Sekotak risoles dan P3K

Content warning; perkelahian, harsh word, blood, etc.


Selamat pagi, sapanya hari itu. Saat matahari masih mengintip malu-malu, Zaqi sudah siap untuk menjalani harinya. Tinggal sendirian karena orangtuanya yang sibuk hingga jarang pulang membuatnya harus hidup mandiri. Pagi ini Zaqi memanaskan mobilnya, mengendarainya untuk pergi ke tempat laundry. Selepasnya, Zaqi mengantre di drive thru untuk sekedar membeli sarapan dan makan siang. Lalu lanjut mengambil tugas di tukang fotocopy langganan hingga tak terasa hari beranjak siang.

Zaqi menepikan mobilnya, berhenti disebuah lahan parkir sebuah perumahan. Menyantap sarapan yang ia beli. Ditemani lagu-lagu sendu yang mengalun di radio, Zaqi menatap jalanan yang sudah dipadati aktivitas.

Tapi disini Zaqi sendirian. Hanya dia dan bayangannya. Hanya dia dan dirinya. Ada kosong yang seperti mimpi buruk yang terlalu sering ia jumpai. Zaqi benci hal itu. Dari kecil tak pernah kehilangan dan kekurangan afeksi tentunya saat merasa seperti ini, ia stress sendiri.

Om Bima yang mulai sibuk kesana-kemari, mama yang banyak menghabiskan waktu di tempat kerja juga papa yang dinas di luar pulau. Sekala dan Nara yang juga sudah lebih sering disibukkan dengan urusan masing-masing. Zaqi benci. Benci sendirian.

Setelah sarapan yang ia kunyah habis, Zaqi meraih botol minum dan mulai menarik persneling. Melajukan mobil merahnya lagi-lagi dijalanan ibu kota. Memenuhi janji dengan dosennya. Zaqi melirik bangku belakang, tugas kampus, tas dan sekotak lemper yang jangan dilupakan. Zaqi sedikit menghela napas. Capek, katanya. Tapi tak apa, Zaqi sudah besar. Sudah dewasa, capek dikit buat masa depan gak apa, kan?

Andra tersenyum sedikit membungkuk setelah menyerahkan berkas yang diminta Pak Iskandar. Membiarkan dosen berusia lima puluh lebih itu menepuk pundaknya dengan bangga dan hanya tersenyum malu saat ditanya mau ambil S2 dimana.

Karena sejujurnya Andra sudah muak sih harus mengejar gelar. S1 saja rasanya setengah mati, ya meskipun kata orang dia ini pintar dan dielu-elukan akan memiliki masa depan yang cemerlang, Andra tak bohong kalau rasanya sangat memuakkan dan melelahkan.

Bisa gak ya setelah lulus S1 dia berubah jadi batu sungai saja?

Setelah menyerahkan tugas dan berkas pada Pak Iskandar, disinilah ia sekarang. Setelah tersenyum sana-sini karena banyak yang menyapa, Andra mendudukkan diri di bangku panjang di kantin belakang, dengan semangkok mie ayam yang telah tandas, ia duduk santai sambil merokok.

Menikmati angin panas Jakarta yang dirasa membakar kulitnya. Kepulan asap dari nikotin yang ia sesap mengambang di udara. Matanya menatap tanah dan langit bergantian, hingga berakhir pada satu sosok, oh atau satu gerombolan yang kini berdiri didepan matanya.

Itu Dian. Dian Sandra Abimanyu. Kakaknya Intan, mantan pacarnya. Andra sudah tahu akan kemana arah kejadian ini, maka ia tersenyum ramah sambil menyodorkan sekotak rokok lain kehadapan Dian, yang mana dua tahun lebih tua itu.

“Gak usah basa-basi,Ndra.”

“Kenapa nih? Rame-rame gini mau pada kemana dah, bang? Mesen mie ayam dulu sini bangkunya masih kosong”

Dian meludah, tertawa kecil sambil bertepuk tangan, “sok jagoan nih ceritanya?”

“Kenapa sih? Duduk dulu sini kita ngobrol”

Dian menggebrak meja, mengundang beberapa pasang mata anak-anak disana menatap kearah mereka. Andra membuang puntung rokok yang disesapnya karena hilang selera. Matanya tak kalah balas tajam, menghunus membalas tatapan tajam Dian padanya,”siapa yang sok jagoan?”

“Lo lah. Lo pikir lo siapa? Keren jadi playboy begitu?”

Andra tertawa sambil mengusap hidungnya yang tidak gatal, “Oh Intan, ya? Sorry deh cuma jalan tiga hari, lagian perjanjiannya gitu kok.”

Lalu kerahnya ditarik. Rahang kanannya mendapat bogeman mentah yang terasa sangat menyakitkan, bangsat. “Gak usah sok cakep lo bangsat beraninya mainin adek gua” lalu kini rahang kiri dan perutnya.

Andra balas menendang, membuat Dian terpental beberapa langkah ke belakang, “Budeg ya lo? Udah gua bilang perjanjiannya begitu, maen gebuk aja bangsat!” Lalu Andra yang tak terima balas memukul, mendudukkan dirinya diatas perut Dian, namun si kakak tingkat ini tak datang sendiri. Dua temannya yang lain mulai menyerang Andra.

Tiga lawan satu, tak seimbang.

Suara teriakan anak perempuan dan beberapa orang disana memekakan telinga. Beberapa orang coba melerai namun ketiganya masih brutal memukuli Andra.

Andra yang saat itu hanya sendirian tentu membalas sebisanya, membuat ketiganya juga memiliki luka setidaknya ditempat-tempat yang bisa terlihat orang-orang, katanya demi harga diri.

Andra bangkit setelah tersungkur, menarik kerah Dian dan mulai memukulinya brutal, “Ini buat harga diri gua!” Lalu ia menendang lagi. Dibelakang, satu teman Dian memukul punggung Andra, dan setelah jatuh ke tanah, Dian dengan brutal memukulinya.

Tukang mie ayam disana berusaha melerai, namun yang ia dapatkan hanya tubuhnya terbanting ke tanah sebab tiga orang teman Dian yang lain coba menghalangi orang-orang yang mencoba melerai mereka.

Pandangan Andra mulai kabur, tenaganya juga melemah sebab terlalu banyak pukulan yang ia terima. Ah anjing, umpatnya dalam hati. Tiga lawan satu biasanya akan terasa biasa saja, namun jika itu Dian tentu Andra kewalahan. Kakak tingkatnya ini memang berandalan.


“Bego banget dah udah di DM berkali-kali kagak dibaca juga. Dikata kantin belakang tuh gak luas apa ya” Zaqi yang menggerutu dengan sekotak risol di genggamannya berjalan menyusuri kantin belakang fakultasnya. Mencari sosok biang kerok yang sedari tadi ia cari. Hingga ia menemukan gerombolan mahasiswa yang berteriak dan terlihat panik. Lalu ia berlari, memecah kerumunan dan melihat satu mahasiswa dikeroyok habis-habisan oleh entah siapa itu Zaqi juga tidak tahu.

Zaqi berteriak kenapa tidak ada yang melerai, yang ada orang-orang hanya bungkam. “Tadi udah ada yang manggil satpam kok, kak” kata seorang gadis yang terlihat panik disana.

“Keburu mati!” Bentak Zaqi. Maka setelah itu Zaqi berlari menuju gerobak mie ayam, menyiramkan dua ember air bekas cucian mangkok pada gerombolan yang tengah memukuli seseorang yang sudah jatuh ke tanah.

Satu ember lagi dilemparkan airnya hingga mengenai orang-orang disana, “Woy! Kalau mau tawuran bukan disini tempatnya! Kayak bocil kampung aja.” Serunya, lalu setelahnya melemparkan ember kearah mereka. Tak lama, tiga satpam datang mengamankan semuanya. Membiarkan seseorang diatas tanah meringkuk memegangi perutnya.

Orang-orang mulai mengerumuninya. Meminta pertolongan agar membawanya setidaknya ke UKS untuk pertolongan pertama. Zaqi mendekat, dan terkejut mendapati siapa orang yang terlihat babak belur itu.

“Lah si bocah kampung? Eh bawa ke UKS buruan ini temen gue, ayo ayo bawa.”

Setelah diberi teh manis dan diobati beberapa lukanya oleh petugas kesehatan disana, kini giliran Zaqi yang mengolesi Betadine dan salep di area wajah Andra. Andra duduk diatas ranjang UKS dengan sekantong air hangat di genggamannya, ditekan diatas perutnya yang menjadi sasaran empuk Dian tadi.

“Sok jagoan sih lo ngapain dah, jadinya nyusahin kan”

Andra meringis saat Zaqi dengan sengaja menekan luka di bawah bibirnya. Tangannya dibawa menarik dagu Andra, mengecek satu persatu wajah yang babak belur itu,memastikan semua luka sudah diobati. Lalu Zaqi beralih meraih kapas baru, mulai mengobati luka di kening Andra. “Robek nih yang ini, nanti ke klinik dah lo obatin ke dokter. Yang di perut juga periksain, rontgen sekalian takutnya kena ginjal.”

Andra hanya diam sambil menikmati rasa sakit, perih dan ngilu di sekujur tubuhnya. Zaqi sedikit memundurkan tubuhnya, menatap Andra dari atas hingga bawah, “Dikeroyok gini bikin lo bisu? Diem mulu”

“Perih bibir gua dipake ngomong” lirihnya.

Zaqi mendecak lidah, sedikit kasian dan tidak enak juga. Memang sih dilihat dari keadaannya Andra jauh dari kata baik-baik saja. Lagian tiga lawan satu, katanya dalam hati.

Zaqi menghembuskan napas agak keras, “laper ga? Minum yang bener teh manisnya biar gak lemes. Geli banget liatnya anjir kayak kerupuk seblak, letoy”

Andra meraih gelas teh hangat dimeja, dengan gemetar karena sisa tenaganya yang tinggal sedikit itu, ia mulai menenggaknya. Zaqi yang gemas akhirnya memegangi gelas Andra, “sini gua bantu”

Dan setelah teh manisnya habis, Zaqi sedikit mendorong badan pemuda itu, dengan pelan dan hati-hati menyuruhnya berbaring. “Enak gak bantalnya?”

Andra hanya mengangguk kecil, tangan Zaqi juga mulai membenahi letak kantong air hangat diperut Andra. Zaqi menatap lurus pemuda yang melemah diatas ranjang. Sedikit prihatin dan kasihan melihat sosok tengil yang lima hari mengganggunya ini berantakan begini. Zaqi mengelus surainya, membuat Andra sedikit terkejut,”Lo kalau mau pulang pulang aja gak apa-apa. Gua mau tidur sebentar disini. Badan gua masih ngilu dibawa pulang” jelasnya.

Sedikit canggung karena keduanya tidak sedekat itu untuk ada di ruangan yang sama.

“Gua free kok, gak buru-buru pulang”

Andra diam. Ada ucap yang sudah diujung lidah. Tapi ia tak berani. Cukup malu karena selama ini menggodanya untuk hal-hal yang bukan urusannya. Andra membuka mata, melirik satu kotak berlogo toko roti disamping gelas kosong bekas teh manisnya, “risol ya?”

“Ah bener juga! Gue tadi DM lo cari-cari sana-sini tapi lo gak bales. Ini lempernya. Impas kan?” Andra tertawa. “Risolnya enak gak?”

“Risol mahal nih, harusnya enak!”

Lalu Andra kembali tertawa. Diakhiri dengan ringisan karena perih kembali melanda ujung bibirnya.

“Tadi siapa emang, kok bisa dikeroyok gitu?”

Ya. Zaqi Auriga Bahagi yang polos dan mudah akrab. Dia juga banyak ingin tahunya, tipikal anak kecil lugu. Andra sedikit terkejut dengan ketertarikan Zaqi pada ceritanya, “Dian… Kakak tingkat”

“Dia nyamper kesini cuma buat mukul orang?! Lo apain? Lo kempesin ban mobilnya?”

Andra lagi-lagi tertawa, “Apa sih sok tahu dah?! Adiknya gua putusin, abis pacaran tiga hari terus putus. Kakaknya gak terima”

“Playboy sih lo pantesan digebukin”

“Perjanjiannya kan begitu anjir ya mau gimana lagi?”

“Perjanjian apa?”

Zaqi mengerjapkan mata bundarnya. Andra tak sengaja, tak sengaja menatap lurus pada netra pemuda berhidung lancip itu. Matanya hitam jernih layaknya jelaga. Berkerlip penuh penasaran. Indah.

“Lu ngefans ya sama gua? Tertarik banget kayaknya sama cerita gue.”

Lalu tawa Andra pecah saat Zaqi memberikan jawaban dengan gestur seperti mau muntah.

“No thanks. Gue lebih milih ngefans The Boyz daripada lo”

“Eh yang namanya Lee Hyunjae ganteng tuh!”

“Kok lo tahu?!!!”

“Lah si Arjuna kan deobi, nonton dia sejak the castle sampe zeneration II”

Lalu Zaqi hanya tertawa saja.

“Thanks ya, Zaq…”

“Risolnya? Ya. Sama-sama”

“Enggak. Pertolongan pertamanya.”

“Jangan cepuin gua ya.”

“Iya. Gua bercanda kok masalah itu... Oh iya. Nama gua Andra, salam kenal”

Andra mengulurkan tangannya. Membuat Zaqi menatap tangannya sedikit lama karena ragu.

“Gue Zaqi. Zaqi Auriga Bahagi”

“Nah gini kan enak, kenalan, temenan, jadi kalau gue komplain risolnya gak enak juga jadi gak sungkan”

Bugg

“ANJING SAKIT BANGET”

“Makan dah tuh risol! Bacot banget”

To be continued…