the tables turn

Andra memasukkan setengah risol kedalam mulutnya, mengunyah sambil menerawang, sebenarnya terlalu banyak kurang yang ia rasakan meskipun kata orang semuanya sudah ia punya. Ia cukup harta, tampan, pintar, punya banyak teman, namun selalu saja ada kosong yang Andra perjuangkan. Yang bahkan ia sendiri belum menemukan jawaban.

Saat hendak memasukkan satu risol yang tersisa, sebuah tangan besar menampar pergelangan tangannya dengan sedikit kasar. Membuat risol di genggamannya jatuh tak berdaya keatas tanah. Andra melongo, melotot melihat risol Bu Zaenab favoritnya dan satu-satunya yang ia miliki untuk mengganjal perut jatuh sia-sia diatas tanah. Andra menengadah menatap nyalang pada pemuda asing yang berkacak pinggang didepannya, “Eh si anjing! Risol gue itu ganti!!!” Tak terima dengan perlakuan pemuda asing didepannya, akhirnya Andra berdiri, berkacak pinggang membalas tatapan angkuh dari pemuda mancung didepannya.

“Siapa lo anjing tiba-tiba mukul? Ganti rugi ege itu risol gue jatoh gitu” sungutnya. Zaqi mendecih sambil menggeleng, “Gak usah sok suci! Lo siapanya Pak Bima, hah? Jangan sok jagoan deh mentang-mentang dekat sama Om ㅡekhem Pak Bima terus dapet nilai empat terus lo jadi sombong. Dapet nilai sempurna kok jalur dapur sih, malu kali.”

Zaqi mendecih membuang muka saat dirasa pemuda Hira itu hanya bengong mencerna kata-kata yang ia lontarkan.

Dalam hatinya, Zaqi jumawa karena berhasil memergoki orang yang berusaha merebut Om Bima darinya. Gila, nyalinya besar juga ya. Padahal tuduhan itu bukannya tidak berdasar ya, Zaq?

Andra menggeleng tak percaya, sedikit memajukan tubuhnya pada laki-laki kurus didepannya, “Apa nih tiba-tiba bawa rektor? Heh lo salah minum obat kah sampai ngelantur gini? Ganti gak risoles gua! Gua gak terima.”

Zaqi ikut maju satu langkah, menatap nyalang penuh tantang pada Andra yang masih berkelit, dalam benaknya. “Jangan mentang-mentang IP semester ini lo lebih besar dari gue, lo tebar pesona dengan muka angkuh lo itu. Malu kali dapet nilai bagus tapi nyogok rektor.”

Si tai ini ngomongin apa sih?

Andra lagi-lagi menggeleng, lalu karena tak sabar, akhirnya satu jari telunjuknya mengangkat dagu laki-laki berdimple manis didepannya. Menatap penuh remeh dan merendahkan, Andra jelas tidak terima dengan perlakuan yang ia dapatkan. “First of all ya buntet, my name is Affandra Hirawan, kelas B management bisnis dan dari dulu nilai gue selalu bagus, lo aja kali gak kenal gue?! The second one is gue sama Pak Bima sering ketemu cuma buat konsultasi dan beberapa kali ketemu diluar untuk urusan pribadi. Dan yang terakhir…” ada jeda yang diambil olehnya sebelum mencondongkan tubuh mendekat pada arah telinga orang yang sepertinya menegang mematung didepannya.

Salah jika pemuda ini berniat bermain-main dengannya.

“Malu gak sih lo nuduh orang, tapi lo sendiri yang ngangkang demi muka lo terpajang di spanduk kampus tiap tahunnya? Heh boncel, jangan pikir gue gak tahu kalau sebenarnya lo yang tiap malem ciuman sama Pak Bima demi sesuatu. Bukan gue.” Lalu Andra tersenyum kecil sambil mengecup pipi putih milik Zaqi yang membuatnya naik pitam.

Zaqi jelas terlihat terkejut dan mati gaya. Sudah Andra ingatkan, salah jika ia memulai menyalakan sumbu api perang kepadanya.

“Ganti risoles gue besok, atau gue aduin ke istri Pak Bima kalau Zaqi, anak kesayanganya main gila sama Pak Bima dan minggu lalu nonton film di CGV, di bangku paling belakang, ciuman sambil tangannya masuk kedalam celana.”

Zaqi kira ini hari Kamis. Ternyata ini hari kematiannya.

To be continued..