Ketemu di cafe simply nineteen

Content warning; cheating, harsh word, mention club and drunk.

Andra sore itu baru selesai mandi. Dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melilit di pinggang, ia berjalan. Membiarkan beberapa tetes air terjatuh tanpa perlawanan. Sedikit bersiul dan bersenandung. Mengambil kaos dan celana dalam, juga celana jeans dan jaket kebangaannya. Andra duduk didepan meja rias, memakai beberapa skincare rutin yang biasa ia gunakan. Meraih bando hitam dan memasangnya, masih dengan mood yang baik, akhirnya ia berhias diri. Lalu seorang Affandra Hirawan itu segera mengeringkan rambut dan tersenyum depan kaca setelah merasa puas.

Ya. Kenalkan, namanya Affandra Hirawan. Ini kali pertama di cerita bahwa narasi dimulai dari sudut pandangnya. Affandra adalah anak tunggal dari pasangan pengusaha kaya dan dokter gigi ternama. Anaknya pintar, ramah dan mudah berteman. Dengan beberapa selebgram saja dia suka pergi hangout kok.

Andra membuka laci meja di kamarnya, menimang saat melihat deretan kunci motor dan mobil yang berada disana. Tangannya mengetuk dengan wajah ketara terlihat berpikir. Akhirnya ia memutuskan untuk mengendarai motor ninja kesukaannya. Si hitam, yang suka di pakai balapan. Oh iya, ia juga memang suka balapan. Selain di circuit untuk sekedar hobi dan happy-happy, ia juga tak jarang ikut balap liar. Taruhannya uang, wanita, atau bisa juga berupa motor yang sedang dikendarai pesertanya.

Dan tiga motor ninja yang ada di rumahnya, adalah buktinya. Bukti bahwa ia sering menang. Deretan nama gadis gadis cantik yang menjadi mantannya juga adalah bukti bahwa Affandra sering menang. Kalau taruhan uang sih, biasanya berakhir dengan Andra mentraktir minum dan makanan teman-temannya di club langganan. Kadang ambil kelas VIP kadang meja biasa aja. Biar lebih seru dan panas.

Ya namanya juga remaja. Banyak tingkah dan banyak gaya adalah hobinya, kata papanya. Gonta-ganti pasangan setiap minggu, keluyuran sampai gak pulang, atau pulang dengan bau alkohol, ayahnya tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena dibalik itu semua, Andra adalah manusia yang memiliki segudang prestasi. Sejak SD ia sering mengikuti lomba-lomba, akademik ataupun non akademik. Di SMP sering membawa piala cerdas cermat bahkan sampai tingkat provinsi. Yang paling mencengangkan adalah Andra pernah ikut olimpiade matematika tingkat SMA hingga ke Jerman dan meraih juara tiga.

Banyak sebenarnya beasiswa yang bisa ia ambil dari prestasinya. Namun ia agak acuh tak acuh dengan tawaran-tawarannya.

Karena ya, semuanya terasa kosong. Pernah dengar kan, ia masih mencari cara mengisi sesuatu yang kosong di hatinya. Ia rasa semuanya akan percuma. Maka, Andra memutuskan kuliah disini saja. Bersama teman satu tongkrongannya Jayden Yeeshai Hartigan, anak kedua pak Hartigan; teman ayahnya, dan Arjuna juga Arjanu Nanditama yang mana keluarga Pak Tama adalah tetangganya sebelum mereka pindah rumah kesini. Dan ya, akhirnya begitulah cerita singkat tentangnya.

Orang-orang sih banyak yang memujanya. Mendekatinya, mengajaknya berteman. Tapi circle dia gak jauh-jauh dari dua orang tadi. Janu dan Jayden. Sebenarnya dengan Juna juga cukup dekat sih. Tapi Arjuna kan anak Band yang sibuk manggung, belum lagi kalau malam ambil part time jadi bartender, waktu main mereka jadi sedikit karena sibuk. Jadi ya, dua pemuda lainnya lah yang selalu menemaninya.


Andra turun dari motor yang diparkirkan Juna. Membuka helm dan berjalan memasuki cafe, mengekori Arjuna. Rekan-rekan band Juna segera mengangkat tangan memberi isyarat untuk mendekat. “Thanks udah mau backup, Ndra!” Lalu tangan mereka beradu high five. “Santai, santai.. mumpung gue juga lagi nganggur”

“Makan dulu sini, keburu dingin. Nanti kita nyanyi agak sore biar yang nonton lebih banyak”

“Gue bentar lagi deh nunggu si Jayden sama Janu kesin. Eh Jan, pesenin sei sapi sama es teh buat si Jayden, dong”

Arjuna segera berdiri, meraih kotak rokoknya dan berjalan menuju kasir. Memesan beberapa menu tambahan sembari meminjam korek.

“Kayaknya enak dah makanannya”

“Tadi gue nyoba vietnam dripnya enak sih daripada di tempat biasa”

“Wah keren juga nih tempat”

Jayden dan Janu segera datang belasan menit setelah semuanya berkumpul. Asap mengepul dari mulut beberapa pemuda disana sambil berbincang. Pelan-pelan, kafe mulai ramai.

Semua orang yang duduk disana fokus pada makanannya, sampai akhirnya Jayden memberi kode agar Andra membuka handphonenya.


Setelah berkeliling di taman kota, Zaqi dan Om Bima memutuskan mengisi perut di kafe yang baru buka, yang sering dibicarakan teman-temannya. Katanya, kafe disini bagus, makanannya enak dan harganya juga terjangkau.

Alphard Vellfire berwarna hitam itu berhenti di tempat parkir. Pak Bima segera keluar dan membukakan pintu untuk Zaqi, sambil digenggam kecil tangannya, Bima menggandeng Zaqi untuk masuk. Cafe mulai ramai dan terlihat sibuk. Zaqi dan Pak Bima sempat celingukan mencari kursi kosong hingga akhirnya menemukannya meskipun di luar ruangan.

“Biar om yang pesan ya cantik”

Zaqi mengangguk dan tersenyum manis. Segera ia membuka maskernya dan mulai bermain handphone. Zaqi sibuk mengambil banyak foto sampai ia mendengar sayup-sayup suara seperti memanggilnya.

Zaqi mengedarkan pandangannya menyapu seisi cafe hingga akhirnya matanya bersibobrok dengan hazelnut milik Andra diseberang sana.

Mampus! Zaqi gak bisa kabur lagi kalau begini caranya?!

Andra terlihat nyengir lebar sambil melambaikan tangan menyapa Zaqi yang mulai panas dingin. Zaqi melotot sambil mengacungkan jari tengah, yang dibalas flying kiss menyebalkan dari Andra. Pemuda itu tertawa puas tanpa suara. Bisa mati berdiri Zaqi kalau begini ceritanya.

To be continued…