Macarin independent person • niktaes
tags : adegan dewasa (bukan ngentiaw)
Riki betulan mampir pukul delapan. Taesan bisa mendengar suara nmax milik pacar brondongnya masuk pekarangan rumah. Rumah ideal yang Taesan lunasi setelah lama sekali membayar angsuran, rumah idaman yang akhirnya menjadi kenyataan, tinggal diisi oleh keluarga kecilnya saja.
Orang tua Taesan jauh disana, Taesan merantau sudah delapan tahun lamamya, bekerja di ibu kota dari gaji kecil hingga sekarang menurutnya gajinya masuk akal (dengan jobdesk yang tidak terlalu mencekiknya).
Riki memeluk Taesan yang dengan hangat membuka pintu, dengan tangan kiri menggenggam kresek Alfamart berisikan soda dan ciki. Riki mencium pipi tirus si pacar lalu masuk dan selonjoran santai di depan televisi.
Taesan dengan excited membuka dua buah blind box yang ia beli, isinya mainan lucu yang biasa digantung di tas jinjing orang-orang jaman sekarang. Dua duanya berisi boneka setengah kucing setengah chibi berwarna hitam, katanya yang satu secret, yang Taesan pegang.
Boneka-boneka kucing itu segera ia ambil gambarnya lalu setelahnya ia berikan pada Riki yang satunya, katanya sih biar kembaran.
Taesan dan Riki biasanya bercengkrama hingga larut malam, mengobrol tentang apa saja yang bisa dibahas, dengan Riki yang setia memijat kaki jenjang Taesan yang dibalut celana pendek dari piyama sutranya yang halus berkilau.
“Kakimu tegang semua gini, besok pijat yuk?”
“Ah aku kurang suka yang buka baju kemarin… geli-geli doang gitu”
“Iya nanti kita cari tempat refleksi lain”
Taesan mengangguk lalu menarik kakinya untuk bersandar nyaman bergelung pada Riki.
Sejatinya, Taesan itu pria kuat dan tangguh yang Riki temui dua tahun lalu. Pria yang ia nilai “serba bisa”
Pria mandiri yang luar biasa. Taesan itu benar-benar definisi untouchable, soalnya, beberapa kali kencan buta juga tak ada hasilnya. Banyak orang yang dinilai tidak sesuai dengan kriterianya, padahal kriterianya tidak aneh-aneh,tuh? Buktinya ia dan Riki si bocah ingusan yang masih kuliah ini awet awet aja?
Taesan itu mandiri, ia bisa menghidupi dirinya sendiri, bisa melakukan tanggung jawab dan tugasnya sendiri, bisa memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya sendiri, terbiasa menjadi provider bagi dirinya dan keluarganya sendiri. Taesan itu tangguh, pria dewasa yang matang dari segi usia dan pemikiran.
Maka, ia tidak butuh basa-basi, bagi Riki Taesan tidak butuh ditanyai, tapi ditemani. Taesan tidak butuh dibimbing, tapi ditemani. Taesan tidak butuh dinasihati ini itu, tapi dikasihi dan disayangi. Taesan tidak butuh orang yang bertele-tele dalam hidupnya, tidak butuh orang yang main-main hanya karena penasaran.
Maka Riki sebisa mungkin tidak begitu. Sebisa mungkin ia tidak menyentil egonya, tidak mengganggu kehormatannya, tidak memperkeruh situasi sekitarnya, dan Riki selalu berusaha mengimbangi langkahnya. Riki banyak belajar tentang Taesan, pun setelah Taesan luluh hatinya, gantian Taesan yang belajar tentang Riki.
Taesan itu setelah kenal lebih dekat begini juga manja, sesekali menangis karena merasa tidak kuat, sesekali mengeluh dan minta istirahat. Tapi keesokan harinya, ia akan dapati Taesan kembali seperti sedia kala.
Riki tidak perlu memberi nasihat ketika Taesan curhat. Ia hanya dengarkan dan validasi perasaannya. Jika diminta, mungkin ia akan berbagi dari sudut pandangnya.
Riki tidak perlu menyuruh Taesan melakukan kewajibannya hanya untuk sekedar basa-basi, ia lebih memilih untuk berinisiatif menemani keseharian Taesan. Sebisa mungkin tak meninggalkannya hingga pada akhirnya Taesan nyaman dengan keberadaanya.
Taesan melenguh, mengusap dan meremat halus rambut Riki yang menciumi kaki jenjangnya. Duh, Riki dan segala tingkah manisnya. Riki menciumnya lagi, dari ujung kaki, naik ke punggung kaki, betis, paha, paha dalam, lalu berakhir pada ciuman panjang di sabtu malam.
Macarin independent person gak sesulit itu baginya. Ia hanya perlu percaya diri dan inisiatif untuk menemani setiap langkahnya.
Kalau kamu berani, mungkin kamu bisa coba metode ini, siapa tahu, kamu beruntung seperti Riki.
Fin.