Veilon – taesjae happy birthday
Sex scene.
Ada satu hari dimana Myung Jaehyun benar-benar meledak dan muak karena semuanya terlalu mendadak. Kehilangan separuh jiwanya, menikah dengan orang yang tak dikenalinya, tiba-tiba harus meninggalkan kota kelahirannya, harus terbiasa hidup hanya berdua dengan suaminya, dan rutinitas yang membuat kepalanya bercabang dua. Ada satu hari dimana Myung Jaehyun meledak karena muak. Hari itu, Taesan ingat, ia selalu sesali tindakannya yang gegabah.
Mungkin selalu ada satu hari dimana Myung Jaehyun muak, tapi terkadang ada satu hari dimana Taesan juga tak bisa diam saja. Hari itu Taesan hanya ingin mengundang teman-teman dekatnya di kantor untuk menyambangi rumah barunya setelah delapan bulan menikah; dulu mereka sempat tinggal di apartemen sebelum membeli rumah sendiri. Taesan hanya ingin mengajak teman-temannya bertamu berkunjung ke rumah baru, namun hari itu bukan hari yang cukup baik ternyata untuk Jaehyun. Ada cukup banyak hal yang membuatnya frustasi dan tentu ia butuh ruang sendiri. Tapi mendengar Taesan ingin mengajak teman-temannya kesini, dan entah mengapa meski Jaehyun menolak, Taesan sedikit terlihat memaksa.
Jaehyun terbiasa dengan Taesan yang kadang membawa temannya ke rumah, dan ia akan berakhir menyendiri di lantai dua, kamar tamu yang sedikit lebih kecil dari dua kamar utama di lantai satu. Hari itu Taesan sedikit memaksanya untuk bergabung dan berkenalan dengan temannya sebagai suami Taesan, tapi Jaehyun yang teguh pendirian itu malah meledak membuat pertengkaran yang akhirnya membuat Jaehyun mengemas barang-barang kerjanya dan keluar meski Taesan berlutut meminta maaf.
Taesan masih ingat betul hari itu. Senyumnya sedikit naik dengan tipis mengingat betapa gegabah dan bodohnya dia hari itu.
“Aku mohon sekali ini saja kak temui teman-temanku, kamu kan suamikuㅡ”
“Terus apa? Terus apa Taesan kalau aku suamimu, hah? Mau sombong? Bangga, iya? Oh jelas bangga karena pada akhirnya semua berjalan sesuai mau kamu, gak pernah sedikitpun berjalan sesuai keinginanku! Kamu egois, Taesan!”
“Bukan gitu kak, tapiㅡ”
“Apa? Tapi apa? Kalau bukan karena ayah yang mendesak dan keegoisan kamu untuk tetap menikahiku aku gak akan ada disini, kamu tau?!”
Suaranya kian meninggi dengan ujung telunjuk yang menghunus. Taesan menggeram dan membuang muka, “gak bisa ya hargai aku sedikit saja sebagai suami kamu?”
“Hargai? KAMU disini yang dari awal gak menghargaiku! Aku masih berkabung dan kamu seenaknya masuk kedalam hidupku, mengiyakan perjodohan gila yang disusun keluarga kita dan disini malah kamu yang minta dihargai?”
“Move on, kak. Kejadian itu bahkan udah hampir setahun!”
Jaehyun terkekeh miris lalu menekan dada Taesan dengan telunjuknya, “Sampai kapanpun aku gak akan pernah lupa! Jangan harap aku lupain kak Hanbin meskipun sekarang status kita sudah berbeda. Jaga bicaramu”
Taesan ingat malam itu ia kalang kabut mencari Jaehyun yang sampai tengah malam belum pulang. Jaehyun hanya membawa iPad dan mantel favoritnya saat ia membanting pintu dengan kencang. Maka setelah lewat tengah malam, Taesan menyisir kota untuk mencari keberadaannya.
Jaehyun saat itu ditemukan menangis sendirian di bawah pohon rindang di taman bermain tak jauh dari komplek rumah mereka. Taesan jadi tak tega, ia benar-benar merasa bersalah apalagi melihat keadaan suaminya yang berantakan. Ia berjongkok pelan-pelan, membuat isakannya semakin kencang. Jaehyun meremat celananya dengan erat, wajahnya merah padam dengan air mata menganak sungai membasahi wajah cantiknya. Taesan akan menghukum dirinya sendiri yang telah egois dan menyakiti hati pria di depannya. Dengan pelan Taesan raih jemari lentik Jaehyun yang membuatnya membuang muka.
“Aku minta maaf kak…”
Jaehyun masih menangis, sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Taesan mengusap punggung tangan dingin yang pucat karena udara semakin menusuk tulang, “kita pulang ya… aku benar-benar minta maaf sudah berbicara yang tidak-tidak seperti tadi”
Jaehyun masih diam membisu, hanya sibuk menangis tersedu-sedu. Taesan tersenyum pilu lalu mengusap wajah Jaehyun dengan lembut, “Pulang ya? Sudah malam… Nanti aku dimarahin kak Hanbin karena gak bisa jagain kamu”
“You deserve it!”
Taesan terkekeh kecil lalu kembali mendekat, meraih kepala Jaehyun untuk diusap, “Maaf sudah bicara yang tidak-tidak… bukan maksudku egois dan merasa bangga karena bisa menikahi kakak, aku hanya ingin kakak bertemu teman-temanku sebagai suamiku karena dari dulu kakak selalu sembunyi di lantai dua. Ada beberapa temanku yang aku rasa pribadinya akan cocok dengan kakak sehingga mungkin kalian bisa berteman, tapi maaf karena aku merusak semuanya… maaf sudah memaksa kakak melakukan hal yang kakak tidak suka”
“Aku pusing masalah kerjaan dan kamu tidak peduli!”
“Maaf, ya?”
Jaehyun akhirnya melunak, ia biarkan Taesan membantunya berdiri dan berjalan menuju mobil. Dan setelah hari itu yang Taesan ingat, Jaehyun tak mau bertegur sapa dengannya hampir seminggu lamanya. Dan Taesan akan selalu menyalahkan dirinya sendiri tentang hal itu.
“Kenapa ketawa-tawa sendiri?” Taesan membuka matanya dan menggeleng. Siang ini, ia habiskan untuk berpiknik di hari libur bersama suami kecilnya yang cantik dan menggemaskan. Taesan berbaring nyaman beralaskan paha Jaehyun, dan pemuda itu dengan senang hati memeluk kepala suaminya, diusapnya helai rambut coklat gelap itu dengan lembut sambil menggumamkan nyanyian dengan suaranya yang merdu.
“Ih kenapa ketawa-tawa sendiri begitu, Taesan?”
Taesan menggeleng, ia bawa tangannya mengusap pipi gembil Jaehyun lalu membiarkan tangannya digenggam, Jaehyun mengecup punggung tangannya membuat hati Taesan menghangat.
Taesan kira ia tak pantas untuk bahagia. Taesan kira hari itu, Jaehyun takkan sudi kembali padanya. Kehadiran Jaehyun dalam hidupnya benar-benar berarti, Jaehyun tak hanya menghidupkan kembali jiwanya yang telah mati. Jaehyun hadir untuk kembalikan mimpi-mimpi indah yang sempat ia miliki dulu sekali, Jaehyun juga hadir untuk membuatnya lebih indah.
Kehadiran Jaehyun benar-benar mengisi ruang kosong yang selama ini membuatnya kesepian. Jaehyun datang bagai angin segar. Ujung jemarinya bak menghantarkan cinta, senyum manisnya menghidupkan jiwanya yang tak berdaya, suaranya yang merdu adalah obat yang membuatnya sembuh.
Taesan banyak takutnya. Taesan banyak sedihnya, dan Jaehyun adalah jawaban dari segala risaunya.
Dekapan hangatnya, pelukan mesranya, kecupan singkat yang tiap pagi mampir di pipi dan dahi, Taesan hidup kembali.
Taesan menyelami hazelnut milik Jaehyun, dan satu kecupan mampir pada ujung hidungnya, “aku sayang kamu…”
“I know”
Taesan tertawa. Iya, semua orang di dunia ini juga tahu kalau Taesan jatuh cinta sedalam-dalamnya pada sosok yang tengah memeluknya. Semua orang juga bisa melihat bahwa Taesan siap menukar segalanya hanya untuk suaminya.
Jaehyun merunduk dan mengecup ranum merah muda suaminya, ia biarkan Taesan menyesap bibir bawahnya; manis dan hangat. Jaehyun suka. Taesan adalah tempat pulang yang paling aman baginya. Taesan adalah satu-satunya yang berhasil menyentuh hatinya yang lama membeku.
“Kakak cantik sekali hari ini”
“Oh ya? Kamu suka?”
Taesan mengangguk, tatapannya tak fokus karena tergila-gila dan itu membuat Jaehyun jumawa.
“Semua orang di dunia ini pasti iri padaku, iya kan?”
“Semua orang memang harus iri pada Han Taesan karena punya suami yang secantik aku”
Keduanya terkekeh, Jaehyun memeluk suaminya erat-erat, pun Taesan balas memeluknya tak kalah erat, ia juga bubuhkan satu kecupan diatas perut Jaehyun yang terhalang kemeja biru langit.
“Udah makin siang, kak. Ayo pulang”
Bagi Jaehyun, Taesan juga adalah sosok sempurna yang Tuhan hadiahkan untuknya. Sosok penyayang, lemah lembut, berjiwa besar dan penuh cinta. Taesan itu kaku dan pemalu, tapi ia memiliki kasih sayang sebesar dunia untuknya. Sorot matanya yang sering kelabu itu lama-lama berubah lebih berwarna.
The veilon in his eyes hinted at stories he would never tells.
Taesan lebih ceria akhir-akhir ini, ia banyak bicara, ia banyak cerita dan hal itu membuatnya lega.
Jaehyun selalu suka, ia bahkan selalu menantikan momen mereka berdua duduk berhadapan di meja makan dan bercerita banyak hal hingga tengah malam.
Jaehyun selalu suka malam dimana ia didekap dengan hangat hingga merasa aman hingga pagi tiba. Ia juga suka satu kecupan mesra yang mengantarnya menuju tidur lelap sepanjang malam.
Jaehyun selalu suka menjadi yang pertama bagi Taesan. Yang pertama ia tanyai pendapatnya, yang pertama ia cari saat membuka matanya, yang pertama ia kecup pipinya, yang pertama ia rengkuh tubuhnya, dan pengalaman pertama lainnya yang ia dapat dari Taesannya. Jaehyun akan selalu menjadi juaranya. Ia akan selalu menjadi yang pertama.
“Look at me, Taesan. Look at my eyes”
Jemarinya gemetar tipis, kaku dan takut. Tapi hari itu, Jaehyun menjadi pengalaman Taesan yang pertama setelah bertahun-tahun terpuruk.
“Look at me… this is your husband, Myung Jaehyun”
Taesan menyusuri wajah elok suaminya, lama-lama jemarinya terangkat untuk menyentuh pipi gembilnya, “good boy…”
Taesan membiarkan Jaehyun menciumnya, basah, lama, penuh gairah. Taesan biarkan piyama biru navynya lama-lama merosot jatuh dari pundaknya. Taesan biarkan Jaehyun merangkak naik hingga duduk cantik diatas pangkuannya. Taesan juga biarkan Jaehyun rakus menghabiskan segala yang ia punya.
“Good boy…”
Taesan dituntun hingga menyentuh pinggang kecilnya, jemarinya meremat pinggang itu tak sengaja, halus, lembut, warnanya cantik, secantik Jaehyun dibawah sinar rembulan.
Kain sutra dari piyamanya diusap, lama-lama Jaehyun membawa tangan Taesan menyusup kedalam piyamanya, menyentuh kulitnya yang mulus secara langsung.
“I’m yours…”
Taesan mengangguk pelan membiarkan Jaehyun mengangkat dagunya dan menciumnya lagi. Ciumannya semakin dalam dan memabukkan. Masih Jaehyun yang memimpin permainan karena Taesan masih sedikit gemetaran. Taesan memiliki masa kelam yang menyakitkan dan Jaehyun tak mau menyakitinya, maka sebisa mungkin ia bergerak pelan, membuat suaminya merasa aman.
“Boleh… buka?”
Jemari panjang Taesan menunjuk kerah piyama Jaehyun dan pemuda itu mengangguk. Taesan angkat piyama suaminya hingga tanggal, menyisakan celana pendek diatas paha yang melekat. Nafas Taesan tercekat, Jaehyunnya begitu indah, cantik, dan memabukkan. Tuhan menciptakannya penuh kasih sayang.
Jemari Taesan menyusuri dada Jaehyun yang bergemuruh penuh cinta, bergerak mengawang diatas tonjolan merah muda yang kedinginan.
“Ahh…”
Satu desahan lolos membuat Taesan menatap Jaehyun. Jaehyun terlihat begitu menikmati suasana malam ini. Jaehyun tak keberatan dengan sentuhan Taesan, membuat jantungnya bertalu-talu. Taesan ingin rakus, Taesan ingin memiliki semua yang ada dalam diri Jaehyun tanpa kecuali.
Taesan menyusu, membuat Jaehyun mendongak nikmat. Gerakannya yang ragu-ragu membuat Jaehyun sedikit frustasi, maka dengan nakal ia gesekkan belahan pantatnya pada selangkangan Taesan, memancing sang Tuan.
“Ahh Taesanㅡ”
Taesan meremas dua bongkah kenyal miliknya, Jaehyun semakin membusung menyuruh Taesannya semakin rakus. Taesan dibawa meniti anak tangga kenikmatan dunia, membuatnya lupa diri dan haus akan sentuhannya yang gila.
Jaehyun menanggalkan pakaian keduanya dan merunduk untuk mengecup milik Taesan. Meski Taesan masih ragu-ragu, ia mengizinkan Jaehyun melakukan apapun yang ia mau. Meski samar-samar Taesan mengingat kejadian buruk yang menimpanya, binar mata dan lenguhan Jaehyun seakan memegang warasnya, memegang kendali agar dirinya tak ketakutan. Meski Taesan masih gemetar, ia biarkan Jaehyun melahap habis semua miliknya.
Jaehyun bangkit dan Taesan meneguk ludahnya haus, oh Myung Jaehyun dengan segala keindahannya dibawah sinar rembulan. Jaehyun mengambil lubrikan diatas nakas dan membaluri jemari cantiknya lalu selanjutnya, pemuda itu membalik tubuhnya, membiarkan satu persatu digit jarinya bermain dengan dinding analnya.
Taesan meneguk ludahnya sendiri, pemandangan yang ia rekam sendiri dengan mata kepalanya ini membuat dirinya meremang. Taesan menggapai bongkahan kenyal pantat suaminya, digenggamnya dengan gemas, “ahh Taesan”
Satu jari. Dua jari. Tiga jari. Maju, mundur, memutar. Maju, mundur, memutar. Jaehyun mengangkat pinggulnya semakin tinggi dan ia hampir menangis. Oh andai Taesan bisa membantunya.
“Taesan ahh…”
“Kakㅡkakak…” Taesan menarik Jaehyun untuk ia dekap, keduanya kembali dalam ciuman panjang memabukkan, Taesan biarkan Jaehyun menandai leher dan selangkanya. Ia juga biarkan Jaehyun mencium rahangnya sebanyak yang ia bisa.
Keduanya mendesah semakin kencang saat Jaehyun memasukkan milik suaminya pelan tapi pasti. Jaehyun biarkan Taesan melenguh sembari menatap lurus pada netranya, “ahh sayangku…suamiku”
Taesan tak tega melihat Jaehyun sedikit kepayahan, maka ia bantu menghentakkan pinggulnya hingga si kecil itu terhentak diatas pangkuannya.
“Enak… enak Taesan”
Jaehyun adalah obat dari segala luka dan traumanya. Taesan sepenuhnya lupa dengan apa yang pernah menimpanya lima tahun lalu. Yang ia tahu hanya dirinya yang selalu merasa tidak puas, bahkan meski Jaehyun mendesah semakin kencang, tubuhnya terhentak semakin kacau dan ruangan yang semakin panas, Taesan tetap rakus. Ia ingin memiliki semua yang Jaehyun punya. Ia ingin selalu mendamba si kecil yang terengah di pangkuannya.
“Ahhh ahh Taesan” Gerakannya semakin cepat, gelombang hasrat yang menerjang keduanya semakin dahsyat. Taesan dan Jaehyun larut didalamnya. Keduanya saling mengejar, keduanya berlomba mendapatkan nikmat.
Jaehyun meremas belakang kepala Taesan, menangis keenakan. Sedangkan Taesan terengah-engah diselimuti nafsu.
Jaehyun selalu menjadi yang pertama. Bagi Taesan, Jaehyun adalah segala pengalaman pertamanya. Jaehyun membuatnya menjadi manusia yang lebih hidup dari sebelumnya, Jaehyun membuatnya merasakan bagaimana susah senangnya menjadi seorang pemimpin keluarga, dan Jaehyun juga yang pertama menghantarkan cinta segitu besarnya diantara kelam dan kerasnya kehidupan.
Jaehyun akan selalu menjadi yang pertama, dan Taesan akan selalu mencintainya.
Memiliki pengalaman pertama dengannya selalu seru. Rasanya begitu menakjubkan sampai Taesan bingung mengatakan perasaannya.
“This is our baby, i’m pregnant.” Katanya.
Ini akan menjadi pengalaman pertama Taesan yang lainnya. Setelah malam panas itu, ada satu hari dimana Jaehyun membawa kabar gembira padanya. Taesan sudah berlinang air mata saat melihat surat dokter yang Jaehyun perlihatkan padanya setelah pulang bekerja. Rasa cintanya semakin besar saat tahu bahwa sekarang ia akan menjadi seorang ayah.
“Isㅡis it our baby?”
“Yes it is. This is our baby, Taesan-ah”
Taesan memeluk erat suaminya, ia bersimpuh penuh haru dan mengecup perut Jaehyun berkali-kali. Ia usap dengan lembut, ia kecupi dengan mesra dan hari itu ditutup dengan satu ciuman basah yang lama penuh air mata bangga karena kali ini lagi-lagi Jaehyun membawanya ke dalam pengalaman pertama.
Pengalaman pertama menjadi seorang ayah.
Tamat