something's Zaqi did when he with his so-called-om
Content warning : explicit scene, sex scene
Bagi beberapa orang, ceria dan manisnya Zaqi itu ekstasi yang lama gak di sadari ternyata bikin candu.
Semenjak keduanya menjalin hubungan, Zaqi jadi sering diajak pergi oleh Om Bima. Makan siang, makan malam, ngopi bareng, nyobain resto baru, liat-liat toko yang baru buka hingga ujung-ujungnya dibeliin sesuatu, Zaqi gak pernah berani bawa barang-barang mahal itu pulang.
Ya, Sekala yang jadi korbannya. Dititipi barang-barang mahal yang dibelikan Om Bima.
“zaqi, lo dipelihara sugar mommy?” Adalah respon pertamanya saat melihat Zaqi yang datang ke kosannya dengan tas Louis Vuitton di tangan dan senyuman super awkward. Zaqi tidak menggubris, dan Sekala menjerit. “Sugar daddy, ya?!”
Sekala dicekik main-main hingga tidak bisa mukanya merah. Setelahnya, baru deh Zaqi spill semuanya dan siang itu, Kala cekikikan tak karu-karuan.
“Dia mau lo, tuh, berarti.” Katanya. “Dia minta balasan, lah... Gak mungkin ada yang ngasih barang semahal ini,” jeda sejenak sambil dia nendang tas itu pakai sikilnya yang gak seberapa, “tanpa imbalan.”
“imbalan yang kayak lo lakuin?” Zaqi nanya. Kala ngangkat bahu. “Kira-kira.” Zaqi mendengung tak paham. “Ya bedanya gue dibayar duit, kali ya. Kalau lo dibayar tas sama makanan mahal.”
“Lo nyuruh gue jual diri, Jaladhi?”
Senyuman Sekala penuh rahasia kotor. “Lo mau gak dibeli om Bima?”
Dan pada dasarnya Zaqi itu anak yang eksperimental, jadi dia memberanikan diri ke ruang rektor dengan tas LV itu by yang disandang penuh bangga. Om Bima memperhatikannya dari kepala sampai ujung kaki.
“Kamu cocok pake itu, sayang.”
Ada perasaan dingin di belakang punggungnya yang Zaqi tau itu bukan keringat biasa. Kantor rektor dingin. Bibirnya yang kering dijilat, gugup. Kenapa gugup? Bukannya Zaqi sudah sering jalan dengan Om Bima. Lantas kenapa masih gugup?
“o-om suka liat aku pake tas ini?” matanya tentu tak fokus, jelalatan ke sekeliling kantor.
“Kenapa harus nggak suka? Kan om bilang tas itu cocok buatmu.”
Jari Zaqi ia remas sendiri di belakang kemejanya. “Omong-omong, om kenapa ngasih aku tas bagus kayak gini?” Kepalanya diangkat, sambutannya tatapan tajam dari rektor seksi yang rasanya menembus seluruh kulitnya. Zaqi mendadak punya keinginan besar untuk nangis sekarang juga.
“Liat saya kalo bicara, Zaqi….” Tangan Om Bima sekarang sedekap di dadanya, kaki menyilang dengan dagu diangkat pongah. Zaqi semakin menciut, menunduk kembali meremas jemarinya sendiri. “Maju sini deketan ke meja saya.”
Ya Zaqi sih cuma bisa menurut. Sekarang om Bima menumpukan tangannya di meja, sebisa mungkin menghapus jarak mereka.
“om ngasih kamu cuma-cuma, tapi kalo kamu mau bales, kamu mau kasih balesan apa, hm?”
Orang bodoh pun tau kalo yang dimaksud Om Bima pasti bukan sebotol minuman racikan Zaqi.
“A-aku gak ta-”
Suaranya ditahan bibir. Iya, bibir. Zaqi dicium, sekilas sebenernya, tapi itu aja sudah cukup membuatnya lemas dan nyaris jatuh. Mostly karena kaget, kayaknya.
“Masih gak tau om mau apa?” Suara Om Bima terasa dua kali lebih berat dari yang tadi, mungkin karena kali ini dia berbisik persis di telinga Zaqi.
Yang Zaqi tau, sehabis itu dia lari keluar ruangan, bergegas ke kamar mandi, menyelesaikan urusannya di sana sambil membayangkan tangan Om Bima yang memainkan miliknya sendiri.
“Aㅡakh om ngghh....”
Kissing someone never feel this much good before.
Tatapan Om Bima yang ngungkung dia memberi sensasi dan rasa terbakar yang diakumulasi di antara dua kakinya sendiri, Zaqi overwhelmed.
“Zaqi maunya gimana, sayang?” bisikannya jatuh di bibir yang nyaris gak berjarak, tanpa sadar Zaqi mengeratkan pegangannya ke bahu rektornya itu.
“akuu nghhㅡ nggak mau dikasarin.” Zaqi mencicit. “aku mau disayang, dibaikin aja…”
Kalo Zaqi si cantik manis tiada tara ini udah minta, siapa yang bisa nolak?
Dan seketika sentuhan yang dialamatkan pada badannya jadi seratus kali lebih lembut daripada yang tadi, lembut banget sampai Zaqi nggak punya tenaga bahkan sekadar untuk bernapas, akhirnya bahu om Bima digigit kuat-kuat biar gak bersuara saat kecupan Om Bima sampai ke perutnya, namun hal itu dilarangnya.
“Suara kamu bagus, sayang… om mau denger sepanjang hari.”
Dan Zaqi lepas, malu sebenarnya dengar desahannya sendiri.
This man touch him gently like nobody else, whispering sweet nothings to his ears while keep holding his hips and tracing his lips around his stomach, it tastes like nothing else.
“Enak, sayang? Kalo kamu keberatan om bisa berenti sekarang-”
Zaqi merengek dan menggeleng kuat-kuat, toh udah kadung enak, nanggung. “Jangan berenti, om nghh.”
Satu pertanyaan yang selalu diulang-ulang adalah “ini gapapa?” “Zaqi suka begini?” “Nyaman gak?” dan sebagainya. Setiap langkah baru harus ada ijin, setiap gerakan yang dirasa menyakitkan akan diiringi pertanyaan dulu untuk sakitnya. Zaqi suka diperlakukan begini, dengan hati-hati dan penuh perhatian. Desahnya dibiarkan mengalir kemana-mana, dadanya naik turun mengais napas yang tinggal satu-satu karena dilanda nikmat.
Zaqi berbisik, memberi izinnya pelan-pelan, mengulang kata iya dan gapapa sebagai jawaban meski lebih banyak desahnya daripada bicara kalimat yang bisa dimengerti. Zaqi sendiri tidak sangka dia bisa sevokal ini, entah memang dianya yang berisik atau memang sentuhan om Bima yang seenak itu. Nggak tau. Zaqi udah gak bisa mikir lagi. Otaknya sudah jauh mengawang begitu jemari Om Bima megang punyanya, dikasih enak pelan, pelan banget sampai rasanya Zaqi mau nangis aja.
Zaqi always been proud of his quite long and pretty fingers, he thinks it was his best traits. Tapi Zaqi nggak pernah menyangka bahwa jari jemarinya bakal berakhir di bahu Om Ares, menekan kulit disana dalam-dalam sampai ninggalin bekas bulan sabit bertumpuk-umpuk sebagai pelampiasan dari nikmat yang dikasih di bawah sana.
Tubuh Zaqi jauh lebih ekspresif dibandingkan suaranya, jadi saat pahanya sudah gemetar menahan sesuatu yang hendak keluar, godaan di bawah sana malah lebih cepat dan gila lagi, dan diiringi lenguhan-lenguhan panjang bercampur isakan, Zaqi lepas begitu saja, putih dan basah di tangan rektornya sendiri.
Dadanya naik turun mengejar napas. Tidak berani membuka matanya,bibirnya digigit menahan tangis yang sempat keluar, padahal tatapan yang dikasih Om Bima sarat puja, juga bangga. Zaqi nggak mau liat. Malu. Dia takut banget kelihatan jelek dan nggak bisa nyenengin om Bima.
Lama Zaqi nutup matanya begitu sampai kemudian dia rasain kecup di deket telinganya.
“Cantik, sayangku gapapa? Nggak nyaman? Ada yang nggak enak?”
Ditanya gitu Zaqi malah tambah nangis. Mukanya ditutup dengan dua tangannya, dia membalik badan ke arah tembok. Sigap, dia dipeluk dari belakang, diusapin bahunya pelan sambil dihujanin ciuman di kepalanya, lembut banget.
“Ngg-nggak ada-nggak ada yang sakit…” katanya setelah agak tenang.
“Terus kenapa, hm?” Suara Om Bima layaknya gula kapas, meleleh di telinganya.
“Its feel so good, way too good i think my heart would combust. It feels too much,” he sobs, “Too much i can't help it.”
Om Nima senyum, tapi sayang Zaqi tidak bisa lihat.
“kamu manis sekali adek, manis sekali...” Dia berbisik. “Zaqi manis banget, om suka.”
Demi dibilang gitu, malah makin kenceng nangisnya Zaqi, makin banyak juga kecup di sepanjang punggungnya.
To Be Continued…