episode 1
“Ma... Dedek berangkat dulu ya..”
Pagi hari, Selasa di pertengahan bulan, Zaqi Auriga yang sudah selesai mengikat sepatunya bergegas meraih helm merah. Di depan sudah ada Sekala dengan motor matic bututnya menunggu. Menyalakan klakson buru-buru karena mengejar sarapan yang ketinggalan.
“Zaq buruan!” Serunya sambil mendecak.
Maka Zaqi berlari dan setelah menutup pagar, ia mendudukkan pantatnya diatas jok motor matic butut itu.
“Lama banget deh ah kebiasaan!” Sekala menggeber-geber motor matic bututnya sedang Zaqi mengerucutkan bibirnya sambil mencubit pinggang si tengil, “Sabar kek gila! kayak mau wisuda aja harus buru-buru”
“Gue laper, tolol! belom sarapan nih, kalo lo lama nanti gak keburu” lalu Sekala menyalakan motornya, berjalan agak cepat untuk segera sampai kampus tercinta. “Motor lo kemana?”
“Kena tilang!!”
Zaqi dan Sekala yang tengah menikmati perjalanan pagi itu akhirnya berbincang. Menceritakan bagaimana hari-hari mereka berjalan, menceritakan kejadian penilangan motor Zaqi secara detail.
Matahari yang sudah sangat gagah menyinari hari itu, sinarnya menerpa keduanya. Memberi efek hangat yang tentu saja memeluk keduanya sepanjang perjalanan. Ada tawa yang terselip juga umpatan dan cacian yang terdengar. Zaqi banyak menggerutu saat motornya terpaksa harus diserahkan pada petugas dan berakhir pulang dengan ojek online. dan Sekala bagian yang tertawa puas, mengejek temannya yang tengah menderita.
“Nanti sidangnya tanggal empat katanya mau ditebus temennya Om Bima” ungkapnya. Sekala yang lelah tertawa lalu mengangguk. Cukup besar nyalinya, tanpa membawa surat-surat penting dan spion yang hanya sebelah, si bodoh Zaqi dengan nekat menyusuri jalanan yang ramai petugas.
“Untung lo gak dimintain duit ya” katanya. Zaqi mengangguk heboh sambil menepuk brutal bahu kokoh anak pertama dari Jawa itu, membenarkan perkataannya. Karena ditanggal-tanggal menjelang tua seperti ini tentunya bekal dan uang jajan Zaqi sudah menipis. Lagipula, Zaqi memang lebih memilih menyimpan motornya saja di kantor polisi daripada harus menyerahkan sejumlah uang.
— — — — — — — — — — — — —
Motor beat street berwarna hitam itu berhenti di parkiran gedung fakultas. Keduanya serempak membuka helm dan menyampirkannya diatas spion motor. Sama-sama mengambil jurusan manajemen bisnis membuat keduanya lebih dekat dan sering bersama. Meskipun terkadang jadwal peminatan yang mereka ambil tidak berada di waktu yang sama karena Sekala yang harus menyesuaikan, tak menghalangi keduanya untuk selalu bersama. Akan ada masanya dimana ada Zaqi pasti disitu ada Sekala.
“Itu seriusan IP lo turun, Qi?”
Keduanya yang mulai berjalan menuju kantin akhirnya berbincang dengan topik sensitif. Ah sial Zaqi benar-benar sedih. Selama satu semester ini menurutnya ia masih stabil, masih bisa menjadi kebanggaan keluarga.
Menurutnya selama ini HARUSNYA hasil yang ia terima setimpal dengan perjuangannya. Belajar mati-matian sampai terkadang harus muntah dan mimisan sebab otak yang terlalu sering dipakai, jam tidur yang kurang, waktu main yang makin menipis, biasanya membawakan hasil yang memuaskan. Jeda dan helaan napas yang ia ambil rasa-rasanya tidak cukup untuk menggambarkan betapa kecewanya ia dengan hasil yang ia terima.
Sial! Kenapa sih Zaqi harus menelan pahitnya kenyataan?
Sejak kecil Zaqi dikenal sebagai anak yang cukup ambisius. Sejak kecil menjadi kebanggaan keluarga karena menjadi anak tunggal, membuatnya selalu ingin menjadi nomor satu juga. Selalu diprioritaskan oleh mama, selalu dilimpahi kasih sayang juga membuatnya selalu ingin menjadi yang teratas.
Zaqi ini cukup kompetitif. Zaqi juga sering kali merasa dirinya pantas diatas meski terkadang kenyataan menamparnya.
Sekala Jaladhi ini tentu kenal betul siapa Zaqi yang sedang menghabiskan siang bersamanya. Yang angkuh dan tak pernah mau dinomor duakan ini beberapa kali menjadi orang yang angkuh dan tak tersentuh. Zaqi ini secara tak sadar tumbuh besar dengan jiwa bersaing yang kuat. Terkadang susah diatur dan tidak bisa menahan dirinya.
“Katanya simpanan rektor, kok nilainya apa adanya sih? Buat apa dong nyepong tiap hari kalau gak bisa pake jalur orang dalam? Percuma! Kagak dapet benefitnya.” lalu Zaqi meraih mangkuk soto yang baru saja disajikan.
Zaqi didepan Sekala sudah memasang wajah suntuk paling buruk yang ia punya. Susu murni yang tadi ia pesan hanya ia aduk sembarangan tanpa minat.
Sekala cekikikan sebentar lalu menyeruput kuah sotonya, mencampurkannya dengan nasi yang sengaja ia bawa dari kost-an. Ujung matanya sedikit menelisik pada sobatnya yang masih enggan juga bicara. Aduh Kala ini tahu betul bagaimana sifat si anak mama ini.
Zaqi si ambisius dan gak mau kalah, they said.
Lalu Zaqi mengacak surainya. “Pokoknya gara-gara gue diajak ngedate terus nih!! Ah sialan juga si Sahid ngasih gue nilai C kemarin, kontol!”
Dengan tak berperikemanusiaan, Zaqi meremas kerupuk yang tengah dilahap Sekala hingga hancur, menuai protes yang lantang dari yang sedang sarapan.
“Kurang ajar si pepek! Kerupuk gue hancur gini jadinya ah ngentot! Males ah” lalu Sekala manyun, menggeser mangkoknya sedikit menjauh dari jangkauan pemuda yang masih sibuk menggerutu. Membiarkan dirinya masih larut dalam kekecewaan dan kekesalan yang ia rasakan.
tbc