Cuter moan

Milsun oneshoot ? Top! Mil Bot! Sun

Content warning : Sex scene, fingering, praise kink, nipple sucking, nipple play, cockholding,multiple orgasm, rough sex, doggy-style, mention insecurities, deep throat, mirror sex, Harsh word, vulgar’s local word ( mention sange, kontol,ewe dll) etc.


[Di beberapa scene saat penetrasi akan lumayan banyak conversation, yang kurang berkenan klik tombol kembali mulai dari sekarang!]

Minor? Go away!


Malam itu Sunwoo membaringkan dirinya sehabis melakukan kegiatan comeback Maverick bersama rekan teamnya. Sunwoo yang baru selesai mandi lanjut merebahkan dirinya di sofa ruang tamu asrama sambil berselancar di internet. Melihat betapa antusias deobi (sebutan fans mereka) menyambut kembalinya mereka ke panggung dengan lagu barunya.

Sunwoo berselancar semakin jauh, semakin lama semakin asyik melihat banyak foto-foto tentangnya dan team terpampang di situs burung biru itu. Sampai akhirnya ia berhenti disalah satu cuitan penggemarnya, tertera empat gambar disana menunjukkan rekan teamnya tengah menari. Eric, Kak Hyunjae, Kak Juyeon dan kak Kevin, sebutnya dalam hati.

Pearl boba eyes milik Sunwoo menyelami bagaimana kerennya bisep rekan teamnya terpampang jelas di internet. Bagaimana terlihat besar dan kuat otot-otot yang mereka miliki. Sunwoo memperbesar gambar yang tengah ia pandangi, milik Hyunjae. Sunwoo tidak ingat kapan terakhit kali ia mengukur lengan kekasihnya ini hingga jadi sebesar ini. Hehe iya kekasih. Tidak ada yang tahu selain team mereka sendiri bahwa Sunwoo sudah lama menjalin kasih bersama salah satu kakak di grupnya.

“ini aku kalau dipiting kak Hyunjae leherku patah nih” desisnya. Sunwoo membenarkan letak duduknya, memilih untuk menyimpan gambar yang ia temukan tadi, lalu kembali berselancar di dunia burung biru itu. “ini apa tidak ada berita tentangku,ya? Daritadi hanya kak Juyeon dan kak Hyunjae saja yang lewat” bibirnya mengerucut lucu cukup sebal karena sedari tadi tidak menemukan satupun cuitan tentangnya. Hingga ia berhenti. Ada, ucapnya dalam hati.

Selang beberapa detik Sunwoo mencelos. Ia sedikit sebal dengan berita yang ia temukan tentangnya. Bukan, bukan karena cuitannya jelek, bahkan dilihat dari QRTnya banyak yang mengapresiasi. Tapi sejujurnya Sunwoo agak sensitif.

Ia memperbesar gambar yang tersemat dalam cuitan, bagaimana paha padatnya menjadi sorotan disana. Banyak yang memuji paha padatnya, karena perjuangan olahraga dibalik paha ini tidaklah mudah. Tapi Sunwoo agak minder. Jujur saja beberapa kali dalam sebulan belakangan ia terlihat sering mengeluh, takut pahanya terlalu besar dan tidak cantik untuk dilihat. Sunwoo melemas sebab sedih yang ia jemput. Sebenarnya seharusnya tidak ada masalah dengan ini, karena banyak fans yang mengapresiasi dan masih menyukainya. Tapi Sunwoo malu. Itu sebabnya ia jarang mengambil selca seluruh badan, jauh di lubuk hatinya ia ingin sekali memiliki paha kecil yang cantik, mungkin seperti punya kak Chanhee dan kak Changmin. Tapi baginya miliknya terlalu besar.

Bagaimana bisa kak Hyunjae masih menyayanginya? Sunwoo semakin larut dalam kesedihannya, hingga tak sadar ada satu pemuda yang sudah sejak tiga menit tadi berdiri dibelakangnya. Memperhatikan gerak-geriknya dan menyadari aura kelam yang akhirnya keluar dari dirinya.

“Sunwoo?” Dengan terkejut Sunwoo menoleh cepat ke belakang, mendapati kekasihnya tengah berdiri menatapnya teduh. “Kak Hyunjae bikin kaget aja”. Hyunjae melompat kecil, menduduki sofa disamping kekasihnya lalu memeluk pinggang ramping itu hangat, “kenapa? Mau cerita?”. Rambut coklat itu ia usak, dikecupinya dahi dan pipi pelan-pelan, lalu kekasihnya merengek. Balas memeluk pinggang Hyunjae dan menenggelamkan wajahnya didada bidangnya. Sunwoo menggoyangkan badannya sebal masih dengan rengekan anak kecil yang sama.

“Pahaku gede ya kak? Jelek kan?” Matanya berkaca-kaca saat menatap yang lebih tua. Pemuda 1997 itu tertawa kecil lalu mengecup puncak hidung Sunwoo dan berakhir mengecup singkat bibir plumnya. “Gak jelek. Sunwoo gak jelek sama sekali”

“jangan bohong kak…pahaku gede kan? Jelek banget”

“kata siapa? Gak ada yang bilang begitu Sunwoo. Kamu tetep yang paling indah yang kakak punya di dunia ini” jawabnya. Namun sepertinya pacar kecilnya masih tidak bisa sepenuhnya percaya atas jawaban yang ia lontarkan. Maka, detik berikutnya Hyunjae menangkup pipinya, menatap lembut penuh kasih pada yang lebih muda, “Sunwoo, kakak bersumpah kamu lebih dari cukup. Jangan minder, jangan pernah merasa kurang, kamu adalah kamu, yang punya segudang kesempurnaan karena kamu ya kamu. Setiap manusia di dunia ini, memiliki kelebihannya tersendiri sayang, jangan sedih begitu dong” lalu kembali bibirnya dikecup.

Sunwoo menghela nafas dan memilih menyerah. Sunwoo merengek lagi, semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh pemuda didepannya, semakin merengsek masuk kedalam pelukan yang disambut penuh suka cita oleh yang lebih tua. “kak Hyunjae gede banget sih sejak kapan aku gak sadar”.

“apanya yang gede?”

Jemari tangannya meremas lengan Hyunjae berulang kali hingga menimbulkan kekehan lucu dari sang empunya. “Ya olahraga dong makanya, jangan kabur terus. Tiap nge-gym ada aja alasan kan ketinggalan progress otot kakak” ejeknya. Sunwoo sering kali mangkir jika diajak nge-gym oleh rekan-rekan teamnya, beberapa kali kabur dengan beribu alasan meski akhirnya digusur paksa oleh managernya. Sunwoo malas berkeringat untuk hal-hal selain olahraga lapangan, Sunwoo juga malas angkat-angkat beban.

Hyunjae mengelus pinggang ramping milik sikecil, diusapnya perlahan hingga ia mengingat sesuatu, “kemarin tattoo sunwoo keliatan ya?” Sunwoo mengangguk, “bajunya agak transparan, tipis. Dingin kalau kena AC” jawabnya. “bagus dong, kakak mau lihat boleh?”. Sunwoo mengernyit, “lihat apa?”

Sunwoo tertawa kecil, “sange ya?” hyunjae mencubit perut datar itu sedikit sebal, “kangen”

“Halah sange mah sange aja sih gak usah belagak kangen”

Lalu yang lebih muda kembali dipeluk, “yuk? Mumpung besok free”.

“siapa sih yang lagi ngewe sampe kakak pengen juga?” Sunwoo berdiri sembari membenarkan bajunya yang kusut, “biasalah anak muda jaman sekarang. Kenceng banget suaranya, kedengeran sampai ke kamar”. Sunwoo menggeleng lalu menggandeng tangan Hyunjae, mengizinkan Hyunjae untuk memiliki dirinya malam ini. Dirinya, sepenuhnya atas dirinya.


Entah siapa yang memulai dan entah sejak kapan mereka memulai, cumbuan dan kecupan kecupan ringan itu berubah menjadi lebih panas sejak awal. Bagaimana lidah saling membelit dan mengejar, dengan oksigen yang menipis di rongga paru, hingga Saliva yang menetes di dagu keduanya, hyunjae akhirnya menuntun Sunwoo untuk bersimpuh. Sunwoo menatap Hyunjae,tatapannya menggemaskan, Hyunjae menepuk puncak kepala kekasihnya lembut, “buka dulu bajunya sayang”

Maka siapa Sunwoo berani membantah. Dengan gerakan cepat, akhirnya Sunwoo bertelanjang dada. Tattoo itu, tattoo yang menjadi alasan kekasihnya mengajak menghabiskan malam bersamanya. Hyunjae mengusapnya, sengaja memancing dengan gerakan sensual, jemarinya naik hingga menyapa nipple Sunwoo, yang lebih muda tak sengaja mengumpat, menggigit bibir dan memejamkan mata, semakin lama nafasnya semakin berat.Hyunjae sedikit menyeringai, tidak banyak orang yang tahu bahwa Hyunjae mendamba. Nipple pink milik kekasihnya adalah candu baginya, dengan piercing yang menancap tepat ditengah, Hyunjae suka sensasi besi itu jika tengah menyusu, dan suka saat Sunwoo berantakan sebab lidahnya.


Sunwoo bergerak gelisah, kaki hyunjae tak tinggal diam menggoda Sunwoo tepat diselangkangan. Menekan dan memutar dengan gerakan konstan. Sunwoo melenguh saat tengkuknya ditarik, wajahnya tepat diatas resleting celana milik kekasihnya, Sunwoo menengadah lalu meminta izin lewat tatapannya. Hyunjae tersenyum mempersilakan, dan dengan cepat Sunwoo membuka resletingnya dengan gigi, lalu mengendusi apa yang ada dibalik celana dalam Celine milik kekasihnya.

Pelan namun pasti, Sunwoo yang semula hanya mengecupnya dari luar fabric, kini dengan berani membawanya keluar dari sangkar. Dikecupinya lagi, dijilat perlahan dengan tangan yang konstan mengurut pangkalnya. Sunwoo selalu ragu saat memberikan Hyunjae blow job seperti ini, mulutnya kecil ia takut Hyunjae tidak puas, tapi selama ini, Hyunjae tidak pernah mengeluhkan hal itu. Maka, dengan jantung yang berdebar, Sunwoo mulai mengulumnya, sengaja membasahi dan memberikan kehangatan pada Hyunjae kecil dalam genggamannya.

Hyunjae melenguh panjang saat hangat menjemputnya. Cara Sunwoo yang memperlakukannya hati-hati dan konstan, membuatnya mabuk. Hyunjae menggenggam rambut belakang Sunwoo, membantu sikecil untuk memperdalam kulumannya. Lama kelamaan, temponya menjadi sangat cepat. Ujung penis hyunjae semakin dalam melesak,menyapa tonsil Sunwoo diujung sana. Mata Sunwoo berair, ia semakin pusing sebab oksigen semakin sedikit yang masuk. Sunwoo beberapa kali tersedak, namun ia tak gentar dan tak juga berniat menyudahinya, malah dengan sengaja memperdalam milik kekasihnya dalam rongga mulutnya.


Sunwoo menahan pergerakan Hyunjae, membiarkan penis Hyunaje berada dalam mulutnya, jauh hingga menabrak tonsil, Sunwoo memperdalamnya sekali lagi, lalu terbatuk dan melepaskan penis hyunjae, dengan buru-buru meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Hyunjae tertawa sambil memeluk kekasihnya, “lagian tumben banget deep throat”

“mㅡmau coba hhh…soalnya kata Kak Kevin enak”

Hyunjae tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya sekali lagi, digendongnya Sunwoo keatas pangkuan, sikecil memeluk bahu dan leher kekasihnya, membiarkan Hyunjae menyusu padanya. Membiarkan giginya menggigit piercing miliknya, membiarkan lidah membelai kulitnya, membiarkan kekasihnya menyesap keduanya dengan rakus. Sunwoo melenguh, meremas bahu kekasihnya dan menggigit bibir bawahnya kencang kencang, badannya melengkung sebab gelombang yang terlalu banyak datang menyerangnya. Ereksinya kian mengeras, dengan sengaja Hyunjae memainkannya, menelusupkan tangannya kedalam celana membuat Sunwoo sedikit berteriak. “Ah anjing…”

“ssstt…such a little bad boy. Daripada mengumpat, better make a cutter moan,honey” lalu Hyunjae menggigit cuping telinganya. Sunwoo merengek disela-sela desahannya,sebab tangan Hyunjae tak ada niatan berhenti memainkan ereksinya. “T-tapi, aku gak bisa kak”

“bisa. Kamu bisa sayang”

Sunwoo mendesah kencang, saat Hyunjae dengan sengaja mempercepat kocokannya pada penis Sunwoo, sunwoo menengadah, sedikit menangis karena jujur belum siap. “Ahh..pelan kak pelan…nghh”

Saat putih hendak menjemput, Hyunjae menutup lubang miliknya, melepas secara tiba-tiba penis Sunwoo dari segala afeksi yang ia terima. Sunwoo menangis lagi, sakit rasanya. Tapi Hyunjae suka melihat bagaimana si kecil frustasi karena ulahnya. Sunwoo menggoyangkan pinggulnya tak beraturan, sengaja menggesekkan pantatnya pada kelamin Hyunjae yang sudah mengeras lagi.

“Such a bad kitten”

“Meow”

Hyunjae mengumpat, menatap tajam tepat pada netra pemuda Aries didepannya, Sunwoo sedikit tersenyum puas sebab merasa menang, sedikit menyeringai dibalik wajah memelasnya. “don’t you dare” ujarnya. Dibalas oleh “meow~” kedua oleh yang lebih muda. “meow?” Lalu Sunwoo tertawa remeh, membiarkan Hyunjae menggambar hickey di selangkanya. Tangan Hyunjae menarik rambut Sunwoo agak kencang, membiarkannya menengadah dan dengan sengaja menyesap kulit leher sunwoo, mengecup jakun dan kembali memberi tanda di selangka.

Sunwoo turun dari pangkuannya, menungging tepat didepan kekasihnya, menggoyangkan pantatnya yang masih terbalut celana dengan sengaja, “kakak…”. Hyunjae segera melucuti pakaian yang masih menempel, juga menarik baju dan celana sunwoo hingga akhirnya teronggok sia-sia sebab dibuang begitu saja.

“prepare yourself darling, kita mulai ok?” Dan meskipun Sunwoo belum mengangguk, satu jari hyunjae sudah merengsek masuk kedalam lubang senggamanya.


Sunwoo mengungging, membiarkan Hyunjae menghujam dirinya begitu dalam. Pinggang Sunwoo digenggam dengan kedua tangan, Sunwoo menggerakan dirinya berlawanan dengan Hyunjae, menyebabkan penis Hyunjae masuk semakin dalam. Sunwoo tak hentinya mendesah, tangan Hyunjae masih setia menggenggam pinggangnya yang sudah pasti menimbulkan kemerahan. Hyunjae dengan gemas meremas pipi pantat bulat Sunwoo dibawahnya, menepuknya sesekali dan meremasnya tanpa henti. “Ah…kakak nghh” sunwoo meremas sprei yang sudah tak beraturan dibawahnya. Tubuhnya yang sudah telanjang bulat semakin basah sebab keringat yang keluar buah dari kegiatan panas mereka. AC diruangan mereka seperti tak berdaya untuk mendinginkan suasana.

Ini kali ketiga sunwoo orgasme. Tapi hyunjae baru menjemput pertamanya, dan masih meminta lagi pada kekasih manisnya. Sunwoo tidak protes karena jujur ia juga suka, tapi ia tidak bisa menjamin bahwa ia akan tetap waras pada dunia dan baik-baik saja. Kedua tangan Sunwoo ditarik, tubuhnya mengawang diatas kasur, masih dengan hujaman yang ia terima dilubang senggamanya.

Matanya menatap pada cermin disamping mereka, terlihat jelas bagaimana penyatuan badan mereka yang terlihat sangat panas itu terekam jelas di memorinya. Sunwoo mendesah kian keras, bagai serigala melolong ditengah malam, “nghh kakak.. pelan-pelan” Sunwoo memejamkan matanya, penis Hyunjae makin membesar didalam lubangnya, panas dan gerakannya konsisten. Membuat kewarasan Sunwoo perlahan mulai memudar, yang ia ingat hanya Hyunjae dan kenikmatan yang ingin ia jemput. “look at the mirror. My pretty Kim sunwoo” lalu nipple yang terpasang piercing itu kembali dimainkan, tangan kanan Sunwoo menumpu badannya, masih dengan gerakan Hyunjae yang belum juga memelan.

“hancur kak ㅡnghh udah hancur”

Sunwoo mulai meracau tidak jelas. Tanda putih akan seger menjemput kewarasannya. Hyunjae memeluk Sunwoo, membalut tubuh si ramping dengan badannya, menciumnya dari samping lalu berakhir mengecup keningnya, “indah. Pacar kakak indah banget, ganteng, cantik. Matanya bagus ya sayang”. Sunwoo menggeleng. Ia tidak bisa terlalu banyak dipuji. Semua orang didunia tahu bahwa Sunwoo adalah manusia haus afeksi. Sunwoo menggeleng ribut, “kakak ㅡnghh gede banget takut nghhh”

Hyunjae tertawa sedikit memelankan ritmenya, menusuk dengan pelan namun dalam pada lubang Sunwoo, Sunwoo terhentak hentak ke depan, hancur. Semuanya sudah hancur. Sunwoo sudah tidak punya sisa sisa kewarasan. “Hancur hiks ahhh enak”

“kamu gak akan hancur cuma karena kakak giniin sayang” lalu Hyunjae membalik tubuh Sunwoo hingga telentang, “cantiknya kakak. Sini lihat kakak, jangan merem gitu. Sini lihat kakak sayang”

Sunwoo menurut. Ia menatap Hyunjae, menahan sekuat tenaga saat akan memejam. “Kamu itu sempurna. Jangan cuma karena paha, kamu jadi banyak mindernya. Pacar kakak sempurna, kamu sempurna” satu hujaman, dua hujaman, tiga hujaman, tangan Sunwoo meremas bahu Hyunjae kencang-kencang dengan nafasnya yang tersengal-sengal, “kㅡkakak boleh?? Kakak nghh kakk …”

Hyunjae mengangguk, “boleh sayang, apapun buat kamu”

Dan saat hujaman terakhir itu Hyunjae hantarkan untuk Sunwoo, pemuda rakun itu mendesah panjang meneriakkan nama Hyunjae sambil memeluknya, begitupun hyunjae, mendesah panjang sambil mengusap tubuh Sunwoo dibawahnya. Ada oksigen yang dikejar secara rakus oleh keduanya saat bintang bintang itu menyapa. Ada paru yang harus diisi dan pinggang yang harus berhenti bergerak. Moment dimana Sunwoo menatap lurus pada netra Hyunjae saat orgasme adalah hal terindah yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Rapper kecil kebanggaan grupnya, dengan tingkah tengil dan super jailnya, siapa sangka didalamnya terdapat jiwa yang dipenuhi rasa minder yang tinggi. Yang mudah merasa insecure dan malu terhadap apa yang menurutnya menjadi kekurangannya. Padahal Sunwoo adalah kata lain dari sempurna, sempurna karena menjadi apa adanya dirinya.

Sunwoo adalah definisi cantik dan indah bagi Hyunjae meskipun dalam wujud pria. Sunwoo adalah yang paling tampan yang pernah ia jumpa. Sikecil masih terengah-engah setelah pelepasan. Hyunjae menatapnya lamat-lamat penuh kasih sayang, diusapnya dahi yang basah itu, dikecupnya sekali lagi bibir ranumnya. “Indah banget pacar kakak”

Sunwoo tersenyum sambil memejamkan mata, “diem ah. Capek”

Hyunjae membaringkan tubuhnya di samping Sunwoo, menarik selimut menutupi seluruh tubuh keduanya, “istirahat dulu nanti kakak mandiin, sekalian beresin ini semua”. Sunwoo menenggelamkan wajahnya didada telanjang kekasihnya, “nanti kak Kevin marah kamarnya acak-acakan sama bau peju begini”

Ada tawa yang terdengar setelah Sunwoo berkata demikian, dan ada usapan lembut dipuncak kepala, “iya nanti kakak yang beresin”

Sunwoo menatap wajah Hyunjae penuh senyuman, lalu berbisik berucap terimakasih atas segala yang telah ia beri. Dan malam itu, keduanya tertidur saling memeluk setelah mandi dan mengganti sprei tentunya.

Fin