i wish you see with my point of view.


bxb, mlm, sex scene, backburner, friend zone, blood, fight, harsh words, street fighter!bnd, taeshan taesjae, mulnyangz as brother, angst, hurt/comfort.

kinda songfict dari lagu bestfriend ikon.


Larut malam, suaramu terdengar seolah sedang mabuk. Mungkin sesuatu yang menyedihkan telah terjadi pada dirimu.

“Ahhh jaeㅡnghh”

Jaehyun terengah-engah mengejar pelepasan, mempererat peluknya pada pemuda berbahu lebar diatas tubuhnya. Bagian selatannya menggempur Jaehyun asal-asalan dari dua jam lalu. Malam itu tubuhnya dibolak-balik seenaknya, diacak-acak semaunya, dimainkan sesukanya karena sesuatu baru saja terjadi.

“Ahh Taesan-hh”

Taesan merunduk untuk menandai selangka telanjang Jaehyun, si pemuda berambut merah itu menciumnya dengan rakus. Suaranya terdengar sangat indah dan mendayu memanggil nama Jaehyun sepanjang malam sendu.

Jaehyun menggeliat saat dirasa gelombang terlalu besar datang menyerang. Tangan keduanya saling bertaut lalu Taesan terkekeh diatasnya. Myung Jaehyun begitu indah, cantik, semok sekal dan membuatnya bergairah. Kulitnya bersinar dibawah rembulan mengkilap karena keringat. Taesan menyentak dengan kencang setelah meremas pinggang ramping si kecil yang melolong panjang setelah berhasil terbang ke nirwana.

Taesan menjatuhkan tubuhnya, mengusap wajahnya kasar lalu membiarkan badannya didekap sahabatnya malam itu. Taesan menoleh untuk menjemput kecup bibirnya yang mengundang. Taesan membiarkan dirinya melahap Jaehyun dengan rakus. Jaehyun mengusap sisian wajah Taesan dengan halus. Biarkan jemarinya singkirkan anak rambut yang mengganggu. Jaehyun mencium hidung Taesan sebagai penutupnya, “you look so hot”

Taesan mendengus geli lalu membuang muka membiarkan Jaehyun tertawa menggodanya.

“Senyumnya manis banget sih”, katanya sambil mencolek dagu lancip si merah.

“Senyumku jelek tau, Jae. Aku gak percaya diri”

Jaehyun mengernyit melayangkan protes yang dibalas tawa lain dari si empunya.

“I hate me. Senyumku jelek, aku gegabah, tempramen dan miskin.”

Miskin yang keluar dari mulutnya diiringi pahit kehidupan yang selama ini mereka berdua telan.

“Kali ini apa?” Jaehyun mengusap rambut lepek Taesan yang basah akibat permainan dahsyat mereka beberapa saat lalu.

Taesan merangkul Jaehyun, membiarkan kepalanya singgah diatas dada telanjangnya. Dikecup sedikit lalu kembali meratapi nasib.

“You never told me who is he, lho, San”

Taesan mengusap pinggang Jaehyun yang kini ia rangkul dengan sebelah tangan.

“Ya emang tikus got macam kita gak pernah pantas bersanding dengan pangeran, kan? Keluarganya gak pernah terima tikus got macam kita. I have bad smile, not handsome nor pretty, begundal, petarung jalanan. Mertua gila mana yang mau terima calon menantu begitu?”

Kau bilang kau sering bertengkar dengan orang di sebelahmu Kau memintaku untuk menghiburmu Kau atau aku, salah satu dari kita adalah orang bodoh Kita tak bisa pergi ataupun saling mendekat

“So, siapa pria beruntung yang berhasil bunting itu?” Jemari Jaehyun menari diatas dada telanjangnya. Sedikit mengenyampingkan rasa getir dan pait yang sengaja ia telan.

Taesan terkekeh, “Seseorang dari Park yang terhormat yang gak sengaja jatuh cinta sama Han Taesan dan hamil anaknya karena sering bercinta”

Oh si bodoh ini.

“You stupid hoe!” Katanya sedikit menjerit lalu membiarkan Taesan menertawakan realitanya yang memilukan. Jaehyun tahu betul mana mungkin si bodoh ini akan bisa bersatu dengan cintanya. Leehan adalah berlian. Sesuatu yang berkilau yang tak bisa si miskin dapatkan. Leehan juga berlian yang dijaga ketat oleh banyak guardian.

Jaehyun mendongak menatap Taesan yang melamun menerawang. Hanya ini yang selalu bisa Jaehyun lakukan. Menahan pilu dengan matanya yang berkaca-kaca, menatap sosoknya yang tersenyum karena sosok lain. Entah kadang hanya membayangkan, atau benar-benar saling memandang di lain kesempatan.

Ia begitu indah. Matanya begitu cantik, bola matanya berwarna coklat gelap, senyumnya manis meski tipis. Parasnya rupawan tanpa harus memakai riasan. Suaranya yang halus dan lembut sesekali tertawa karena jahil. Jemarinya lentik dan panjang. Bulu matanya panjang terlihat halus sehalus usapan yang biasa ia hantarkan pada siapapun yang bersemayam dalam rangkulan.

Jaehyun selalu suka, selalu jatuh cinta pada tatapan teduh yang Taesan berikan saat ia menatap sang pujaan.

Aku mencoba menghibur diriku dan mataku berkaca-kaca Karena bagiku kau begitu cantik

“Leehan, pribadinya yang selalu dikelilingi keberuntungan”

Taesan menunduk untuk menatap Jaehyun sebentar.

“Bertahun-tahun jatuh cinta sendirian seperti ini, si Leehan Leehan itu mana pernah”

Taesan tertawa miris lalu mengecup kening Jaehyun. Ah sial, memang pada akhirnya selalu menjadi teman. Teman yang lebih dari sekedar teman. Teman yang selalu ia cari saat ia kesakitan. Teman yang selalu datang untuk menghiburnya, menyisir surai demi mengusir gundah gulana.

“Sorry”

“No need to say sorry, tapi, Taesan...”

Taesan menggumam, mengikuti arah gerak Jaehyun yang kini sedikit bangun untuk mendekat kearahnya, “i wish you can see yourself with my point of view. Kamu yang ganteng sempurna, pekerja keras, punya senyum tipis yang manis dan setia. Kamu kelihatan kuat dan kasar di luar padahal hatimu selembut sutra. Aku harap kamu bisa melihat dirimu sendiri dari sudut pandangku, maka mungkin kamu akan mengerti kenapa aku jatuh cinta”

Taesan menelan ludahnya agak berat, membiarkan surainya diusap dan keningnya dihujani cinta.

“Kamu gak kurang untuk orang-orang yang selalu merasa cukup dan bersyukur karena sudah memiliki kamu di hidupnya. Mungkin kamu dan Leehan memang gak jodoh, tapi itu bukan karena kamu kurang, kamu cacat atau kamu tidak sempurna...”

“I owe you everything, Jae”

Suaranya memelan, berbisik disela kesedihan. Jaehyun tersenyum, menyatukan kening mereka berdua dan membiarkan Taesan mengecup bibirnya lagi.

“I'll burn this world for you, san, kalau orang-orang berani nyakitin kamu lebih dari ini.”


Suara penonton mulai terdengar kian ricuh saat tendangan Jaehyun berhasil membuat lawannya tumbang dan terpental hingga menabrak besi pembatas. Jaehyun meloncat dan menginjak perutnya dengan brutal. Darah mengalir dari keningnya yang robek dan mulutnya yang berdarah. Babak ke enam sudah berjalan lebih dari lima menit dan tak ada tanda-tanda ia akan tumbang.

“Son of bitch, Park SUNGHO-!!”

Jaehyun mengangkat badan Sungho yang jauh lebih besar darinya dan melemparnya penuh amarah. Tinju ia layangkan setelah sukses menduduki perut lawan yang kini semakin tak berdaya.

“Mati, lu, mati!”

Sungho memukul sisian kepala Jaehyun yang tak membuahkan hasil besar. Pemuda itu tetap kokoh bak batu gunung menghantam lawan.

Jaehyun terpelanting saat Sungho berhasil memukul titik lengahnya, ia bergegas menendang perut Jaehyun hingga si kecil itu terbatuk dan buru-buru menghindar.

Uang dilempar ke atas ring, semakin banyak, semakin liar. Jaehyun menghindar dengan cekatan dari segala jenis serangan Sungho. Matanya menyalak marah dengan emosi memuncak. Jaehyun membenci lawannya malam ini.

Pemuda ini bertarung untuk cari muka. Pemuda ini dari kalangan kaya yang menyelinap masuk ke arena bertahun-tahun lamanya untuk mencari validasi.

Pemuda ini licik, karena ia berduit, ia juga sering bermain curang.

Pemuda ini angkuh, songong, mentang-mentang tampan dan kaya, ia sering seenaknya memperlakukan orang.

Pemuda ini juga yang membuat Taesan tumbang dan tak punya pilihan.

Pemuda ini yang membuat cintanya kalah malam itu.

Pemuda ini yang membuat Taesan mau tak mau hampir menjemput ajal karena telah menghamili adik kandungnya.

Pemuda ini berjalan angkuh diatas tanah bak dewa, dan Jaehyun tak suka.

Jaehyun membenturkan kening mereka berdua hingga Sungho mengaduh, dan saat pemuda itu lengah, Jaehyun buru-buru menyerangnya dengan brutal. Menendang beberapa titik vital, menghantam dan membogem pemuda tampan itu tanpa ampun.

Jaehyun benci. Jaehyun benci pemuda ini. Jaehyun membenci pemuda yang telah menghancurkan cintanya.

“3....2...1.... K.O!! PARK SUNGHO K.O”

Suara lonceng dan gema sorak sorai penonton benar-benar memekakkan telinga. Jaehyun berdiri dan menginjak pergelangan tangan Sungho membuatnya mengaduh, “i'll burn this world for Taesan, and the first step is knock you down”

“Loser lover” katanya tertawa. Jaehyun mengangguk, benar. Pada akhirnya ia akan tetap jadi si dungu dalam cerita ini. Tak apa. Jika ini bisa membuat Taesan menetap dalam rengkuhannya selamanya, ia tak keberatan menjadi si dungu hingga waktu yang lama.

Fin.