyun untuk ia dekap, keduanya kembali dalam ciuman panjang memabukkan, Taesan biarkan Jaehyun menandai leher dan selangkanya. Ia juga biarkan Jaehyun mencium rahangnya sebanyak yang ia bisa.

Keduanya mendesah semakin kencang saat Jaehyun memasukkan milik suaminya pelan tapi pasti. Jaehyun biarkan Taesan melenguh sembari menatap lurus pada netranya, “ahh sayangku…suamiku”

Taesan tak tega melihat Jaehyun sedikit kepayahan, maka ia bantu menghentakkan pinggulnya hingga si kecil itu terhentak diatas pangkuannya.

“Enak… enak Taesan”

Jaehyun adalah obat dari segala luka dan traumanya. Taesan sepenuhnya lupa dengan apa yang pernah menimpanya lima tahun lalu. Yang ia tahu hanya dirinya yang selalu merasa tidak puas, bahkan meski Jaehyun mendesah semakin kencang, tubuhnya terhentak semakin kacau dan ruangan yang semakin panas, Taesan tetap rakus. Ia ingin memiliki semua yang Jaehyun punya. Ia ingin selalu mendamba si kecil yang terengah di pangkuannya.

“Ahhh ahh Taesan” Gerakannya semakin cepat, gelombang hasrat yang menerjang keduanya semakin dahsyat. Taesan dan Jaehyun larut didalamnya. Keduanya saling mengejar, keduanya berlomba mendapatkan nikmat.

Jaehyun meremas belakang kepala Taesan, menangis keenakan. Sedangkan Taesan terengah-engah diselimuti nafsu.

Jaehyun selalu menjadi yang pertama. Bagi Taesan, Jaehyun adalah segala pengalaman pertamanya. Jaehyun membuatnya menjadi manusia yang lebih hidup dari sebelumnya, Jaehyun membuatnya merasakan bagaimana susah senangnya menjadi seorang pemimpin keluarga, dan Jaehyun juga yang pertama menghantarkan cinta segitu besarnya diantara kelam dan kerasnya kehidupan.

Jaehyun akan selalu menjadi yang pertama, dan Taesan akan selalu mencintainya.

Memiliki pengalaman pertama dengannya selalu seru. Rasanya begitu menakjubkan sampai Taesan bingung mengatakan perasaannya.


“This is our baby, i’m pregnant.” Katanya.

Ini akan menjadi pengalaman pertama Taesan yang lainnya. Setelah malam panas itu, ada satu hari dimana Jaehyun membawa kabar gembira padanya. Taesan sudah berlinang air mata saat melihat surat dokter yang Jaehyun perlihatkan padanya setelah pulang bekerja. Rasa cintanya semakin besar saat tahu bahwa sekarang ia akan menjadi seorang ayah.

“Isㅡis it our baby?”

“Yes it is. This is our baby, Taesan-ah”

Taesan memeluk erat suaminya, ia bersimpuh penuh haru dan mengecup perut Jaehyun berkali-kali. Ia usap dengan lembut, ia kecupi dengan mesra dan hari itu ditutup dengan satu ciuman basah yang lama penuh air mata bangga karena kali ini lagi-lagi Jaehyun membawanya ke dalam pengalaman pertama.

Pengalaman pertama menjadi seorang ayah.

Tamat


“Semuanya sudah membawa cookies and milk yang miss giselle suruh kan?”

Semua anak hybrid di ruang kelas warna-warni itu bersorak ceria menyahuti pertanyaan guru cantik mereka. Setelah diberi izin untuk mengeluarkannya, siang itu semua orang mulai mengeluarkan cookies dari dalam ransel mereka.

Jaehyun, the one and only golden retriever di kelas itu menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan semangat, mengeluarkan empat buah cookies dengan rasa-rasa yang ia pilih.

“Is it matcha, jae?” Jaehyun mengangguk antusias menjawab pertanyaan hybrid kelinci teman sebangkunya, Jang Wonyoung, kelinci cantik yang setiap hari memakai pita di rambut.

Jaehyun tersenyum saat Taesan, si mainecoon berjalan mendekat kearah bangku mereka dengan Zhanghao mengekor di sebelahnya.

Tanpa ba-bi-bu Taesan dan Zhanghao ikut nimbrung untuk ngemil siang.

“I made this, lho, mau coba?” Zhanghao membuka kotak bekalnya dan menawarkan cookies buatannya yang diterima dengan senang hati. Keempat hybrid kecil itu bercengkrama sambil mengunyah cookies yang sesekali dicelup kedalam susu yang mereka bawa sendiri dari rumah.

Miss Giselle tersenyum manis sekali sambil mengabadikan moment kecil ini. Habis snack time, biasanya mereka akan istirahat sampai pukul satu sampai akhirnya masuk sesi bernyanyi dan pulang. Kegiatan sekolah yang sangat menyenangkan.

“Mau coba?” Taesan berbisik pada Jaehyun, menawarkan choco cookies yang ia buat bersama Maminya. Jaehyun menatap cookies besar yang menggiurkan di tangan Taesan lalu mengangguk, si kucing besar itu lalu menyodorkan cookiesnya, membiarkan Jaehyun mengunyah miliknya dengan semangat. Jaehyun tersenyum lebar hingga kuping anjingnya bergerak excited disertai goyangan ekor yang ceria, “ENAK!”

“Hmm” katanya. Taesan diam-diam menahan senyum melihat reaksi si anjing yang cukup menggemaskan. Anak anjing golden retriever itu tidak bisa diam. Tubuhnya bergoyang kesana-kemari dengan mulut sibuk mengunyah dan mengobrol dengan dua teman kelincinya.

Jaehyun menggeser cookies rasa strawberry cheese pada Taesan, “hehe for tecan, makasih sudah give je your cookies”

“Hm”

Jaehyun tersenyum lagi lalu kembali menyantap cookies yang sisa setengah.

“Hari ini dijemput ibu?”

“Everyday je dijemput ibu. Why?”

Taesan menggeleng. Si kucing itu sebenarnya ingin main lebih lama bersama Jaehyun tapi ia sadar akhir-akhir ini sudah sering membangkang pada mami karena selalu minta bermain dan merepotkan mami dengan harus menjemputnya di rumah Je, jadi akhirnya ia bungkam saja meski dengan berat hati.

Jaehyun menelengkan kepalanya gemas dan berkedip lambat, “uh tecan, wait.”

Taesan menggumam sambil menaikkan alisnya lalu, cup ia rasakan ujung bibirnya dijilat, DIJILAT sambil sedikit dikecup oleh si golden retriever. Taesan terkejut hingga kuping kucingnya berdiri tegak.

“Makanmu berantakan, cookiesnya ada di bibir hihi”

Taesan berkedip cepat berkali-kali lalu, “AWWWWW! MISS GISELLE, TECAN PULL JE'S EAR!!!”

fin


bxb, mlm, sex scene, backburner, friend zone, blood, fight, harsh words, street fighter!bnd, taeshan taesjae, mulnyangz as brother, angst, hurt/comfort.

kinda songfict dari lagu bestfriend ikon.


Larut malam, suaramu terdengar seolah sedang mabuk. Mungkin sesuatu yang menyedihkan telah terjadi pada dirimu.

“Ahhh jaeㅡnghh”

Jaehyun terengah-engah mengejar pelepasan, mempererat peluknya pada pemuda berbahu lebar diatas tubuhnya. Bagian selatannya menggempur Jaehyun asal-asalan dari dua jam lalu. Malam itu tubuhnya dibolak-balik seenaknya, diacak-acak semaunya, dimainkan sesukanya karena sesuatu baru saja terjadi.

“Ahh Taesan-hh”

Taesan merunduk untuk menandai selangka telanjang Jaehyun, si pemuda berambut merah itu menciumnya dengan rakus. Suaranya terdengar sangat indah dan mendayu memanggil nama Jaehyun sepanjang malam sendu.

Jaehyun menggeliat saat dirasa gelombang terlalu besar datang menyerang. Tangan keduanya saling bertaut lalu Taesan terkekeh diatasnya. Myung Jaehyun begitu indah, cantik, semok sekal dan membuatnya bergairah. Kulitnya bersinar dibawah rembulan mengkilap karena keringat. Taesan menyentak dengan kencang setelah meremas pinggang ramping si kecil yang melolong panjang setelah berhasil terbang ke nirwana.

Taesan menjatuhkan tubuhnya, mengusap wajahnya kasar lalu membiarkan badannya didekap sahabatnya malam itu. Taesan menoleh untuk menjemput kecup bibirnya yang mengundang. Taesan membiarkan dirinya melahap Jaehyun dengan rakus. Jaehyun mengusap sisian wajah Taesan dengan halus. Biarkan jemarinya singkirkan anak rambut yang mengganggu. Jaehyun mencium hidung Taesan sebagai penutupnya, “you look so hot”

Taesan mendengus geli lalu membuang muka membiarkan Jaehyun tertawa menggodanya.

“Senyumnya manis banget sih”, katanya sambil mencolek dagu lancip si merah.

“Senyumku jelek tau, Jae. Aku gak percaya diri”

Jaehyun mengernyit melayangkan protes yang dibalas tawa lain dari si empunya.

“I hate me. Senyumku jelek, aku gegabah, tempramen dan miskin.”

Miskin yang keluar dari mulutnya diiringi pahit kehidupan yang selama ini mereka berdua telan.

“Kali ini apa?” Jaehyun mengusap rambut lepek Taesan yang basah akibat permainan dahsyat mereka beberapa saat lalu.

Taesan merangkul Jaehyun, membiarkan kepalanya singgah diatas dada telanjangnya. Dikecup sedikit lalu kembali meratapi nasib.

“You never told me who is he, lho, San”

Taesan mengusap pinggang Jaehyun yang kini ia rangkul dengan sebelah tangan.

“Ya emang tikus got macam kita gak pernah pantas bersanding dengan pangeran, kan? Keluarganya gak pernah terima tikus got macam kita. I have bad smile, not handsome nor pretty, begundal, petarung jalanan. Mertua gila mana yang mau terima calon menantu begitu?”

Kau bilang kau sering bertengkar dengan orang di sebelahmu Kau memintaku untuk menghiburmu Kau atau aku, salah satu dari kita adalah orang bodoh Kita tak bisa pergi ataupun saling mendekat

“So, siapa pria beruntung yang berhasil bunting itu?” Jemari Jaehyun menari diatas dada telanjangnya. Sedikit mengenyampingkan rasa getir dan pait yang sengaja ia telan.

Taesan terkekeh, “Seseorang dari Park yang terhormat yang gak sengaja jatuh cinta sama Han Taesan dan hamil anaknya karena sering bercinta”

Oh si bodoh ini.

“You stupid hoe!” Katanya sedikit menjerit lalu membiarkan Taesan menertawakan realitanya yang memilukan. Jaehyun tahu betul mana mungkin si bodoh ini akan bisa bersatu dengan cintanya. Leehan adalah berlian. Sesuatu yang berkilau yang tak bisa si miskin dapatkan. Leehan juga berlian yang dijaga ketat oleh banyak guardian.

Jaehyun mendongak menatap Taesan yang melamun menerawang. Hanya ini yang selalu bisa Jaehyun lakukan. Menahan pilu dengan matanya yang berkaca-kaca, menatap sosoknya yang tersenyum karena sosok lain. Entah kadang hanya membayangkan, atau benar-benar saling memandang di lain kesempatan.

Ia begitu indah. Matanya begitu cantik, bola matanya berwarna coklat gelap, senyumnya manis meski tipis. Parasnya rupawan tanpa harus memakai riasan. Suaranya yang halus dan lembut sesekali tertawa karena jahil. Jemarinya lentik dan panjang. Bulu matanya panjang terlihat halus sehalus usapan yang biasa ia hantarkan pada siapapun yang bersemayam dalam rangkulan.

Jaehyun selalu suka, selalu jatuh cinta pada tatapan teduh yang Taesan berikan saat ia menatap sang pujaan.

Aku mencoba menghibur diriku dan mataku berkaca-kaca Karena bagiku kau begitu cantik

“Leehan, pribadinya yang selalu dikelilingi keberuntungan”

Taesan menunduk untuk menatap Jaehyun sebentar.

“Bertahun-tahun jatuh cinta sendirian seperti ini, si Leehan Leehan itu mana pernah”

Taesan tertawa miris lalu mengecup kening Jaehyun. Ah sial, memang pada akhirnya selalu menjadi teman. Teman yang lebih dari sekedar teman. Teman yang selalu ia cari saat ia kesakitan. Teman yang selalu datang untuk menghiburnya, menyisir surai demi mengusir gundah gulana.

“Sorry”

“No need to say sorry, tapi, Taesan...”

Taesan menggumam, mengikuti arah gerak Jaehyun yang kini sedikit bangun untuk mendekat kearahnya, “i wish you can see yourself with my point of view. Kamu yang ganteng sempurna, pekerja keras, punya senyum tipis yang manis dan setia. Kamu kelihatan kuat dan kasar di luar padahal hatimu selembut sutra. Aku harap kamu bisa melihat dirimu sendiri dari sudut pandangku, maka mungkin kamu akan mengerti kenapa aku jatuh cinta”

Taesan menelan ludahnya agak berat, membiarkan surainya diusap dan keningnya dihujani cinta.

“Kamu gak kurang untuk orang-orang yang selalu merasa cukup dan bersyukur karena sudah memiliki kamu di hidupnya. Mungkin kamu dan Leehan memang gak jodoh, tapi itu bukan karena kamu kurang, kamu cacat atau kamu tidak sempurna...”

“I owe you everything, Jae”

Suaranya memelan, berbisik disela kesedihan. Jaehyun tersenyum, menyatukan kening mereka berdua dan membiarkan Taesan mengecup bibirnya lagi.

“I'll burn this world for you, san, kalau orang-orang berani nyakitin kamu lebih dari ini.”


Suara penonton mulai terdengar kian ricuh saat tendangan Jaehyun berhasil membuat lawannya tumbang dan terpental hingga menabrak besi pembatas. Jaehyun meloncat dan menginjak perutnya dengan brutal. Darah mengalir dari keningnya yang robek dan mulutnya yang berdarah. Babak ke enam sudah berjalan lebih dari lima menit dan tak ada tanda-tanda ia akan tumbang.

“Son of bitch, Park SUNGHO-!!”

Jaehyun mengangkat badan Sungho yang jauh lebih besar darinya dan melemparnya penuh amarah. Tinju ia layangkan setelah sukses menduduki perut lawan yang kini semakin tak berdaya.

“Mati, lu, mati!”

Sungho memukul sisian kepala Jaehyun yang tak membuahkan hasil besar. Pemuda itu tetap kokoh bak batu gunung menghantam lawan.

Jaehyun terpelanting saat Sungho berhasil memukul titik lengahnya, ia bergegas menendang perut Jaehyun hingga si kecil itu terbatuk dan buru-buru menghindar.

Uang dilempar ke atas ring, semakin banyak, semakin liar. Jaehyun menghindar dengan cekatan dari segala jenis serangan Sungho. Matanya menyalak marah dengan emosi memuncak. Jaehyun membenci lawannya malam ini.

Pemuda ini bertarung untuk cari muka. Pemuda ini dari kalangan kaya yang menyelinap masuk ke arena bertahun-tahun lamanya untuk mencari validasi.

Pemuda ini licik, karena ia berduit, ia juga sering bermain curang.

Pemuda ini angkuh, songong, mentang-mentang tampan dan kaya, ia sering seenaknya memperlakukan orang.

Pemuda ini juga yang membuat Taesan tumbang dan tak punya pilihan.

Pemuda ini yang membuat cintanya kalah malam itu.

Pemuda ini yang membuat Taesan mau tak mau hampir menjemput ajal karena telah menghamili adik kandungnya.

Pemuda ini berjalan angkuh diatas tanah bak dewa, dan Jaehyun tak suka.

Jaehyun membenturkan kening mereka berdua hingga Sungho mengaduh, dan saat pemuda itu lengah, Jaehyun buru-buru menyerangnya dengan brutal. Menendang beberapa titik vital, menghantam dan membogem pemuda tampan itu tanpa ampun.

Jaehyun benci. Jaehyun benci pemuda ini. Jaehyun membenci pemuda yang telah menghancurkan cintanya.

“3....2...1.... K.O!! PARK SUNGHO K.O”

Suara lonceng dan gema sorak sorai penonton benar-benar memekakkan telinga. Jaehyun berdiri dan menginjak pergelangan tangan Sungho membuatnya mengaduh, “i'll burn this world for Taesan, and the first step is knock you down”

“Loser lover” katanya tertawa. Jaehyun mengangguk, benar. Pada akhirnya ia akan tetap jadi si dungu dalam cerita ini. Tak apa. Jika ini bisa membuat Taesan menetap dalam rengkuhannya selamanya, ia tak keberatan menjadi si dungu hingga waktu yang lama.

Fin.

even you left me.

Kkamdol, hurt, mcd.


“You looks different”

Pemuda yang tengah duduk sendirian memeluk lutut itu tersenyum hambar, “maybe this is the realest me”

Hamin mengambil duduk di sebelahnya. Menikmati angin sore yang berhembus mengusap pipi dan helai rambutnya. Pemuda di sampingnya bernama Nam Yejun. Seorang kakak tingkat yang selalu penuh puja. Dikenal ramah, baik hati, mudah bergaul dan hangat. Hamin setuju. Ia selalu melihat kak Yejun bersinar cerah sekali. Kak Yejun yang tertawa banyak, yang bicara banyak dengan nada lembutnya, yang saat tertawa ia akan senantiasa menutup mulutnya. Kak Yejun suka berteman, ia suka punya banyak teman. Kak Yejun gemar bercanda, ia suka orang-orang tertawa karenanya.

Tapi saat malam, kak Yejun berbeda dari yang siang tadi ditemukannya. Kak Yejun dan Hamin tinggal di apartemen yang sama, kamar mereka bersebelahan. Kak Yejun suka sekali menikmati sore di rooftop apartemen mereka. Sendirian. Hanya ada kicauan burung yang pulang dengan matahari yang kian turun.

Kak Yejun memeluk lututnya sendiri. Telunjuknya menggambar abstrak di atas lantai semen dengan pelan.

“Kenapa ya, semua selalu jadi salahku?”

Hamin menoleh sedikit, lalu kembali menatap langit.

“Mereka yang ga balas chatku, mereka yang udah gak bisa lagi makan di kantin sama aku, mereka juga yang lupa sama aku. Tapi, mereka nyalahin aku?”

Hamin menggeser tubuhnya. Ia biarkan sikutnya bersentuhan langsung dengan Yejun.

“Noah have a boyfriend, Bonggu juga. Everyone around me has a boyfriend, crush, or something else they usually called. They left my chat on read, karna sibuk sleep call dengan pacarnya. They left me on cafetaria alone, karena mereka makan sama pacarnya. They never asked me again about my Saturday's plan, karena mereka punya rencana pergi masing-masing. Tapi tadi siang, Bonggu dan Noah bilang aku menghindar dari mereka.”

Hamin membiarkan lengannya mengalung pada pinggang yang lebih kecil.

“Mereka bilang aku menghindar. Aku ninggalin mereka, aku gak mau berteman lagi sama mereka disaat…”

Yejun berhenti. Ia menggigit bibirnya sendiri.

“Bonggu punya Eunho dan teman-teman taekwondonya, Noah masih punya teman-teman club ice skatingnya, dan pacarnya. They have a lot of friends, while I'm here all alone.”

Yejun menjatuhkan dagunya pada lengan. Menerawang pada kejadian tadi siang, dimana Noah dan Bonggu bicara padanya saat di jam makan siang. Mereka berdua bertanya mengapa akhir-akhir ini Yejun terlihat menghindar dari mereka, Yejun terlihat menarik diri dan seperti sudah tidak berminat berteman lagi. Yejun tentu tersinggung, karena faktanya ia yang ditinggalkan sendiri.

“Mungkin banyak orang yang lihat aku punya banyak teman, ngobrol dengan banyak orang, tapi sebenarnya… i have no one. I have no someone to talk, i'm all alone. Saat Noah punya pacar dan Bonggu mulai semakin dekat dengan Eunho, yang terjadi aku disini sendiri. And they still blaming me for something i didn't do. It's not fair, kan?”

Hamin menangkup pipi gembil si kakak tingkat lalu mengecupnya. Membiarkan bibirnya bersentuhan dengan air mata yang mengalir begitu saja sejak pertama kali ia mengingat kejadian siang tadi.

Yejun tidak masalah Bonggu dan Noah punya kehidupan sendiri yang tidak ada dirinya di dalam sana. Tapi mendengar mereka menyalahkan Yejun atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, rasanya tidak adil. Ia benar-benar kesepian dan sendirian karena memang hanya mereka yang Yejun punya. Yejun mungkin terlihat akrab dengan banyak orang, mengobrol dengan banyak orang, but in the end of the day, ia tetap sendirian. Yejun bukan orang yang mudah terbuka. Ia juga bukan orang yang mudah dekat meski terlihat akrab. Yejun merasa aman dan nyaman bersama Noah dan Bonggu, ia selalu mendoakan yang terbaik bagi keduanya. Maka saat keduanya memiliki kehidupan baru yang tidak bisa Yejun masuki seenaknya, Yejun memberikan ruang. Dengan senang hati ia memberi ruang, membiarkan kedua temannya bahagia dengan cerita cintanya sendiri sendiri.

Yejun turut senang saat kedua temannya berpelukan mesra, makan bersama, dan melakukan banyak hal bersama pacarnya.

Namun saat mendengar tuduhan Noah dan Bonggu, entah mengapa rasanya menyakitkan.

Padahal selama ini Yejun mati-matian menahan rindu, ia rindu makan bersama kedua temannya. Ia rindu mengambil video lucu, ia rindu menghabiskan waktu seharian penuh bersama temannya. Ia menarik diri agar Noah dan Bonggu bisa menikmati kisah cintanya masing-masing tapi yang mereka lakukan adalah menuduh Yejun yang bukan-bukan?

“Salahku, ya, Hamin?”

Mata bulat birunya berkaca menatap Hamin. Pucuk hidungnya merah bersama bibir yang menebal manyun. Hamin terkekeh kecil lalu mengusap air matanya yang semakin meleleh, “enggak…”

“Tapi Noah dan Bonggu bilangㅡ”

“Mereka gak sadar udah bicara begitu karena mereka juga kayaknya gak sadar udah ninggalin kamu”

Yejun menangis. Yejun yang ia temui sore dan malam hari selalu berbeda dari yang ia temui pagi hari di lingkungan kampus. Yejun malam hari terasa lebih dingin, lebih rapuh, ringkih dan tak bisa sembarangan orang sentuh. Ia akan terlihat lebih kecil dan menyedihkan. Hamin cukup senang melihat fakta bahwa hanya ia yang bisa temukan Yejun dalam keadaan terpuruknya seperti saat ini. Yejun yang menangis dalam pelukannya membuatnya bangga dan jumawa. Ia merasa selangkah lebih dekat dari siapa saja yang mengenalnya.

“Mungkin mereka gak gitu sadar kalau selama ini, mereka yang udah gak punya waktu untuk kakak. Makanya, pas kakak udah gak di sekitar mereka, mereka mengira kakak yang udah gak mau berteman sama mereka”

“I just give them space”

“Makasih sudah selalu mengerti, nanti aku bantu untuk sampaikan pada mereka.”

“Gak mau, aku gak punya tenaga ketemu mereka”

Hamin tertawa kecil melihat wajah lucu Yejun yang datang begitu saja. Hamin mengusap rambut biru kehitaman itu dengan lembut dan membawanya ke dalam pelukan.

“Aku juga pengen kayak mereka… punya pacar, punya seseorang yang bisa habiskan banyak waktu bersama. Punya seseorang yang mau dengerin aku, dengerin aku nangis, dengerin aku curhat. Aku juga mau, Hamin…”

Hamin mencium puncak kepala Yejun yang semakin terisak. Ia rengkuh badan yang lebih kecil hingga tenggelam dalam pelukannya diiringi langit malam yang kian gelap.

“Aku juga benci sendirian, aku benci bicara sendiri, aku benci lama-lama menonton handphone, aku benci gak punya seseorang yang bisa aku ajak chattingan. Aku juga mau kayak orang-orang”

Hamin mengamini semua yang keluar dari bilah bibirnya. Hamin harap segala kebahagiaan bisa mampir ke kehidupan Yejunnya.

“Aku juga ingin dicintai, aku gak mau terus-terusan sendiri. Aku juga mau dipegang tangannya, aku juga mau didengerin ocehannya. Aku juga mau…aku juga mau bicara sama teman-temanku yang banyak. Aku juga mau punya banyak teman, aku juga mau.”

Yejun merapatkan tubuhnya pada Hamin saat angin malam mulai mengganggunya.

“Aku juga mau… aku juga mau punya kehidupan”

Hamin mengangguk. Ia juga sama. Ia juga mau punya kehidupan.

“Aku sendirian, Hamin. Semua orang ninggalin aku”

“Maaf”

“Bahkan kamu juga ninggalin aku”

Benar. Hamin mengangguk. Bahkan Hamin juga meninggalkannya. Meninggalkan kak Yejunnya sendirian di malam sepi di bulan Juni.

Hamin melompat dari gedung tinggi karena mengaku tak sanggup lagi hidup menderita begini, meninggalkan Kak Yejun yang mencintainya sendirian di sisa hidupnya. Hamin hanya bisa mampir sesekali. Membiarkan Yejun menangis dalam pelukannya yang semu. Biarkan Yejun merasakan kehadiran Hamin setiap kali ia terpuruk.

Malam itu, Yejun menangis di pelukan Hamin. Hangat, meski semu. Nyaman meski bias. Hamin tahu Yejun mungkin bisa merasakan kehadirannya karena selama ini, bahkan hingga detik ini, meski raga sudah tak bisa ia miliki lagi, Hamin selalu ingin temani Yejun. Yejun pagi dan sore hari itu berbeda, dan Hamin siap menemani malamnya. Malam sepi yang tak ada siapapun selain dirinya.

sex doll

myungreun : sungdaeng, taesjae, ringmong, handaeng.

boypussy! MJH

SEGGGGGSSSSSSSSSS, anal sex, vaginal sex, rimming, nipple suck, degradation, gangbang, handjob, blow job, doggy style, vagina slapping, overstimulation, squirting, etc.

pendek aja dan tipis-tipis.


Suara lenguhan tercipta ketika lidah dan bibirnya menyusur, menjelajah bak seorang pelaut yang melanglang buana di samudera. Badannya menggeliat heboh disela-sela desahannya. Kekehan kecil menggema saat rungunya menangkap suara becek dan porno yang menyebar ke satu ruangan.

Myung Jaehyun, namanya. Seorang leader dari satu grup yang kian membesar.

Seorang leader yang cantik jelita terperangkap dalam tubuh pria yang cukup tinggi di kalangan remaja.

Myung Jaehyun menggeliat, meremas surai halus milik lawan mainnya yang tengah sibuk menjelajah disana; di bagian selatan sensitifnya.

Suara kekehan itu keluar lagi saat dengan sengaja lidah menyapu bersih seluruh area vaginanya. Ah Myung Jaehyun diajak terbang menuju surga.

“Ahh Yepㅡyeppi..”

Pinggulnya terangkat dan pria berbadan besar bernama Sungho itu bangun untuk mengecup pipi gembilnya.

Jaehyun menarik kalung yang menjuntai dari leher kokoh pemudanya, mempersempit ruang dan jarak keduanya agar bisa bercumbu mesra. Ada rasa asin basah dari mulut yang ia kecup sebab sebelumnya sibuk menjelajah di vaginanya.

Suara pintu ditutup bersamaan dengan langkah kaki yang agak ramai.

“staff benar-benar marah sama kamu, kak”

Suara berat Kim Leehan menyapa, tapi Jaehyun tak bisa sedikitpun memalingkan muka sebab Park Sungho tengah rakus mencumbunya.

“lagian udah dibilang jangan buka jaket, malah nakal”

Kasur yang ia tiduri bergoyang sedikit dan menjadi semakin melengkung, tanda seseorang duduk disana, dan dari suaranya itu sudah pasti Riwoo.

“Kapan sih gak nakal?” Balas Leehan dengan kekehan kecil.

Jaehyun menarik diri, kepalanya ia jauhkan dari Sungho dan pemuda Park itu beralih mencumbu lehernya.

Jaehyun bisa menangkap sosok Han Taesan mendekat kearahnya, berdiri tepat di sampingnya. Han Taesan menatapnya datar meski Jaehyun dengan berantakan berusaha menggapainya. Jemari Jaehyun menggenggam tangan Taesan yang tengah bersidekap, ia memekik kecil saat Sungho menandai selangkanya, “ahhh hngg Taesanㅡ”

“If you're such a slut, take off your pants next on your weverse's live. Jangan setengah-setengah cuma buka jaket dan pamer tete”

Ah, ah, Jaehyun melolong setelahnya.

Sungho tertawa sarkas dan mengelap mulutnya yang basah, “gak diapa-apain udah cum aja”

Tadi, sebelum akhirnya ia terpenjara disini, ia sempat melakukan kegiatan siaran langsung, mengobrol sebentar bersama fans sampai akhirnya ia melakukan taruhan dengan Woonhak si bungsu, jika ia datang, Jaehyun akan membuka jaket yang ia kenakan, dan Kim Woonhak bergegas menyusul si leader setelahnya. Pria sejati memang harus dipegang janjinya, maka Jaehyun benar-benar menanggalkan jaketnya, yang tersisa hanya kaos press body miliknya saja yang memperlihatkan lekukan tubuhnya yang elok.

Dadanya yang sedikit membesar karena olahraga itu ia pamerkan dengan centil meskipun menuai kritikan gemas dari staff yang menjaga mereka disana. Jaehyun tetap melakukannya sambil tertawa-tawa meski di seberang sana keempat kekasihnya mulai kesal dibuatnya.

Oh Jaehyun memang dipacari semua anggotanya, dia senang-senang saja diberi banyak cinta oleh mereka. Jaehyun senang menjalani hari-hari penuh warna bersama kelimanya, menjalin kasih dan meniti karir sambil berpegangan tangan, melakukan hal-hal romantis setelah kegiatan, Myung Jaehyun selalu suka.

Malam ini, setelah kenakalan yang si puppy lakukan, keempat pacarnya (Woonhak tidur karena kelelahan) langsung masuk ke kamarnya, sambil mengomel, keempatnya menyudutkan Jaehyun hingga akhirnya disinilah ia. Berada di bawah kuasa kekasihnya yang berbahu lebar, dan tiga lainnya yang menonton di pinggiran ranjang.

“Nakal”

Jaehyun menjengit saat vaginanya digampari berkali-kali oleh Sungho hingga memerah. Airmata juga meleleh tanpa aba-aba, tapi Jaehyun suka. Jaehyun suka dibawa ke nirwana.

Jaehyun membiarkan Sungho mundur untuk melepas celananya, ia juga bisa melihat ketiga pacarnya yang lain menanggalkan milik mereka.

“Siapa duluan?”

Oh pertanyaan klasik yang biasanya ditanyakan sebelum acara inti. Memiliki banyak pacar membuat mereka terbiasa adil, mengantri dan bertanya hal-hal yang kadang membuat Jaehyun tertawa.

“The one with the biggest dick should be the first, so his vagina can stretch perfectly, gak sih?”

Lalu Taesan menyeringai. Oh come on, dia paling tinggi di grup ini (bersama Woonhak) ukuran kejantanannya sedikit lebih besar diantara yang lain. Miliknya gemuk dan panjang meski lebih panjang punya Leehan. Tapi diameter adik kecilnya memang yang paling enak untuk menjadi yang pertama.

“Taesan mulu yang pertama, bosen”

Oh Lee Sanghyuk dan jiwa kompetitifnya, “yaudah kamu duluan deh sekarang” balas Taesan yang membuatnya sumringah.

Riwoo itu, aduh. He is the one who always make Jaehyun cried. Riwoo itu bergerak seperti pemain handal, dia selalu bergerak dengan lihai, mengacak-acak Jaehyun, mengenai titik manisnya dengan telak bak dia yang menciptakan Jaehyun hingga sedetail itu. Riwoo acts like he is the Geppettos for his Jaehyun. Riwoo knew very well where he had to do something to make his Jaehyun moan.

Dan setelah Leehan membantu mengocok kontol Riwoo, pemuda itu masuk pelan-pelan tapi pasti, vagina Jaehyun sudah basah akibat permainan lidah Sungho dan kini ia semakin basah dan merah. Badannya terhentak dengan kedua tangan yang kini sibuk untuk memompa milik Taesan dan Leehan. Sungho akhirnya membiarkan penisnya masuk ke dalam mulut hangat Jaehyun, dan tak ada jeda bagi Jaehyun untuk berpikir. Badannya dipakai asal-asalan oleh keempatnya, membuatnya pusing dan mabuk. Jaehyun hanya berpasrah diri sambil mendesah disela-sela kegiatannya.

Badan itu terhentak lagi-lagi meski sudah cum berkali-kali.

“Ahh sial Jaehyun jangan kena gigi!”

Sungho secara tak sadar menggerakkan pinggulnya hingga si kecil itu tersedak berkali-kali, mulutnya sudah pegal dan kebas, tangannya juga sudah kesemutan tapi semua pacarnya tak mau berhenti.

Setelah Riwoo menuntaskan hasratnya, kini badan Jaehyun diangkat hingga duduk manis diatas badan Taesan merengsek masuk untuk duduk diatas kasur queen size itu. Saat penis Taesan tertelan sempurna di dalam analnya, ada penis Leehan yang menyusul, mengisi lubang lain yang sempat kosong sebab si pacar mengambil jeda. Jaehyun kini benar-benar menangis. Badannya ngilu, gemetar tak karuan karena rangsangan yang datang terlalu banyak. Dan guna meredam suara desahannya yang kencang, Sungho kembali memasukkan miliknya ke dalam mulut hangat si kecil. Riwoo di belakang sana memantik rokok lalu berjalan mendekat, tangannya yang menganggur dipakai untuk menggerayangi dada Jaehyun yang polos. Basah. Semuanya basah. Peluh, peju dan air mata bercampur satu membasahi sekujur tubuh.

Jaehyun menggeliat tak karu-karuan.

Bahkan kini tangan kanannya pun dipaksa untuk memberi service pada penis Riwoo yang sempat melemas karena istirahat. Semua bagian tubuh Jaehyun adalah candu. Semuanya manis lebih dari madu.

“Ah lonteㅡ jangan diketatin-!”

Han Taesan dengan mulut kotornya. Tangan kiri Taesan sedari tadi tak juga diam. Ia memilin, mencubit, memutar dan menekan nipple kiri Jaehyun serampangan. Sedangkan tangan Leehan mengocok miliknya yang tak hentinya disentuh.

Jaehyun yakin ia akan pipis.

Penis Taesan masuk, penis Leehan keluar, penis Sungho masuk, penis Riwoo keluar. Semua bak bisa Jaehyun rasakan dengan jelas. Seluruh tubuhnya digauli hingga pagi. Hingga perutnya kram karena terlalu banyak ejakulasi.

Jaehyun mau berhenti. Tapi ia benar-benar menikmati. Bahkan setelah Leehan dan Taesan selesai, badan lemasnya bergegas diangkat dan disekap oleh Sunghonya yang kini berbaring menggantikan Taesan. Jaehyun diusap penuh sayang meskipun lubangnya kembali diisi, dan dari belakang pemuda bernama Lee Sanghyuk itu kembali masuk menemani penis Sungho yang kini menggagahinya.

Tak berhenti. Tak diberi jeda.

Pantat sintal dan vagina menganganya bak tontonan gratis bagi siapapun yang punya tiket eksklusif.

Taesan dan Leehan mengusap rambut lepek Jaehyun. Setiap pergerakan penis yang mengobrak-abrik dinding vaginanya benar-benar membuat Jaehyun frustasi. Urat-urat di batang kemaluan tiap-tiap penis pacarnya, keras dan beberapa memiliki ujung melengkung membuatnya gila. Ia sudah tak berdaya sebenarnya. Tapi ia suka. Ia suka dipakai asal-asalan, dipakai bergiliran, dipakai sesuka hati hingga pagi, hingga ia tak bisa menapaki tanah lagi, Jaehyun selalu suka. Ia selalu rakus.

Maka, Jaehyun menjerit kencang saat pelepasannya datang. Sungho meredamnya dalam ciuman panjang. Ia biarkan si kecil pipis diantara pelepasannya, membasahi dirinya, membasahi Riwoo di belakangnya, membasahi sprei dan kasur kesayangannya. Ia biarkan Jaehyun merasakan pelepasan dahsyat yang membuatnya mengejang.

Jaehyun ambruk setelahnya. Nafasnya tersengal-sengal dengan energi habis tak tersisa. Badannya dibalik hingga telentang dan terkulai pasrah sedangkan keempat kekasihnya melingkar mengelilinginya, mengocok penis mereka masing-masing dan menyemburkan spermanya kesana. Jaehyun basah total, rusak total, vaginanya menganga basah dengan banyak jejak sperma. Perutnya sedikit menggembung lucu, pipi, wajah, rambutnya lepek dan basah karena keringat dan air mata bercampur dengan mani dari keempat pacarnya.

Jaehyun mau centil lagi. Jaehyun mau menantang maut lagi. Kapan-kapan, Jaehyun akan melakukan hal yang membuat mereka marah lagi.

Tapi malam ini, biarkan dia istirahat hingga pagi.

Fin.


“Capek, Zaqi.. capek banget” keluhnya. Mukanya memerah hingga telinga. Suaranya yang parau makin serak dengan isak tangis yang masih menemani. Tentu rasanya sakit. Zaqi tahu betul bagaimana rasanya dikecewakan oleh harapan, disakiti oleh realita, ditampar oleh keadaan. Tentu Zaqi tahu segalanya.


Halo, perkenalkan, namanya Sekala.

Sekala Jaladhi Hujan, pemuda biasa yang sedari dulu keluarga terlahir sebagai pria jantan. Ekspektasi keluarga yang dibebankan, doa dan harapan dari sang ayah yang selalu menghiasi hari. Ada kalanya dimana ia hilang arah tak punya jalan keluar dari belenggu kehidupan ini. Tumbuh menjadi lelaki tangguh yang dipaksa kuat oleh keadaan, tentu Nara dan Zaqi tahu bagaimana beratnya menjadi Sekala.

Anak pertama dari lima bersaudara, anak paling besar, anak laki-laki pertama, impian keluarga, di bahunya tersampir beban ekspektasi yang tak kasat mata.

Sekala katanya tidak boleh mengeluh. Sekala katanya tidak boleh lemah. Sekala katanya tidak boleh berhenti, barang sejenak. Sekala itu harus selalu berlari, harus selalu mengejar. Tidak boleh kalah oleh angin badai yang menerpanya. Jelas, Sekala harusnya tidak boleh menangis. Anak laki-laki itu harus kuat, katanya.

“Capek Nara, capek Zaqi… Demi Tuhan capek banget”

Keluarganya adalah keluarga sederhana yang mengandalkan hasil tani dan laut. Bertahun-tahun Sekala besar di lingkungan pedesaan, hidup sederhana apa adanya dipenuhi cinta. Tiba-tiba beranjak dewasa.

Sekala kecil saat itu bertanya pada ayahnya, bagaimana rasanya sudah besar, dewasa dan bisa bekerja. Ayahnya hanya tersenyum menanggapinya. Sekala saat itu hanya tertawa sambil bercerita bahwa ia ingin pergi ke kota, menjadi pegawai kantor yang turun dari mobil mewah dengan setelan jas bagus, rapat ke luar negeri bersama clientnya. Sekala saat itu bermimpi bahwa ia terbang tinggi bersama pesawat yang membawanya. Berkeliling dunia dan membeli semuanya yang ia inginkan.

Bertamasya bersama keluarga tercinta, menghabiskan waktu bercanda bersama kawan-kawan sebaya, dan meniti hidup bersama sang tercinta.

“Jadi dewasa itu enak ya, Pak” katanya tiga belas belas tahun lalu. Yang selalunya dijawab oleh senyuman dan wejangan agar menjadi anak yang pandai dan rendah hati.

Jika kita tarik benang merah hari ini, semua dimulai ketika Sekala menginjak usia dewasa dimana ia diharuskan untuk melangkah dengan kakinya sendiri.

Di semester ini, Sekala dan teman-temannya memilih untuk magang. Dua diantara empat temannya sudah diterima magang di salah satu perusahaan bergengsi di kota besar sana, membuat Sekala semakin gelisah dibuatnya.

Sekala itu anak yang cerdas. Nilai yang ia capai selama kuliah tidak pernah mengecewakan, prestasinya sedari dulu tidak membuatnya kecil meski hanya anak rantauan.

Tapi ada satu hal yang paling Sekala takutkan. Sekala itu hanya anak biasa, anak rantau biasa yang terkadang telat dikirimi uang.

Dulu, ada kalanya dimana ia tidak makan selama tiga hari karena uang dari orangtuanya benar-benar sudah menipis, maka dengan pikiran kusut yang mementingkan isi perut, hari itu Sekala terjun kedalam jurang menyakitkan yang membawanya menjadi pribadi menyedihkan yang bermuka dua selama kurang lebih dua tahun lamanya.

Malam itu, Sekala menjajakan tubuhnya pada pria-pria hidung belang di sebuah bar remang-remang yang terkenal di ibukota.

Malam itu, menjadi malam panjang penuh sesal yang ia alami sepanjang umurnya.

Namun takdir mempermainkan hidupnya, hidupnya kian sulit, ekonomi keluarganya kian menurun hingga ia tak bisa meninggalkan dunia malamnya.

Sekala sebisa mungkin menghindari orang-orang yang berpotensi mengenalinya di kampus. Sebisa mungkin pemuda itu menutup identitasnya serapat mungkin, namun namanya juga dunia, manusia hidup dimana-mana, Sekala tak sekali dua kali bertemu dengan salah satu clientnya, dan sialnya mereka mengenalinya.

Seperti siang ini, Sekala pergi interview namun ternyata orang penting itu mengenalinya. Sekala gemetar ketakutan dengan tangan pucat dan dingin. Pria mesum itu menggerakkan jemari nakalnya pada bagian bagian tubuh Sekala yang seharusnya tak disentuh tanpa setujunya, dan siang itu ternyata sama dengan siang-siang sebelumnya.

Sekala pulang dengan keadaan gemetar dan menangis sendirian di atas motor matic bututnya. Pemuda dengan kemeja putih dasi hitam itu melajukan motornya pelan hingga akhirnya kaki kecilnya sampai di depan pintu kosan.

Sekala harusnya terkejut dan tersenyum senang saat sebuah teriakan ceria keluar dari teman-temannya yang ternyata menunggunya di dalam kamar selagi ia pergi, dengan kue ulang tahun dan lilin menyala di atasnya. Mereka terdengar bernyanyi lagu selamat ulang tahun sebentar sebelum pemuda berkulit putih bernama Nara itu sadar bahwa Sekala tak baik-baik saja.

“Kala?”

Zaqi yang daritadi paling bersemangat buru-buru meletakan kuenya dan memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar dengan tangis yang ia tahan, “Kala…”

“Capek, gue capek, Zaqi… gue capek”


Sekala Jaladhi Hujan, bunda menamainya sambil menyelipkan doa. Sekala memiliki arti kuat dan tangguh, sedang Jaladhi sendiri artinya laut. Bunda memiliki harapan ketika beliau mengecup anak sulungnya tersebut, bunda berharap Sekala akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang hebat dan kuat seperti deburan ombak yang memecah karang di lautan yang luas dan diberikan kebahagiaan juga kemudahan yang deras seperti hujan.

Nama yang cantik untuk si sulung yang berharga. Bunda selalu bilang, saat dimana anak pertamanya lahir, bunda juga terlahir kembali menjadi pribadi baru. Sekala ingat betul saat kecil bunda banyak meminta maaf padanya karena kehabisan waktu.

Bunda memiliki warung makan kecil-kecilan di rumah, sedangkan ayah seorang nelayan. Sekala ingat ia banyak bermain dengan ayah dan bundanya meskipun hanya permainan sederhana, tapi waktu bunda banyak tersita oleh ramainya kesibukan yang ia punya. Saat usianya lima tahun juga bunda hamil lagi, lalu setelah adik kembarnya lahir, adik keempatnya lahir dan saat ia berusia dua belas, adik perempuannya lahir. Maka Sekala ingat betul bunda selalu meminta maaf padanya karena kehabisan waktu untuk menemaninya.

Dulu Sekala selalu bilang tidak apa-apa, tapi sekarang, jika ia bisa, ia ingin meminta banyak waktu yang bunda punya untuk mendekapnya.

Sekala masih menangis tersedu-sedu di pelukan Zaqi, Nara disamping kanannya mengusap kepalanya dengan lembut, jika bisa mereka menukar apapun yang mereka punya untuk kebahagiaan Sekala, Nara dan Zaqi takkan berpikir untuk yang kesekian untuk menukarnya.

“Suㅡsusah ya, orang-orang tau gue lonte soalnya”

Sekala menggigit bibirnya, badannya masih gemetar.

“Gue juga mau magang kayak yang lain…”

Beranjak dewasa bukanlah sebuah dosa, seharusnya. Tidak perlu ada hukuman atas apa yang pernah dilakukan saat dulu kala. Beranjak dewasa bukanlah sebuah hukuman dan kutukan, seharusnya. Hingga seharusnya tidaklah usah ada luka dan air mata penyesalan. Tapi entah mengapa setiap langkahnya terasa seperti hukuman dunia yang tak ada akhirnya.

Maka saat itu, kala tangan kedua sahabatnya merengkuh, memberi afeksi dan rasa hangat sebab hanya pelukan yang bisa menenangkannya, Sekala mulai rakus. Ia tak ingin kehilangannya, tak ingin kehilangan hangat dan cinta yang membuatnya sedikit lebih kuat.

Sekala kecil dulu hanya tahu bermain dengan kawan sebaya, bermain gundu dan layangan, sayangnya beranjak dewasa dengan cara yang cukup kejam. Menjadi mahasiswa rantau yang dibanggakan, bukanlah alasan mengapa ia tidak menjadi yang menderita di lembaran kisah hidupnya. Setiap malam menjajakan tubuhnya untuk pria pria hidung belang hanya untuk menyambung nyawa, harus mendapatkan umpatan dan cacian, digempur semalaman, dihina dan direndahkan. Sekala harus bisa, dia harus terbiasa.

“Dua tahun emang bukan waktu yang singkat yaㅡ gue pasti udah main sama banyak orang, makanya mereka ngenalin gue semua”

Sekala yang nafasnya tercekat itu perlahan bangkit. Ia dibantu oleh Nara dan Zaqi mengusap air mata yang meleleh sama seperti lilin diatas kue ulangtahun yang teronggok menyedihkan di sudut ruangan.

Sekala memaksakan senyumnya, “buat gue ya?”

“Iya, selamat ulangtahun ya, Kala…”

Zaqi mengambil kue ulangtahun itu membiarkan Sekala berdoa dan meniup lilinnya hingga padam, dengan ingus yang berlomba dengan air matanya yang turun, pemuda berkepala bundar itu tertawa kecil setelah berterimakasih. Lagi-lagi, badannya ditarik pelan oleh Nara dan ia tenggelamkan tubuh si kecil dalam pelukan hangatnya. Sekala kembali menangis siang itu, menumpahkan segala takut dan kesedihannya.

“Gue tahu perjuangan lo selama ini hebat banget, Kala, gue doain lo punya kehidupan yang luar biasa baik setelah ini. Lo harus inget, cara balas dendam terbaik adalah dengan sukses pake cara kita sendiri, gue yakin suatu saat nanti lo akan jadi orang paling bahagia, ya? Kalau capek, lo bisa istirahat. Kalau gak sanggup, lo bisa berhenti, asal lo tau, gue dan Zaqi selamanya bakalan tetap disini, sama lo, gak akan pergi, kita janji”


Dunia itu ya, nak, diciptakan penuh kejutan. Meski Tuhan selalu bilang semua sudah ada jalannya, namun rintangan memang datang tak disangka-sangka, dalam berbagai bentuk nyatanya. Dan Sekala adalah manusia yang diciptakan untuk ada didalamnya. Didalam garis besar kehidupan penuh kejutan yang Tuhan ciptakan.

Sekala kecil tentu tidak menyangka bahwa kehidupan dewasa akan segitu beratnya. Dan Sekala dewasa juga takkan menyangka jika keesokan harinya akan ada rintangan lain yang menyambutnya.

Tapi Tuhan itu sebaik-baiknya Dzat yang ada di langit dan di bumi.

Tentu segala rintangan Sekala tak hadapi sendirian. Tuhan kirimkan banyak teman yang membuatnya bisa berdiri meski terkadang tanpa tumpuan.

Salah satunya ialah seorang pria idaman yang tengah bergelung dipelukan. Arjanu Nanditama. Bertemu dengan cara yang tak terduga, terasa seperti bercanda namun pada akhirnya keduanya menjadi insan yang saling menjaga.

Ada lengan kekar yang merengkuh tubuhnya yang ringkih. Ada bahu lebar yang menjadi tempatnya merintih. Ada kecupan hangat yang membuatnya kuat setelah letih.

Janu mengusap punggung Sekala lembut, ditepuknya perlahan, diusapnya pelan-pelan.

Janu tahu ada jalan hidup kekasih kecilnya tak pernah santai berjalan, maka ia dengan sigap menjaga dan menemani setiap langkahnya.

Arjanu adalah anak bungsu dari dua bersaudara yang kehidupannya sangat layak, anak orang kaya.

Arjanu juga memiliki banyak sekali kemudahan dalam setiap langkah di hidupnya. Bertemu dengan seorang pemuda kecil berkepala bundar dengan cara yang tak terduga, hingga akhirnya keduanya menjadi insan yang saling mencinta.

Janu tahu salah satu rintangan terbesarnya adalah sabar yang harus dipupuk disela-sela kesibukan. Sabar untuk terus menuntun langkah pincang Sekala. Sabar untuk terus mendengar segala keluh kesah Sekala. Sabar untuk terus berada disisinya meski banyak yang mengecamnya.


Malam ini, pukul sebelas lebih delapan, Sekala baru saja menutup telfonnya. Bertukar kabar dan menyanyikan lagu selamat ulangtahun bersama keluarganya di seberang sana. Sekala melayangkan ciuman pada setiap adiknya yang melambai penuh suka cita, mengucap salam hangat sejahtera untuk ayah bunda dan menutup sambungan telfon videonya setelah hampir satu menit menatap nanar layar ponselnya.

Janu menyaksikan bagaimana setetes air mata mulai membasahi pipi manisnya, this is another birthday that can't be celebrated with his family. Sekala menggeser tubuhnya, memeluk bahu lebar tempatnya bersandar.

“Gapapa, tahun depan bisa rayain sama ayah bunda, ya…”

Sekala mengangguk, ia menenggelamkan wajahnya pada bahu Janu, membiarkan tubuhnya semakin menempel.

Ponsel Sekala beberapa kali bergetar menampilkan beberapa notifikasi yang sedikitnya membuat Arjanu ingin menghancurkan gedung tinggi di sekitarnya. Arjanu ingin marah, berteriak dengan lantang bahwa kekasihnya ini juga manusia. Manusia yang harusnya diperlakukan seperti semestinya.

“Nanti aku tanyain ke kantornya omku, siapa tahu dia terima anak magang tahun ini, ya”

Sekala terkekeh, “gapapa, aku cari sendiri”

“Buat apa cari sendiri kalau bisa dicariin sama pacar, hm?”

Janu mengusap air mata yang mengalir diantara pipi gembil kekasihnya, membiarkan Sekala menatapnya penuh puja. Punggung telunjuk Sekala terangkat untuk menyusuri sisian wajah Arjanu, ia usap dengan mesra, ia usap penuh cinta.

“Boleh gak kalau aku rakus? Boleh gak kalau mulai malam ini, aku pelit? Aku gak mau kehilangan kamu, aku gak mau kamu pergi kemana-mana, boleh gak?”

“Selalu boleh, Sekala”

“Meskipun kamu tahu siapa aku yang sebenarnya, kan? Meskipun aku gak sesuci orang-orang yang pernah kamu pacarin, meskipun aku cuma manusia kotor yang jual badannya ke orang banyak diluar sana? Meskipun aku gak sesempurna itu, boleh kan aku rakus?”

Arjanu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sekala lalu ia kecup bibir manisnya, “kamu lebih indah dari apapun yang ada di hidupku selama ini…”

Sekala terkekeh lalu biarkan Arjanu agihkan kecup mesra. Sakit memang rasanya dimana salah satu rintangan terbesarnya adalah restu dari si ayah yang belum juga dikantongi, namun Arjanu memilih melupakan segalanya.

Ini hari jadi kekasihnya, tak ada satu kesedihan pun yang boleh mampir merusak harinya. Pun termasuk pesan-pesan jahat ayahnya yang berkali-kali masuk ke kotak pesan Sekala malam itu.

“Jangan sedih lagi ya, sayang… terimakasih sudah selalu ada disini dan terus beranjak dewasa. Semoga di usiamu yang sekarang, kamu lebih kuat dari kemarin, kamu lebih bahagia dari kemarin dan semua impianmu bisa segera kamu dapatkan, ya?”

Sebenarnya mungkin Sekala tidak dikecewakan oleh dunia saat ia beranjak dewasa, sebenarnya. Ia hanya dikecewakan oleh ekspektasi dan harapannya saat kecil tentang bagaimana rasanya jadi dewasa. Mungkin Sekala terlalu jauh mengukur segalanya. Padahal, sebelum bahagia yang ingin ia jemput tentunya harus ada perjuangan dan air mata yang dikorbankan.

Sekala ingin berhenti menaruh harapan. Sekala ingin berhenti menjadi manusia yang banyak menautkan harapan. Ia ingin hidup apa adanya.

Namun kekasihnya bilang, harapan adalah bumbu, meski memang tidak semuanya berjalan dengan takdir yang digariskan sang Pencipta.

Jika memang dirasa takdir Tuhan menyakitkan, seharusnya Sekala berlapang dada. Mungkin skenarionya sangat indah untuk hambanya yang masih bersabar. Mungkin hari ini Sekala menangis sebab merasa lelah dan kalah. Tapi esok, seharusnya ia kembali menjadi sosok paling kuat di versi dirinya, yang siap meraih mimpi dan cita-citanya. Meski dengan keringat, darah dan air mata. Seharusnya, esok hari disaat matahari pagi menemani, Sekala melangkah dengan pasti. Sebab masih banyak mimpi yang belum terealisasi.

Maka malam itu Sekala mengangguk sambil mengamini segala doa, ditutup dengan satu kecupan mesra yang menjadi akhir dari perjalanan beratnya.

Untuk anak sulungnya bunda, selamat menua, ya nak. Maaf kalau ibu dan ayah belum cukup untuk memenuhi segala inginmu. Semoga seluruh doa bunda dan ayah terbang ke langit dan kembali padamu menemani setiap langkah beratmu.

Untuk kakak pertama kami yang kami sayangi, semoga lelah dan tangismu menjadi akhir yang bahagia, amin.

Fin.

cinta salah alamat


Sehabis mengantongi alamat lengkap si kakak ganteng, Woonhak langsung cabut kesana pulang sekolah. Berbekal mandi parfum dior hasil minta ke Sakuya teman sekelasnya, ia dengan percaya diri menenteng sebuket bunga dan mengetuk pintu kamar 19B yang dimaksud. Gak butuh waktu lama sampai akhirnya si pemilik kamar membuka pintu. Woonhak bisa lihat kalau orangnya sedikit kaget melihat sosoknya dan buru-buru menutup pintu yang untungnya sempat dicekal Woonhak, “KAK! Sumpah jangan ditutup kak! Ayo kita ngobrol dulu”

Taesan mendecak lalu memaksa untuk menutup pintu, Woonhak tetep mempertahankan kaki dan setengah badannya nahan pintu sehingga akhirnya yang punya kostan mendecak sebal, ya badan Woonhak bongsor begitu sukses lah dia nahan pintu.

“Please kak ngobrol dulu”

“Gak usah. Pulang sana”

“Kak sorry, ngobrol dulu bentar ya, please?”

Taesan memutar bola matanya malas lalu membuang muka. Woonhak merengsek masuk ke kamar kost itu dan buru-buru bersimpuh sambil nyodorin muka ke hadapan Taesan, “kak gue minta maaf kak, please maafin gue”

Taesan agaknya terkejut dikit dan bingung, tapi dia tetep sebel.

“Ngapain juga minta maaf kayak lo punya dosa aja”

Woonhak meraih pergelangan tangan si kakak (masih bersimpuh, btw) dan mengusapnya pelan, “Maaf hari itu nyakitin kakak…”

Woonhak berdiri lalu menunduk di hadapan Taesan yang masih ngambek, “gue tahu hari itu, omongan gue nyakitin kakak… gue tahu kakak kecewa hari itu, after everything we've been through, bisa-bisanya gue dengan jahat bilang gue naksirnya ke orang lain”

“Lah kan emang?!”

Woonhak buru-buru menggeleng, “enggak kakㅡ i mean, maksud gue, waktu itu gue gatau… gue juga belum ngerti.”

“Ya udah, berarti gak perlu minta maaf dong? Dasar bocah labil”

Bahu Woonhak merosot lalu gak sadar ia sedikit manyun,”waktu itu gue emang ngira gue naksir kak Sunghoon kak. Setiap kita chattingan, setiap kita saling kirim pap, saling kirim gofood, gue selalu bahagia banget, dan posisinya waktu itu gue tahunya lo itu kak Sunghoon, gue beneran gak tahu wajah kak Sunghoon sama sekali karena awal lihat, wajahnya samar karena jauh banget gue liat dari tribun timur. Gue ngira lo kak Sunghoon, setelah semua yang gue laluin, gue tetep ngira lo kak Sunghoon, kak, makanya pas tahu Iki ngibulin gue, gue marah banget kak… gue kecewa”

Taesan terkekeh sumbang lalu melepas genggaman tangan Woonhak.

Fix ini mah si kakak ganteng naksir dia sesuai perkataan Riki, buktinya dia bete banget gini pas Woonhak jelasin.

“Tapi kak, setelah tahu kalau lo itu bukan Kak Sunghoon, setelah kita jauh kayak gini, setelah kita gak bertukar kabar lagi, gak saling kirim pap dan gofood, gue gak bisa nemuin audi putih lo lagi di parkiran SMA gue, gue gak bisa selipin bunga lagi di mobil lo, gue sadar kalau ternyata gue naksirnya ke orang yang selama ini ada buat gue kak…”

Taesan menelan ludahnya gugup sambil curi-curi pandang ke anak kecil yang masih manyun di hadapannya.

“Gue naksirnya ke lo, kak, bukan ke kak Sunghoon yang asli. Gue naksirnya ke kak Sunghoon yang selama ini nemenin gue tiap hari… sorry udah brengsek kemarin bilang depan kakak kalau aku naksirnya sama kak Sunghoon, padahal setelah dipikir sekarang, ternyata gue naksirnya sama Sunghoon yang ini, versi dikibulin Riki…”

Woonhak berjongkok lagi lalu menyodorkan buket bunga itu ke hadapan Taesan lagi, “gue suka sama lo kak Taesan… gue naksirnya sama lo. Mau gak terima anak ingusan kayak gue? Gue janji gak akan bikin lo marah lagi kayak kemarin-kemarin deh”

Taesan rasa mukanya panas apalagi saat Woonhak tersenyum kearahnya menatap penuh harap. Lalu Taesan meraih bunga itu dan mengangguk. Woah melihat itu, Woonhak buru-buru berdiri dan meluk kakak Taesan kenceng banget, badannya digoyangin ke kanan kiri saking excitednya, membiarkan Taesan terkekeh karena kegemasan brondong narsis satu ini.

Pipinya dihujani cium sampai basah lalu Taesan mau gak mau jauhin muka dia biar selamat dari ciuman brutal itu.

“Lo lima tahun lebih muda, Woonhak, gak malu apa jalan sama gue?”

“Kak Taesan malu?”

“Hm… gak sih, kalau di luar lingkungan sekolah gue gak malu, kalau di lingkungan sekolah bukannya malu tapi lebih ke pengen jaga sikap aja biar dibilang tetap bisa profesional, gimanapun juga gue tetep guru lo gak sih? Ya bukan guru yang ngajarin lo pelajaran juga tapi ya tetep aja?”

Woonhak cekikikan paham lalu mengecup hidung kak Taesan, “lagian kita udah gak satu sekolahan ini, kak Taesan kan barusan pindah. Gak usah jaga image juga ah”

“Ya tetep aja gak sih?”

“Iya iya gapapa kita kan kencannya diluar area sekolah. Gue janji deh kalau someday jemput lo dari sekolahan itu, seragamnya gue sembunyiin hihihi”

Taesan ketawa mendengar perkataan Woonhak yang gatau menurut dia kayak lucu aja. Ini kenapa ya pak, buk, kok Adik dan Kakak kepincut jerat berondong kayak gini? Kakaknya lebih parah, dikejar bocil cepmek yang usianya tujuh tahun lebih muda. Tapi lebih parahnya lagi si kakak suka suka aja tuh, malah sekarang udah jadian.

“Kita jadian, kan, kak?”

Lah iya juga, dia juga jadian sekarang. Duh malu tapi Taesan udah naksir, gimana dong?

“Jadian please, ya ya ya?”

Taesan ngangguk kecil malu-malu lalu lagi-lagi badannya dipeluk erat-erat oleh si berondong. Duh gini amat ya kisah cintanya. Tapi gak apa-apa deh, Taesan suka. Rasanya menyenangkan.

Tamat