Karena kalau ditanya kenapa, Younghoon punya jawabannya.
milbbang! local AU
❗ : High school love story, kissing, skinship, local harsh word, memuat beberapa kenakalan remaja
? : penulisan semi-baku ya kawan-kawan.
—
Younghoon itu tahu betul bagaimana perangai orang yang ia pacari. Younghoon sudah khatam dari a sampai z-nya tentang Lee Hyunjae. Younghoon juga tahu pasti, kalau Hyunjae terkenal sebagai anak yang hobi mencari gara-gara di sekolah. Tapi tiap kali ditanya;
“kok mau sih kamu pacaran sama Hyunjae? Dia kan tukang tawuran”
Atau hal-hal semacam
“kok mau sih jadi pacar Hyunjae yang berisik, jahil dan pecicilan mana dia suka ngutang risoles di kantin pula. Kamu tuh bisa tahu ih dapetin pacar yang lebih baik dari dia, Hoon”
Younghoon selalu punya jawabannya. Tentu Younghoon akan selalu punya jawaban untuk hal itu.
Namanya Lee Hyunjae. Anak kedua dari tiga bersaudara. Anak kelas 12 IPA 7 di SMA negeri di Jakarta. Kesehariannya sih sama saja. Sama saja seperti anak-anak remaja lainnya. Pagi sekolah, siang nongkrong di kantin sama teman-teman, sore pulang bersama pacar, malamnya pergi main sama teman-teman komplek, kadang nongkrong di warmindo, kadang juga sewa PlayStation dan bergadang hingga subuh. Biasa aja kan? Ya memang biasa saja. Hyunjae bukan murid rajin yang masuk organisasi sana-sini, bukan juga yang aktif ikut ekstrakurikuler. Beda sama pacarnya Younghoon, mantan wakil ketua OSIS, dan pernah ikut lomba debate inggris dua kali. Tapi Hyunjae juga gak seburuk itu. Dia unggul dalam pelajaran olahraga, Kimia dan dan kesenian. Meski memang suka tawuran dan bikin kantin berisik, tapi Hyunjae tidak seburuk yang ada di pikiran kalian.
Hari itu, Hyunjae mengajaknya makan siang di kantin seperti biasa. Biasanya, mereka akan sengaja memilih bangku di pojokan, memesan mie ayam atau makanan berat lainnya, kadang-kadang bawa bekal sendiri dari rumah. Bangku mereka akan menjadi bangku yang paling berisik, karena diisi oleh Hyunjae, Dokyeom, Mingyu dan Bambam yang punya segudang bahasan konyol dan lucu untuk mengisi acara makan siang mereka. Bambam, Younghoon dan Jacob adalah teman sekelas. Mereka selalu bersama bahkan sejak masa orientasi sekolah. Sebelumnya, mereka semua satu kelas saat orientasi, meski setelah masa orientasi kelas mereka harus di reshuffle lagi, tapi pertemanan mereka tidak berakhir disitu saja. Sampai kelas dua belas seperti inipun, mereka berenam masih bersahabat. Ralat, yang empat sahabat, yang dua pacaran.
Kalau harus menarik garis waktu di masa lalu, kalau diingat-ingat kembali, Younghoon lah yang pertama kali jatuh hati pada pria berambut coklat kriwil itu. Soalnya, Younghoon yang pemalu ini merasa nyaman saat berada disampingnya. Hyunjae itu banyak akal, dia gak pernah kehabisan topik pembicaraan. Dia juga teman yang baik, lucu dan suka menolong. Awalnya cuma satu kelompok, lama-lama malah jadi akrab dan dekat. Karena rumah mereka searah, mereka beberapa kali pulang bersama, entah naik motor Hyunjae, entah naik ojek online.
Lama-lama bersama seperti itu, akhirnya memupuk sesuatu yang seharusnya gak usah ada sejak awal, katanya. Saat itu, saat mereka menginjak semester genap di kelas 10, Hyunjae memberanikan diri mengajak Younghoon untuk pacaran. Lucu, anak kecil udah banyak tingkah aja, gitu kira-kira kata kakak sulung Hyunjae, Lee Sangyeon yang waktu itu jadi ketua OSIS yang menjadi saksi perjalanan mereka.
Tapi karena Younghoon merasa gak keberatan sama sekali, dan kalau diingat-ingat juga dia yang baper duluan, ya akhirnya kesempatan itu diterima saja begitu mudahnya. Dan sejak saat itu, mereka menjalin hubungan yang lebih dari hanya sekedar teman.
Sebenarnya, kalau ditanya apakah Hyunjae itu berandalan sekolah jawabannya tidak juga sih. Masih banyak anak nakal lain yang kelakuannya lebih parah. Cuma memang Hyunjae ini ikut-ikutan aja tiap ada tawuran. Terhitung sudah belasan kali sejak kelas sebelas, Hyunjae mondar-mandir BK untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Nama Hyunjae, Mingyu, Yibo, dan beberapa anak lain sudah tidak asing lagi bagi guru BK.
Dan pasti setelah kejadian itu, Younghoon akan mendapat pertanyaan serupa. Setiap kalinya, setiap tahunnya.
“Kok lo mau sih pacaran sama si Hyunjae? Anaknya tawuran lagi tuh”
“Kak Younghoon kan ketua OSIS kok pacarnya tawuran sama SMA sebelah?”
“Younghoon anak baik kok pacarannya sama yang demen kelahi gitu sih?”
Dan masih banyak pertanyaan serupa yang selalu ditanyakan padanya tiap kali Hyunjae bikin masalah.
Younghoon marah, jelas. Younghoon tidak pernah suka Hyunjae yang pulang dengan keadaan babak belur karena alasan tidak logis mereka. Tapi jika ditanya begitu, tentu saja Younghoon selalu punya jawabannya. Dan setiap kalinya, setiap tahunnya, jawabannya akan selalu sama.
“Yang, pelan-pelan coba, ini perih banget pelipis aku atuh jangan dipencet-pencet begitu”
“Stop berisik atau gue siram pake air garam muka lo yang sok ganteng ini!”
Hyunjae meringis sambil meminta maaf, membiarkan pacarnya mengolesi betadine dan salep pada luka-luka hasil tawurannya.
“Tadi makan siang sama apa ganteng? Mie ayam lagi gak kayak kemarin?”
“Tadi makan soto”
Hyunjae mengangguk-angguk, meski setelah itu meringis lagi karena Younghoon menekan lukanya. “Diem dulu, ini ada kerikilnya kecil-kecil, tahu!”
“Iya maaf atuh sayangku da perih ini teh”
“Stop ngomong bahasa Sunda! Lo orang Jakarta asli!”
“Emangnya kenapa? Ada larangannya?”
“Gak cocok, aksennya beda sama orang Bandung asli!”
Hari itu, setelah gagalnya acara makan siang bersama yang direncanakan di kantin, Younghoon pulang sendiri. Memilih mengurung diri di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu Jepang kesukaannya, sampai akhirnya ia tahu dari tetangga rumahnya ada Hyunjae menungguinya di teras rumah. Dan alhasil, terdamparlah Hyunjae disini, duduk bersila di lantai kamar Younghoon sambil diobati lukanya oleh sang kekasih.
“Ini kalau SMA 58 gak duluan cari gara-gara juga aku gak bonyok, yang..”
“Tapi mereka cari gara-garanya juga bukan ke lo? Kenapa lo yang riweuh ikut tawuran kalo akhirnya luka ginian aja mewek cuma karena kena betadine?”
“Ya iya iya maaf, habisnya aku kan setia kawan, yang..”
“Makan noh setia kawan” ujarnya sambil melempar kapas bekas ke hadapan pemuda kriwil itu. Younghoon beranjak dan mengambil kotak p3k di kamarnya, ia meraih kain kassa dan plester dan memasangkannya pada bagian wajah Hyunjae yang terluka.
Hyunjae tersenyum kecil melihat Younghoon dari jarak sedekat ini, meski bermulut pedas dan irit bicara, Younghoon tidak pernah tidak perhatian pada Hyunjae. Jari Hyunjae ketusuk duri dikit aja dia obatin, apalagi luka bekas tawuran gini, gak pernah ada sejarahnya ada orang selain Kim Younghoon yang ngobatin bekas bekas luka Hyunjae. Mau di sekolah atau di rumah, pasti selalu Younghoon. “Dah beres, minggir. Gue mau cuci tangan!”
Younghoon yang hendak berdiri itu ditarik tangannya hingga terjatuh tepat diatas pangkuan kekasihnya, si pemuda September itu tertawa terbahak-bahak saat si Agustus bersungut-sungut marah atas apa yang dilakukan olehnya. Dan saat ia sibuk mengoceh, Hyunjae mendekatkan bibirnya pada bibir manis milik Younghoon, menciumnya lembut sambil berterima kasih karena sudah membantunya mengobati luka bekas tawuran. Oh yang tentu saja dihadiahi jari tengah oleh Younghoon yang kabur ke kamar mandi, katanya kan tadi mau cuci tangan ya? Tapi kayaknya malah cuci muka, mana merah pula wajahnya.
Dan sorenya, setelah makan ayam geprek bersama, mereka memilih bersantai di kamar Younghoon sambil menonton anime kesukaan pemuda Agustus itu. Duduk berdua sambil bersandar pada kasur, tangan Hyunjae melingkar di pinggang ramping Younghoon, dengan tangannya yang lain memainkan ujung-ujung jemari lentik milik kekasihnya. Pemuda berkulit putih itu sama sekali tidak keberatan, malah semakin mendekatkan dirinya pada Hyunjae, sesekali bersandar pada bahunya, dan sesekali tangan kirinya yang menganggur memeluk pemudanya. Sebenarnya, hubungan mereka ini romantis romantis saja, sih. Orang-orang saja yang tidak tahu.
Hyunjae itu sangat menyukai risoles kantin, dan beberapa kali bertengkar dengan orang-orang yang menurutnya “menghabiskan jatah risoles kantin kesukaannya”. Sudah terhitung puluhan kali, Younghoon harus menjewer telinga Hyunjae yang adu bacot dengan siswa lain karena tak terima kehabisan risoles saat datang ke kantin. Puluhan kali pula Younghoon harus menebalkan muka karena tingkah konyol pacarnya ini.
Siang itu, Younghoon yang baru saja sampai kantin harus mendengar aduan dari Mingyu bahwa pacarnya adu mulut lagi dengan adik kelas karena menyenggol tangannya hingga risolesnya jatuh dan terinjak oleh siswa lain yang sedang antri. Sebenarnya itu bukan masalah besar, sama sekali bukan. Namun karena itu adalah risoles terakhir yang ada di kantin dan Hyunjae begitu menginginkannya, Hyunjae jadi lebih sensitif.
Biasanya setelah dijewer atau diberikan geplakan maut, Hyunjae akan memilih memakan apa saja yang dipesankan Younghoon dengan mood yang anjlok. Menyebabkan Younghoon harus turun tangan menyuapi bayi besar yang menyebalkan itu. Dan biasanya, Younghoon harus menebalkan muka lebih ekstra karena akan banyak pasang mata melihat kearahnya.
Tapi Younghoon tidak keberatan, karena Hyunjae selalu melakukan hal-hal yang sama. Hyunjae itu apa ya? Bisa di bilang dia ini memborong semua love language yang tersedia di muka bumi ini.
He is the king act of service. Dia ini tipe yang sat-sat-sat-set daripada banyak bicara. Hyunjae suka sekali memanjakan Younghoon, Hyunjae treats him like a king. Dimulai dari hal-hal kecil seperti membukakan bungkus chiki, membukakan tutup botol minum, mengikatkan tali sepatu, mengantarkan makanan, memberikan jaket, membantu memasangkan helm, mengantar Younghoon kemanapun ia mau, dan hal-hal lain yang Younghoon lupa apa saja yang sudah Hyunjae lakukan untuknya karena saking banyaknya hal-hal manis yang dilakukan Hyunjae untuknya.
Hyunjae juga sering memujinya. Hal terkecil yang biasa kalian lihat adalah contoh pertamanya, caranya memanggil Younghoon. Hal itu sudah benar-benar menggambarkan betapa Hyunjae sering memujinya. Hyunjae tidak pernah absen untuk menghujani Younghoon dengan kata-kata manis, memuji dan memberi dukungan atas apa yang telah Younghoon lakukan.
Hyunjae itu suka memberi Younghoon hadiah, katanya sih sebagai bentuk apresiasi. Buktinya cincin couple yang tersemat di jari kelingking mereka, ini adalah hadiah anniversary pertama mereka. Jaket dan Hoodie couple sebagai hadiah ulangtahun, sepatu impian Younghoon sebagai hadiah atas terpilihnya Younghoon sebagai wakil ketua OSIS, dan masih banyak hadiah lain yang tidak bisa disebutkan olehnya. Saat menyambangi rumahnya untuk bermalam mingguan, Hyunjae juga biasa membawa buah tangan. Padahal juga malam mingguan di rumah saja, tapi martabak manis langganannya tidak pernah ketinggalan.
The Quality time… Hmm. Hyunjae gemar sekali menghabiskan waktu bersamanya. Meski kadang jarak memisahkan, Hyunjae juga sering menyempatkan waktu berbagi kabar. Contohnya kemarin, saat kelasnya liburan ke puncak, Hyunjae tidak pernah absen mengabari Younghoon, memberinya foto-foto kegiatan, memberi tahunya kegiatan apa saja yang mereka lakukan, dan malamnya akan saling bertukar kabar lewat sambungan video call.
Hyunjae juga sering mengajak Younghoon jalan-jalan di akhir pekan, meski hanya makan di tukang nasi bebek langganan di alun-alun juga, yang menjadi point pentingnya adalah menghabiskan waktu bersama si sayang, iya kan? Hyunjae juga tak ketinggalan untuk berbagi cerita tentang hari-hari yang ia lewati dan akan siap mendengarkan cerita-cerita Younghoon yang membuatnya tertarik. Oh! Ada satu hal yang paling Younghoon sukai dari Hyunjae yang menyukai quality time ini.
Hyunjae tidak pernah asyik dengan handphonenya sendiri jika sedang berduaan. Ia tidak akan menyentuh handphonenya kecuali sudah terdengar nada dering panggilan masuk.
Oh dan tentu saja Hyunjae juga menyukai skinship. Hyunjae itu orangnya gemesan, apalagi Younghoonnya memang gemesin. Hyunjae sering sekali mencubit atau mencuri kecupan di pipi bulat milik Younghoon. Sering kali mencium ujung hidung Younghoon saat pamit pulang, sering mencium bibir merahnya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Apakah Younghoon keberatan? Tentu tidak pernah. Younghoon meleleh. Setiap sentuhan yang ia dapatkan dari Hyunjae selalu sukses membuat jantungnya berdebar kencang. Hyunjae juga suka memegang tangan Younghoon saat berjalan, beberapa kali Younghoon sering tatapi tangan mereka yang bertaut itu. Sambil menerawang apakah akan ada hari dimana tangan mereka tak lagi saling menggenggam?
Akankah ada hari dimana tangan Hyunjae melepas tangannya? Akankah ada hari dimana bukan ia yang Hyunjae peluk dan kecup bibirnya? Akankah ada hari dimana bukan dirinya lagi yang menemani keseharian Hyunjae? Mengingat hal itu Younghoon mencelos hatinya. Membayangkannya saja sangat mengerikan.
Hari ini, mereka menghabiskan waktu di rumah, mengulang materi matematika dan kimia sambil bercengkrama. Younghoon memperhatikan wajah Hyunjae yang serius sambil menerangkan. Tangannya yang menggenggam bolpoint itu menunjuk beberapa ilustrasi gambar di buku paket sambil menerangkan rumus-rumus dan cara menghitungnya. Ditatapnya semakin dalam dan semakin lama, wajah itu semakin bersinar.
Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, bibir merahnya yang selalu menjadi candu untuk Younghoon itu terlihat sangat sempurna. Rambutnya sedikit berantakan, secara tak sadar tangan Younghoon terulur untuk merapikan rambut Hyunjae, mengelusnya dan berakhir bertengger apik di rahang pemuda September itu. Younghoon menatap Hyunjae yang kini menggenggam tangannya yang kini mengecupnya lama, “Sayangku udah gak mau belajar ya? Udah bosen, kah?”
Younghoon terkekeh kecil lalu mengangguk. “Otakku udah kepenuhan” Hyunjae tertawa lalu menggeser tubuhnya hingga menempel pada Younghoon, hingga akhirnya pemuda Agustus itu masuk kedalam pelukannya. Hyunjae melingkarkan tangannya memberi Younghoon rasa aman dan nyaman. Hyunjae mengusap lembut rambut halus milik Younghoon dan mengecup puncak kepalanya lama. “Sayangku, padahal tinggal sedikit lagi itu bahasan Kimianya.”
Younghoon menggeleng dan semakin merapatkan pelukannya. Mau tak mau akhirnya Hyunjae mengalah. Ia memilih membereskan buku-buku diatas meja dan memasukannya kembali ke dalam tas sekolah. Dan dengan kekuatan ekstra, Hyunjae menggendong Younghoon yang menempel seperti koala padanya dan berjalan menuju kamar. Pelan-pelan Hyunjae membaringkan tubuh Younghoon dan mengecup keningnya sebentar. Hyunjae yang duduk dipinggiran kasur itu tersenyum saat bayi besarnya begitu manis dan lucu mengerjap menatapnya penuh cinta. Younghoon memeluk perut Hyunjae, dapat ia rasakan tepukan halus di punggungnya dan usapan sayang pada rambutnya.
“Kamu ngantuk ya, sayangku?” Younghoon menggeleng. Ia bergumam tidak jelas diperut Hyunjae dan memilih untuk mempererat pelukannya. “Kalau gitu mau beli eskrim gak ke depan?”
Mendengar itu Younghoon buru-buru bangun dari tidurnya dan mengangguk semangat, “mau! Beli mie juga ya, aku laper.”
Hyunjae tertawa lalu menjawil hidung Younghoon gemas, “lucu banget sih pacar siapa?”
Younghoon dan Hyunjae berjalan pelan sambil menikmati eskrim di genggaman masing-masing. Tangan mereka tak lupa saling bertaut, menikmati angin sore yang menerbangkan rambut mereka. Younghoon menatap langit diatas sana. Lagi-lagi pertanyaan tempo hari berputar di kepalanya. Kenapa Younghoon mau ya pacaran sama Hyunjae? Anaknya berisik, petakilan, suka tawuran dan beberapa kali merecok di kantin. Kenapa ya Younghoon tetap suka dan betah menjalin asmara dengannya?
Younghoon berjalan dengan berbagai suara mengisi di kepalanya. Ada banyak sekali yang Younghoon tidak suka dari Hyunjae. Ada banyak sekali tingkah menyebalkan Hyunjae yang membuat Younghoon naik darah. Ada banyak sekali alasan Younghoon marah pada Hyunjae.
Tapi tidak pernah ada satu alasanpun yang cukup menjawab mengapa Younghoon mengakhiri hubungannya dengan Hyunjae. Tidak pernah ada satu alasanpun yang bisa mengisi pertanyaan Younghoon yang diam-diam ia pikirkan selama ini.
“Kelak, kalau kita putus, alasannya kenapa ya?”
Hyunjae yang mendengar itu hanya bergumam, suara Younghoon terlalu pelan ditelan bisingnya suasana sore ibu kota.
“Hm? Kamu nanya apa tadi?”
“Kelak, kalau kita putus, alasannya kenapa ya Jae?”
Hyunjae mengenyit dan merengek protes, “Kok kamu mikir gitu sih ayang ah aku gak suka deh..”
Younghoon memutar bola matanya malas lalu kembali menatap langit sore. “Aku sering ditanya kenapa aku mau mau aja pacaran sama kamu. Aku juga sering ditanya kenapa bisa aku sayang sama kamu, aku sering ditanya kenapa bisa aku jatuh cinta duluan sama kamu, dan aku selalu punya jawaban tentang hal itu..”
Younghoon tersenyum, memorinya melayang, memutar kaset lama yang tersimpan di sanubari, menayangkan betapa banyaknya hal indah yang telah dilewati bersama selama dua setengah tahun ini. Begitu banyak cerita, ada suka ada duka yang dilalui bersama. Begitu indah hingga rasanya Younghoon tak pernah mau menukarkannya dengan apapun. “Kalau ditanya kenapa aku mau sama kamu, jawabannya selalu sama. Buatku, kamu udah lebih dari cukup. Udah lebih dari apa yang aku mau, dari apa yang aku harapkan. Kamu gak pernah kasar kok ke aku, meski kata orang-orang kamu suka tawuran. Kamu gak pernah sekalipun tinggiin suara kamu ke aku, kamu gak pernah marah meski aku keterlaluan, kamu gak pernah biarin aku kesusahan sendirian. Kalau kita punya masalah, kamu selalu datang ke aku lurusin semuanya dengan kepala dingin. Meski kita jauh-jauhan, aku gak pernah merasa kehilangan kamu, soalnya kamu masih peduli sama aku. Sejauh apapun kamu, secuek apapun kamu, Semarah apapun kamu sama aku, kamu gak pernah ninggalin aku sendirian. Terus kenapa aku harus gak mau jalani hubungan ini sama kamu?”
Younghoon duduk di bangku taman komplek, membiarkan Hyunjae mengekor dan menatap kearahnya penuh harap, “Kamu selalu punya sisi manis dan baik yang kamu tunjukkan ke aku yang gak kamu tunjukkan ke orang lain, terus kenapa aku harus tinggalin kamu cuma karena kamu tawuran hari itu? Satu hari kamu lakuin kesalahan, gak pernah mengubah hari-hari lain yang kita lewatin, yang bikin aku sadar kalau kamu udah cukup buat aku.”
Younghoon meraih tangan Hyunjae yang menganggur, menggenggamnya erat dan mengusap jemarinya dengan ibu jari miliknya.
“Terus, kalau kita putus nanti, alasannya apa ya? Aku kayaknya terlalu besar kepala karena mikir bahwa kamu gak akan ninggalin aku demi orang lain, aku juga terlalu besar kepala karena yakin kamu gak akan bosen sama aku…”
Hyunjae tersenyum manis sekali. Hatinya menghangat mendengar semua penuturan Younghoon yang panjang. Hyunjae menyatukan kening mereka berdua, “Aku emang gak pernah bisa janjiin masa depan, tapi apapun itu yang terjadi nanti, aku harap aku gak akan pernah ninggalin kamu, aku harap aku gak akan pernah nyakitin kamu, karena seperti kata kamu tadi, kamu juga udah lebih dari cukup buat aku. Aku gak butuh siapapun lagi, ganteng. Aku cuma mau kamu aja. Aku cuma butuh kamu aja. Kita jalani bareng-bareng terus, ya? Akunya tolong diingetin kalo ada salah, kalo ada sikap dan perkataan aku yang bikin kamu gak nyaman atau bikin kamu bosen sama hubungan kita. Aku juga gak pernah mau kehilangan kamu, ih bayanginnya aja merinding apalagi sampe kejadian…”
Younghoon tertawa geli lalu mengangguk, ia menarik diri dan kembali memakan eskrimnya yang mencair. Hyunjae merangkul pundaknya, dan dengan senang hati Younghoon menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh kekasihnya itu. Keduanya menatap langit sambil berbincang kecil. Dalam hati Younghoon sadar, ia selalu punya jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia dapatkan.
Kenapa mau mau aja sih sama Hyunjae?
Karena sejauh apapun ia melangkah, sejauh apapun ia berjalan, dan apapun yang mereka alami, hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa perasaan yang mereka miliki begitu dalam. Younghoon akan selalu punya jawaban atas apa yang ditanyakan pada orang-orang padanya, tapi ia tak pernah memiliki satu jawaban yang cukup untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
Petang itu, keduanya kembali ke rumah setelah jalan-jalan di taman komplek, Hyunjae berjalan satu langkah didepan Younghoon, tangan mereka masih saling menggenggam. Younghoon menatapi tangan mereka yang saling bertaut itu, jantungnya selalu ribut. Setiap harinya tidak pernah berubah.
“Nje...”
“Iya, ganteng?”
“Sampai kapanpun, tolong jangan lepasin tangan aku, ya?”
Hyunjae tersenyum dan mengangguk, ia menarik Younghoon masuk dalam rengkuhannya dan berjalan berdua. Mengakhiri hari dengan cerita baru, yang tentunya membuat Younghoon semakin sadar bahwa ia selalu punya jawaban atas pertanyaan yang sering ditujukan padanya.
Fin
©bilulangit