even you left me.
Kkamdol, hurt, mcd.
“You looks different”
Pemuda yang tengah duduk sendirian memeluk lutut itu tersenyum hambar, “maybe this is the realest me”
Hamin mengambil duduk di sebelahnya. Menikmati angin sore yang berhembus mengusap pipi dan helai rambutnya. Pemuda di sampingnya bernama Nam Yejun. Seorang kakak tingkat yang selalu penuh puja. Dikenal ramah, baik hati, mudah bergaul dan hangat. Hamin setuju. Ia selalu melihat kak Yejun bersinar cerah sekali. Kak Yejun yang tertawa banyak, yang bicara banyak dengan nada lembutnya, yang saat tertawa ia akan senantiasa menutup mulutnya. Kak Yejun suka berteman, ia suka punya banyak teman. Kak Yejun gemar bercanda, ia suka orang-orang tertawa karenanya.
Tapi saat malam, kak Yejun berbeda dari yang siang tadi ditemukannya. Kak Yejun dan Hamin tinggal di apartemen yang sama, kamar mereka bersebelahan. Kak Yejun suka sekali menikmati sore di rooftop apartemen mereka. Sendirian. Hanya ada kicauan burung yang pulang dengan matahari yang kian turun.
Kak Yejun memeluk lututnya sendiri. Telunjuknya menggambar abstrak di atas lantai semen dengan pelan.
“Kenapa ya, semua selalu jadi salahku?”
Hamin menoleh sedikit, lalu kembali menatap langit.
“Mereka yang ga balas chatku, mereka yang udah gak bisa lagi makan di kantin sama aku, mereka juga yang lupa sama aku. Tapi, mereka nyalahin aku?”
Hamin menggeser tubuhnya. Ia biarkan sikutnya bersentuhan langsung dengan Yejun.
“Noah have a boyfriend, Bonggu juga. Everyone around me has a boyfriend, crush, or something else they usually called. They left my chat on read, karna sibuk sleep call dengan pacarnya. They left me on cafetaria alone, karena mereka makan sama pacarnya. They never asked me again about my Saturday's plan, karena mereka punya rencana pergi masing-masing. Tapi tadi siang, Bonggu dan Noah bilang aku menghindar dari mereka.”
Hamin membiarkan lengannya mengalung pada pinggang yang lebih kecil.
“Mereka bilang aku menghindar. Aku ninggalin mereka, aku gak mau berteman lagi sama mereka disaat…”
Yejun berhenti. Ia menggigit bibirnya sendiri.
“Bonggu punya Eunho dan teman-teman taekwondonya, Noah masih punya teman-teman club ice skatingnya, dan pacarnya. They have a lot of friends, while I'm here all alone.”
Yejun menjatuhkan dagunya pada lengan. Menerawang pada kejadian tadi siang, dimana Noah dan Bonggu bicara padanya saat di jam makan siang. Mereka berdua bertanya mengapa akhir-akhir ini Yejun terlihat menghindar dari mereka, Yejun terlihat menarik diri dan seperti sudah tidak berminat berteman lagi. Yejun tentu tersinggung, karena faktanya ia yang ditinggalkan sendiri.
“Mungkin banyak orang yang lihat aku punya banyak teman, ngobrol dengan banyak orang, tapi sebenarnya… i have no one. I have no someone to talk, i'm all alone. Saat Noah punya pacar dan Bonggu mulai semakin dekat dengan Eunho, yang terjadi aku disini sendiri. And they still blaming me for something i didn't do. It's not fair, kan?”
Hamin menangkup pipi gembil si kakak tingkat lalu mengecupnya. Membiarkan bibirnya bersentuhan dengan air mata yang mengalir begitu saja sejak pertama kali ia mengingat kejadian siang tadi.
Yejun tidak masalah Bonggu dan Noah punya kehidupan sendiri yang tidak ada dirinya di dalam sana. Tapi mendengar mereka menyalahkan Yejun atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, rasanya tidak adil. Ia benar-benar kesepian dan sendirian karena memang hanya mereka yang Yejun punya. Yejun mungkin terlihat akrab dengan banyak orang, mengobrol dengan banyak orang, but in the end of the day, ia tetap sendirian. Yejun bukan orang yang mudah terbuka. Ia juga bukan orang yang mudah dekat meski terlihat akrab. Yejun merasa aman dan nyaman bersama Noah dan Bonggu, ia selalu mendoakan yang terbaik bagi keduanya. Maka saat keduanya memiliki kehidupan baru yang tidak bisa Yejun masuki seenaknya, Yejun memberikan ruang. Dengan senang hati ia memberi ruang, membiarkan kedua temannya bahagia dengan cerita cintanya sendiri sendiri.
Yejun turut senang saat kedua temannya berpelukan mesra, makan bersama, dan melakukan banyak hal bersama pacarnya.
Namun saat mendengar tuduhan Noah dan Bonggu, entah mengapa rasanya menyakitkan.
Padahal selama ini Yejun mati-matian menahan rindu, ia rindu makan bersama kedua temannya. Ia rindu mengambil video lucu, ia rindu menghabiskan waktu seharian penuh bersama temannya. Ia menarik diri agar Noah dan Bonggu bisa menikmati kisah cintanya masing-masing tapi yang mereka lakukan adalah menuduh Yejun yang bukan-bukan?
“Salahku, ya, Hamin?”
Mata bulat birunya berkaca menatap Hamin. Pucuk hidungnya merah bersama bibir yang menebal manyun. Hamin terkekeh kecil lalu mengusap air matanya yang semakin meleleh, “enggak…”
“Tapi Noah dan Bonggu bilangㅡ”
“Mereka gak sadar udah bicara begitu karena mereka juga kayaknya gak sadar udah ninggalin kamu”
Yejun menangis. Yejun yang ia temui sore dan malam hari selalu berbeda dari yang ia temui pagi hari di lingkungan kampus. Yejun malam hari terasa lebih dingin, lebih rapuh, ringkih dan tak bisa sembarangan orang sentuh. Ia akan terlihat lebih kecil dan menyedihkan. Hamin cukup senang melihat fakta bahwa hanya ia yang bisa temukan Yejun dalam keadaan terpuruknya seperti saat ini. Yejun yang menangis dalam pelukannya membuatnya bangga dan jumawa. Ia merasa selangkah lebih dekat dari siapa saja yang mengenalnya.
“Mungkin mereka gak gitu sadar kalau selama ini, mereka yang udah gak punya waktu untuk kakak. Makanya, pas kakak udah gak di sekitar mereka, mereka mengira kakak yang udah gak mau berteman sama mereka”
“I just give them space”
“Makasih sudah selalu mengerti, nanti aku bantu untuk sampaikan pada mereka.”
“Gak mau, aku gak punya tenaga ketemu mereka”
Hamin tertawa kecil melihat wajah lucu Yejun yang datang begitu saja. Hamin mengusap rambut biru kehitaman itu dengan lembut dan membawanya ke dalam pelukan.
“Aku juga pengen kayak mereka… punya pacar, punya seseorang yang bisa habiskan banyak waktu bersama. Punya seseorang yang mau dengerin aku, dengerin aku nangis, dengerin aku curhat. Aku juga mau, Hamin…”
Hamin mencium puncak kepala Yejun yang semakin terisak. Ia rengkuh badan yang lebih kecil hingga tenggelam dalam pelukannya diiringi langit malam yang kian gelap.
“Aku juga benci sendirian, aku benci bicara sendiri, aku benci lama-lama menonton handphone, aku benci gak punya seseorang yang bisa aku ajak chattingan. Aku juga mau kayak orang-orang”
Hamin mengamini semua yang keluar dari bilah bibirnya. Hamin harap segala kebahagiaan bisa mampir ke kehidupan Yejunnya.
“Aku juga ingin dicintai, aku gak mau terus-terusan sendiri. Aku juga mau dipegang tangannya, aku juga mau didengerin ocehannya. Aku juga mau…aku juga mau bicara sama teman-temanku yang banyak. Aku juga mau punya banyak teman, aku juga mau.”
Yejun merapatkan tubuhnya pada Hamin saat angin malam mulai mengganggunya.
“Aku juga mau… aku juga mau punya kehidupan”
Hamin mengangguk. Ia juga sama. Ia juga mau punya kehidupan.
“Aku sendirian, Hamin. Semua orang ninggalin aku”
“Maaf”
“Bahkan kamu juga ninggalin aku”
Benar. Hamin mengangguk. Bahkan Hamin juga meninggalkannya. Meninggalkan kak Yejunnya sendirian di malam sepi di bulan Juni.
Hamin melompat dari gedung tinggi karena mengaku tak sanggup lagi hidup menderita begini, meninggalkan Kak Yejun yang mencintainya sendirian di sisa hidupnya. Hamin hanya bisa mampir sesekali. Membiarkan Yejun menangis dalam pelukannya yang semu. Biarkan Yejun merasakan kehadiran Hamin setiap kali ia terpuruk.
Malam itu, Yejun menangis di pelukan Hamin. Hangat, meski semu. Nyaman meski bias. Hamin tahu Yejun mungkin bisa merasakan kehadirannya karena selama ini, bahkan hingga detik ini, meski raga sudah tak bisa ia miliki lagi, Hamin selalu ingin temani Yejun. Yejun pagi dan sore hari itu berbeda, dan Hamin siap menemani malamnya. Malam sepi yang tak ada siapapun selain dirinya.