Hujan semalam hanya menyisakan genangan rindu

Kyunyu / Nyukyu! AU Trigger warning : major character death, angst/hurt,kissing, etc.

Ji Changmin tidak terlalu suka. Perceraian orangtuanya menyebabkannya harus memilih. “Kamu pilih tinggal sama ibu atau ayah,nak?”

Ji Changmin tidak pernah suka. Ibu atau ayah bukanlah pilihan. Changmin selalu berdoa dan berharap, semoga ayah dan ibunya tidak serius dalam perpisahan. Ia kira keduanya cukup harmonis selama ini, ia lihat keluarganya baik-baik saja. Ibu yang tersenyum saat ayah pulang, dengan hangat merentangkan tangan membumbu sambutan istrinya dengan peluk dan kecup, ternyata tetap saja dunia adil dan berputar pada porosnya.

Keluarga yang ia kira baik-baik saja, malam itu benar-benar berubah. Lemparan piring dan gelas kaca, sumpah serapah juga suara keras lainnya mengisi rumahnya yang berantakan. Saat itu, Changmin baru berusia dua belas. Changmin yang tidak tahu apa-apa hanya menangis ketakutan didalam kamar. Mencoba menelfon kakaknya meminta perlindungan, “tunggu kakak disitu. Jangan keluar kamar” katanya malam itu.

Hingga saat dimana disuruh memilih, Changmin memilih tinggal bersama kakak. Sangyeon. Sebab ia rasa ayah dan ibunya telah berubah, dan kembali lagi pada keteguhannya, ayah atau ibu bukan pilihan, “Changmin mau tinggal sama kakak kalau ayah dan ibu tetap mau bercerai” suaranya terdengar payah, karena terlalu lama menangis menyebabkan tenggorokannya kering dan sakit, masih dengan dada naik turun, dan malam itu, dunia Changmin berubah.


Sekolah yang rajin ya. Kenalan sama teman-teman baru” Sangyeon membuka seatbelt milik adiknya lalu diusapnya pipi dan rambut hitam legam Changmin dengan penuh perhatian. Changmin menatap keluar jendela, sekolah menengah atas. Sangyeon adalah karyawan kantor yang kerjanya selalu berpindah-pindah kota. Saat SMP saja, Changmin menghabiskan banyak waktunya untuk berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain hanya untuk ikut kakaknya.

Kakak janji kan gak akan pindah-pindah lagi? Aku capek kak kenalan-kenalan terus.. udah nyaman malah harus pindah lagi” Changmin mengeluh. Sangyeon hanya tertawa kecil lalu mencubit hidung adiknya,”kakak janji kamu sampai lulus sekolah disini. Ok?”


Cre.ker High school

Changmin menatap gerbang sekolah barunya. Orang-orang mulai menatapnya, Changmin terlihat mencolok karena seragam yang ia kenakan berbeda dengan murid lainnya, menandakan bahwa ia benar-benar orang baru. Seharusnya berjalan menuju ruang TU tidak sesulit ini, tapi entah mengapa Ji Changmin merasa berat. Ia bukan orang yang mudah bersosialisasi, dan salahkan Sangyeon yang tidak bisa mengantarnya bahkan hanya sampai pintu ruang TU.

Cari siapa?”

Changmin membalikkan badannya terkejut, ditatapnya anak lelaki seusianya dengan rambut blonde terang bertanya padanya. “Ahㅡ itu mmmm... aku cari ruang TU” ucapnya sedikit mencicit. Anak lelaki itu tampak mengangguk, “ayo aku antar” lalu tangan Changmin diraihnya, badannya dipaksa untuk mengikuti langkah pemuda bertubuh ramping itu.

Murid baru ya?” “Iya..”Kelas apa?”Mmm..katanya sih kelas IPA 2”

Anak itu mengangguk lagi,masih dengan aktivitas menggandeng Ji Changmin hingga ruang TU. “Aku Ji Changmin”

Oh hai Changmin. Ini ruang TU, masuklah. Aku harus ke kelas, dan namaku Choi Chanhee”


Choi Chanhee. Salah satu murid sekolahnya, mungkin teman pertamanya. Anak laki-laki bertubuh kecil itu, rupanya juga teman satu kelasnya. Choi Chanhee tipe anak yang mudah bergaul (kelihatannya,dilihat dari banyak siswa yang mengobrol dengannya). Choi Chanhee duduk di bangku paling ujung barisan dua. Terhalang dua meja dari kanan dengan Changmin yang kedapatan duduk sebangku bersama Donghan. Semakin dilihat dan diperhatikan, Choi Chanhee terlihat sangat menawan meskipun sedang diam. Chanhee kebetulan duduk didekat jendela. Maka saat sinar matahari pagi menyapa, pantulannya seperti cahaya yang menemani bidadari turun dari khayangan.

Choi Chanhee dengan senyum dan tawanya yang sederhana itu,Choi Chanhee yang dihari pertamanya membantu dirinya pergi ke TU, Changmin selalu berharap bisa berteman dengannya.

Ayo ke kantin” itu Choi Chanhee dengan empat temannya . Kevin Moon,Lee Juyeon, Boo seungkwan dan Chwe Vernon. Donghan bilang mereka “geng anak hits” mungkin karena banyak orang yang mengenal mereka dan banyak juga pria dan wanita yang memuja mereka. Ya meskipun baru di sekolah ini Changmin beberapa kali mendengar siswa siswi membicarakan mereka entah itu visualnya atau bahkan bakat mereka. Kevin Moon misalnya, dia dikenal sebagai pianist sekolah dengan suara emasnya. Dapat Changmin lihat saat pelajaran kesenian dimulai, Kevin yang dipercayai sang guru membantu rekan-rekan sekelasnya bermain piano. Atau Choi Chanhee si ahli matematika. Changmin dibuat kagum olehnya saat Chanhee menghitung dengan cepat dan bisa menyelesaikan latihan soal dipapan tulis. Maka tak heran kalau mungkin mereka dijuluki geng anak-anak hits.

“Changmin, mau ikut ke kantin?”

Changmin yang sedang mencatat pelajaran seketika mendongak, netranya berjumpa dengan milik Chanhee yang berwarna kecoklatan. “Ah itu...

Ayo, ke kantin sama-sama” Kevin menyahuti mungkin ia bisa menangkap jelas wajah ragu-ragu dan penuh malu miliknya.

“Ayo jangan banyak berpikir, kenalkan aku Seungkwan. Karena kita satu kelas, kita bisa menjadi teman. Sekarang taruh pulpenmu, tutup bukunya dan mari pergi ke kantin bersama” Seungkwan merebut semua atribut milik Changmin menutup bukunya dengan paksa dan menarik tubuh Changmin untuk segera beranjak.

Dan sejak saat itu, Changmin menghabiskan waktu istirahat siangnya bersama Chanhee dan ketiga kawannya.


Hujan. Ji Changmin bukan penikmat hujan. Ia tidak terlalu menyukai sensasi basah dan dingin yang diciptakan. Maka, Changmin yang hanya memiliki tas ranselnya itu, berlari menerobos hujan hingga ke halte bus terdekat. Changmin mengusap-usap lengan seragamnya yang terkena hujan, juga mengelap ujung sepatunya dengan tissue basah yang ia kantongi.

Aktivitasnya terhenti saat ada sepasang kaki beralaskan sepatu merah berhenti tepat disampingnya, Changmin menegakkan badannya dan lagi netranya bersiborok dengan netra kecoklatan itu. “Chanhee kehujanan juga?”

Yang ditanya hanya mengangguk, “kamu nunggu bis atau nunggu dijemput?”

“Aku nunggu bis sih, Chanhee?”

“Sama aku juga nunggu bis”

Lalu keduanya duduk menunggu bis ditengah hujan yang deras. Chanhee tampak menggoyangkan kakinya, telinganya kini tersumpal airpods berwarna putih, dilihatnya Chanhee mengencangkan volume lagu dari handphonenya. Changmin menghela nafas, karena dirasa suhu semakin dingin menyapa kulitnya.

“Mau dengar apa yang aku dengar?” Chanhee tampak menyodorkan sebelah airpodsnya pada Changmin yang dibalas senyuman dan anggukan olehnya.

Oh! Nikka Costa?”

“Changmin tahu lagu ini?”

Changmin mengangguk antusias, “kakak aku sering nyanyi lagu ini, setiap malam dia selalu main gitar sambil nyanyi lagu ini” Chanhee tersenyum lalu mengangguk pelan,”ini lagu kesukaan mendiang ibuku”

Mata Changmin sedikit meredup, “maafkan aku...”

Untuk apa?

Aku tidak tahu ibu Chanhee sudah tidak ada”

Lalu Chanhee tertawa kecil sambil memukul pelan pundak Changmin,”It's ok. Ibuku meninggal sudah lama. Lupus, sudah bertahun-tahun dan ya..dia sangat suka lagu ini”

Lalu di hari hujan itu, Chanhee dan Changmin terlihat lebih dekat. Keduanya berbincang-bincang tentang banyak hal hingga akhirnya keduanya menaiki bis yang sedari tadi mereka nantikan.


Hujan di bulan September semakin sering mengguyur kota. Mau tak mau setiap siswa harus sedia payung atau jas hujan. Tak sedikit juga siswa yang membawa baju ganti dan sandal untuk berjaga-jaga.

Hari itu, hujan deras. Dan Chanhee tidak membawa payung ataupun jas hujan karena kelupaan. Tas sekolahnya basah kuyup mengharuskannya mengganti dengan tas lain, dan lupa memisahkan jas hujan didalam tas lamanya.

Chanhee mendecak sebal sebab tertahan. Sekolah cukup sepi karena banyak siswa yang telah pulang.

Chanhee mengulurkan tangannya membiarkan ratusan tetes air hujan berjatuhan mengenai tangannya. Rasanya dingin tapi Chanhee cukup menyukainya. Ibu bilang, saat kau menangis ditengah hujan, hujan akan menyamarkan air matamu juga akan meredam gemuruh suara tangismu. Chanhee, sudah lama tidak menangis. Sudah lama tidak bereaksi pada emosi yang ia miliki.

Chanhee menengadah kala payung kuning melindungi kepalanya, “ayo ke halte bersama”

Itu, pria manis berlesung pipi. Tersenyum tulus kearahnya hingga matanya sedikit menyipit, “aku kira Changmin sudah pulang

Aku kan piket hari ini. Ayo ke halte?!” Setelah membagi airpods kiri miliknya pada Changmin, Chanhee mengangguk dan melangkah bersama Changmin menuju halte bus. Kali ini tidak sepi, tidak hanya air hujan yang berisik di gendang telinga. Tapi suara Ji Changmin yang kebetulan sedang asyik bercerita.


Changmin melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat pelajaran olahraga. Tidak ada Choi Chanhee disana padahal ia yakin tadi melihatnya pergi ke loker juga.

Cari Chanhee ya?“ Itu Yoojung. Salah satu teman sekelasnya juga. Lalu Changmin mengangguk. “Chanhee memang tidak pernah ikut pelajaran olahraga selain renang dan catur” Dahi Changmin mengernyit menyiratkan tanda tanya besar dikepalanya. “Aku juga tidak tahu tapi memang sejak kelas sepuluh tidak pernah ikut olahraga selain catur dan renang”

Kalian juga tidak bertanya?” Yoojung menggeleng,”takutnya privasi, bisa saja Chanhee memiliki cidera tertentu” Changmin membulatkan mulutnya, benar juga pikirnya.


Hari itu, lagi-lagi hujan

Dan Changmin akan senang hati mengajak Chanhee berbagi payung lagi. Hari hujan kali ini,mereka berbagi cerita lucu dan seru pengalaman bagaimana mereka menghabiskan waktu di sekolah menengah pertama atau sekolah dasar.

Kamu lucu, Changmin” ucap Chanhee disela-sela tawanya. Changmin yang merasa senang melihat Chanhee tertawa hanya tersenyum setelahnya. “Aku senang bisa berteman denganmu” bisik Changmin yang dibalas guyonan oleh si rambut blonde, “semua orang merasa begitu memang

“Kapan-kapan mau main ke rumahku?”

“Boleh, aku mau bertemu kak Sangyeon yang kau banggakan itu


Menghabiskan waktu bersama selama dua tahun, menghabiskan banyak hari hujan. Menghabiskan banyak detik untuk mengukir kenangan, secara tak sadar Chanhee dan Changmin mulai saling bergantung. Keduanya akan terlihat bersama kemanapun mereka pergi. Ke kantin, ke perpustakaan, jalan-jalan setiap malam Minggu, dan setiap hari hujan payung berwarna kuning itu akan diisi oleh keduanya.

Rasa yang tak biasa lama-lama secara tak sadar kian membesar. Changmin menaruh perhatian lebih pada temannya. Dan selama ini, Changmin kira Chanhee tak keberatan. Didalam bis yang melaju, Changmin akan menaruh kepalanya dibahu Chanhee, masih dengan kegiatan berbagi airpods yang mungkin takkan pernah berubah.


“Changmin-ah kalau suka, katakan saja”

Choi Yoojung sedikit menggebrak meja, Changmin segera menutup mulut gadis itu, “jangan keras-keras nanti mereka dengar

Aku setuju kata Yoojung, kalau kamu suka katakan saja. Selama ini sepertinya Chanhee masih sendiri?” Timpal Doyeon. “Aku malu...

Jangan buru-buru, pelan-pelan saja lalu ambil momentnya dirasa waktunya sudah pas”

Chanhee sudah punya pacar belum, sih?” Jantung Changmin sebenarnya bergemuruh. Adrenalin yang terpacu sedikit membuatnya sakit perut dan gugup. Menghabiskan banyak sekali waktu dengan Chanhee, rasanya seperti mimpi. Changmin tak pernah menjumpai lagi sedihnya, tak pernah lagi merasa kesepian. Saat Chanhee mampir ke rumahnya, dan Sangyeon yang pulang terlambat, Chanhee dengan senang hati menemaninya, membagi satu pelukan hangat sambil menonton televisi.

“Aku tidak kepikiran punya pacar” sedikit mencelos dirinya saat mendengar suara Chanhee. Padahal, Chanhee sangat amat sempurna, tak heran jika mungkin memiliki banyak penggemar dan pengagum rahasia. “Chanhee kan tampan, kenapa tidak mau punya pacar?”

Chanhee terlihat menerawang ke langit sore hari itu, kakinya yang menggantung bergoyang-goyang dan satu helaan nafas lolos, “hanya...takut tidak bisa menjaganya saja. Takut tiba-tiba aku harus pergi, entah itu karena rasaku yang berubah atau mungkin takdir yang lain yang bisa terjadi”

Apa tidak mau mencoba?”

Chanhee menengok kearahnya, mengangkat sebelah alis karena tak mengerti. “Takdir itu kan kehendak Tuhan, baik buruknya, hidup Chanhee tetap akan berjalan. Daripada terus menerus mundur karena rasa takut, mungkin Chanhee bisa mengubahnya, Chanhee maju dan mencoba banyak hal yang baru, lalu rasa takutmu itu ubah menjadi satu batasan agar kita bersikap hati-hati”

Mencoba hal-hal baru ya....” Chanhee terlihat mengangguk sambil merenungkan perkataannya. “Baiklah,kamu mau jadi pacarku?”

Dan hari itu, Ji Changmin bagaikan tersambar petir di siang bolong.


Sejak saat itu Ji Changmin dan Choi Chanhee yang terkenal dua sahabat yang tak terpisahkan, menjadi pasangan yang bahkan menjadi sorotan orang-orang. Choi Chanhee yang sejak dulu punya banyak penggemar karena parasnya yang rupawan dan hatinya yang dermawan, juga Ji Changmin murid pindahan yang sangat menggemaskan yang sukses mencuri perhatian orang-orang itu, kini merubah status mereka menjadi sepasang kekasih. Dimana selalu ada saatnya mereka saling menggenggam tangan saat berjalan di koridor, ada saat dimana mereka menghabiskan waktu makan siang berdua, dan ada saat dimana mereka kembali pada rutinitas mereka yakni berbagi payung kala hujan. Choi Chanhee yang populer itu, sekarang sudah memiliki kekasih.


Tangannya mengusak rambut coklat Changmin yang kini sudah setengah basah setelah menyelesaikan test renang. Semua mata tertuju pada keduanya yang terlihat lucu dan serasi, “Menjadi bucin menyebabkan seorang Choi Chanhee jarang menghabiskan waktu main sama kita lagi ya” begitu kata Seungkwan yang dibalas cubitan pedas dari Changmin sambil tertawa, “Pulang sekolah nonton yuk, aku dengar ada film bagus lho”

“Mau! Ayo Chanhee kita nonton, aku bosan di rumah terus. Kevin sama Vernon bisa kan?”

Ayo kita nonton, sebelum sibuk persiapan ujian kelulusan”

Chanhee menginterupsi, sambil mengibaskan tangannya “aku sudah ada janji, aku tidak bisa pergi”

Seketika ketiga pemuda lain berseru kecewa, “ayo Chanhee kapan lagi kita bisa nonton bersama” ajak Vernon.

Maaf, aku beneran gak bisa. Kalian aja ya? Atau nanti aku nyusul deh”

Changmin masih alot sebenarnya, memaksa Chanhee untuk ikut, tapi Chanhee tetap teguh pendirian dan akhirnya semuanya mengalah dan mengizinkan Chanhee menyusul setelah urusannya selesai.


Malam itu pukul delapan saat Changmin keluar dari bioskop bersama Kevin, Vernon dan Seungkwan. Kedua jempolnya bergerak cekatan diatas gawai, membalas pesan Chanhee yang bilang ia menunggu ketiganya di restoran Jepang. Changmin melambai ceria mendapati Chanhee tengah duduk menunggu, lalu setengah berlari menghampiri kekasihnya, dengan senang hati Chanhee menyambutnya dengan satu pelukan singkat,sekedar bertanya tentang film yang tadi mereka tonton.

Chanhee memutar stir mobilnya untuk parkir di depan rumah Changmin. Pukul sembilan, mereka memutuskan untuk pulang. Kak Sangyeon izin untuk pulang larut karena ada urusan kantor, maka Chanhee mengiyakan permintaan Changmin untuk menemaninya sebentar, setidaknya sampai jam sepuluh malam katanya.

Changmin membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Chanhee mengikutinya hingga kamar. Keduanya melempar diri pada kasur yang menggoda. Changmin merengsek memeluk Chanhee erat-erat, Chanhee hanya balas memeluk sambil mengecup puncak kepala yang terkasih.

“Capek” keluhnya. Maka, satu kecupan kini mendarat diatas jidat. Satu helaan nafas Changmin akan dibalas satu kecupan manis diatas dirinya, entah itu puncak kepala atau bahkan pipi gembilnya.

Changmin, besok aku pergi sebentar ya. Tidak lama mungkin tiga atau empat hari. Kamu bisa menjaga diri kan?”

Changmin menengadah, sedikit sedih mendengar Chanhee harus pergi,”mau kemana?”

“Ada acara keluarga, aku harus pergi”

Lagi-lagi Changmin menghela nafas, sedikit merengek lalu membenamkan wajah manisnya pada Chanhee,”kalau aku kangen gimana?

Kalau kangen ya tinggal bilang saja, nanti aku video call, ok?”

Sedikit tidak rela tapi akhirnya sang terkasih mengangguk. “Kalau begitu, ayo peluk lagi. Soalnya besok tidak bertemu Chanhee”

Sambil pelukan, keduanya asyik mengobrol. Membicarakan hal-hal lucu, atau sekedar berbagi pengalaman. Changmin menceritakan betapa seringnya ia pindah sekolah sejak ikut bersama kakaknya, ia juga bercerita bagaimana Sangyeon yang sibuk dengan pekerjaannya, bercerita tentang bagaimana pengalamannya memiliki teman banyak dari berbagai daerah yang ia kunjungi, “tapi aku paling bersyukur pindah kesini, karena bisa bertemu dengan Chanhee” lalu tertawa kecil karena malu. Chanhee mencebik mengejek,”gombal aja kamu”

Beneran! Aku berterimakasih sekali kak Sangyeon menerima tawaran naik jabatan dengan syarat pindah kesini, soalnya aku ketemu orang-orang baik, Chanhee, Kevin, Seungkwan,Vernon dan teman-teman lainnya”

Chanhee menatap pemuda tupai itu penuh damba. Pasalnya, ia juga sangat bersyukur bertemu dengannya yang sedang dalam dekapan. Bagaimana hidup Chanhee yang monoton menjadi sedikit berbumbu dan berwarna sebab kehadirannya. Bagaimana caranya bicara, caranya tersenyum dan tertawa, semuanya indah dimata si Choi. Lelaki bernama Ji Changmin ini, sukses merebut semuanya darinya. Sisi lain yang selama ini tak pernah ia bagi, sisi romantisnya yang tak pernah ia berikan pada siapapun. Chanhee bersyukur bertemu dengan pemuda Ji ini.

Maka malam itu, Chanhee dengan kurang ajar memajukan bibirnya untuk mencuri satu ciuman.

Bukan hanya kecupan singkat, tapi benar-benar ciuman. Pelan, manis dan tak menuntut.

Dapat ia rasakan pemuda Ji itu berjengit kaget dan terdiam kaku sebab gerakannya yang tiba-tiba. Sekian sekon ia terdiam, akhirnya dengan penuh keberanian, Changmin memejamkan matanya, mengikuti alur yang Chanhee kendalikan.

Bibir keduanya menyatu, saling menyesap dan mengecup. Tak ada yang mendominasi selain rasa sayang dan cinta diatas keduanya. Changmin meremas punggung kekasihnya saat Chanhee dengan seizinnya memasukan lidahnya, menyapa Changmin didalam sana, menghantarkan getaran yang membuat jantungnya berdegup kencang. Changmin sukses meleleh. Ciuman yang memabukkan malam ini, sukses membuatnya lemas. Ia membiarkan Chanhee melakukan apapun yang ia inginkan. Hingga akhirnya tautan terlepas, Chanhee berbisik,”aku mencintaimu”

Ji Changmin tidak bisa tidur malam itu


Hari itu, Minggu 12 November, Kevin mengirim pesan padanya. Memberitahu bahwa Changmin tidak pergi ke sekolah. Chanhee yang kebetulan sudah pulang dari acara keluarganya, merasa cemas. Pasalnya, tidak satupun orang dikelasnya yang mendapat balasan atas pesan yang dikirimkan pada Changmin terkait keadaannya. Tidak ada yang tahu, hanya pagi itu, Kak Sangyeon terlihat mendatangi ruang guru, dan berakhir wali kelas berkata bahwa Changmin tidak bisa masuk hari itu. Chanhee menutup pintu mobilnya, tangannya menjinjing sebuah paperbag berisi oleh-oleh untuk kekasihnya, dilihatnya rumah itu sepi. Chanhee memencet bel cukup lama hingga akhirnya pemuda Ji itu membuka pintu. Chanhee terkejut sebab mendapati sang terkasih berantakan dengan mata yang sembab sepertinya terlalu banyak menangis. Maka, tanpa banyak berpikir, ia mendaratkan peluk. Membiarkan pertahanan Changmin runtuh dan akhirnya menangis dalam dekapan.

Jahat ㅡhiks ayah dan ibu jahat Chanhee, mereka jahat”

Setelah sesi curhat sambil menangis itu selesai, Changmin yang tengah duduk diatas pangkuan Chanhee itu menatap kosong dinding didepannya. Tangan Chanhee masih setia mengusap punggungnya,berbisik “tidak apa-apa” beribu kali bagai mantra.

Kemarin, ayah Changmin mendatangi rumahnya hanya untuk memberi surat undangan agar kedua anaknya datang ke pesta pernikahannya dengan orang lain. Ayah bilang sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, hubungannya dengan ibu, benar-benar sudah selesai. Changmin hancur, ayah dan ibu yang ia tahu adalah pasangan paling romantis yang pernah ada. Tapi nyatanya semuanya semu. Pertengkaran waktu itu saja masih membuat luka yang dalam, apalagi melihat ayah dengan beraninya mengundang mereka ke pernikahan. Saat Changmin berkeluh kesah pada ibu, ibu hanya marah, berkata bahwa ayahnya memang lelaki hidung belang.

Padahal, bukan itu yang Changmin cari.

Eh hujan!!” Changmin menegakkan badannya menatap keluar jendela,”deras...” Gumamnya.

Main hujan yuk sama aku?” Changmin menatap sangsi pada Chanhee,lalu merengek dan mengejek katanya main hujan hanya untuk anak kecil.

Ayo main hujan, biar kamu gak galau”

Besok Senin, gimana kalau demam?”

Ya jangan demam, ayo main. Kamu punya bola kan?”

Dan hari itu, dengan setengah hati, Changmin mengiyakan permintaan Chanhee. Chanhee sendiri sudah tertawa-tawa sambil berlari menggiring bola dipekarangan belakang rumahnya, mengajak Changmin yang masih ditempat teduh menatapnya sebal, “Chanhee ih nanti demam lho”. Dan Chanhee tetap berlari disana menggiring bola,menendangnya ke gawang sambil tertawa, “ayo seru kok”

Maka mau tak mau, Changmin membuka sandalnya dan berlari menyusul Chanhee. Keduanya kini berebut bola ditengah hujan. Lebih banyak tertawa karena dengan sengaja melakukan kecurangan, lebih banyak tertawa karena berakhir saling mengejar. Dan banyak tertawa membuat Changmin lupa bahwa ia memiliki luka.

Jangan sedih terus nanti aku ikutan sedih” Chanhee berdiri didepan pintu, setelah menumpang mandi dan menghangatkan tubuh,Chanhee pamit untuk pulang. Changmin terlihat mengangguk, “terimakasih Chanhee”

Aku senang kalau kamu udah gak sedih lagi. Aku pamit ya? Salam buat kak Sangyeon, bilang jangan keseringan lembur gak bagus buat kesehatan” yang dibalas anggukan. “Oleh-oleh dari aku dimakan ya, ada coklat enak banget kamu harus coba”

Makasih banyak” Changmin memeluk Chanhee yang setelah itu bergegas pergi.

Benar-benar tidak bisa Changmin bayangkan tidak memiliki Chanhee dihidupnya


Changmin, Chanhee sakit katanya”

Pagi itu Kevin membawa kabar buruk bagi Changmin, satu hari tanpa Chanhee rasanya kosong. “Kan Chanhee nih ih kemarin so ngide banget ngajak hujan-hujanan jadi sakit kan” Changmin menghentakkan kakinya sebal, mengirimkan pesan pada kekasihnya lewat gawai yang sejak tadi ia genggam.

Aku dengar Chanhee masuk rumah sakit” suara Kevin semakin pelan, sorot matanya makin redup dan sedih, apalagi mendapati Changmin terkejut dan sudah terlihat akan menangis.

Changmin, Chanhee masuk rumah sakit bukan karena demam. Kata kakaknya,semalam Chanhee pingsan sambil mimisan”

Jantung Changmin bagai dipaksa berhenti berdetak.


Saat pulang sekolah, ia bergegas memesan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Setelah mengantongi info tentang Chanhee, Changmin sesegera mungkin melangkahkan kakinya, dengan langkah tergesa dan tangan menjinjing susu dan roti, Changmin dengan cekatan menaiki tangga rumah sakit, setengah berlari menuju ruangan yang dimaksud.

Dadanya naik turun terengah-engah, ia mengintip dari celah pintu, menyaksikan seorang lelaki tengah duduk menghadap ranjang. Dengan penuh keberanian, Changmin mengetuk pelan pintu ruangan itu, membuat lelaki tadi berjalan membuka pintu.

Permisi....ini kamar Choi Chanhee kan?”

Changmin ya? Ayo masuk,Chanhee sudah menunggu kamu daritadi. Kenalkan, aku Choi Minho, ayah Chanhee”


Dunia Changmin sempat runtuh. Pertama, saat pertama kali ia mendengar pertengkaran orangtuanya, kedua saat perceraian orangtuanya yang menjadi sebab utama ia ikut dengan Sangyeon, dan ketiga adalah ketika Ayah dengan lancangnya datang ke rumah hanya untuk mengundang mereka ke pesta pernikahannya. Dunia Changmin benar-benar hancur, luluh lantak sebab yang dicinta menghancurkannya. Maka saat yang terkasih dilanda duka, kakak Sangyeon selalu berpesan “Tuhan itu baik,lho.. akan ada pelangi setelah hujan” awaknya Changmin kira itu hanya bualan belaka, hingga akhirnya ia pun ditakdirkan bertemu dengan pemuda berparas rupawan disekolah barunya.

Berbagi banyak cerita dan menghabiskan banyak waktu dengannya, berbagi payung kuning hampir setiap tahun, membuatnya tersadar mungkin ini yang Tuhan maksud, kala ia rasa dunianya hancur karena perceraian orangtua, Tuhan menghadirkan Chanhee sebagai pelipur lara.

Lantas, jika Tuhan menitipkan Chanhee untuk ia damba, mengapa pula Tuhan menggariskan Chanheenya terbaring lemah tak berdaya? Tubuh putih porselen itu amat pucat, dengan peralatan medis menancap. Tak hanya selang infus, namun banyak selang lain yang dokter pasangkan untuk yang tercinta.

Pujaannya, Choi Chanhee..tak mungkin kan hanya mimisan menyebabkan dokter menancapkan banyak sekali alat medis ditubuhnya?

Dengan gemetar Changmin menaruh susu dan roti yang ia bawa. Tangannya meraih Chanhee yang dingin. Wajahnya pucat pasi terhalang nebulizer, air mata Changmin berlomba untuk keluar. Jantung dan hatinya bagai diremat, pedih, sakit. Mengapa Tuhan menggariskan takdir pahit bagi pujaannya?

Chanhee sakit, Changmin. Sedari lama, sedari kecil. Anak bungsu kami,sedari dulu selalu kami perjuangkan. Memperjuangkan kesehatannya, memperjuangkan hidupnya. Dari kecil kami sudah mencoba berbagai macam cara dan pengobatan, sedari kecil sudah pergi ke Singapura untuk berobat..semuanya lancar. Chanhee bisa beraktifitas, Chanhee bisa hidup. Hingga saat itu, istriku pergi karena lupusnya, Chanhee seperti kehilangan harapan

Tangis Changmin kian mengeras. “CㅡChanhee sakit apa,om?”

Chanhee.. ada kelainan jantung nak.


Changmin menarik tangan Chanhee untuk dikecup masih dengan harapan agar sang pujaan membuka matanya hanya untuk memberinya kepastian bahwa ia akan baik-baik saja. Malam itu, Changmin belum beranjak. Ayah Chanhee, pergi menemui dokter, hanya tinggal dirinya sendiri dipeluk oleh sepi. Tak ada suara lain selain nafas Changmin yang bersahutan dengan alat medis.

Changmin lelah. Ia terlalu lama menangis. Matanya sudah membengkak, sebab sang kasih belum juga siuman. Hingga, saat Changmin baru saja mulai terlelap, ia merasakan usapan pelan diatas pucuk kepalanya, ia seketika menengadah, mendapati Chanhee tengah tersenyum lemah. “Hai” sapanya.

Dan malam itu, Changmin memeluk tubuh kekasihnya lagi seperti malam-malam biasanya. Hanya kali ini,ditemani luka dan air mata.


Kenapa Chanhee tidak bilang kalau Chanhee sakit?” Yang lebih tua mengusap pipi kekasihnya, posisinya sudah setengah duduk diatas ranjang rumah sakit, setelah mengeluh tenggorokannya perih, Chanhee memilih untuk melawan rasa kantuknya dan mulai memberi penjelasan pada kekasihnya.

No one knows sayang...I swear, no one knows” he whispered.

Changmin memukul pelan bahu kekasihnya dan memeluknya lagi, melingkarkan lengannya dilengan kecil pemuda didepannya.

Chanhee janji harus sembuh ya? Kita lalui ini sama-sama...”

Choi Chanhee menatap lurus, pasti dan berani pada kornea mata Changmin. Dibawanya sekali lagi tangannya untuk mengusap pipi kekasihnya, tersenyum lemah sambil mengecup dahi yang tak terhalang poni itu, “kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih padaku. Aku senang bisa ketemu kamu”

Ucapan manis itu dibalas anggukan dan rengekan, tangan Changmin meremat baju rumah sakit milik Chanhee, “aku sayang sama Chanhee, tolong sembuh ya? Chanhee harus janji”

Janji ya, sama aku terus?” Chanhee mengulurkan jari kelingkingnya, dibalas dengan tautan kelingking sebagai balasan dari kekasihnya. Chanhee yang sedari tadi sudah membuka nebulizernya itu, menangkap dagu pemuda tupai kesayangannya, mengecup pelan bibir ranumnya, menyalurkan kasih sayang yang tiada duanya. Ji Changmin, ji Changmin adalah alasan terbesar Chanhee hidup setelah keluarganya.

Ji Changmin adalah asa yang selalu ia perjuangkan. Ji Changmin adalah nama yang selalu tersemat dalam doa. Maka jika Ji Changmin adalah cinta baginya, Chanhee tidak keberatan untuk hidup lebih lama, meskipun sakit ini akan terus membuatnya tak berdaya, Chanhee tidak akan menyerah.

Air mata itu lolos, Chanhee berdoa. Jika ia diberi kesempatan untuk memiliki waktu yang lama, andai ia masih diberi kesempatan, ia takkan pernah akan menyakitinya.

Air mata itu entah mengapa pelan-pelan mengiringi pagutan keduanya. Seperti akan pergi jauh, Chanhee merasa takut. Setiap hembusan napasnya penuh doa, tolong berikan hidup yang lebih lama.

Changmin membaringkan tubuh Chanhee yang terengah, dikecupnya ujung hidung kekasihnya, “tolong, sembuh ya? Janji padaku untuk tidak pernah sakit lagi”

Maka Chanhee mengamini semuanya. Chanhee juga berharap. “Janji jangan cengeng lagi ya? Liat coba, matanya bengkak begini

Changmin tertawa kecil lalu mengangguk, “aku tidak akan cengeng asal besok Chanhee sudah tidak sakit lagi, ok?”

Chanhee mengangguk, lalu kembali memasang nebulizernya. “Pulanglah lalu tidur, besok jenguk aku lagi. Kamu pasti lelah

Sedikit tidak terima Changmin menghela napas,”kak sangyeon berjanji untuk menjemput. Besok pagi, aku akan kembali. Aku janji. Aku janji, aku akan selalu ada untuk Chanhee”

Dan Chanhee mengangguki perkataan kekasihnya. “terimakasih”

Changmin pernah bermimpi bahwa hidupnya dipenuhi gelap. Menyeramkan. Tempat yang ia tinggali dalam mimpi itu begitu lembab dan bau tidak sedap. Changmin dalam mimpi seringkali menangis dan menjerit tidak jelas seperti kesetanan. Changmin memukuli kepalanya sendiri, mungkin ini pertanda bahwa dunianya telah hancur. Sama seperti dunia kak Sangyeon yang dulu setelah lulus kuliah diusir dari rumah karena menentang ayahnya, dengan modal pas-pasan bertekad pergi jauh dari rumah meninggalkan adik kecilnya sendirian.

Changmin kecil saat itu terpukul mendengar pertengkaran ayah dan kakak sulungnya. Dan bertekad untuk tidak membangkang pada ayah.

Tapi nyatanya setelah dewasa ia kembali mendengar pertengkaran ayahnya. Mendengar benda benda jatuh sebab dilemparkan, mendengar suara tamparan dan lengkingan penuh amarah saling menjatuhkan. Ji Changmin bersumpah dia membencinya. Kondisi dimana keluarga yang selalu ia banggakan hancur berkeping-keping karena keegoisan masing-masing. Hanya Sangyeon. Changmin bersumpah hanya Sangyeon.

Setidaknya sampai ia berjumpa dengan kasihnya, Choi Chanhee. Pemuda berperawakan tinggi ramping, dengan kulit seputih porselen dan senyum secerah matahari pagi itu, eksistensinya bagai cahaya. Changmin yang dirundung kegelapan, menemukan setitik cahaya yang ingin ia kejar.

Berbagi payung kuning setiap hari hujan, berbagi airpods hingga sampai arah pulang,menghabiskan waktu bercengkrama di kantin sekolah hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk melangkah lebih dari sahabat.

Choi Chanhee adalah yang pertama. Yang pertama menyapa, pertama mengulurkan tangan, pertama mengajaknya bicara, yang pertama memberi peluk dan cium saat ia dalam gulana.

Choi Chanhee adalah yang selalu tanpa pamrih memberinya pelukan,memberinya secercah kehidupan.

Choi Chanhee yang tanpa batas memeluknya penuh cinta dan kasih sayang.

Choi Chanhee yang tidak pernah mencoba menjadi orang lain untuk merasa pantas, karena bagi Changmin, Choi Chanhee jauh lebih berarti daripada semua yang ada di bumi.

“Changmin...”

Pagi ini hari Minggu, hujan mengguyur kota amat derasnya. Changmin terduduk diatas kasur menatap lurus pada dinding.

“Kakak antar ya?”

Changmin meraih uluran tangan Sangyeon. Dengan senang hati Sangyeon merangkul pinggang kecil adiknya, mengecup keningnya berkata semua akan baik-baik saja.


Tapi dunia tidak pernah baik-baik saja untuknya. “Bagaimana bisa dunia baik-baik saja, kak?” Tanyanya. “Bagaimana kakak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja kalau.. kalau ㅡhiks kalau Chanhee tidak ada”

Lalu tangisnya pecah. Tangisnya menggema di seluruh penjuru ruangan. Pilu. Tangisnya pilu sedikit menjerit. Tangannya yang masih erat menggenggam sang kasih bergetar.

Pagi ini, Chanhee dipanggil oleh Tuhan. Tuhan ingin bertemu dengan Chanhee, mengakhiri sakit yang selama ini ia tanggung sendiri.

“Chanhee...kenapa pergi”

Kevin, Juyeon,Vernon,Seungkwan, Sangyeon dan keluarga Chanhee ikut meneteskan air mata mendengar rintihan pilu dari pemuda tupai didepan ranjang. Memeluk menjerit memohon agar ia kembali. Tapi Choi Chanhee yang mereka kenal bahkan sudah terbujur kaku, dingin dan tak bernapas lagi.

“Chanhee bilang Chanhee akan baik-baik saja kan? Kenapa pergi...kenapa pergi ㅡhiks kenapa pergi??”

Juyeon mengambil langkah dengan berat hati, menepuk bahu Changmin yang naik turun, “Chanhee... Chanhee udah gak sakit lagi kan, Changmin. Kita harus ikhlas”

Changmin mendongak menatap Juyeon, matanya berpendar menatap satu persatu manusia yang ada di kamar rumah sakit pagi ini. Semuanya terpukul, semuanya menangis. Semuanya juga sama kacaunya dengan dirinya. Bukan hanya ia yang ditinggalkan, tapi ada ayah yang seumur hidup mencinta anaknya,ada kakak yang selalu memuja adiknya, ada sahabat yang selalu setia, ada kak Sangyeon yang selalu mau menghabiskan waktu mendengar kisah cintanya, ada dirinya dan keluarga Chanhee yang lainnya yang sama terpukulnya.

Choi Minho berjalan mendekat, memeluk Changmin yang masih terisak, “kita semua terluka sayang. Tapi percayalah, Chanhee sudah baik-baik saja”

Dan tangisnya tumpah. Jemarinya memutih saat meremas fabric punggung pria paruh baya, “Chanhee ㅡhiks Chanhee...”


Malam itu,hujan belum juga reda. Changmin terduduk menghadap jendela kamarnya, menyaksikan halaman belakang yang dulu menjadi tempatnya bermain bersama Chanhee sebelum ia sakit dan pergi.

Changmin menatap bola yang basah karena hujan, menatap gawang dan rerumputan penuh pilu.

Chanhee...hujan malam ini, hanya menyisakan rindu”.

Kevin, Seungkwan, Vernon dan Juyeon yang kebetulan meminta Sangyeon untuk mengizinkan mereka menemani Changmin malam itu, hanya bisa memeluk menguatkan, “Changmin, Chanhee pasti sudah bahagia, dia udah gak usah sakit lagi ya kan?”

Changmin menatap Seungkwan sedikit ragu, “tapi aku yang sakit disini ...”

Changmin, hidup itu porosnya sudah begini, ada yang datang, ada juga yang pergi. Kita semua harus yakin, dibalik ini semua akan ada masa depan yang lebih baik. Kita harus percaya. Lagipula, kalau Chanhee lihat kamu sedih terus menerus seperti ini, dia pasti akan lebih sedih. Jadi, kamu jangan berlarut ya? Kita semua ada disini buat kamu kok” Kevin mengusap pipi Changmin yang basah lalu tersenyum, sedikit menjawil hidung merahnya, “keep smile honey”

Changmin maaf ya, kita gak tahu kalau Chanhee sakit parah sejak kecil, kita juga belum sempat menjenguknya... Tapi kamu harus percaya, kalau kita ini sahabat terbaiknya, sahabat Chanhee sahabat Changmin juga, jadi jangan sungkan ya?” Juyeon mengangkat jari kelingkingnya, “janji sama kita, kita songsong masa depan kita sama-sama, kita bikin Chanhee bangga sama kita ok?”.

Meski hujan malam itu hanya menyisakan rindu, tapi Changmin memilih menautkan kelingkingnya. Berjanji bahwa setelah hujan ia akan menjemput pelangi.

Memberikan bukti pada Chanhee, jika ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, berkat eksistensinya.

Fin