risol

“Wah Andra.. selamat ya. Dapet IP empat lagi, lho dia.” Sepanjang koridor yang mereka lewati telinga Sekala dan Zaqi menangkap suara-suara yang cukup terdengar genit.

Hal itu tentu cukup membuat Sekala merinding dan merasa geli dibuatnya. Terlihat dua orang pemuda tinggi menjulang diantara kerumunan wanita-wanita itu. Ada satu yang Sekala sempat tahu namanya. Kalau tak salah ingat, yang memiliki hidung runcing, dengan wajah mirip artis saking tampannya itu bernama Affandra Hirawan atau orang-orang akrab manggil Andra, oh beberapa juga memanggilnya Hira meski tak banyak.

Si social butterfly yang katanya sih ceweknya banyak. Yang satu lagi anak band kampus, Arjuna Nanditama yang suaranya merdu dengan tattoo di lengannya. Dan siapa sih yang gak kenal sama dia?

Dirasa memang seharusnya tidak ada yang aneh ya, seharusnya. Karena memang Andra sendiri dikenal banyak ceweknya, kan? Jadi ya melihat pemandangan seperti ini, mungkin biasa saja.

Tapi siang itu langkah Zaqi tertahan sebab wanita disana menyinggung angka empat. Zaqi mengernyitkan dahi, mahasiswa begundal itu jika tak salah ingat beberapa hari terakhir selalu memiliki janji jumpa dengan Om Bimanya. Zaqi menyikut perut Sekala tak sabar sambil menahan langkah kakinya, “Yang mukanya songong terus tengil itu siapa?”

“Zaqi Auriga Bahagi” sahutnya malas.

Yang Sekala dapatkan setelah menjawab pertanyaan itu adalah pukulan sayang di bahunya yang tak main-main tenaganya.

“Anjing! Faktanya yang songong dan tengil itu anda ya tolong sadar diri!”

Zaqi mendecak lidah sambil meremas rahang Sekala, mengarahkan kepala bulatnya kearah gerombolan mahasiswa yang memenuhi koridor, “Itu! Yang hidungnya mancung itu siapa?”

Sekala yang bibirnya agak jadi monyong sebab ditekan oleh Zaqi melirik sobatnya penuh sebal. Lagipula tumben sekali si Zaqi Zaqi ini ingin tahu tentang orang lain. “Andra.” Jawabnya sekenanya.

“Andra yang itu kan? Yang lo ceritain di grup chat itu, kan? Yang ketemuan sama Om Bima di billiard?”

“Hooh dia”

Zaqi melepaskan cengkeramannya dari rahang sahabatnya lalu menatap lurus pada pemuda yang asyik tertawa-tawa dengan teman dan perempuan disana. Dapet IP empat, ya? Ucapnya dalam hati.

Apa dia main gila ya sama Om Bima, makanya dapat nilai sempurna di semester ini?

Zaqi yang ambisius dan gak mau kalah ini lama kelamaan menaruh curiga yang tak berdasar. Mengira bahwa Andra mengantongi nilai sempurna karena kedekatannya dengan Om Bima. Sebab Zaqi juga pernah begitu. Bukan dari segi nilai, tapi siapa yang tidak menaruh curiga kalau wajah Zaqi selalu muncul di majalah kampus, dii banner penerimaan mahasiswa baru dan selebaran selebaran kampusnya yang lain?

Meskipun tidak ada hal-hal menakjubkan (selain dirinya yang rupawan) terjadi pada keseharian kampusnya.

Siapa yang tidak menaruh curiga mengapa wajahnya selalu mejeng di spanduk promosi kampus yang dipampangkan sedemikian besarnya?

Sedikit muncul amarah yang tak berdasar saat Zaqi melihat kearah Andra si tengil yang masih sibuk bercengkrama.

Oh tentu Zaqi ingat betul minggu ini Om Bima selalu memiliki urusan yang ia sendiri tidak tahu apa.

Lalu tiba-tiba mahasiswa antah berantah ini mendapatkan nilai sempurna? Dilihat dari penampilannya yang urakan jelas membuat Zaqi kebakaran jenggot. Cemburu dan iri merasuk kedalam jiwanya. Membuatnya menatap tajam kearah mahasiswa yang mungkin saja tidak berdosa.

“Lo gak kesambet kan liatin si Andra segitunya?”

“Mukanya kayak monyet”

“Mata lo katarak anjing Zaqi..”


Siang itu, Affandra yang baru saja selesai menyerahkan beberapa berkas berakhir berjongkok dibelakang gedung fakultas. Dengan perut kosong yang berisik minta diisi, hanya dengan berbekal dua buah risol mayo yang sempat ia beli di kantin, akhirnya Andra melipir.

Memilih berjongkok sambil bersandar pada tembok dibelakang tubuhnya. Menikmati angin siang hari yang panas dan suasana kampus yang cukup lengang.

Andra cukup suka dengan suasana kampusnya. Tak berisik banyak wanita yang mengelilingi rupanya bagus juga, pikirnya.

Semalam, Andra baru saja memutuskan hubungannya dengan seorang mahasiswi cantik jurusan sastra Inggris incaran orang-orang. Namanya Intan. Dan sejak tadi pagi, cukup banyak teman-teman Intan yang mengganggunya, ya hanya sekedar memarahi atau menyumpahinya.

Andra sih sudah terbiasa. Benar-benar sudah biasa, guys soalnya kan dia buaya. Dari dulu memang kebiasaan buruknya adalah memacari gadis cantik kampus lalu setelah tiga hari, si songong ini akan membuangnya.

Bukan apa-apa, Andra hanya tak menemukan kenyamanan. Cantiknya mereka sih sudah tidak diragukan. Tapi kalau hatinya tidak nyaman karena tak menemukan getaran cinta juga ya mengapa harus dipaksa untuk dilanjutkan?

Andra memasukkan setengah risol kedalam mulutnya, mengunyah sambil menerawang, sebenarnya terlalu banyak kurang yang ia rasakan meskipun kata orang semuanya sudah ia punya. Ia cukup harta, tampan, pintar, punya banyak teman, namun selalu saja ada kosong yang Andra perjuangkan. Yang bahkan ia sendiri belum menemukan jawaban.

tbc