Teruntuk anak sulung ibu, selamat menua.


“Capek, Zaqi.. capek banget” keluhnya. Mukanya memerah hingga telinga. Suaranya yang parau makin serak dengan isak tangis yang masih menemani. Tentu rasanya sakit. Zaqi tahu betul bagaimana rasanya dikecewakan oleh harapan, disakiti oleh realita, ditampar oleh keadaan. Tentu Zaqi tahu segalanya.


Halo, perkenalkan, namanya Sekala.

Sekala Jaladhi Hujan, pemuda biasa yang sedari dulu keluarga terlahir sebagai pria jantan. Ekspektasi keluarga yang dibebankan, doa dan harapan dari sang ayah yang selalu menghiasi hari. Ada kalanya dimana ia hilang arah tak punya jalan keluar dari belenggu kehidupan ini. Tumbuh menjadi lelaki tangguh yang dipaksa kuat oleh keadaan, tentu Nara dan Zaqi tahu bagaimana beratnya menjadi Sekala.

Anak pertama dari lima bersaudara, anak paling besar, anak laki-laki pertama, impian keluarga, di bahunya tersampir beban ekspektasi yang tak kasat mata.

Sekala katanya tidak boleh mengeluh. Sekala katanya tidak boleh lemah. Sekala katanya tidak boleh berhenti, barang sejenak. Sekala itu harus selalu berlari, harus selalu mengejar. Tidak boleh kalah oleh angin badai yang menerpanya. Jelas, Sekala harusnya tidak boleh menangis. Anak laki-laki itu harus kuat, katanya.

“Capek Nara, capek Zaqi… Demi Tuhan capek banget”

Keluarganya adalah keluarga sederhana yang mengandalkan hasil tani dan laut. Bertahun-tahun Sekala besar di lingkungan pedesaan, hidup sederhana apa adanya dipenuhi cinta. Tiba-tiba beranjak dewasa.

Sekala kecil saat itu bertanya pada ayahnya, bagaimana rasanya sudah besar, dewasa dan bisa bekerja. Ayahnya hanya tersenyum menanggapinya. Sekala saat itu hanya tertawa sambil bercerita bahwa ia ingin pergi ke kota, menjadi pegawai kantor yang turun dari mobil mewah dengan setelan jas bagus, rapat ke luar negeri bersama clientnya. Sekala saat itu bermimpi bahwa ia terbang tinggi bersama pesawat yang membawanya. Berkeliling dunia dan membeli semuanya yang ia inginkan.

Bertamasya bersama keluarga tercinta, menghabiskan waktu bercanda bersama kawan-kawan sebaya, dan meniti hidup bersama sang tercinta.

“Jadi dewasa itu enak ya, Pak” katanya tiga belas belas tahun lalu. Yang selalunya dijawab oleh senyuman dan wejangan agar menjadi anak yang pandai dan rendah hati.

Jika kita tarik benang merah hari ini, semua dimulai ketika Sekala menginjak usia dewasa dimana ia diharuskan untuk melangkah dengan kakinya sendiri.

Di semester ini, Sekala dan teman-temannya memilih untuk magang. Dua diantara empat temannya sudah diterima magang di salah satu perusahaan bergengsi di kota besar sana, membuat Sekala semakin gelisah dibuatnya.

Sekala itu anak yang cerdas. Nilai yang ia capai selama kuliah tidak pernah mengecewakan, prestasinya sedari dulu tidak membuatnya kecil meski hanya anak rantauan.

Tapi ada satu hal yang paling Sekala takutkan. Sekala itu hanya anak biasa, anak rantau biasa yang terkadang telat dikirimi uang.

Dulu, ada kalanya dimana ia tidak makan selama tiga hari karena uang dari orangtuanya benar-benar sudah menipis, maka dengan pikiran kusut yang mementingkan isi perut, hari itu Sekala terjun kedalam jurang menyakitkan yang membawanya menjadi pribadi menyedihkan yang bermuka dua selama kurang lebih dua tahun lamanya.

Malam itu, Sekala menjajakan tubuhnya pada pria-pria hidung belang di sebuah bar remang-remang yang terkenal di ibukota.

Malam itu, menjadi malam panjang penuh sesal yang ia alami sepanjang umurnya.

Namun takdir mempermainkan hidupnya, hidupnya kian sulit, ekonomi keluarganya kian menurun hingga ia tak bisa meninggalkan dunia malamnya.

Sekala sebisa mungkin menghindari orang-orang yang berpotensi mengenalinya di kampus. Sebisa mungkin pemuda itu menutup identitasnya serapat mungkin, namun namanya juga dunia, manusia hidup dimana-mana, Sekala tak sekali dua kali bertemu dengan salah satu clientnya, dan sialnya mereka mengenalinya.

Seperti siang ini, Sekala pergi interview namun ternyata orang penting itu mengenalinya. Sekala gemetar ketakutan dengan tangan pucat dan dingin. Pria mesum itu menggerakkan jemari nakalnya pada bagian bagian tubuh Sekala yang seharusnya tak disentuh tanpa setujunya, dan siang itu ternyata sama dengan siang-siang sebelumnya.

Sekala pulang dengan keadaan gemetar dan menangis sendirian di atas motor matic bututnya. Pemuda dengan kemeja putih dasi hitam itu melajukan motornya pelan hingga akhirnya kaki kecilnya sampai di depan pintu kosan.

Sekala harusnya terkejut dan tersenyum senang saat sebuah teriakan ceria keluar dari teman-temannya yang ternyata menunggunya di dalam kamar selagi ia pergi, dengan kue ulang tahun dan lilin menyala di atasnya. Mereka terdengar bernyanyi lagu selamat ulang tahun sebentar sebelum pemuda berkulit putih bernama Nara itu sadar bahwa Sekala tak baik-baik saja.

“Kala?”

Zaqi yang daritadi paling bersemangat buru-buru meletakan kuenya dan memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar dengan tangis yang ia tahan, “Kala…”

“Capek, gue capek, Zaqi… gue capek”


Sekala Jaladhi Hujan, bunda menamainya sambil menyelipkan doa. Sekala memiliki arti kuat dan tangguh, sedang Jaladhi sendiri artinya laut. Bunda memiliki harapan ketika beliau mengecup anak sulungnya tersebut, bunda berharap Sekala akan tumbuh menjadi anak laki-laki yang hebat dan kuat seperti deburan ombak yang memecah karang di lautan yang luas dan diberikan kebahagiaan juga kemudahan yang deras seperti hujan.

Nama yang cantik untuk si sulung yang berharga. Bunda selalu bilang, saat dimana anak pertamanya lahir, bunda juga terlahir kembali menjadi pribadi baru. Sekala ingat betul saat kecil bunda banyak meminta maaf padanya karena kehabisan waktu.

Bunda memiliki warung makan kecil-kecilan di rumah, sedangkan ayah seorang nelayan. Sekala ingat ia banyak bermain dengan ayah dan bundanya meskipun hanya permainan sederhana, tapi waktu bunda banyak tersita oleh ramainya kesibukan yang ia punya. Saat usianya lima tahun juga bunda hamil lagi, lalu setelah adik kembarnya lahir, adik keempatnya lahir dan saat ia berusia dua belas, adik perempuannya lahir. Maka Sekala ingat betul bunda selalu meminta maaf padanya karena kehabisan waktu untuk menemaninya.

Dulu Sekala selalu bilang tidak apa-apa, tapi sekarang, jika ia bisa, ia ingin meminta banyak waktu yang bunda punya untuk mendekapnya.

Sekala masih menangis tersedu-sedu di pelukan Zaqi, Nara disamping kanannya mengusap kepalanya dengan lembut, jika bisa mereka menukar apapun yang mereka punya untuk kebahagiaan Sekala, Nara dan Zaqi takkan berpikir untuk yang kesekian untuk menukarnya.

“Suㅡsusah ya, orang-orang tau gue lonte soalnya”

Sekala menggigit bibirnya, badannya masih gemetar.

“Gue juga mau magang kayak yang lain…”

Beranjak dewasa bukanlah sebuah dosa, seharusnya. Tidak perlu ada hukuman atas apa yang pernah dilakukan saat dulu kala. Beranjak dewasa bukanlah sebuah hukuman dan kutukan, seharusnya. Hingga seharusnya tidaklah usah ada luka dan air mata penyesalan. Tapi entah mengapa setiap langkahnya terasa seperti hukuman dunia yang tak ada akhirnya.

Maka saat itu, kala tangan kedua sahabatnya merengkuh, memberi afeksi dan rasa hangat sebab hanya pelukan yang bisa menenangkannya, Sekala mulai rakus. Ia tak ingin kehilangannya, tak ingin kehilangan hangat dan cinta yang membuatnya sedikit lebih kuat.

Sekala kecil dulu hanya tahu bermain dengan kawan sebaya, bermain gundu dan layangan, sayangnya beranjak dewasa dengan cara yang cukup kejam. Menjadi mahasiswa rantau yang dibanggakan, bukanlah alasan mengapa ia tidak menjadi yang menderita di lembaran kisah hidupnya. Setiap malam menjajakan tubuhnya untuk pria pria hidung belang hanya untuk menyambung nyawa, harus mendapatkan umpatan dan cacian, digempur semalaman, dihina dan direndahkan. Sekala harus bisa, dia harus terbiasa.

“Dua tahun emang bukan waktu yang singkat yaㅡ gue pasti udah main sama banyak orang, makanya mereka ngenalin gue semua”

Sekala yang nafasnya tercekat itu perlahan bangkit. Ia dibantu oleh Nara dan Zaqi mengusap air mata yang meleleh sama seperti lilin diatas kue ulangtahun yang teronggok menyedihkan di sudut ruangan.

Sekala memaksakan senyumnya, “buat gue ya?”

“Iya, selamat ulangtahun ya, Kala…”

Zaqi mengambil kue ulangtahun itu membiarkan Sekala berdoa dan meniup lilinnya hingga padam, dengan ingus yang berlomba dengan air matanya yang turun, pemuda berkepala bundar itu tertawa kecil setelah berterimakasih. Lagi-lagi, badannya ditarik pelan oleh Nara dan ia tenggelamkan tubuh si kecil dalam pelukan hangatnya. Sekala kembali menangis siang itu, menumpahkan segala takut dan kesedihannya.

“Gue tahu perjuangan lo selama ini hebat banget, Kala, gue doain lo punya kehidupan yang luar biasa baik setelah ini. Lo harus inget, cara balas dendam terbaik adalah dengan sukses pake cara kita sendiri, gue yakin suatu saat nanti lo akan jadi orang paling bahagia, ya? Kalau capek, lo bisa istirahat. Kalau gak sanggup, lo bisa berhenti, asal lo tau, gue dan Zaqi selamanya bakalan tetap disini, sama lo, gak akan pergi, kita janji”


Dunia itu ya, nak, diciptakan penuh kejutan. Meski Tuhan selalu bilang semua sudah ada jalannya, namun rintangan memang datang tak disangka-sangka, dalam berbagai bentuk nyatanya. Dan Sekala adalah manusia yang diciptakan untuk ada didalamnya. Didalam garis besar kehidupan penuh kejutan yang Tuhan ciptakan.

Sekala kecil tentu tidak menyangka bahwa kehidupan dewasa akan segitu beratnya. Dan Sekala dewasa juga takkan menyangka jika keesokan harinya akan ada rintangan lain yang menyambutnya.

Tapi Tuhan itu sebaik-baiknya Dzat yang ada di langit dan di bumi.

Tentu segala rintangan Sekala tak hadapi sendirian. Tuhan kirimkan banyak teman yang membuatnya bisa berdiri meski terkadang tanpa tumpuan.

Salah satunya ialah seorang pria idaman yang tengah bergelung dipelukan. Arjanu Nanditama. Bertemu dengan cara yang tak terduga, terasa seperti bercanda namun pada akhirnya keduanya menjadi insan yang saling menjaga.

Ada lengan kekar yang merengkuh tubuhnya yang ringkih. Ada bahu lebar yang menjadi tempatnya merintih. Ada kecupan hangat yang membuatnya kuat setelah letih.

Janu mengusap punggung Sekala lembut, ditepuknya perlahan, diusapnya pelan-pelan.

Janu tahu ada jalan hidup kekasih kecilnya tak pernah santai berjalan, maka ia dengan sigap menjaga dan menemani setiap langkahnya.

Arjanu adalah anak bungsu dari dua bersaudara yang kehidupannya sangat layak, anak orang kaya.

Arjanu juga memiliki banyak sekali kemudahan dalam setiap langkah di hidupnya. Bertemu dengan seorang pemuda kecil berkepala bundar dengan cara yang tak terduga, hingga akhirnya keduanya menjadi insan yang saling mencinta.

Janu tahu salah satu rintangan terbesarnya adalah sabar yang harus dipupuk disela-sela kesibukan. Sabar untuk terus menuntun langkah pincang Sekala. Sabar untuk terus mendengar segala keluh kesah Sekala. Sabar untuk terus berada disisinya meski banyak yang mengecamnya.


Malam ini, pukul sebelas lebih delapan, Sekala baru saja menutup telfonnya. Bertukar kabar dan menyanyikan lagu selamat ulangtahun bersama keluarganya di seberang sana. Sekala melayangkan ciuman pada setiap adiknya yang melambai penuh suka cita, mengucap salam hangat sejahtera untuk ayah bunda dan menutup sambungan telfon videonya setelah hampir satu menit menatap nanar layar ponselnya.

Janu menyaksikan bagaimana setetes air mata mulai membasahi pipi manisnya, this is another birthday that can't be celebrated with his family. Sekala menggeser tubuhnya, memeluk bahu lebar tempatnya bersandar.

“Gapapa, tahun depan bisa rayain sama ayah bunda, ya…”

Sekala mengangguk, ia menenggelamkan wajahnya pada bahu Janu, membiarkan tubuhnya semakin menempel.

Ponsel Sekala beberapa kali bergetar menampilkan beberapa notifikasi yang sedikitnya membuat Arjanu ingin menghancurkan gedung tinggi di sekitarnya. Arjanu ingin marah, berteriak dengan lantang bahwa kekasihnya ini juga manusia. Manusia yang harusnya diperlakukan seperti semestinya.

“Nanti aku tanyain ke kantornya omku, siapa tahu dia terima anak magang tahun ini, ya”

Sekala terkekeh, “gapapa, aku cari sendiri”

“Buat apa cari sendiri kalau bisa dicariin sama pacar, hm?”

Janu mengusap air mata yang mengalir diantara pipi gembil kekasihnya, membiarkan Sekala menatapnya penuh puja. Punggung telunjuk Sekala terangkat untuk menyusuri sisian wajah Arjanu, ia usap dengan mesra, ia usap penuh cinta.

“Boleh gak kalau aku rakus? Boleh gak kalau mulai malam ini, aku pelit? Aku gak mau kehilangan kamu, aku gak mau kamu pergi kemana-mana, boleh gak?”

“Selalu boleh, Sekala”

“Meskipun kamu tahu siapa aku yang sebenarnya, kan? Meskipun aku gak sesuci orang-orang yang pernah kamu pacarin, meskipun aku cuma manusia kotor yang jual badannya ke orang banyak diluar sana? Meskipun aku gak sesempurna itu, boleh kan aku rakus?”

Arjanu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sekala lalu ia kecup bibir manisnya, “kamu lebih indah dari apapun yang ada di hidupku selama ini…”

Sekala terkekeh lalu biarkan Arjanu agihkan kecup mesra. Sakit memang rasanya dimana salah satu rintangan terbesarnya adalah restu dari si ayah yang belum juga dikantongi, namun Arjanu memilih melupakan segalanya.

Ini hari jadi kekasihnya, tak ada satu kesedihan pun yang boleh mampir merusak harinya. Pun termasuk pesan-pesan jahat ayahnya yang berkali-kali masuk ke kotak pesan Sekala malam itu.

“Jangan sedih lagi ya, sayang… terimakasih sudah selalu ada disini dan terus beranjak dewasa. Semoga di usiamu yang sekarang, kamu lebih kuat dari kemarin, kamu lebih bahagia dari kemarin dan semua impianmu bisa segera kamu dapatkan, ya?”

Sebenarnya mungkin Sekala tidak dikecewakan oleh dunia saat ia beranjak dewasa, sebenarnya. Ia hanya dikecewakan oleh ekspektasi dan harapannya saat kecil tentang bagaimana rasanya jadi dewasa. Mungkin Sekala terlalu jauh mengukur segalanya. Padahal, sebelum bahagia yang ingin ia jemput tentunya harus ada perjuangan dan air mata yang dikorbankan.

Sekala ingin berhenti menaruh harapan. Sekala ingin berhenti menjadi manusia yang banyak menautkan harapan. Ia ingin hidup apa adanya.

Namun kekasihnya bilang, harapan adalah bumbu, meski memang tidak semuanya berjalan dengan takdir yang digariskan sang Pencipta.

Jika memang dirasa takdir Tuhan menyakitkan, seharusnya Sekala berlapang dada. Mungkin skenarionya sangat indah untuk hambanya yang masih bersabar. Mungkin hari ini Sekala menangis sebab merasa lelah dan kalah. Tapi esok, seharusnya ia kembali menjadi sosok paling kuat di versi dirinya, yang siap meraih mimpi dan cita-citanya. Meski dengan keringat, darah dan air mata. Seharusnya, esok hari disaat matahari pagi menemani, Sekala melangkah dengan pasti. Sebab masih banyak mimpi yang belum terealisasi.

Maka malam itu Sekala mengangguk sambil mengamini segala doa, ditutup dengan satu kecupan mesra yang menjadi akhir dari perjalanan beratnya.

Untuk anak sulungnya bunda, selamat menua, ya nak. Maaf kalau ibu dan ayah belum cukup untuk memenuhi segala inginmu. Semoga seluruh doa bunda dan ayah terbang ke langit dan kembali padamu menemani setiap langkah beratmu.

Untuk kakak pertama kami yang kami sayangi, semoga lelah dan tangismu menjadi akhir yang bahagia, amin.

Fin.